Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Tradisi » Tradisi Puput Puser
    Tradisi

    Tradisi Puput Puser

    11 November 2019Updated:11 November 2019Tidak ada komentar3 Mins Read2,547 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Tradisi Puput Puser

    Kehadiran manusia baru atau kelahiran seorang bayi ke dunia ini sudah pasti akan membawa kebahagiaan bagi kedua orang tuanya dan seisi keluarga.

    Di kalangan  masyarakat Jawa, kelahiran bayi adalah sesuatu yang dianggap sakral,  sehingga sebaiknya diadakan upacara adat untuk menyambut kehadirannya. Tidak kurang dari 6 tradisi atau  ritual upacara yang dilakukan oleh orang Jawa dalam menyambut kehadiran seorang bayi . Rangkaian tradisi tersebut adalah:
    Mengubur Ari-Ari,  Brokohan, Sepasaran,  Aqiqah, Selapanan
    , dan Puputan.

    [iklan]

    Biasanya, karena alasan kepraktisan dan ngirit biaya, seringkali ritual Puput Puser dilaksanakan bersama-sama dengan Sepasaran atau Selapanan, sekaligus pemberian nama kepada si bayi.

    Setiap bayi yang baru lahir dapat dipastikan masih dalam keadaaan terikat dengan tali ari-ari yang menghubungkan antara pusat (pusar) bayi dengan ibunya untuk pemberian nutrisi atau makanan ketika bayi masih berada dalam kandungan. Pada saat sang bayi lahir ke dunia, tali tersebut akan dipotong atau digunting, dan masih tersisa sedikit di pusat (pusar) sang bayi.Ritual Puput Puser atau Puputan akan dilakukan setelah sisa tali pusar mengering dan terlepas dari perut bayi. Tujuannya adalah untuk memohon keselamatan bagi bayi yang besangkutan.

    Setelah sisa potongan tali ari-ari yang menempel di pusat (pusar) bayi terlepas, segera pusar bayi ditutup dengan uang logam atau benggol yang sudah dibungkus kain kasa atau kapas, dan diikatkan pada perut bayi. Maksudnya supaya nantinya pusar si bayi tidak menonjol keluar atau bodong. Sisa potongan tali ari-ari yang sudah terlepas itu kemudian disimpan baik-baik.

    Penutupan pusar dengan menggunakan uang logam atau benggol tersebut dilakukan untuk bayi lelaki atau perempuan. Akan tetapi ada juga yang membedakan penutupnya. Pada bayi lelaki, pusar yang baru saja mongering itu ditutup dengan sepasang (dua butir) merica, dan untuk bayi perempuan ditutup dengan sepasang ketumbar.

    Selanjutnya, ritual dilanjutkan dengan mengadakan kenduri atau selamatan yang dihadiri oleh para kerabat dan tetangga dekat. Sajian makanan yang disediakan untuk para tamu yang hadir dalam acara kenduri antara lain berupa  Nasi Gudangan (nasi dengan sayur mayur dan parutan kelapa) berikut lauk pauknya, bubur merah putih, dan Jajan Pasar. Nasi Gudangan mengandung makna kesegaran jasmani dan rohani dari sang bayi, dan Jajan Pasar melambangkan kekayaan untuk sang bayi.

    Orang Jawa percaya bahwa jabang bayi yang baru lahir ke dunia itu diiringi oleh 4 saudaranya. Itulah yang kita kenal dengan Sedulur papat lima pancer.  Sedulur papat adalah apa-apa yang mengiringi kelahiran si jabang bayi, yaitu:  kakang kawah (ketuban), adi ari-ari (plasenta), getih (darah), dan pusar (tali plasenta). Adapun yang kelima pancer adalah si jabang bayi itu sendiri.  Sedulur papat itu harus dirawat dengan baik, karena orang Jawa percaya bahwa dengan merawat dulur papat dan lima pancer, kelak di kemudian hari si bayi akan akan hidup rukun dengan saudara-saudaranya (kakak dan adiknya). (AY)

    mitos indonesia Mitos Nusantara puput puser tradisi bayi
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleEsai Tentang Esai
    Next Article Saung Angklung Udjo

    Postingan Terkait

    Dari Desa Gandoang untuk Dunia: Menjaga Makna Budaya dalam Tradisi Ngasa

    9 Mei 2026

    Tradisi Potong Jari, Papua

    17 Mei 2024

    Tradisi dan Riwayat Ketupat

    25 April 2024
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Puisi-Puisi Wyaz Ibn Sinentang

    10 Mei 202621 Views

    Dari Desa Gandoang untuk Dunia: Menjaga Makna Budaya dalam Tradisi Ngasa

    9 Mei 20266 Views

    Menikmati Panjat Tebing Puisi Penyair Darmanto Jatman “Memandang Padang Alang-Alang Pada Suatu Malam”

    9 Mei 202657 Views

    Wisata Dataran Tinggi Dieng Kembali Ramai Dikunjungi Wisatawan

    5 Mei 20267 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (209)
    • Bisnis (7)
    • Buku (85)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (80)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (190)
    • Sains (51)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (166)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (99)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.