Cerpen

Orgasme Perjaka

cerpen vulgar
Jangan Lupa Di Rate Ya!
Tinggal Pilih Bintang Saja!

ORGASME MEMATIKAN SANG PERJAKA

Khalimatu Sa’ Diah

Aku perjaka.
Tetapi rekan-rekan penulis tidak percaya aku perjaka.
“Tulisanmu hidup, persis yang aku rasakan ketika bersama istriku. Masa kamu belum pernah rasakan sama sekali, kan ya bohong.”
Mereka tidak percaya aku belum pernah berhubungan intim dengan perempuan.
Hanya karena tulisan.

Sejujurnya aku punya dua rahasia.
Pertama, setiap aku menulis tentang pria dan wanita yang memadu kasih aku sungguh-sungguh menikmati. Serasa punya istri.
Dan ada kepuasan tersendiri dalam jiwa.
Kedua, aku membaca buku-buku di luar sana tentang teori bercinta. Membaca.
Lalu menulis. Semudah itu.

Jum menarik rambut suaminya hingga mereka berdua kehabisan napas. Mereka pindah posisi bercinta di tangga. Ditelentangkan tubuh istrinya di tangga. Lalu mereka menikmatinya.  Tangga yang keras itu menyokong tubuh keduanya bergantian. Keras dan seru.
 
Beberapa menit kemudian cerita pendek itu kukirimkan di sebuah majalah sastra.
Sebenarnya, yang ingin kutulis adalah bagian indah dari buku Kama Sutra, atau cuplikan buku Su Nu Cing bangsa Cina yang diulas di skripsi temanku.
Seks itu punya dua sisi. Sisi hitam dan putih.
Dualisme seks, kukata.
Sisi hitamnya, jika kau gunakan sebagai senjata untuk mengikat kekasihmu. Bukankah jika dua orang sudah saling bercinta, maka ikatan batin mereka jauh lebih kuat dan tembus. Kecuali, digunakan sembarangan.
Sisi putihnya, seks menciptakan hormon penurun stres dan menurunkan penyakit kardiovaskular sekian persen.
Karena itu semua orang menyukai seks.

Galih sayang, aku membaca ceritamu berjudul Malam Pertama di Sebuah Jembatan. Kau pria yang menakjubkan, tidakkah imajinasimu sangat hebat soal bercinta? Bisakah kita bertemu? Di alun-alun Malang besok bisa?
 
Kubaca email paling akhir dari Yasmin, editor fiksi yang juga sahabatku.
Entah kenapa masyarakat selalu berpikir, contoh mesti sempurna.
Misalnya, penjual kosmetik yang jerawatan sebiji akan menjadi pertanyaan orang-orang atau pelanggan.
Bukankah mereka harus menyoroti wajah-wajah mereka lebih dulu.
Dan lantas jika aku menulis buku atau cerita tentang seks, mereka berpikir aku ahli di bidangnya.
Mungkin iya, mungkin tidak.
Karena aku masih perjaka.
Kalau orang kampung jelas yakin soal keperjakaanku.
Di sekitar rumahku, setiap ada hajatan nikah atau apa, jika orang-orang atau bahkan pemuda pemudi yang datang membantu, lalu merangkai janur pengantin, akan terlihat dia perjaka, perawan, atau tidak.
Janur kuning akan cepat menguning seusai dipasang jika yang masang sudah tidak perawan atau perjaka.
Lalu warga menggunjing sampai ke sana-sini jika terjadi.
Beda di kota, nikah, resepsi, selesai sudah tidak ada urusan perjaka atau perawan.

Dan alasanku menghindari pertemuan dengan para wanita, bukan karena menolak. Aku takut merasakan bercinta yang sesungguhnya.
Di samping aku sudah punya kekasih.
Namanya pria dan wanita, jika sudah dekat dalam radius kurang semeter, bukan orang ketiga yang setan, tapi se-bus setan. Sekampung.
Ada ketakutan dalam diri pribadi kalau pasangan tidak puas atau apa, itulah alasan utamaku sampai umur dua puluh sembilan belum melakukan seks.
Jangankan seks bebas, seks original saja belum pernah.

Orang-orang masih berkeliaran sore.
Penjual nasi goreng mulai persiapan mencari receh untuk malam nanti.
Kelihatan dari mereka lalu lalang di depan rumahku.
“Galih.”
Ibu muncul dari dalam sambil membawa kopi.
“Iya, Bu.”
“Ibu mau bicara.”
Kopi itu diletakkan di sampingku.
Ketika Ibu mengatakan hal itu, ada rasa tak enak menyusup dalam hatiku.
“Minggu depan kau harus segera menikah Le, dengan Ning.”
Jleb. Jantungku serasa mau lepas.
“Mengapa semua mendadak sekali? Bukankah masih dua tahun lagi?”
“Ayahnya sudah sering sakit Le. Dia sendirian. Nanti setelah menikah, kamu tinggal di sana.”
“Ibu sendirian.”
“Kan ada Yuli adikmu, alasan keberatanmu sebenarnya bukan itu bukan?”
Aku diam saja.
Benar, alasanku adalah ketakutan malam pertama.
Bagaimana rasanya hilang perjaka?
“Besok kita ke Jember,  bicara pernikahan.”
Aku percaya Tuhan punya rencana mendadak, seperti ini. Tapi ini sungguh di luar dugaan.

Kubuka leptopku.
Akan kutuliskan kisah cerita pendek terakhir, sebelum keperjakaanku hilang.

Jono membuka celananya cepat-cepat. Mintuk juga.
Mereka terbawa napsu.
“Tuk, gaya belakang ya? Doggy style.”
“Apa, Mas?”
“Gaya belakang, Tuk.”
Mintuk yang konon orang desa, masih bengong. Jono yang kepalang tanggung bergairah tinggi setengah berteriak dia berkata.
“Kamu ngadep depan, Tuk. Aku di belakangmu.”
“Oalah Mas, gaya anjing?”
Tanpa menjawab Jono langsung saja lanjut. Mereka melakukannya di semak-semak.
 
Tidak bisa melanjutkan, mungkin pikiranku tersita pernikahan.

Pintu kamar ditutup oleh Ning.
Tamu-tamu sudah pulang. Tinggal tetangga – tetangga kanan kiri yang membantu di dapur seusai acara resepsi.
Hatiku berdebar. Tubuhku agak demam.
“Mas.” Ning memegang tanganku lembut.
“Aku mencintaimu.” Katanya.


Aku mulai mengecup keningnya. Seperti yang dilakukan di buku-buku seks, foreplay.
Tanpa sadar Ning sudah membuka baju, dan aku juga.
Pertama kali kusentuh kulit bagian dalam tubuh wanita. Hangat. Lembut.
Kami saling memagut. Bergumul dengan indah.
Tibalah saat yang ditunggu kami berdua.
Aku menuju puncak. Klimaks.
Tiba-tiba jantungku berdetak sangat keras. Kecepatan denyutnya melebihi biasanya.
Aku mulai kesulitan bicara.
“Mas! Mas Galih!” Ning mengguncang-guncang tubuhku.
Ning lekas memakai baju.
“Mas!” teriaknya lebih kencang.
“Bu! Ibu! Mas Galih serangan jantung lagi!” Ning terus berteriak.
Tapi suaranya terus jauh dan jauh.
Semakin gelap.
Apakah Tuhan hanya menjadikan orgasme tadi pertama dan terakhir dalam hidupku?

(Malang, 12 Juli 2019)

Khalimatu Sa’ Diah. Asli dari Malang. Menyukai dunia sastra, berkebun, dan membaca. Punya online shop kecil, antologi tunggal Kolase, novel 31 Aurora, antologi Tifa sang Guru, Cermin Kejujuran, Kicau di Balik Dedaunan, Kesepian, Ratu Abu dll. Pernah menjuarai lomba puisi mahasiswa Kompas.  Sedikit belajar sastra Jerman, dan pernah menjuarai Deutsche Tage III.
Bisa dihubungi di email hanamidee@gmail.com

Leave a Comment