Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Kritik Sastra » Semangat Keceriaan Puisi “Bukit Biru, Bukit Kelu”
    Kritik Sastra

    Semangat Keceriaan Puisi “Bukit Biru, Bukit Kelu”

    22 Juni 20252 Komentar12 Mins Read22 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Menikmati Satu Di antara Puisi Penyair Taufiq Ismail

    Oleh Atik Bintoro

    Puisi /Bukit Biru, Bukit Kelu/ Dan Sekilas Taufiq Ismail

    Pada kesempatan ini, Penulis sebagai penikmat puisi akan menikmati puisi yang berjudul /BUKIT BIRU, BUKIT KELU/, karya Penyair Taufiq Ismail pada tahun 1965. Angka tahun 1965, tahun ditulisnya puisi /BUKIT BIRU, BUKIT KELU/ terlacak dari titi mangsa puisi, tertulis di bawah pojok puisi [1]. Sedangkan teks puisinya diambil dari buku berjudul TIRANI DAN BENTENG, dua kumpulan puisi Penyair Taufiq Ismail,

    Dua kumpulan puisi ini dijilid dijadikan satu buku. Dua kumpulan puisi Penyair Taufiq Ismail yang berjudul TIRANI DAN BENTENG tersebut terbit pada tahun 1993, Penerbit: Yayasan Ananda, Jakarta.

    Buku kumpulan puisi ini berisi tiga bagian buku, yang terdiri dari:

    PUISI PUISI MENJELANG TIRANI DAN BENTENG

    Bagian ini dari halaman 1 sampai dengan 62, memuat 32 judul puisi,

    TIRANI

    Kumpulan Puisi Pertama dari halaman 67 sampai dengan 113, memuat 18 judul puisi,

    BENTENG

    Kumpulan Puisi ke dua dari halaman 119 sampai dengan 166, memuat 23 judul puisi,

    Sesuai penjelasan di Kata Pengantar  Penyair, menyatakan bahwa buku kumpulan Puisi TIRANI DAN BENTENG berisi puisi puisi yang ditulisnya selama 6 tahun dari  tahun 1960 sampai dengan1966.

    Puisi /BUKIT BIRU, BUKIT KELU/ karya Penyair Taufiq Ismail merupakan puisi pertama pada buku kumpulan Puisi TIRANI DAN BENTENG, yakni terdapat di halaman 1 pada bagian PUISI PUISI MENJELANG TIRANI DAN BENTENG. Adapun sampul buku, Daftar Isi, dan Puisi tersebut ditayangkan seperti pada gambar di bawah ini.

    Pada saat tahun 1965, suasana kejiwaan bangsa Indonesia baru saja merdeka pada tahun 1945. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) baru di usia 20 tahun, ibarat manusia: memang sepadan dengan usia selepas masa remaja, alias di usia Pemuda.

    Namun jika mengingat pada cita cita Penyair Chairil Anwar di dalam sajak AKU [2], maka Indonesia akan berusia berkali kali lipat dari 1000 tahun, artinya NKRI menjadi Negeri abadi. Tentu Negara yg baru berusia 20 tahun, boleh jadi masih tingkatan usia anak anak, seperti bayi yang baru lahir. Namun demikian NKRI sejatinya telah mengalami beraneka ragam perjuangan, termasuk berjuang melawan penjajahan dari bangsa asing [3].

    Bagaimana suasana Indonesia di tahun 1965 pasca kemerdekaan?

    Suasananya dapat dipelajari dari jejak sejarah. Sejak Indonesia merdeka, bayi NKRI sudah mengalami banyak ragam perjuangan, di antaranya telah terjadi: Pertempuran Surabaya akibat penyerbuan Tentara Sekutu [4], Pemberontakan PKI tahun 1948 yang dipimpin oleh Muso memberontak di Madiun [5], Agresi Militer Belanda ke 1 dan ke 2 di Indonesia [6], dan Pemberontakan tahun 1965 G30S PKI [7].

    Pada tahun 1965 Sang Penyair sudah berusia 30 tahun terhitung dari tahun lahir sesuai informasi biografi Taufiq Ismail. Adapun biografi singkatnya adalah [1,8]: Taufiq Ismail lahir pada 25 Juni tahun 1935 di Bukit Tinggi dan dibesarkan di Pekalongan. Sekolah Dasar di Yogyakarta, SMP di Bukit tingi, dan SMA di Bogor. Ia lulus pendidikan Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan Universitas Indonesia – FKHP UI pada tahun1963.

    Beberapa Puisinya adalah: Tirani dan Benteng, Buku Tamu Musium Perjuangan, Sajak Ladang Jagung, Kenalkan, Saya Hewan, Puisi-puisi Langit, Prahara Budaya: Kilas Balik Ofensif Lekra/PKI dkk, Ketika Kata Ketika Warna dan Seulawah-Antologi Sastra Aceh, dan Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia.

    Taufiq Ismail  juga termasuk sebagai satu diantara aktivis pelopor “Generasi ’66”.  Adapun penghargaan yang telah diterima, misalnya:  Cultural Visit Award dari pemerintah Australia (1977,  dan Penghargaan Penulis Asia Tenggara (1994).

    Menikmati Puisi /Bukit Biru, Bukit Kelu/

    Seperti yang telah diuraikan bahwa Puisi yang berjudul /BUKIT BIRU, BUKIT KELU/ karya Taufiq Ismail, ditulis pada tahun 1965. Di tahun itu, sebagai Penyair muda sekali gus aktivis, tentu sudah paham, atau bahkan ikut serta dalam perjalanan perjuangan kemerdekaan NKRI, sampai mempertahankan, dan sekali gus mengisinya. Sehingga logis jika Penyair bisa mendokumentasikan peristiwa di tahun 1965 tersebut, dalam rupa puisi. Satu diantara puisinya berjudul /BUKIT BIRU, BUKIT KELU/.

    Sehubungan dengan suasana kejiwaan Nasional pada saat itu yang menyertai lahirnya puisi /BUKIT BIRU, BUKIT KELU/ di tahun 1965, menjadikan puisi ini menarik untuk dinikmati, agar dapat menguak hikmah yang ada di dalamnya. Selanjutnya Penulis sebagai penikmat puisi akan menikmati puisi tersebut dengan menggunakan perpaduan peralatan, antara lain: Pengertian kosa kata, Gaya bahasa, Logika, Makna, Rasa bahasa, dan Aplikasi Kecerdasan Buatan.

    Untuk memudahkan pelaksanaan menikmati puisi, dirasa perlu memberi nomor urut pada masing masing bait, dan baris. Sehingga susunan puisinya menjadi seperti di bawah ini.

    BUKIT BIRU, BUKIT KELU

    1.
    Adalah hujan dalam kabut yang ungu
    (1)
    Turun sepanjang gunung dan bukit biru
    (2)
    Ketika kota cahaya dan dimana bertemu
    (3)
    Awan putih yang menghinggapi cemaraku
    (4)

    2.
    Adalah kemarau dalam sengangar berdebu
    (1)
    Turun sepanjang gunung dan bukit kelu
    (2)
    Ketika kota tak bicara dan terpaku
    (3)
    Gunung api dan hama di ladang-ladangku
    (4)

    3.
    Lereng-lereng senja
    (1)
    Pernah menyinar merah kesumba
    (2)
    Padang ilalang dan bukit membatu
    (3)
    Tanah airku.
    (4)

    1965

    Dari susunan puisi /BUKIT BIRU, BUKIT KELU/ di atas, diketahui bahwa puisi terdiri dari 3 bait, masing masing bait berisi 4 baris. Diksi pada judul puisi terdiri dari dua pasang kata, yaitu /Bukit Biru/, dan /Bukit Kelu/.

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia – KBBI [9]: Bukit adalah tumpukan tanah lebih tinggi daripada tempat sekelilingnya, dan lebih rendah dari pada gunung. Biru adalah warna asli sebagai warna dasar seperti warna langit, terang tidak berawan. Sedangkan yang dimaksud dengan kelu adalah tidak dapat berkata-kata secara mendadak karena sangat terkejut, dan ketakutan.

    Dari KBBI dapat diduga pemaknaan judul puisi /BUKIT BIRU, BUKIT KELU/, yakni: menjelaskan adanya tumpukan atau semacam gundukan tanah yang mempunyai warna dasar biru seperti warna langit cerah. Di sisi lain ada juga gundukan tanah yang di-ibaratkan sebagai orang yang sedang mengalami kesulitan bicara karena terkaget kaget, dan atau ketakutan. Kemudian timbul pertanyaan: Apakaha tanah tersebut merupakan tanah yang sama atau kah berbeda? Jawabannya belum bisa langsung diperoleh, masih memerlukan penelusuran lanjutan,

    Sepasang kata /BUKIT BIRU/ yang cenderung bermakna apa adanya, dideretkan dengan pasangan kata /BUKIT KELU/ yang berpotensi bergaya bahasa metafora yang memiliki makna bukan sebenarnya [10]. Keduanya akan menimbulkan konsewensi tersendiri di dalam memaknai judul puisi.

    Konsekwensi dari pasangan kata ini adalah bahwa di dalam satu judul tidak mungkin dimaknai berbeda, sebagai pasangan kata yang berdiri sendiri sendiri. Hal ini akan menimbulkan logika bahasa yang tidak bersambung. Sebab judul puisi adalah satu kesatuan utuh dari makna judul, meskipun terdiri dari dua pasang kata yang berbeda.

    Satu pasang kata sebagai makna sebenarnya, pasangan kata yang lain sebagai makna metafora. Penyatuan keduanya di dalam satu judul, perlu mendapatkan makna yang cenderung kompromi. Untuk mengatasi ketidak sambungan logika ini bisa berkompromi dengan mengacu pada makna kata polisemi, bahwa sebuah kata bisa memiliki makna ganda, lebih dari satu arti [11]. Sehingga diksi judul puisi /BUKIT BIRU, BUKIT KELU/ bisa dimaknai sebagai kata sebenarnya semua, atau pun semuanya mengandung makna metafora. Untuk mengetahui makna mana yang akan diambil, sebaiknya penikmat puisi memasuki pada batang tubuh puisi di seluruh bait dan barisnya.

    Pada bait 1, baris (1) sampai dengan (4), masing masing barisnya mengungkapkan pernyataan yang cenderung terkesan berdiri sendiri sendiri. Namun sebenarnya mereka bisa disambungkan oleh narasi tersembunyi, misalnya disusun ulang dengan memberi sisipan kata dan atau kalimat baru, sehingga menjadi:

    /Adalah hujan dalam kabut yang ungu (1)/. Hujan dan kabut ungu pun  /Turun sepanjang gunung dan bukit biru (2)/. Hal ini terjadi /Ketika kota cahaya dan dimana bertemu (3)/, bersama /Awan putih yang menghinggapi cemaraku (4)/.

    Pertanyaan berikeutnya apakah makna sajak di bait 1 dengan seluruh barisnya?

    Tentu berbagai makna bisa dijadikan tafsir atas semua baris puisi di bait 1. Tetapi jika mengacu pada puisi yang disusun ulang di atas, dapat dirasakan bahwa makna puisi tersebut, cenderung bukan makna sebenarnya, tetapi mempunyai makna metafora.

    Datangnya hujan pada umumnya dimaknai sebagai keberkahan [12], ketika musim hujan biasanya juga disertai dengan datangnya kabut. Hujan dan kabut akan membawa udara segar. Namun jika disambungkan dengan diksi /yang ungu/ akan berpotensi punya makna yang beragam [13], mulai lambang dari: unik, mewah, kaya raya, agung, bermartabat. Namun ada juga yang mengartikan kesedihan. Berarti makna ungu untuk setiap orang kadang bisa beda. Apalagi masih dalam suasana baru merdeka, yakni di usia 20 tahun setelah NKRI merdeka, maka bait 1 bisa dimaknai sebagai aroma gembira, terutama dengan adanya diksi /kabut ungu/ di bait1, yg berpotensi menjadi simbol harapan baru, yang kadang turun ke sepanjang gunung, dan /bukit biru/.

    Ohya, tentang diksi /bukit biru/, bagaimana bisa lahir dari gaya ungkap Penyair Taufiq Ismail, apakah ada semangat intertekstual [14] dengan Blue Hill (bukit biru) sebagai istilah yang marak diperbincangkan di Amerika Serikat di kala tahun 1700-an. Blue Hill sering digambarkan sebagai nama kawasan wisata, dan atau perumahan semisal

    Blue Hill yang ada di Negara bagian New England – Amerika Serikat [15].

    Dari sini timbul pertanyaan:
    Bagaimana Penyair bisa menemukan diksi /bukit biru/ yang mirip dengan terjemahan Blue Hill? Mungkinkan istilah Blue Hill di Amerika yang mulai marak di tahun 1700-an menginspirasi Penyair, kemudian Sang Penyair mengadopsinya menjadi judul puisi /BUKIT BIRU, BUKIT KELU/ ? Atau terjadi ketidak sengajaan yang menjurus pada semangat yang mirip. Meskipun demikian, pada saat ini, penikmatan puisi tidak diarahkan pada usaha investigasi tentang mengapa bisa hampir sama seperti itu?

    Jika asumsi kemiripan semangat ini digunakan sebagai patokan untuk menikmati sajak di bait 1, maka penikmat puisi akan membayangkan bahwa Penyair berpotensi telah merasakan sepanjang hidupnya dari lahir di tahun 1935 sampai dengan ketika puisi tersebut ditulis di tahun 1965, yakni: segala yang ditemuinya serasa selalu bergembira, penuh damai, cerah ceria bagai /bukit biru/ nan indah. Ditambah dengan alam  bergunung gunung, berkabut ungu yang bersahabat, dan ditingkahi oleh kota yang seolah terbuat dari cahaya, dan awan putih pun sanggup hinggap di cemara.

    Suasana ini memberi keleluasaan bayangan penikmat akan kota di atas awan. Betapa indah, segar, dan penuh suka ceria pada semua kawasan yang pernah didatangi oleh Penyair. Apakah suasananya tetap bertahan seperti itu? Tentu jawabannya bisa dilacak pada bait berikutnya, yakni di bait ke 2.

    Untuk menikmati bait 2 bisa dengan memahaminya melalui pemberian sisipan kata pada baris yang diperlukan pemahaman, misalnya menjadi:

    /Adalah kemarau dalam sengangar berdebu/. Kemarau pun /Turun sepanjang gunung dan bukit kelu/. Serta /Ketika kota tak bicara dan terpaku/, maka /Gunung api dan hama di ladang-ladangku/.

    Dari bait ke 2 dapat dirasakan sekaligus berpotensi bisa dilogikabahasakan, bahwa kemarau sengangar, panas, dan berdebu;  bermula di sepanjang gunung kemudian turun ke bukit. Bukit pun menjadi kelu seolah tak lagi mampu bercerita tentang suka ceria. Padahal sebelumnya di bait 1 diungkapkan, bahwa boleh jadi kawasan bukit ini merupakan bukit yang sama, yakni si /bukit biru/ yang cerah ceria, menyongsong datangnya harapan baru, semangat baru; karena Indonesia baru merdeka.

    Ketika kemarau sengangar itu tiba, saat itu juga kota pun terpaku membisu tanpa berkata kata. Mungkin peristiwa ini dimulai dari hanya sedikit orang yang berkunjung

    ke kota. Tersebab di ladangku dipenuhi oleh hama, dan gunung api pun siap erupsi membakar ladangku. Sehingga mereka enggan datang ke kota. Hanya meratapi nestapa cemas di kampung halaman: jangan jangan masa panen tidak akan tiba.

    Di baris (4), bait ke 2 ini Penyair menyodorkan tokoh lirik /ku/. Tidak ada informasi pasti yang bisa mengantarkan rasa bahasa untuk menemukan jawaban siapa sejatinya tokoh lirik /ku/ ini: Sang Penyair itu sendiri atau kah masih ada tokoh lirik /ku/ yang lain?.

    Sajak ini bisa jadi sebagai semacam ungkapan bermakna dari pengamatan yang berhasil dipotret dalam rupa puisi; yang mungkin bersumber dari perpaduan antara akunya Penyair, dan sekali gus mewakili akunya oang lain, yakni: sebagai perwakilan dari ke duanya, atau kah masih berupa misteri puisi?

    Potensi jawabannya mungkin akan diperoleh melalui jalur memasuki bait 3 dan masing masing barisnya.

    Bait 3 berisi 4 baris yang memberikan ungkapan relatif sederhana, dan bisa disusun ulang dengan memberinya sisipan kata, agar lebih mudah untuk menikmati. Susunan kata tersebut meliputi ungkapan sajak sebagai berikut:

    /Lereng-lereng senja/ pun /Pernah menyinar merah kesumba/ pada /Padang ilalang dan bukit membatu/. Semua itu adalah /Tanah airku/.

    Bait 3 terutama baris ke 4 memberikan isyarat bahwa semua ungkapan yang disampaikan di semua bait, dan di masing masing barisnya merupakan deskripsi menarik tentang suasana tanah airku, di sekitar masa kemerdekaan dari tahun 1945 sampai dengan 1965 ketika puisi tersebut dituliskan; baik dari tokoh lirik /ku/ Sang Penyair atau pun orang lain. Maksud diksi /Tanah air/ pada baris ke (4) di bait ke 3  tidak lain adalah Negara tercinta Indonesia. Bait bait tersebut mengungkapkan bahwa sepanjang kelahiran penyair di tahun 1935 sampai dengan 1965, Penyair merasakan suasana kemerdekaan NKRI yang penuh kegembiraan dengan simbol ungkapan

    bukit birunya. Kemudian mengalami pahit getir perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan dari serbuan musuh, dari dalam maupun dari Luar Negeri. Hal ini diungkapkan melalui diksi /bukit kelu/ di bait 2 baris ke 2.

    Meskipun demikian ternyata Indonesia tetap berjaya dan akan terus berjaya, dipenuhi keceriaan bukit biru, kabut ungu, dan awan putih di cemara bagai Negeri di atas awan. Sambil berharap sesekali akan hadir kembali lereng lereng senja bersinar merah kesumba pada padang ilalang dan bukit membatu. Itulah NKRI. Indonesia dengan segala dinamika keragaman perjuangan. Indonesia memang tanah air tercinta.

    Selamat berpuisi.
    Dan teruslah berpuisi.

    Daftar Pustaka

    1.  Taufiq Ismail, 1993, Tirani dan Benteng: dua kumpulan pisi Taufiq Ismail, Yayasan Ananda, Jakarta.
    2. Ewith Bahar, 2022, Chairil Anwar hidup 1000 tahun lagi, Gramata Publishing, Bekasi
    3. CNN Indonesia, 6 Negara yang Pernah Menjajah Indonesia, Belanda hingga Jepang
      https://www.cnnindonesia.com/edukasi/20220808122804-574-831675/6-negara-yang-pernah-menjajah-indonesia-belanda-hingga-jepang/2
    4. Rentiniat Lase, YB Jurahman, Subaryana, 2021, Pertempuran 10 November Disurabaya dan PengaruhnyatTerhadap Eksistensi Kemerdekaan Indonesia, Rinontje: Jurnal Pendidikan dan Penelitian Sejarah, P-ISSN: 2809-4301, Volume 2, No. 2. Oktober, 2021
    5. IH-Info Hukum, 2024, Pemberontakan PKI Madiun 1948 : Latar Belakang, Tujuan      dan Tokohnya. https://fahum.umsu.ac.id/info/pemberontakan-pki-madiun-1948-latar-belakang-tujuan-dan-tokohny
    6. Reza Ade Christian, 2011, Agresi Militer Belanda I Dan Ii (Periode 1947 – 1949)   Dalam Sudut Pandang Hukum Internasional, Skripsi, Fakultas Hukum Universitas Indonesia Program Kekhususan Hukum Internasional, Depok
    7. Kristina, 2021, “G30S PKI: Sejarah, Tujuan, Kronologi, dan Latar Belakangnya”, detik.com https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-5747435/g30s-pki-sejarah-tujuan-kronologi-dan-latar-belakangnya.
    8. Wikipedia Ensiklopedia bebas, 2025, Taufiq Ismail, https://id.wikipedia.org/wiki/Taufiq_Ismail
    9. Kamus Besar Bahasa Indonesia – KBBI https://kbbi.kemdikbud.go.id/
    10. Liputan6, 2024, Metafora adalah Gaya Bahasa Perbandingan yang Menyamakan dua Hal Secara Langsung, Liputan 6 https://www.liputan6.com/feeds/read/5755505/metafora-adalah-gaya-bahasa-perbandingan- yang-menyamakan-dua-hal-secara-langsung?page=5
    11. Neni Maisa Putri, Winda Noprina, 2024, Analisis Relasi Makna Polisemi Pada Puisi People Pleaser Karya Choirul Trian, Journal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Volume 1, Issue 1, Mei 2024, https://predikat.adzkia.ac.id/
    12. St. Magfirah, 2017, HUJAN SEBAGAI BERKAH, TAHDIS, Volume 8 Nomor 1 Tahun 2017 https://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/tahdis/article/view/4010/3705
    13. Tim Editorial, 2022, Arti Warna Ungu dan Karakter Kepribadiannya, Halodoc, https://www.halodoc.com/artikel/warna-ungu-dalam-psikologi-melambangkan-apa
    14. Era Octafiona, 2024, Kajian Intertekstualitas dalam Karya Sastra Indonesia. Kontemporer, Edu Cendikia: Jurnal Ilmiah Kependidikan, Volume: 4 | Nomor 02 | Agustus 2024 |, DOI: 10.47709/educendikia.v4i02.4578
    15. —, Blue Hill History, https://bluehillhistory.org/bhhistory/

    Rumpin, 10 Juni 2025
    Penulis: Atik Bintoro biasa dipanggil Kek Atek.
    Penikmat Puisi, sekaligus Pegiat Dapoer Sastra Tjisaoek.
    Tinggal di Rumpin, Kab. Bogor, Jawa Barat, Indonesia.

     

    puisi taufiq ismail sastrawan indonesia taufik ismail
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticlePuisi-Puisi Armen S. Untung
    Next Article Memaknai Hijab dalam Novel Jodoh Pasti Bertemu

    Postingan Terkait

    Diksi Unik di Puisi Emha Ainun Nadjib “Doa Terampun Ampun”

    12 Desember 2025

    Burung dan Masjid—Dunia Alam dan Dunia Ibadah

    9 Desember 2025

    Puisi yang Segar untuk Mesin-Mesin Lapar

    3 Desember 2025

    2 Komentar

    1. Diyat on 23 Juni 2025 11:18 am

      Mantap jadi seniman lengkap
      Utk masa pensiun aktifitas yg cukup mengolah otak
      👍🏻👍🏻👍🏻

      Reply
      • Kek Atek on 27 Juni 2025 7:58 pm

        Matur nuwun, Mas.

        Reply
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Puisintaksis dan Manusia Algoritma: Ketika Peluncuran Buku Menjadi Peristiwa Ontologis

    21 Februari 202687 Views

    Buku Sang Nabi

    9 Februari 202614 Views

    Hak Tubuh Istirahat

    26 Januari 202613 Views

    Zaman Apokaliptik

    4 Januari 202695 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (207)
    • Bisnis (7)
    • Buku (84)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (78)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (188)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (143)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.