Cerpen

Halimun

Jangan Lupa Di Rate Ya!
Tinggal Pilih Bintang Saja!

Halimun

Dewi Linggasari

Sepasang mata Maret menatap ke kaki langit yang tidak diketahui dimana batas ujungnya, sebab angin senja menghembus halimun hingga menyelimuti kuduk bukit-bukit, seakan gumpalan kapas yang teramat lembut menghampar di atas hijau daun. Udara semakin dingin seakan berasal dari sumber musim yang teramat beku. Ia telah bersiap dengan jawaban ketika sekali lagi emak pasti bertanya dengan wajah kelam seakan bongkah batu yang terlontar dari kepundan gunung berapi. “Benar engkau tolak lamaran Wahyudi? Apa kekurangannya? Ia memang sudah tak muda lagi, tetapi orang terpandang, berpenghasilan besar. Engkau akan hidup mukti tak kekurangan apa-apa?” wajah emak yang  kehitam-hitaman amat dekat dengan Maret seakan ingin menelan seluruh  tubuh muda itu bagi sebuah keinginan.

“Aku ingin sekolah mak, ibu guru telah bekerja keras mendapatkan bea siswa ke perguruan tinggi. Aku tak ingin menikah muda ….” Jawaban Maret menyebabkan sepasang mata emak berubah seakan bola api yang akan berkobar tak berkesudahan andai angin sepoi meniupnya. Emak telah  mengkhayalkan sebuah perhelatan besar di ibu kota kecamatan yang jauh dari ibu kota negara. Sebuah tempat yang bernama Petung Kriyono, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah –adalah deretan perbukitan sebagai lingkungan hidup alam pedesaan. Beruntung ia menetap di Mudal, bukan di Sawangan atau Simego yang terlampau jauh untuk dikunjungi dengan kendaraan bermotor sekalipun.


“Perguruan tinggi? Bukankah cita-citamu terlalu muluk?” suara emak sinis, ia telah mendidik seorang anak perempuan menjadi pengurus rumah tangga yang terampil. Sebelum pergi ke sekolah Maret bangun terlebih dahulu,  menjerang air, menanak nasi, mengoreng ikan garam serta memanasi sayur lodeh, menyapu lantai rumah yang semakin hari semakin tua. Maret bisa

mengerjakan apa saja, termasuk membantu di warung sebagai sumber pendapatan sampingan keluarga.  Andai anak gadis itu mengikuti keinginan untuk menikah dengan seorang yang kaya dan terpandang, ia akan terbawa pula hidup mukti. Akan tetapi, sekolah telah menyebabkan kembang desa ini keras kepala. Wajah emak semakin kelam seakan hitam langit malam ditinggalkan bintang-bintang.

Maret membuang pandang, tanpa sepatah kata ia menyudahi percakapan ini, ia tak pernah mampu menyelesaikan kata-kata dengan emak, seorang perempuan desa yang memiliki keinginan demikian kuat akan kemewahan. Emak kerap bertandang pada rumah seorang petani kaya yang memiliki luas lahan bawang putih dan menjualnya ke kota. Emak pernah pula pergi ke kota terseret keriuhan serta kemerlip lampu-lampu jalanan, makanan yang lezat, dan kemilau perhiasan emas yang melingkar pada leher gemuk perempuan penjual daging. Ah, emak seorang perempuan dengan keinginan tak kalah muluk, bermimpi pergi ke ibu kota Jakarta untuk sekedar membeli  minyak wangi. Maret telah maklum akan perangai emak, ia telah  mencoba menjadi anak penurut yang sedia membantu urusan rumah tangga tanpa ucapan terima kasih. Emak tak pernah bersikap manis, kemarahan demi kemarahan semakin jauh tak berujung, tanpa sebab kecuali alasan sama bagi seluruh keluarga di kampung ini, hidup yang serba terbatas.

Masih ada satu pekerjaan sore ini, adalah memetik sayur untuk lauk makan malam bersama ikan garam. Maret mengerjakan dengan tabah, meski sejak percakapan  itu emak tidak pernah tersenyum, seolah ia adalah musuh yang menyusup terlalu jauh ke dalam hangat selimut. Maret telah melihat akibat dari perkawinan muda yang menempatkan seorang istri sebagai  korban. Kampung ini memang sangat jauh dari keramaian, pada tahun 1980 sekelompok pelajar dari kota mengadakan perkemahan, memberikan corak kehidupan yang lain. Mengapa ada pelajar dalam seragam coklat muda dan coklat tua melakukan kegiatan berbeda di tempat terpencil ini? Tahun selanjutnya sekelompok mahasiswa mengadakan latihan penelitian, mengamati, bertanya, kemudian mencatat segala kehidupan di kampung ini. Entah untuk kepentingan apa?

Tahun berikutnya mahasiswa selalu berdatangan, Maret masih seorang bocah, ia senang dengan kedatangan itu, sekelompok mahasiswa laki-laki dan perempuan dengan sikap dan penampilan yang jauh berbeda dengan sehari-hari orang di kampung ini. Alangkah cantik dan semringah gadis-gadis itu, jauh berbeda dengan dirinya yang sehari-hari harus berleleran keringat di dapur demi asap yang harus tetap mengepul, pakaian tanpa mode, dan wajah tanpa tata rias. Maret hanya seorang anak desa yang menyaksikan dan perlahan-lahan menjadi bagian perubahan ketika pergantian millennium terus berlalu. Tiba-tiba tampak sekelompok orang bertopi datang makan di warung setelah lelah mengukur panjang jalan untuk pengaspalan, kemudian jalan berbatu mulai berubah menjadi licin berasapal, angkutan umum meraung, wisatawan berdatangan menyaksikan keindahan alam serta gemuruh air Curug Muncar. Adapun tenaga guru dan kesehatan semakin banyak pula ditempatkan untuk alasan hak masyarakat dan pembangunan. Menara Telkomsel dibangun tinggi menjulang menggapai biru langit, di setiap tempat terdengar nada dering dari panggilan atau sms. Akhirnya hadir pula mahasiswa KKN yang meluangkan waktu mengajar di sekolah, mengisahkan betapa menarik dan menantang bersekolah di perguruan tinggi, betapa  Pendidikan adalah hak setiap orang, laki-laki dan perempuan. Zaman telah berubah, dan Maret ada di dalam pusaran perubahan itu dengan suatu akibat yang harus dipikul, berseberangan dengan emak, menerima tatapan permusuhan untuk rentang waktu yang amat panjang.

“Pergilah sekolah bersama ibu guru, bapak akan menghemat gaji sebagai mantri kesehatan untuk mengirim uang saku tiap bulan”, suara bijak sang bapak ibarat tumpahan air segar kala kelopak hati Maret terasa layu. Gadis  manis itu tersenyum, ia memang telah menginjak usia dewasa bagi kembang di kampung ini, akan tetapi bagi seorang yang berpandangan cukup jauh, usia bukanlah satu-satunya alasan untuk kawin paksa. Gadis itu tengah membuka belanga yang berisi nasi  jagung, kali ini aroma nasi itu terasa lebih wangi. Maret memiliki emak yang berpandangan sempit, akan tetapi bapak adalah seorang yang berbudi luhur. Seorang  yang telah mampu berpikir, bahwa kewajiban seorang anak perempuan bukan sekedar dirias sebagai pengantin tanpa keinginan diri. Pendidikan tinggi akan mampu mengubah takdir hidup anak kandungnya.

“Bapak benar, pergilah mencari ilmu, aku akan membantumu. Cukup mbakyumu yang menikah muda dan terjebak dalam urusan rumah tangga. Tak usah bertanya aku bahagia atau tidak, tetapi aku setuju dengan bapak”, Daryati, saudara perempuan  tertua Maret memberi dukungan. Setelah perkawinan wajah lembut Daryati berubah mejadi tua dengan tiga orang anak dalam pangkuannya.

Senyum Maret kembali mekar, ia telah mendapat dukungan dari orang-orang yang menentukan, ibu guru, bapak, dan kali ini mbakyu. Tanpa keramahan dari emak Maret mengunyah hangat nasi  jagung, sayur lodeh, ikan garam, dan sambal terasi dengan lahap. Masih tersisa beberapa minggu sebelum hari keberangkatan tiba dan ia akan berwenang mengubah takdir hidup selama-lamanya. Ia akan meninggalkan tempat yang jauh ini untuk bekal hidup yang lebih baik, ia akan berlaku seperti gadis-gadis yang KKN di kampung ini. Kelak ia akan pula melakukan hal serupa di tempat yang berbeda.

“Jadi benar engkau menolak lamaran itu dan berkeras pergi sekolah?” wajah emak masih tetap gelap seperti  langit mendung yang bersiap mencurahkan hujan. Sepasang matanya merah seakan bara, karena telah yakin akan jawaban anaknya.

Sesaat Maret diam terpaku, pada hari-hari biasa ia selalu menghindari percakapan, terlebih tatapan membara sepasang mata emaknya. Kali ini tidak, ia telah terlalu lama diam, ada satu pertanyaan kecil terhadap sikap emaknya, “Benarkah ia anak kandung yang pernah dilahirkan. Atau ia hanya seorang anak pungut yang menumpang dibesarkan?” sepasang mata gadis itu tak kalah tajam ketika menantang tatapan seorang emak, suaranya perlahan, tetapi pasti. “Emak sudah pernah bertanya dan sudah tahu pula jawabannya. Saya tak hendak kawin muda, saya hendak pergi kuliah, menolak lamaran dan mencari ilmu bukan berarti melawan orang tua. Mengapa seorang emak harus merasa berat dengan keinginan sekolah anakknya. Mengapa mak?” Maret tak dapat menahan rasa geram, ia sangat memerlukan doa restu, akan tetapi andai emak tak memberikan ijin, apakah ia harus menyerah?

Emak tak pernah menjawab, ia tahu sepeninggal Maret ia akan bertambah beban, mengirim uang saku serta mengurusi seisi tumah, tiga orang adik Maret laki-laki, tak pernah memegang gagang sapu. Ketiganya membantu kerja di kebun atau mengurusi ternak sepulang sekolah. Tak akan ada tambahan modal untuk memperbesar warung, maka penghasilannya akan tetap sama. Emak membuang muka, ia tak pernah mengerti mengapa seorang anak perempuan bisa demikian keras kepala, berbeda dengan Daryati yang selalu menurut, bahkan ketika harus menikah pada usia muda. Kekecewaan menghantam ulu hati emak seakan badai menghempas gelombang lautan yang berdebur menakutkan. Maret menjauhkan diri, ia mulai harus bersiap untuk sebuah perjalanan panjang dengan satu nyeri di rongga hati tanpa doa restu dari seorang emak. Kelak, bila ia telah kembali sebagai seorang ibu guru dan menyandang gelar teladan, memiliki kelas sosial, kehidupan serta penghasilan yang lebih baik, emak akan menyadari, betapa ia telah melakukan tindakan yang benar.

Hari yang ditunggu akhirnya datang, didampingi ibu guru Maret berpamit mencium tangan bapak, emak, memeluk Daryati dan adik-adiknya. Wajah emak gelap tanpa harapan, Maret bisa menangkap kebencian pada sepasang bola matanya. Satu hal yang bisa dilakukan Maret adalah pura-pura tidak tahu, ia mengambil sikap seolah tak pernah ada kebencian seorang ibu terhadap anak  kandung yang menolak lamaran demi jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Ada rasa kehilangan ketika ia terduduk di jok angkutan umum untuk memulai sebuah perjalanan, ia berpisah dengan orang-orang tercinta untuk pulang pada liburan semester, ia meninggalkan sebuah  kampung yang jauh serta dingin dengan pemandangan alam yang sangat indah.

Di kuduk bukit halimun tampak lebih lembut –putih yang  terputih,  bagai gumpalan kapas yang dihempas angin dari negeri ajaib, hijau daun melambai di pada kiri kanan jalan. Setelah rasa kehilangan tetap bertumbuh secercah harapan, Maret akan beradaptasi dengan suasana baru, suatu hal  yang tidak mudah, tetapi harus dilalui. Sesaat mata gadis itu menatap halimun untuk yang terakhir sebelum kendaraan terus meraung, berbelok di tikungan, maka putih halimun segera menghilang dari batas pandang.

Kota Hujan, Agats – Asmat, 30 Mei 2018

dewi linggasari

Dewi Linggasari lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, 22 Mei 1967, menyelesaikan pendidikan S1 pada Jurusan Antrolopologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Tahun 1993. Satu tahun bekerja sebagai asisten peneliti di P3PK UGM dan melakukn tugas lapangan selama  satu bulan di Wamena. Tahun 1994 tiba di Merauke sebagai petugas lapangan BKKBN sekaligus memenuhi panggilan untuk menulis Etnografi Papua. Tahun 1996 pindah ke Asmat dalam rangka tugas lapangan sekaligus  penggalian data Etnografi. Beberapa judul buku yang telah terbit: Realitas di Balik Ukiran Asmat (2002), Wanita Asmat (2004), Kapak –Kisah seorang anak Asmat (@004), Pemilu di Mata Orang Asmat (2004), Sali –Kisah Seorang Suku Dani (2007), Folklore pada Komunitas Rumpun Bismam- Asmat (2007), Asrama Putri (2007), Ronggeng (2007), Zaman (2007), Istana Pasir (2008), Jew–Rumah Adat Asmat (2009),  Menapak Jejak -–Kumpulan Puisi (2009)  Buku Foto –Asmat dari Balik Lensa (2015), Buku Foto –Asmat Jalur Wisata (2017). Sekarang Sekretaris pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Asmat.

Leave a Comment