Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Puisi » Puisi-Puisi Faqod Faaz
    Puisi

    Puisi-Puisi Faqod Faaz

    12 Juli 2026Tidak ada komentar3 Mins Read0 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Menolak Pulang

    Sandal kiri di bawah kursi
    masih menyimpan debu jalan;
    solnya miring sedikit,
    seperti menunggu kaki yang ragu.

    Gelas plastik dekat jendela
    menahan sisa manis.
    Semut datang berbaris
    lebih tertib daripada kabar rumah.

    Kancing di dasar laci
    tidak lagi mencari baju.
    Ia hanya berputar kecil
    setiap laci dibuka terlalu cepat.

    Struk belanja pudar tintanya,
    tetapi harga tetap tinggal:
    angka-angka tipis
    yang menempel di belakang kepala.

    Kunci tanpa gantungan
    dingin di telapak tangan;
    ia tak lagi yakin
    pintu mana yang pernah percaya.

    Foto keluarga terlipat sudutnya;
    satu wajah tampak separuh terang,
    separuh lagi tenggelam
    di putih kilat kamera.

    Di balik kalender lama, tertulis:
    beli beras, bayar listrik,
    angkat jemuran,
    jangan lupa biasa saja.

    Sendok kecil di rak belakang
    berbunyi sebelum disentuh,
    seolah dapur punya cara
    memanggil yang tidak lapar.

    Malam bergerak pelan di rumah.
    Benda-benda itu tidak hilang;
    mereka hanya berpindah
    ke tempat yang sulit ditanya.

    Di lantai, sandal kiri
    tetap menghadap pintu,
    sementara debu baru
    mulai menutup namanya

    Memakai Hari Senin

    Kenakan Senin
    seperti kemeja lama;
    periksa dulu kerahnya,
    barangkali ada lelah yang mengeras.

    Jangan kancingkan terlalu rapat.
    Dada perlu sedikit udara
    untuk menyimpan bunyi
    yang belum mau disebut sakit.

    Di saku kirinya,
    selipkan uang kecil,
    tiket bus,
    dan wajah yang bisa dipinjam.

    Di saku kanan,
    lipat marah pelan-pelan;
    jangan sampai ujungnya keluar
    saat namamu dipanggil.

    Jika ada noda kopi,
    biarkan saja.
    Tidak semua pagi
    harus tampak bersih.

    Setrika senyum seperlunya.
    Rapikan hanya bagian luar;
    orang-orang jarang memeriksa
    jahitan di dalam tubuh.

    Menjelang sore,
    Senin mulai longgar
    di bagian bahu.
    Benangnya tertarik
    dari arah pulang.

    Jangan dilipat rapi
    ketika malam tiba.
    Gantungkan saja di belakang pintu,
    masih dengan hangat tubuhmu.

    Besok pagi,
    barangkali kemeja itu
    akan turun sendiri
    sebelum kau bangun.

    Pesan Tertahan

    I
    Bu, aku hampir menelepon.
    Di ujung jari, tombol hijau
    berubah menjadi pintu
    yang enggan kubuka.

    Aku takut suaramu
    sedang mengangkat pagi
    dari lantai rumah
    sebelum siapa pun bangun.

    Maka kurekam napas:
    tiga detik, lima detik,
    garis suaraku bergetar,
    lalu kuhapus.

    II
    Aku ingin bilang
    hari ini tidak terlalu baik,
    tetapi kalimat itu membesar
    di layar yang kecil.

    Kau bertanya, “sudah makan?”
    kalimat pendek
    yang selalu menemukan cara
    menjadi tangan.

    Di belakangku, kipas berputar.
    Di depanku, namamu menyala.
    Suaraku berhenti
    sebelum menjadi gelombang.

    III
    Kalau aku jarang pulang,
    jangan cari salah
    di gagang pintu
    atau sandal depan rumah.

    Kadang aku hanya perlu
    menjauh sebentar
    dari kalimat yang datang
    dengan telunjuk.

    Rekaman terakhir
    berhenti pukul 23.17.
    Tidak kukirim.
    Namamu tetap menyala.

    Dinda Fatimah Zahra Syam Alfauzan, pemilik nama pena Faqod Faaz, lahir di penghujung tahun 2001. Ia merupakan mahasiswa Sosiologi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia yang masih belajar membaca hidup melalui puisi. Beberapa puisinya pernah meraih penghargaan dalam lomba kepenulisan tingkat nasional. Kini, ia terus menanam jejak di media daring.

    puisi mahasiswa Puisi-Puisi Faqod Faaz sastra puisi
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleJarum Jahit

    Postingan Terkait

    Puisi-Puisi Wyaz Ibn Sinentang

    10 Mei 2026

    Menikmati Panjat Tebing Puisi Penyair Darmanto Jatman “Memandang Padang Alang-Alang Pada Suatu Malam”

    9 Mei 2026

    Puisi-Puisi Alfiansyah Bayu Wardhana

    12 April 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Puisi-Puisi Faqod Faaz

    12 Juli 20260 Views

    Jarum Jahit

    12 Juli 20261 Views

    Sumbi dan Hak Perempuan Memilih Pasangan

    30 Juni 202626 Views

    Dunia yang Tak Pasti: Ilusi, Persepsi dan Kebenaran dalam Ilusi Delusi

    30 Juni 202618 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (209)
    • Bisnis (8)
    • Buku (96)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (160)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (82)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (191)
    • Sains (51)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (176)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (99)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.