Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Puisi » Antara Senja dan Aku
    Puisi

    Antara Senja dan Aku

    3 Agustus 2019Updated:15 November 2019Tidak ada komentar3 Mins Read13 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Puisi-puisi karya Beni Satria. Seperti mengajak kita untuk senantiasa napak tilas pada hari-hari yang sudah terlewati, menelusuri setiap serat urat bumi, merekam jejak dan mengabadikan peristiwa dengan kata-kata. Sebagaimana mendaki gunung yang mengandung banyak filosofi hidup: tentang tujuan hidup yang direncanakan dengan matang, tentang seberapa kuat ikatan persahabatan, perjuangan menaklukan ego, fananya waktu, memaknai seberapa kecilnya kita dengan semesta dan memahami arti sejati dari pulang. Pulang yang menjadikan kita menyadari tentang apa, siapa pun kita nanti, keluarga adalah tempat kita kembali. Segala perasaan itu Beni Satria coba tuangkan dalam karya-karya puisinya yang meminta kita untuk merenungkannya bersama. (Redaksi)

    Puisi-Puisi Beni Satria

    Ekologi

    Malam menggantungkan sunyi pada ujung sabit bulan yang cahayanya tak penuh tetapi ampuh untuk membunuh riuh. Sepertinya sisi manusiawi ini mencoba mengartikan titik triangulasi diri atau memang simbol itu ada hasil dari aklimitasi renungan kepada sunyi. Yang pasti aku telah berdiri pada ujung batu yang tidak ada satu pun lebih tinggi dari kepalaku untuk mengagumimu. Bulan butuh meminjam cahaya untuk menciptakan sebuah malam sedangkan diri ini tak perlu meminjam malam untuk melakukan pejaman entah dalam sebentuk episode mimpi atau renungan yang menciptakan impian, yang pasti aku terasa malu ketika kesombonganku menginjak untuk mencapai tinggi

    Tangerang Selatan, 2018

    Antara senja dan aku
    :Rei

    Duduklah sejenak di sampingku sayang. Geser kembali bangku itu yang telah kau halu arah menghadap jendela
    Hanya untuk menikmati senja, entah apa yang terjadi pada cahaya sebelum memasuki ruang matamu hingga kau larut dalam pencampuran warna itu, jingga, merah, biru, hijau, dan orange.

    Aku tak perduli, yang kutahu zat dopamine telah membuat perasaan ini menjadi putih agar kau dapat melihat aku,
    Aku di sini, geser kembali bangku itu sayang.
    Bicaralah
    Buatlah sedimikian adanya sebagai pelengkap meja di mana kita bisa dapat berbicara tentang duniamu yang tak kumengerti sedikit pun bersama corak pikirmu
    Tetapi aku ingin menjadi mengerti, dengan menjadi pendengarmu yang baik
    Geser kembali bangku itu sayang
    Tataplah mata ini
    Lihatlah,
    sebagian rindu, sebagian resah, sebagian kagum, sebagian sayang yang membingkai
    Karena sebagian lagi yang membuat utuh ada bersamamu
    Kau tetap tak menggeser bangku itu
    Engkau tetap menatap langit senja dari jendela yang kubuat untukmu
    : keindahan itu hanya hanya sesaat karena bayang masa lalumu ada di sana itu alasanmu menatap senja
    Bayanganku berlalu meninggalkanmu menjadi masa lalu
    Aku menatapmu dari luar jendela
    Akhirnya kau menatapku berjalan menjauh darimu menuju senja
    Itu yang kuinginkan sejak lama
    Kau melihatku walau aku menjadi masa lalu
    Antara senja dan aku

    Tangerang selatan 2018

    [iklan]

    Kitab delapan penjuru mata angin bagian satu

    Anaphalis bersembunyi di balik batang-batang daunnya yang memanjang kearah rembulan sambil mengintip tentang kesendiriannya untuk malam diantara lipatan jelaga rasi-rasi bintang, gaun beludrunya itu terlihat elok setelah meminjam pecahan teja yang ternyata pada purnama hari kesepuluh yang terang itu hasil meminjam dari matahari— bulan meminjam matahari untuk terang.

    Ternyata surya dan kencana pun pembuat lembahan untuk tanaman abadi itu diantara ilalang dan bunga-bunga cantigi yang merah ranum.

    Edelweiss aku kenal pahat-pahatan namamu dari lidah para pendaki yang dimabuk mimpi seperti halnya aku yang mengemas impian dalam ransel bersama matras, nesting, kompas bidik arah, karvak pelipat jarak, kusadari saat ini ternyata aku mempunyai alat untuk menuju ke arah yang bernama impian untuk kurangkum bersama peta di dalam tenda usang yang terkikis waktu.. Ah api unggun pun melumat ranting menjadi bara sekarang aku tahu alasan menyemat hati untuk mencintaimu wahai alam yang melahirkan segelumit kode-kode etik pecinta alam.

    Tangerang selatan 2018

    mendaki gunung Puisi Alam Puisi Ekologi puisi kehidupan
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleTeman Duduk: Membaca Cerpen M. Kasim
    Next Article Lora Muhson

    Postingan Terkait

    Puisi-Puisi Alfiansyah Bayu Wardhana

    12 April 2026

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 2025

    Puisi-Puisi Amanda Amalia Putri

    30 November 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Inspirasi Iptek Di Dalam Bismillah

    29 April 20267 Views

    Kolam Renang “Bukit Lumpang” Menjadi Destinasi Warga Lokal

    27 April 20269 Views

    Situs Ziarah KH. Abdul Hanan Babakan Ciwaringin Cirebon

    27 April 20266 Views

    Healing Murah Meriah di Pantai Kejawanan: Wajah Baru, Vibes Makin Seru!

    24 April 202612 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (209)
    • Bisnis (7)
    • Buku (85)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (79)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (189)
    • Sains (51)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (162)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.