Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Puisi » Puisi-Puisi Armen S. Untung
    Puisi

    Puisi-Puisi Armen S. Untung

    15 Juni 2025Tidak ada komentar3 Mins Read4 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Menu di Jam Makan Siang

    Kita pernah
    bertukar keringat
    seperti bertukar kado
    dalam acara perpisahan
    atau seremonial.

    Tapi bukan di ruang terbuka,
    hanya kita berdua dalam kamar
    yang lebih mirip disebut kuburan,
    harga sewanya seperti cuci gudang,
    obral besar-besaran.

    Dengan fasilitas penuh diskon,
    hanya tersedia handuk
    yang sudah renta,
    seperti terjangkit lepra.

    Pendingin ruangnya ogah-ogahan,
    seperti banyak pikiran,
    seperti banyak cicilan
    yang jatuh temponya tinggal semalam.

    Tak ada air putih,
    apalagi susu.
    Hanya ada tisu
    dan sebuah tulisan:
    Pakai secukupnya, jangan berlebihan.

    Napas kita menderu,
    saling beradu pacu
    seperti alat pendeteksi jantung
    yang duduk bersandar
    menunggu malaikat maut
    pada tembok rumah sakit.

    Matanya bergelombang tajam:
    naik…
    turun…
    dan akhirnya
    seperti garis lurus marka jalan.

    Setelahnya,
    kita bergiliran
    mengantre kamar mandi,
    dengan lilitan senyum
    yang disembunyikan.

    Lalu
    masing-masing sibuk
    menanam pohon rahasia
    di bawah dada paling dalam.
    Bunganya mekar,
    berwarna abu sisa pembakaran.

    Pada jam makan siang,
    tersedia daftar menu:
    nasi,
    sambal setan,
    sayur asam.
    Dan aku memesan kau
    yang level 5,
    yang dapat membuat keringat
    mengalir dalam bentuk instan.

    2025

    Pasar Tanpa Kepala

    Di pasar itu,
    orang-orang menjual
    daging tanpa tubuh,
    kata-kata tanpa makna,
    mimpi-mimpi yang digunting kecil-kecil
    dan dikemas dalam plastik murah.

    Tak ada yang menawar,
    semua menerima harga yang sama:
    sebuah lubang di tengah.

    2025

    Litani Mesin Usang

    Mesin-mesin tua
    bergumam di sudut kota,
    mengulang doa
    yang tak pernah dikabulkan
    tentang listrik,
    tentang makan malam,
    tentang pelukan yang terlambat.

    Seseorang pernah mencoba memperbaiki mereka
    dengan obeng terbuat dari harapan,
    tapi harapan itu terlalu rapuh
    untuk menahan karat ratusan tahun.

    2025

    Taman Kabel

    Di tikungan jalan
    berdiri tiang-tiang tua,
    menjunjung taman dari kawat kusut
    tanpa bunga,
    tanpa harum,
    tanpa padang.

    Kabel-kabel melilit leher angin,
    menjuntai seperti lidah gosip
    yang tak pernah selesai
    mengutuk ketertinggalan.

    Ada listrik di situ,
    ada siaran TV,
    ada sinyal Wi-Fi anak kos,
    dan ada juga bahaya
    yang membidik nasib pejalan kaki.

    Tukang gali jalan pernah berjanji
    tiangnya akan diganti.

    Tukang pasang kabel pernah bersumpah
    akan dirapikan setelah hujan.

    Tapi janji-janji itu
    tersangkut di dahan angsana
    dan tumbuh menjadi sarang nyamuk.

    Seorang anak kecil bertanya,
    “Bu, kenapa langit kita
    penuh benang kusut?”

    Ibunya menjawab pelan,
    “Itu bukan langit, Nak.
    Itu cara kota ini menulis puisi
    gagalnya pembangunan.”

    2025 

    Kulkas

    Di dalam kulkas:
    dua tomat,
    tiga kesepian,
    dan sehelai bendera mini
    yang lupa warna aslinya.

    2025

    Armen Setiaji Untung. Lahir di Jakarta 05-September-1980. Buku antologi pertama berjudul Ziarah Kenang (2019). Beberapa karya termuat di media, seperti Kompas, jernih.co, Litera, Kawaca, Majalah Elipsis, Pikiran Rakyat, Potret Online, Seputar Hukum dll.

    Penyair Muda Indonesia sastra indonesia sastra puisi
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleSebelum Dupa Padam
    Next Article Semangat Keceriaan Puisi “Bukit Biru, Bukit Kelu”

    Postingan Terkait

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 2025

    Puisi yang Segar untuk Mesin-Mesin Lapar

    3 Desember 2025

    Puisi-Puisi Amanda Amalia Putri

    30 November 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Puisintaksis dan Manusia Algoritma: Ketika Peluncuran Buku Menjadi Peristiwa Ontologis

    21 Februari 202687 Views

    Buku Sang Nabi

    9 Februari 202614 Views

    Hak Tubuh Istirahat

    26 Januari 202613 Views

    Zaman Apokaliptik

    4 Januari 202695 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (207)
    • Bisnis (7)
    • Buku (84)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (78)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (188)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (143)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.