Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Cerpen » Kotak Musik Untuk Azalea
    Cerpen

    Kotak Musik Untuk Azalea

    16 Februari 2021Tidak ada komentar5 Mins Read109 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Kotak Musik Untuk Azalea

    Winda Efanur FS

    Apa ukuran lama itu? Seabad atau selamanya. Mengapa semenit terasa begitu lama? Aku di hadapannya, menantinya tersenyum. Jeda sepersekian detik, saat kugenggam tangannya. Kutunggu sampai lima menit, dia tidak menghadirkan senyum. Ada apa? Tangan kanan yang kugenggam semakin lama terasa kaku. Sikapnya berubah dingin.

    “Eh, maaf?” ucapku sembari menarik tanganku darinya.

    “Oke, no problem.” Jawabnya singkat, dia melirik ke arahku sesaat lalu pandangannya kembali ke catatan kecil di atas meja kita.

    “Ada apa denganmu, beda dari biasanya?”

    “Tidak apa-apa.”

    Dia menunduk khusyuk mencoret-coret konsep desain arsitektur dari buku catatannya. Sikapnya yang terlihat sibuk, seolah mengusirku dari situasi itu. Pelayan menghidangkan secangkir teh di atas meja kami.

    Di hadapannya aku mengaduk pelan tehku dengan sendok. Dua tangannya begitu terampil memvisualisasikan ide ke bentuk lebih konkret. Kalau ada sedikit garis yang salah, dia menggerutu sebal. Diiringi desisan yang tak mampu kudengar. Sejam berlalu dia masih sibuk dengan tugasnya. Sejam pula, aku dihiraukannya. Tapi entah, aku selalu suka segala hal tentangnya; marahnya, diamnya sebalnya apalagi senyumnya- yang tak pernah kulihat lagi seminggu terakhir.

    Aku mengambil buku catatan, kutulis sebuah puisi, puisi ke 7 sebelum kepergianku ke Jakarta. Puisi itu menceritakan secangkir teh yang menjadi jarak sebuah rindu.

    “Aku lelah”, ucapnya sembari menutup wajah dengan tangan kanannya.

    “Ya, sudah kita pulang saja.”

    “Bukan, bukan itu. Aku lelah dengan hubungan kita.”

    Denyut jantungku seakan berhenti berdetak, aku terdiam menatap kedua  bola matanya. Dia mengalihkan pandangan ke sisi kanan, ruang diam yang akhirnya meniadakan kita.

    Seminggu kemudian

    “Harga dari pergerakan adalah ketika gerakan itu mampu membuat perubahan. Perubahan konstruktif!”

    Aku menyalakan rokok, mendengarkan Adnan, pimpinan unjuk rasa berorasi. Adnan memberikan intruksi di lobi kampus swasta Jakarta, kepada perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa se-Indonesia. Rencananya unjuk rasa sore nanti di depan gedung DPR dan istana presiden.

    Agenda kami, mengevaluasi 100 hari kinerja pemerintah terpilih. Pertemuan BEM se-Indonesia sudah dianggap sebagai upaya makar menggoyang posisi pemerintah saat ini. Padahal murni aksi mahasiswa, kami pun berhati-hati isu digoreng oleh oknum—yang menginginkan Negara ini kacau–. Kemungkinan massa lebih dari 1000 mahasiswa. Kami mengusung tiga isu sensitif; blok pertambangan di wilayah Timur Indonesia, isu kebocoran anggaran investasi perkebunan di Kalimantan dan evaluasi 100 hari kinerja pemerintah secara umum.

    Aku pun sadar, banyak intel dan mata-mata di sekitar kami. Mereka aparat atau warga sipil khusus yang dibolehkan membawa senjata tajam.

    Aku meninggalkan perkumpulan itu, mencari udara segar. Langit kala itu sangat cerah, kulihat baliho besar dipasang di gedung depan kampus. Baliho itu bertuliskan kilas balik pengunduran diri Soeharto. Seketika aku kaget, bukan tentang idealismeku, tanggal itu..itu 21 Mei tanggal yang bertepatan dengan ulang tahun Azalea. Aku membuang puntung rokok, bergegas mencari warung telekomunikasi.

    Di persimpangan jalan, kutemukan toko pengetikan yang membuka jasa wartel. Dalam bilik berukuran 2×1 meter itu. Aku gemetar memencet tombol nomor teleponnya. Gagang telepon menempel di telinga kiriku. Kutunggu suara Azalea menyudahi penantianku.

    “Hallo, siapa?”

    “Arman.”

    “Oh, ada apa?”

    “Kok, jawabannya datar banget. Tidak suka, aku telepon ya?”

    “Biasa saja sih, ada apa?”

    “Lea, telepon dari siapa, lama banget!”

    Dari kejauhan kudengar suara lelaki memanggil Azalea.

    “Itu, suara siapa, Lea?” tanyaku curiga.

    “Eee, bukan-bukan siapa-siapa, buruan kamu mau ngomong apa?”

    “Lea!!”

    Suara laki-laki itu semakin keras memanggil Azaela.

    “Maaf, kalau mengganggu ya, aku hanya mau mengucapkan selamat…”

    Tut..tut..tut..

    Azalea menutup teleponnya sebelum aku selesai bicara. Aku mengepalkan tangan, menutup kedua mata berusaha menghalau amarahku. Kufokuskan pikiran ke ulang tahun Azalea.

    Kudatangi toko peralatan seni. Mataku tertarik pada kotak musik, dengan hiasan patung sepasang kekasih yang berdansa. Kelebihan lain kotak musik itu bisa merekam suara. Di luar jendela, mobil tentara berdatangan, setelah membayar di kasir, aku berlari menuju massa unjuk rasa.

    Massa dari berbagai kota sudah berdatangan di depan gedung kepresidenan. Masingmasing dari kami sibuk bersenda gurau. Bobi mahasiswa asal Lampung, sibuk memakai rompi plastik—dia berjaga-jaga ada peluru nyasar—aku pikir tidak akan separah itu. Paling hanya santapan bogem mentah dan gas air mata.

    Tak lama Adnan naik ke podium, dia berorasi menyampaikan aspirasi kami. Semua massa tenang, tidak seperti biasanya. Aku menoleh ke samping, depan dan belakang. Ada yang tidak beres. Aku terus berupaya bertepuk tangan menyalakan antusias massa. Sekaligus memberi kode kepada Adnan.

    Dalam hitungan detik, kerusuhan terjadi. Ada komplotan penyusup dan penghianat mengganggu aksi kami. Baku hantam, gas air mata, suara peluru saling bersahutan. Kami menyerang, entah kepada lawan atau kawan.

    Posisiku terjepit, gas air mata mengenai kedua mataku. Di tengah kebutaanku, seseorang memukulku, dia menyeretku ke dalam sebuah ruangan yang kuyakini mobil pick up. Dia menendang perutku keras, tubuhku terbentur ke dinding mobil.

    “Azalea, selamat ulang tahun ya! Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi denganmu? Sampai mati kutakkan melepasmu. Tunggu aku kembali, sepulang dari Jakarta.”

    Benturan itu, tanpa sengaja menekan tombol play rekaman kotak musik yang kusimpan dalam tas.

    Cilacap, 25 Maret 2019

     

    Winda Efanur FS, seorang pendidik di SMP Diponegoro Patimuan. Menulis buku Cogito Love Sum (2018), dan Denting yang Tak Berbunyi (2016). Aktivitas selain mengajar aktif mengelola komunitas Buku untuk Anak Indonesia, Komunitas Rumah Penyu Cilacap dan anggota PPI (Penyair Perempuan Indonesia). IG : winda_efanurfs.

    cerpen cinta cerpen demontrasi Cerpen mahasiswa
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleMenjelang Malam
    Next Article Dongeng Tentang Ekor dan Kepala Ular

    Postingan Terkait

    Kisah Seorang Polisi di Republik Mimpi

    21 Desember 2025

    Rumah Balian

    30 November 2025

    Mengajak Ke Galaksi Imajinasi

    26 November 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Menolak Pudar: Jejak Keindahan “Situ Lengkong Panjalu” Yang Tak Lekang Oleh Waktu

    18 April 202610 Views

    Pas Lebaran 2026, Reuni SDN Jajag Lor Kali, Juga Oke…

    18 April 202675 Views

    Harga Sebuah Kicauan: Sebuah Narasi Narsisme Antroposentris

    18 April 202639 Views

    Muara Jambu Ciater Tempat Wisata dan Camping

    13 April 202615 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (209)
    • Bisnis (7)
    • Buku (85)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (79)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (189)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (155)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.