Syafazah Azrina
Studio podcast nuansa putih kedap suara, meja di tengah ruangan dan dua kursi saling berhadapan menjadi saksi atas usaha Naira untuk menyuarakan isu-isu yang ditenggelamkan oleh mereka yang menyebut dirinya sebagai pencinta demokrasi.
Sebagai seorang podcaster, Naira berhak menentukan dan mengundang siapa pun untuk datang bertukar pikiran dengan dirinya. Seperti pada malam ini, Naira mengundang seorang pria yang selama lima tahun mendedikasikan dirinya sebagai penulis buku. Pria ini bernama Rovan, penulis “viral” yang memiliki keberanian mengkritik kebijakan pemerintah melalui tulisan-tulisannya.
Sudah lama Naira menunggu kedatangan Rovan ke studio podcast ini. Bukan hanya sekadar menantikan isi pikirannya, Naira sudah lama mengincar Rovan. Sekarang adalah kesempatan emas yang jika terlewat, semua usaha akan sia-sia.
“Selamat malam, pendengar podcast ‘Jarum Jahit’. Di depan saya, sudah ada tamu spesial yang selalu kita harapkan kehadirannya. Penulis favorit kita, ya, teman-teman. Selamat malam, Mas Rovan. Terima kasih sudah menerima tawaran untuk hadir di podcast ini.” Naira menjabat tangan Rovan, menyapa dengan ramah dan senyum manis.
“Saya juga berterima kasih, Mbak Naira. Sering sekali podcast anda muncul di beranda YouTube. Sekarang saya dapat kesempatan masuk ke ruangan ini,” jawab Rovan penuh semangat.
Naira tidak menyangka respon Rovan akan begitu hangat, tak seperti raut wajahnya saat pertama kali datang yang memasang wajah datar dan terlihat tidak ramah. Naira belum mengeluarkan usaha besar, ternyata dia tipe yang mudah ditangani. Awal yang bagus bagi Naira, hanya berikan beberapa pancingan saja agar semakin menarik perhatiannya.
“Mas Rovan, kita hari ini akan membahas topik terkait kemanusiaan. Ada buku yang Mas tulis itu memikat hati saya, judulnya ‘Kematian Secara Paksa’. Saya baca ini bukunya lebih ke arah suasana demo, ya, Mas? Boleh ceritakan lebih lanjut ke para pendengar, Mas?”
“Betul sekali, Mbak Naira. Buku ini saya buat saat melihat unjuk rasa yang terjadi bulan Agustus tahun lalu. Sudah lama sekali saya nggak melihat demo sebesar ini. Semua orang turun ke jalanan, mereka bersuara tentang hak-hak dan keadilan yang belum didapatkan. Mereka orang-orang gigih, Mbak.” Rovan menghentikan pembicaraannya sejenak. “Waktu itu suasana memanas sekali, saya datang ke lokasi bersama beberapa teman. Rasanya nggak karuan, dan gas air mata juga dikeluarkan oleh polisi,” sambung Rovan menjelaskan.
“Saya teringat ada kalimat seperti ini di buku Mas Rovan ‘nurani mereka telah hilang bersamaan dengan kematiannya’, apakah saat itu Mas melihat kejadian secara langsung? Atau barangkali sempat terlihat wajah pelakunya?” Naira sangat penasaran mendengar jawaban Rovan.
“Ya, saya melihat jelas bagaimana mobil itu menabrak seorang pria. Saya ingat betul, dia memakai kemeja biru tua dan membawa kantong plastik hitam. Saya dengar kalau plastik itu berisi bom, jadi mobil itu langsung menabrak sampai tubuh pria itu terseret. Astaga, ini tindakan bodoh dari aparat negara.” Air muka Rovan mengatakan kemarahan sekaligus kesedihan. Rovan izin untuk minum terlebih dahulu, lalu melanjutkan kalimatnya, “Kaca mobil itu sangat gelap, nggak ada yang bisa melihat wajah orang-orang di dalam mobil itu.”
Naira meredam tangis sekaligus amarah.
“Waktu saya melihat berita, ternyata yang menabrak itu baru dilantik menjadi anggota kepolisian. Mana mungkin mereka nekat melakukannya tanpa perintah atasan yang berkuasa. Bukan begitu, Mas Rovan?” Naira merasa puas melihat wajah Rovan yang mulai agak pucat.
“Saya rasa juga demikian, Mbak Naira.”
Podcast sudah hampir di penghujung acara. Selama 30 menit, selain membahas demo, mereka membicarakan hal-hal lain terkait kemanusiaan. Alur percakapan mereka berjalan seperti mesin jahit. Jika salah arah, Naira akan tertusuk jarumnya. Jika tidak, maka hasil akan memuaskan. Hanya perlu menambahkan sedikit jahitan lagi agar sempurna.
“Wah, Mas Rovan! Pikiran saya begitu tercerahkan saat berbincang dengan Anda. Sebelum podcast kita malam ini berakhir, saya sudah menyiapkan puisi untuk Mas Rovan. Tapi sebelumnya, mohon maaf kalau terasa aneh, karena saya memang nggak jago nulis puisi.” Naira mengeluarkan secarik kertas dari saku celana kanannya.
Untuk pertama kalinya
Aku menyiram dan merawat bunga
Aku menjaganya
Hingga bunga bermekaran
Di taman hatiku
Tapi…
Bunga itu sudah layu dan mati
Bukan karena lupa disiram
Atau tak dirawat lagi
Ada orang yang sengaja merusak
Mengusik kebahagiaan diriku
Dan aku pastikan
Dia mengalami nasib serupa
Wahai bungaku
Tak sedetik pun aku melupakanmu
Aku sedang mencari cara
Agar dia merasa bersalah
Dan menerima hukumannya.
“Saya tebak, ini sesungguhnya bukan tentang bunga, kan? Saya lumayan suka dengan puisi Anda, Mbak Naira.”
“Memang kemampuan sastra Mas Rovan nggak perlu diragukan lagi dan syukurlah puisi saya nggak terdengar aneh,” ucap Naira tertawa ringan.
Akhirnya, malam itu podcast bersama Rovan berakhir. Tapi, tidak dengan hubungan keduanya. Sejak itu, Rovan tertarik kepada Naira. Dia merasakan pesona dari cara Naira berbicara dan tatapan teduh matanya.
Enam bulan sudah berlalu. Naira ingin Rovan memperkenalkan dia ke keluarganya. Mulanya Rovan ragu. Tapi, ia tidak ingin putus dengan Naira. Apa boleh buat.
“Mas, ajak aku dong ketemu Bapak dan Ibu. Katanya kamu mau menjalin hubungan serius sama aku.” Naira berusaha mendesak Rovan.
“Iya, tapi nggak sekarang, Nai. Mas udah nggak tinggal sama mereka. Nanti aja, ya,” ucap Rovan meminta waktu.
“Mas udah sering bilang nanti-nanti. Kalau emang nggak mau sama aku, ya udah kita putus aja. Masa aku nggak boleh dapat restu dari orang tua kamu, Mas? Udahlah selesaikan saja hubungan ini.” Naira mengungkapkan kekesalannya, dia berharap ancaman yang dibuat-buat ini nggak bikin putus sungguhan. Kalau sampai sungguhan, rencananya terancam gagal.
“Kamu ini ngomong apa, sih, Nai. Nggak ada kata putus, ya. Ada yang belum mas ceritakan ke kamu, tapi intinya Mas menjaga jarak dari Bapak. Setiap kali melihat wajahnya, rasanya ingin membawa Bapak ke tempat seharusnya dia berada. Tapi, aku nggak bisa.” Rovan menjelaskan agar tidak ada kesalahpahaman.
Naira menghela napas. “Aku nggak tau kalau kamu ada masalah sama Bapak. Kalau begitu, kita ketemu kalau kamu sudah siap saja. Aku bisa menunggu,” balas Naira.
“Sore ini. Ayo, kita berangkat. Jangan ditunda-tunda lagi. Urusan aku sama Bapak nggak akan menghambat hubungan kita.” Rovan meyakinkan Naira.
Rovan menepati janjinya. Sore ini dia datang bersama Toyota, menjemput Naira. Sebentar lagi Naira akan melihat langsung wajah yang selama ini dia cari. Kebenaran akan segera terungkap.
Rovan dan Naira tiba 30 menit di rumah orang tua Rovan. Dia mengetuk pintu, lalu dibuka oleh ibu-ibu berumur 50 tahun. Naira yakin Ibu ini adalah orang tua Rovan.
“Bu, Rovan pulang. Ini pacar aku, namanya Naira,” ujar Rovan menunjuk ke arah Naira.
“Anak Ibu sekalinya pulang langsung bawa calon menantu. Ayo, masuk, Nak Naira.” Ibu Rovan menyambut hangat kedatangan Naira.
“Ibu berlebihan, bulan lalu aku mampir ke rumah, kok. Bapak ada di rumah, Bu?” tanya Rovan melihat ke dalam rumahnya.
“Ada di kamar. Kamu masih nggak mau ketemu Bapak?”
“Kali ini aku mesti ketemu, mau kenalin pacar aku sama minta restu.”
Naira berhasil melangkahkan kakinya ke rumah ini. Ibu Rovan meminta mereka menunggu di ruang tengah. Saat ini, Naira mulai memperhatikan sekeliling rumahnya. Sampai dia melihat ke satu titik. Baju polisi tergantung rapi yang dibungkus plastik laundry berada di dinding dekat kamar. Naira benci seragam itu.
“Bapak kamu ternyata polisi, Mas? Tapi kamu menentang mereka lewat tulisanmu. Betulan nggak suka atau gimmick aja biar banyak pembaca?”
“Aku tau isi pikiranmu kalau tau pekerjaan Bapak. Aku juga nggak suka sama pekerjaan Bapak. Hatinya lama-lama kayak orang mati, nggak berfungsi.”
Belum sempat Naira menanggapi perkataan Rovan, Ibu dan Bapak Rovan turun dari lantai dua. Raut wajah pria tua itu sama dengan wajah Rovan saat pertama kali bertemu. Tapi, ini versi lebih tertekuk.
“Kamu pacar Rovan?” tanya Ayah Rovan
“Iya Om, saya Naira.” Naira merasa tatapan tak suka dari Bapaknya.
“Ketemu orang nggak ada ramah-ramahnya.” Rovan menimpali dengan ketus.
Tugas Naira bertambah satu. Harus mendapatkan kepercayaan Bapak dari pacarnya. Jahitan Naira sudah selesai, tinggal menggunting benang-benang yang mengganggu. Selama ini Naira hanya memanfaatkan Rovan untuk balas dendam ke Bapaknya. Pria yang ditabrak pada demo tahun lalu adalah tunangan Naira. Plastik hitam itu hanya berisi brownies untuk Naira. Sudah lama Naira mencari tahu informasi dalangnya dan sekarang dia sudah berdiri tepat di depannya.
“Maafkan aku, Rovan. Salahkan Bapakmu atas dosa yang dia perbuat,” ucap Naira dalam hati.
Syafazah Azrina adalah penulis pemula yang masih perlu banyak belajar lagi. Melintasi jalan berkelok agar tulisan menjadi lebih baik. Menikmati segala proses untuk mencapai tujuan.
