Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Puisi » Penari Jiwa
    Puisi

    Penari Jiwa

    20 Oktober 2019Updated:12 November 2019Tidak ada komentar4 Mins Read41 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Kehidupan bagi seorang penyair adalah inspirasi tak terhingga, dari berbagai ruang dan peristiwa kata-kata mengalir begitu jelas. Namun, tentu saja bukan sekadar kata-kata. Penyair yang gelisah selalu menemukan titik renung yang tinggi pada suatu ruang pada sebuah peristiwa. Renungan-renungan penyair bisa jadi bersifat menyemesta, hadir atau sengaja dihadirkan untuk dirinya sendiri, sehingga apa yang dilahirkannya melalui kata-kata seorang representasi dari kegelisahan semua orang. Selamat Membaca. (Redaksi)

    [iklan]

    Puisi-Puisi Handoko F Zainsyam

    Penari Jiwa

    Menarilah
    Dalam nafas dan nadimu

    Pada musik
    Hentakkan kaki
    Ciptakan gemerincingnya

    Pada gerak
    Rentangkan tangan dan berputarlah
    Tabrak dinding gelap dan pelangi
    Yang kerap mengaburkan pandanganmu

    Menarilah, Kekasih!
    Menarilah dalam jiwa dan sukmamu
    Karena ada Aku
    Dalam tiap alun geraknya

    Sungguh
    Tak kan pernah habis
    Kau menikmatinya
    Seperti bercawan-cawan anggur
    Yang terus kau reguk

    Lantaran itu pula
    Aku serukan kepada angin
    Akulah penggerak hembusnya
    Pada api aku sampaikan,
    Akulah panasnya
    Pada cahaya aku sampaikan,
    Akulah yang menjadi sumber kilaunya
    Dan karena akulah ia menari

    Menarilah!
    Oh, penari jiwa;
    Leburkan wajahmu
    Dalam risalah rasa
    Lantaran setiap wajahmu berpaling
    Terpajang di segenap ruang

    Dan sungguh
    Kau akan diserang
    Harum ratus namaKu yang mengemuka
    Dan kau akan menggigil karenanya!

    Oh, penari jiwa;
    Menangislah dalam tarianmu
    Namun jangan lupa
    Tinggalkan senyum terindahmu
    Lantaran Aku rupa-rupa tanpa rupa itu.

    Jakarta, 10 Nop. 2009
    (Ma’rifat Bunda Sunyi hal. 67)

    Kepada Dia yang Ada di Aliran Darah

    Tahukah kau, di setiap aliran darahku
    Ada degup-degup keikhlasan hidup
    –Dingin, hangat, dan kadang panas
    Semua tak pernah berhenti dalam sengketa

    Saat jantungku bergerak teramat cepat
    Ada gejolak yang membuat pori-poriku
    Membesar dan mengecil–ada nafas kehidupan
    Tempat segala cinta bersumber dan bermuara

    Aku bukan hanya api yang membakar segala
    Dan bukan pula air mata yang menggenang setiap luka
    Aku ada dalam lingkaran energi tanpa asal muasal. Usai

    Di setiap kegundahan para pecinta
    Sepanjang sejarah malam tergelar

    Aku terus bersangkar
    Pada tiap hati lewat panjang sajadahnya
    Menuju kiblat keagungan
    Untuk terus bersikukuh mengurai kerinduan
    Aku ada dalam aliran darah

    Bukan! Bukan adaku kini
    Tapi melebur diri dalam aliran darah

    Tidak kau tahu, darah dan merah tak ‘kan terpisah
    karena aku dan kamu ada dalam bilangan irisan
    : Mewujud!

    Sungguh, adaku
    Bukan sekadar meniadakan
    Dalam aliran darahmu!

     Ciputat, 1 Juli 2010
    (Ma’rifat Bunda Sunyi hal.138)

    Melihat Indonesia dari Air Matamu, Aini

    Aku tak melihat matahari pagi Indonesia
    bertengger di menara pemancar stasiun tivi
    yang dijadikan persinggahan ribuan anak manusia
    di karut-marut politik, sastra, kebudayaan
    dan haru birunya kisah bumi manusia

    Sawah-sawah penuh ilalang,
    sungai-sungai penuh sampah
    anak-anak kecil kurus, perut buncit, dan bermata
    melotot berdiri di balik pagar depan gerbang sekolah
    dan seorang penyair terdiam di pojok ruangan satpam
    menunggu ilham datang dari Tuhannya

    Aku tak melihat matahari pagi Indonesia
    berdansa di ufuk timur menjadi penanda hari mula
    mungkin mendung merebut hingga yang tersisa
    hanya kata kenang tentangmu dan juga mereka
    kakek nenek yang diam merenda kenangan

    Apa yang bisa kau lihat sekarang, Aini
    tentang indahnya apa yang disinari matahari
    namun matamu terpejam
    sementara kau ingin melihat jajaran gunung,
    gelombang laut, dan indahnya taman bunga
    namun tak mau membuka mata
    lantas, kau bilang aku hanya pengigau
    dan pembohong tentang indahnya
    apa yang disinari matahari

    Aku ingin melihat Indonesia dari matamu, Aini
    yang tak mau terbuka lantaran matahari
    telah kaubungkus semalam
    dan kaubuang di bak sampah.

    Jakarta, 2016
    (Aku Tanam Pisau Di Kepalaku, hal.20)

    Pelacur-Pelacur Kata

    Berdirilah! Kita telah berhadap-hadapan kini
    Penipuan sejarah harus dipatahkan. Tak ada pilihan!
    Sejauh sastra berpolitik memainkan angka-angka
    dan hidup dalam kemunafikan
    “Tak gacul matamu, Rek!”

    Kalian terjebak galian kubur sendiri
    tepat bunga kamboja berguguran
    dan melati jatuh di pusara
    kita pun abadikan semua dalam tanda kata di batu
    nisan; Sang pecundang sastra dan pelacur-pelacur
    aksara!

    Pastikan! Ketika sastra diancam
    digantung di tiang pesakitan
    mulut dibungkam, tangan di borgol
    hantu-hantu di taruh di sudut pikiran
    untuk menakut-nakuti kebenaran muncul
    maka tak ada pilihan kata, hantam!

    Ketakutan menjadi pusat politik bangsat
    ada kawanan anjing menjilati kaki majikannya
    sejarah dimainkan oleh cukong
    dan pelacur-pelacur kata
    maka tak ada pilihan kata kini,
    kecuali, “Sikat!
    Ancene jancuk!”

    Jakarta, 2015
    (Aku Tanam Pisau Di Kepalaku hal.9)

    ****

    Handoko F. Zainsyam. Lahir di Madiun, Oktober 1975. Ia Pendiri Komunitas Mata Aksara dan Komunitas CK Writing (Literasi Remaja Indonesia). Salah satu pendiri dan Wakil Ketua Umum Perhimpunan Sastrawan dan Budayawan Negara Serumpun (PSBNS) ASEAN, dan Kabid Pengembangan dan Pelestarian Budaya ‘Yayasan Kertagama’ Jakarta.

    penyair indonesia puisi indonesia puisi kehidupan Puisi Sufi sastra puisi
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleAku
    Next Article Seren Taun

    Postingan Terkait

    Puisi-Puisi Alfiansyah Bayu Wardhana

    12 April 2026

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 2025

    Puisi yang Segar untuk Mesin-Mesin Lapar

    3 Desember 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Muara Jambu Ciater Tempat Wisata dan Camping

    13 April 20269 Views

    Objek Wisata Djoyland Haurgeulis

    13 April 202614 Views

    Puisi-Puisi Alfiansyah Bayu Wardhana

    12 April 202635 Views

    Sensasi Wahana Banana Boat di Kuningan Jawa Barat

    12 April 202615 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (208)
    • Bisnis (7)
    • Buku (85)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (78)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (189)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (154)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.