Cerpen

Cinta dan Dusta

Jangan Lupa Di Rate Ya!
Tinggal Pilih Bintang Saja!

Cinta dan Dusta

Muhammad Lutfi

Semenjak berlalu waktu kepergian Hamdan, Yati selalu termenung di belakang jendela di dalam kamarnya sendirian dengan wajah yang murung dan kesal. Sudah tiga bulan Hamdan tidak pernah lagi mengirimkan surat cinta kepada kekasihnya. Kotak pos di depan rumah selalu kosong dan kini terbengkalai karatan. Sebelum pergi merantau ke Jakarta, Hamdan pernah berjanji kepada Yati bahwa dia akan pulang dengan meraih kesuksesan dan memperistri Yanti. Maklum saja, wanita desa yang lugu ini adalah anak seorang saudagar kayu yang terbilang cukup sukses. Rumahnya berdinding marmer dan berlantai dua. Jarang sekali rumah seperti itu dimiliki oleh orang pedesaan.

Sumarno, ayah Yati adalah seorang yang keras dan tegas dalam berbicara. Seringkali perkataannya yang tegas tanpa dusta tersebut menyakiti hati orang yang menjadi lawan bicaranya. Seperti Hamdan dahulu ketika menyatakan keinginan untuk melamar anak kesayangan juragan kayu ini. Dengan tegas dan lugas dia berkata, “Kalau kamu mau melamar anakku, nanti kamu mau kasih dia makan apa? Sedangkan kamu masih pengangguran dan tidak jelas tujuanmu.” Perkataan tersebut yang menyebabkan Hamdan memberanikan diri berangkat pergi mencari nafkah ke Jakarta. Dengan bekal ijazah SMA dia meminta restu ibunya untuk mencari nafkah ke Jakarta.


“Yati, sebelum aku pergi ke Jakarta, aku ingin menitipkan cincin emas pemberian ibuku ini kepadamu. Kelak kalau ditanya orang lain yang ingin melamarmu, jawablah kalau Hamdan sudah meminangku,” kata Hamdan kepada Yati.

Berat rasanya hati seorang perempuan ditinggal pergi jauh kekasih yang sangat dicintainya. Air mata Yati meleleh membasahi pipinya yang putih dan mulus sebagai perawan desa yang cantik. Hamdan mendaratkan ciuman perpisahan ke pipi kekasihnya. Pelukan yang erat semakin mendesak nafas wanita muda yang akan ditinggalkan jauh kekasihnya. Jari-jari yang sudah lemas tak berdaya seakan tak rela melepaskan kepergian pria tersebut. Hamdan segera memulai perjalanannya di Jakarta. Sedangkan Yati tetap setia menunggunya di dalam rumah. Sebenarnya dalam hati perempuan itu hanya ada dua pilihan, kebimbangan atau keyakinan. Kebimbangan yang dia yakini sendiri, bahwa pria yang pergi jauh akan mudah terperdaya oleh bujuk nafsu duniawi. Hanya cincin emas yang terselip di jari manisnya yang dia pandang sesekali untuk mengenang ingatan bersama Hamdan dahulu.

Sementara itu, sudah silih berganti waktu banyak pria yang datang menyatakan maksud untuk melamar Yati. Tetapi hati pria-pria itu dicampakkan begitu saja karena Hamdan terlebih dahulu sudah memberikan janji kepada Yati bahwa setelah pulang dari Jakarta nanti, dia akan melamar Yati. Sumarno bahkan saking geramnya kepada perilaku anaknya itu, selalu berwajah merah dan tidak mau berbicara kepada anaknya yang sudah dia anggap sebagai anak yang bodoh. Sumarno bahkan malu kepada tetangga dan sahabatnya yang bernama Marta. Teman yang dahulu menolongnya ketika usaha mebel miliknya sempat bangkrut. Untuk membalas budi baik dari Marta, Sumarno berjanji akan menjodohkan anaknya dengan anak Marta. Dua hari yang lalu, Marta bersama keluarga besarnya datang ke rumah Sumarno. Kedatangannya tentu dengan maksud untuk menagih janji yang diucapkan sahabatnya dahulu.

“Assalamualaikum.”
“Wa’alaikum salam.”
“Silahkan masuk. Aku sudah lama menunggu kedatanganmu sejak kukirimkan surat kepadamu.”
“Tentu saja aku tidak lupa dengan hal itu.”

Sumarno nampak bahagia. Kini dia berpikir bahwa dia bisa menjalin ikatan yang erat dengan keluarga sahabatnya yang pernah menolongnya dahulu.

“Dimana Yati, apakah dia sedang ke luar rumah?”
“Tidak, dia sedang berada di kamar. Sebentar, aku panggilkan dia.”

Langkah kakinya melangkah cepat ke lantai atas menuju kamar Yati. Sementara itu, kamar pintu anaknya tertutup rapat dan terkunci.

“Yati, berbegaslah keluar. Kita sedang kedatangan tamu.”
“Aku sedang malas untuk melangkah keluar, pak.”
“Nak, hormatilah tamu kita. Dahulu mereka yang membantu kita ketika keadaan ekonomi keluarga sedang terpuruk.”

Pintu kamarnya perlahan terbuka, wajahnya yang musam keluar dari belakang pintu.

“Iya, pak. Segera aku akan menyusul ke bawah.”, kata Yati.

Sumarno segera beranjak pergi dan menyusul tamunya yang sedang menunggu di ruang bawah. Dia keluarkan semua makanan yang dimilikinya untuk menyambut tamu. Seluruh ruangan berisikan tawa dan bahagia di waktu sebelum Yati turun dari kamar.

“Assalamualaikum, saya Yati. Senang bapak dan ibu berkunjung ke rumah.”
“Owh, ini yang namanya Yati. Cantik dan manis.”

Yati menyambut tamu dengan wajah bahagia dan senyumnya yang manis sekali. Bau parfumnya memikat seluruh orang yang di ruang tamu. Dia bagaikan seorang dewi rembulan yang sedang hadir di perjamuan. Wajah seorang pria muda yang bernama Rafa, anak dari Marta menunjukkan kekaguman dan rasa takjub ketika melihat Yati. Sedikit tertegun dan tajam penglihatannya. Mereka pun berjabat tangan dan saling memperkenalkan diri sambil ngobrol kesana kemari. Di tengah perbincangan dua orang remaja itu, orang tua mereka menyela sedikit.

“Begini Yati, kedatangan pak Marta dan keluarganya ini bermaksud untuk melamarmu sebagai bagian dari keluarga mereka.”

Seolah mendengar tabuhan genderang yang menggelegar. Hatinya sontak kaget dan terbelalak kedua matanya. Dalam hati dia hanya menyisakan Hamdan seorang. Teringat janji-janji Hamdan kepada Yati dahulu. Ibarat memakan buah simalakama, itulah yang dirasakan perempuan desa tersebut. Bukan jawaban yang keluar dari mulutnya, tetapi seribu langkah kembali ke kamar. Bapaknya menyusul ke atas bersama ibunya.

“Nak, pikirkanlah baik-baik keputusan yang akan kamu pilih. Ini menyangkut masa depanmu nanti sebagai seorang wanita.”
“Maaf, buk. Tapi aku belum bisa menjawab sekarang.”

Isak tangis dan suara yang berat mengiringi penjelasan Yati. Sumarno dengan wajah merah membara memukulkan telapak tangan kanannya ke pintu kamar. Segera dia turun menemui tamunya kembali.

“Maaf pak Marta. Ternyata Yati belum bisa menemukan jawaban sekarang. Kalau sudah ada kepastian dari Yati akan saya kabari.”
“Kalau begitu, kita pulang dahulu. Sudah larut malam. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”

Suasana begitu memanas. Yati sedang berkecamuk perang didalam hati. Antara cinta dan dusta, itulah yang diberikan dari Hamdan untuk Yati. Berakibat fatal kepada keluarga Yati. Antara menunggu Hamdan, atau menjadi anak yang membahagiakan orang tua. Perasaannya semakin gelisah. Malam semakin larut menuju fajar. Tidak ada jalan keluar untuk keputusan yang dibuat. Tanpa berpikir panjang, hati wanita lebih memilih mengikuti nurani. Yati menulis surat perpisahan kepada orang tuanya. Dia akan pergi meninggalkan rumah sebelum pagi menyingsing. Dalam hati, dia takut jika berada di rumah nanti di pukuli oleh bapaknya. Sekarang keputusan telah bulat, Yati nekad menyusul jejak Hamdan ke Jakarta untuk menagih janji. Yati melangkah ke luar kamar membuka pintu. Tetapi bapaknya telah terlebih dahulu mengetahui tindakannya itu.

“Yati, turunlah ke bawah. Lihatlah isi amplop yang ada di meja itu. Barusan seseorang mengirimkannya kemari.”

Yati membuka isi amplop yang masih baru itu. Betapa merundung kecewa, itu adalah surat dari Hamdan. Dalam surat tersebut, Hamdan mengatakan tidak kembali ke desa karena sudah menikah dengan seorang wanita pengusaha di Jakarta. Bahkan Hamdan menyarankan Yati untuk segera menikah dan mencari lelaki yang lebih baik dari Hamdan, untuk melupakan segala kenangan yang pernah mereka arungi bersama. Setelah membaca surat itu, Yati semakin teriris habis perasaannya. Menyisakan trauma yang begitu dalam. Bahkan jatuh pingsan seketika. Seisi rumah panik. Yati dilarikan ke rumah sakit. Isak tangis ibunya tanpa henti membasahi pipi anaknya yang dicinta itu.

Setelah berjam-jam menunggu kesadaran Yati kembali. Akhirnya dia membuka matanya secara perlahan, mulutnya pucat pasi. Wajahnya lemes dan tak berdaya. Tidak ada harapan di dalam mata perempuan yang menjadi korban dusta itu. Seakan dia ingin mengakhiri hidupnya saat itu. Melihat di kanan dan kiri, wajah-wajah orang yang mencintai dan membesarkannya. Bahkan ketika dia dicampakkan dan tidak ada yang peduli, merekalah yang ada untuk Yati. Bapak dan ibu Yati memeluk Yati erat.

“Assalamualaikum, pak Marno.”
“Waalaikumsalam. Pak Marta dan keluarga datang kesini. Alhamdulillah.”
“Setelah tau kabar Yati dari anda. Kami segera bermaksud menjenguk Yati.”

Kebaikan Marta dan keluarganya memang tulus. Dia menjenguk putri Sumarno yang sekarang sedang terlunta. Siapapun, pasti tersentuh hatinya merasa iba melihat keadaan perempuan tersebut. Rafa duduk di samping Yati, dan memegang jemari tangannya. Dengan penuh perasaan sayang, Rafa memberi dukungan kepada perempuan yang dicintainya untuk mengembalikan semangat hidupnya. Tetapi perempuan yang malang itu sedang tidak mau melihat dan mendengar keadaan di sekitarnya. Hatinya sudah tergerus air mata. Tetapi nasi sudah menjadi bubur. Semua yang terjadi hanya bisa disesali. Yang ada pada dirinya untuk membangun semangat hidupnya sekarang, hanya membuka lembaran baru.

Selama Yati dirawat di rumah sakit, Rafa selalu datang menjenguknya. Bahkan dia tak segan menyuapi Yati yang sedang merasakan pahitnya hidup tersebut. kebaikan dan ketulusan Rafa, sungguh telah membuka hati yati. Hati yang dulu buta dan tuli, kini sanggup mendengar dan melihat kembali kebaikan dari orang lain yang peduli padanya. Setelah tiga hari yati terbaring di rumah sakit, akhirnya dia dibolehkan untuk kembali pulang ke rumah. Semua keluarga berbahagia mendengarnya. Bahkan, keluarga pak Marta ikut berbahagia dan mengantarkan Yati pulang ke rumah.  Kebaikan pak Marta dan keluarganya telah membuka hati dan pikiran Yati. Sekarang, dia telah melihat surga yang sejati dari Rafa dan keluarganya. Yang selalu tulus dan menerima keluarga Yati. Bahkan selalu membantu keluarga Yati. Sekarang, harapan dan cahaya terang itu adalah Rafa. Matahari yang memberi kehidupan untuk Yati. Menumbuhkan kembali Yati yang sempat layu.

Pati, 15 Juni 2020

Muhammad Lutfi, lahir di Pati, pada tanggal 15 Oktober 1997. Merupakan putra dari Slamet Suladi dan Siti Salamah yang menyelesaikan S-1 Sastra Indonesia di UNS Surakarta.

Leave a Comment