Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Sosialita » Dunia Digital, Seniman dan Covid 19
    Sosialita

    Dunia Digital, Seniman dan Covid 19

    12 April 2020Tidak ada komentar3 Mins Read7 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    seniman dan digital
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    MISI SEMESTA ALAM

    Dengan adanya wabah COVID-19 menurut saya menjadi momentum penting untuk mengubah paradigma berpikir dalam berkesenian dan kebudayaan pada semua lini apapun, khususnya pada konteks pengelolaan dan pengembangan ekosistem kesenian.

    Bayangkan, wabah Covid telah memporakporandakan seluruh dunia dengan segala tatanan rusak berantakan,  Di Indonesia terjadi kerusakan norma-norma, disintegrasi sosial dan budaya lewat media sosial. Berita hoax berseliweran di dunia digital virtual.

    [iklan]

    Masyarakat dipaksa Stay at Home, Work from Home, Acara kesenian dan budaya ditunda, seniman mati gaya, namun, ada beberapa peseni dengan komunitas yang mampu menerobos kebuntuan, dengan aplikasi yang ada di HP Android mereka tetap berkarya. Melalui teknologi Android itu, perlu dicermati untuk pengembangannya di masa mendatang, jelas bakal semakin canggih, dimudahkan, lebih praktis, efisien, efektif dan dituntut kreativitas tinggat ‘dewa’.

    Pada poin ini, diperlukan generasi muda yang memiliki penguasan teknologi virtual digital ‘mumpuni’ dengan beragam aplikasi yang terintegrasi, yang bersinergi dan berkolaborasi bersama sub-ekosistem kesenian lainnya, baik secara individu, melibatkan komunitas yang ada di daerah-daerah maupun yang ada di negara manapun di seluruh dunia.

    Di era Industri 4.0 saja, sudah banyak menjungkirbalikan semua sistem manajeman, SDM, transaksi, distribusi, transportasi, media informasi. Begitu pun di industri film, ke depan, tidak lagi menggunakan aktor/aktris, digantikan dengan animasi yang lebih sempurna akting dan bisa melakukan adegan yang sangat berbahaya, tanpa stuntman, tidak menggunakan pemeran pengganti, dst.

    Apalah jadi, jika penerapan 4 G bergerak ke 5 G atau 6 G untuk kurun waktu 10 – 30 tahun ke depan? Dimana, kecerdasan manusia yang dimilikinya telah mampu menciptakan kecerdasan mesin untuk menggantikan peran pekerja seniman yang bersifat mekanis, sistematis, dengan ukuran capaian yang telah diprogramkan dalam bentuk ‘Robotik’, Hologram, Animasi 4 Dimensi?

    Teknologi ini sudah ada, tinggal kita, generasi yang lahir di tahun 1960 – 2000 siap kah menghadapinya dengan percepatan menghasilkan karya melampui jamannya? Bayangkan, jika pertunjukan Teater tergantikan oleh ‘Wayang Golek’ berbentuk manusia yang sesuai dengan karekter cerita, bermacam tokoh di atas panggung telah diprogram/dikendali dengan durasi yang tepat, penonton merasakan emosinya karena didukung oleh Surround Sound, setiap tokoh bisa berinteraksi dengan penonton, berdialog interaktif yang memperkaya jalannya cerita.

    Begitu pun Penyair /Sastrawan, sekarang sudah ada aplikasinya untuk membuat puisi yang terintegrasi dengan narasi dan literasi ke link-link lainnya, melalui kata kunci (key word) yang sama. Bukan hanya puisi, tetapi juga dalam karya cerpen dan novel dari belahan bumi mana pun.

    Bagaimana pun majunya teknologi virtual digital, tetap kecerdasan intelektual seniman tidak bisa tergantikan, asalkan saja setiap individu peseni mau dan mampu mengelola karunia yang diberikan SANG MAHA yang tersembunyi di dalam OTAK dan HATI. Waktu yang bergerak di manajej dengan penuh kedasaran, kepedulian, ketertarikam untuk terus mengikuti perubahan peradaban yang sangat cepat berganti. Tidak bisa berdiam diri, apalagi bekerja sendirian, perlu ada sinergitas bersama siapa pun, dimana pun, kapan pun.

    Nah, mudah-mudahan di Forum Komunitas EKOSISTEM KESENIAN ini kita bisa saling belajar pembelajaran, dari seluruh lintas profesi kesenian dan kebudayaan dengan nilai-nilai kesetaraan, untuk melahirkan karya dalam memuliakan manusia, sebagai Hamba yang diamanatkan oleh SANG MAHA KREATIF untuk membawa misi Rahmat bagi Alam Semesta. (Eki Thadan, 11/4/2020)

    ekosistem kesennian komunitas kesenian sastrawan indonesia Seniman indonesia
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleSihir Sindir
    Next Article Perempuan yang Membenci Matahari

    Postingan Terkait

    Hak Tubuh Istirahat

    26 Januari 2026

    Ketika Bahasa Tegal Hampir Padam, Sastra Tegalan Menyalakan Api

    2 Desember 2025

    Refleksi dalam Cerpen “Requiem Burung Gereja”

    11 November 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Hak Tubuh Istirahat

    26 Januari 20269 Views

    Zaman Apokaliptik

    4 Januari 202688 Views

    Kisah Seorang Polisi di Republik Mimpi

    21 Desember 202541 Views

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 202545 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (206)
    • Bisnis (7)
    • Buku (83)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (78)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (188)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (143)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.