Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Kritik Sastra » Tuhan, Imajinasi Manusia, dan Kebebasan Mencipta
    Kritik Sastra

    Tuhan, Imajinasi Manusia, dan Kebebasan Mencipta

    15 Desember 2019Updated:15 Desember 2019Tidak ada komentar5 Mins Read49 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Socrates
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Tuhan, Imajinasi Manusia dan Kebebasan Mencipta

    H. B. Jassin

    Sifat 20 menyebutkan bahwa Tuhan Melihat.—Apakah Ia punya Mata? Tuhan Mendengar.—Apakah Ia punya Mulut? Punya Lidah? –Kalau Tuhan bisa murka sebagaimana dikatakan dalam Al-Quran, mengapa Ia tidak bisa Tersenyum atau Tertawa?

    Tidak! Tidak semua itu!! Apa pun pertanyaan kita dan apa pun jawaban kita, senantiasa Ia lebih dari mempunyai sifat dan keadaan yang bisa kita gambarkan. Ia adalah Mukhalafat lil hawadith, beda dari segala yang baru.

    Tuhan terlalu Besar untuk bisa dimengerti. Kita hanya dapat menggambarkan-Nya dengan kemampuan kita masing-masing dan kita tahu bahwa gambar itu bukan Tuhan. Tetapi sebagai manusia pencari, kita mau menggambarkan-Nya juga, seperti

    Aku manusia
    Rindu rasa
    Rindu rupa

    Maka apabila seorang pengarang atau seorang pelukis menggambarkan Tuhan dengan kata-kata, dengan lukisan, ataupun dengan patung, dia tahu bahwa itu bukanlah Tuhan, tapi Ide Ketuhanan. Demikian pula orang lain, umat yang melihat, mereka tahu bahwa itu bukanlah Tuhan, tapi ide Ketuhanan.

    [iklan]

    “Untuk melihat pekerjaan Tuhan lihatlah pekerjaan diri sendiri,” kata penyair Rumi. Tentulah bukan maksud Rumi hendak menghina Tuhan dengan ucapan ini.

    Larangan untuk ‘mempersonifikasikan’ Tuhan, sekalipun hanya dalam imajinasi, sama dengan meniadakan Tuhan dalam hati sanubari kita.

    Jangankan Kenyataan Tuhan, kenyataan manusia saja pun tidak dapat dicakup oleh manusia. Tatkala seorang pengarang membuat sebuah novel tentang diri saya, saya tidak merasa bahwa pengarang itu telah berhasil melukiskan seluruh eksistensi diri saya dan meskipun ada sudut-sudut negatif yang disorotinya, saya tidak merasa terkena, karena pandangan itu adalah pandangan dari sudut si pengarang belaka. Saya merasa lebih tahu dan dapat mempertanggungjawabkan apa yang dianggap sebagai kesalahan saya dari sudut yang baik. Dan saya tidak perlu marah, karena bagaimana pun juga, suatu hasil karya adalah hasil imajinasi artistik yang tidak identik sama dengan kenyataan objektif.

    Dengan demikian saya pun tidak berpendapat bahwa Tuhan menjadi murka, karena manusia masing-masing mempunyai tanggapan yang terbatas mengenai Zat-Nya yang tidak tersebut dan tidak terbayangkan secara lengkap apalagi sempurna. Zat-Nya yang entah berapa dimensional hanya kita tanggapi dengan pikiran kita sebagai manusia yang tiga dimensional.

    Orang menguatirkan apabila Tuhan digambarkan dengan sifat-sifat manusia, mungkin orang akan terlalu meremehkan-Nya. Misalnya Ia digambarkan pilek (selesma), sakit keras atau mungkin juga mati. –Zat yang Maha Tinggi tak mungkin mati dan Ia tidak mati meskipun orang seribu kali mengatakan Ia telah mati. Mati hanyalah pengertian dalam benak si pengarang, atau dalam arti yang lain sebagaimana matinya-Nietzsche ialah Ide Ketuhanan dalam hati manusia yang memperalat Tuhan untuk kepentingan dirinya sendiri.

    Beberapa tahun yang lalu saya bercakap-cakap dengan seorang pelukis yang mengatakan bahwa ia merasa tertekan jiwanya karena tidak leluasa dapat mengekspresikan dirinya dengan lukisan akibat larangan dalam agama. Ia pun ingin mengembangkan bakatnya dalam seni pahat, tapi senantiasa ia terbentur pada orang-orang yang melarang pemahaman bentuk benda yang bernyawa, baik manusia maupun binatang.

    Saya kira seniman-seniman Barat dalam hal ini mempunyai kebebasan yang lebih besar dan sejarah nabi-nabi menjadi sumber yang tak kering-keringnya bagi imajinasi seniman-seniman Barat yang kaya. Mereka menggambarkan kelebihan Nabi Isa, peristiwa-peristiwa dalam perjalanan hidupnya menyebarkan cinta kasih sampai-sampai kepada kematiannya yang penuh pengorbanan dan penderitaan. Mereka dalam imajinasinya menghayati kembali perjalanan hidup nabinya dan orang yang melihat karya-karya mereka pun dapat merasakan kembali suasana pengabdian yang tulus dan ikhlas itu. Dengan demikian agama dan Ketuhanan bukan sesuatu yang berada di luar diri, tetapi dihayati dengan badan dan jiwa.

    Malahan Tuhan digambarkan sebagai orang tua yang turun dari awan-gemawan membawa seorang bayi yang akan dititiskannya ke dalam rahim gadis bernama Maria yang sedang lelap tidur di bumi. Si pelukis pastilah tahu bahwa yang digambarkannya itu bukanlah Jeus yang pernah hidup dan bukan pula Tuhan yang lain dari segala yang lain, tapi ide abstrak yang diaktualisasikan supaya dimengerti oleh manusia.

    Dalam tahun 1948 timbul heboh karena sebuah sandiwara radio Bahrum Rangkuti –sekarang Kepala Pusroh Angkatan Laut Republik Indonesia berjudul Sinar Memancar dari Jabal An-Nur di mana ditampilkan adegan Nabi Muhammad menerima wahyu yang pertama di Gua Hira melalui mikrofon. Rapat raksasa diadakan di mana-mana sebagai protes, karena peristiwa itu dianggap sebagai penghinaan terhadap agama dan Rasulullah. Tapi tatkala drama itu juga dimuat dalam majalah, tidak ada reaksi apa-apa.

    Disayangkan bahwa dalam polemik yang terjadi tidak dikemukan alasan-alasan ilmiah berdasarkan ayat-ayat Al-Quran dan hadis, pun tidak dicoba dimengerti persoalan dari sudut perkembangan teknik modern dan ilmu jiwa masyarakat yang dinamis.

    Pengarang Di Bawah Lindungan Ka’bah pun pernah diserang karena ia sebagai ulama mengarang roman-roman yang bertemakan percintaan. Padahal melalui roman pun pengarang dapat menjalinkan pikiran yang tinggi-tinggi dan mulia-mulia dan dengan demikian mengisi jiwa manusia.

    Kita telah menikmati film-film dari Barat menceritakan perjalanan hidup Nabi-nabi seperti Quo Vadis, King of Kings, The Ten Commandments, Budhha. Dalam Quo Vadis diperlihatkan bagaimana Nabi Isa as. Menyebarkan ajarannya dengan berbagi penderitaan. Dalam The Ten Commandments bagaimana Nabi Musa as. menerima wahyu yang pertama dari Tuhan dan mukjizat Tuhan membelah Laut Merah jadi dua untuk memberi jalan kepada pelarian kaum Yahudi menyelamatkan diri dari kejaran tentara Fir’aun.

    Dan kita bertanya kapankah para sineas Indonesia memfilmkan pula peristiwa-peristiwa bersejarah dalam Al-Quran dan sejarah gemilang kerajaan-kerajaan Islam dalam masa jayanya?

    Kebebasan mencipta adalah soal yang penting dipikirkan dan disadari oleh para seniman, terutama seniman muda yang hendak mengabadikan seninya sebagai dakwah agama. Dan ini perlu dibicarakan dalam tingkat yang lebih tinggi dan iklim yang jernih, lepas dari emosi yang berkobar-kobar dan meluap-luap.

    Socrates telah dipaksa minum racun karena ia dianggap berbahaya mengajarkan cara berpikir logis dialektis kepada para pemuda dalam mencari kebenaran. Ia dihukum oleh orang-orang yang takut akan kebenaran. Tapi kebenaran tidak turut binasa bersamanya.

    Jakarta, 11 November 1968

    Horison, Tahun II no. 11, November 1968

     

    Gelanggang Sastra, Jakarta. Pustaka Islam (1953), muka 48.

    Perempuan dan Kebangsaan, majalah Indonesia, tahun I No. 4, mei 1949

    Indonesia, Tahun I No. 6, Juli 1949

    filsafat filsafat sastra indonesia sastra
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleDari Brussel ke Jakarta
    Next Article Sastra dan Hak Asasi Manusia

    Postingan Terkait

    Diksi Unik di Puisi Emha Ainun Nadjib “Doa Terampun Ampun”

    12 Desember 2025

    Burung dan Masjid—Dunia Alam dan Dunia Ibadah

    9 Desember 2025

    Puisi yang Segar untuk Mesin-Mesin Lapar

    3 Desember 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Idealisme, Sastra, dan Rasa dalam Perjalanan Cinta Penyair Kampus

    7 April 202685 Views

    Lembah Cilengkrang, Kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai

    7 April 202624 Views

    Kolam di Tengah Sawah, Cerita Sejuk dari Desa Kaduela Kuningan

    6 April 202634 Views

    Keliling Dunia Hanya di Majalengka

    4 April 202659 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (208)
    • Bisnis (7)
    • Buku (85)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (78)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (188)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (146)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.