Menu di Jam Makan Siang
Kita pernah
bertukar keringat
seperti bertukar kado
dalam acara perpisahan
atau seremonial.
Tapi bukan di ruang terbuka,
hanya kita berdua dalam kamar
yang lebih mirip disebut kuburan,
harga sewanya seperti cuci gudang,
obral besar-besaran.
Dengan fasilitas penuh diskon,
hanya tersedia handuk
yang sudah renta,
seperti terjangkit lepra.
Pendingin ruangnya ogah-ogahan,
seperti banyak pikiran,
seperti banyak cicilan
yang jatuh temponya tinggal semalam.
Tak ada air putih,
apalagi susu.
Hanya ada tisu
dan sebuah tulisan:
Pakai secukupnya, jangan berlebihan.
Napas kita menderu,
saling beradu pacu
seperti alat pendeteksi jantung
yang duduk bersandar
menunggu malaikat maut
pada tembok rumah sakit.
Matanya bergelombang tajam:
naik…
turun…
dan akhirnya
seperti garis lurus marka jalan.
Setelahnya,
kita bergiliran
mengantre kamar mandi,
dengan lilitan senyum
yang disembunyikan.
Lalu
masing-masing sibuk
menanam pohon rahasia
di bawah dada paling dalam.
Bunganya mekar,
berwarna abu sisa pembakaran.
Pada jam makan siang,
tersedia daftar menu:
nasi,
sambal setan,
sayur asam.
Dan aku memesan kau
yang level 5,
yang dapat membuat keringat
mengalir dalam bentuk instan.
2025
Pasar Tanpa Kepala
Di pasar itu,
orang-orang menjual
daging tanpa tubuh,
kata-kata tanpa makna,
mimpi-mimpi yang digunting kecil-kecil
dan dikemas dalam plastik murah.
Tak ada yang menawar,
semua menerima harga yang sama:
sebuah lubang di tengah.
2025
Litani Mesin Usang
Mesin-mesin tua
bergumam di sudut kota,
mengulang doa
yang tak pernah dikabulkan
tentang listrik,
tentang makan malam,
tentang pelukan yang terlambat.
Seseorang pernah mencoba memperbaiki mereka
dengan obeng terbuat dari harapan,
tapi harapan itu terlalu rapuh
untuk menahan karat ratusan tahun.
2025
Taman Kabel
Di tikungan jalan
berdiri tiang-tiang tua,
menjunjung taman dari kawat kusut
tanpa bunga,
tanpa harum,
tanpa padang.
Kabel-kabel melilit leher angin,
menjuntai seperti lidah gosip
yang tak pernah selesai
mengutuk ketertinggalan.
Ada listrik di situ,
ada siaran TV,
ada sinyal Wi-Fi anak kos,
dan ada juga bahaya
yang membidik nasib pejalan kaki.
Tukang gali jalan pernah berjanji
tiangnya akan diganti.
Tukang pasang kabel pernah bersumpah
akan dirapikan setelah hujan.
Tapi janji-janji itu
tersangkut di dahan angsana
dan tumbuh menjadi sarang nyamuk.
Seorang anak kecil bertanya,
“Bu, kenapa langit kita
penuh benang kusut?”
Ibunya menjawab pelan,
“Itu bukan langit, Nak.
Itu cara kota ini menulis puisi
gagalnya pembangunan.”
2025
Kulkas
Di dalam kulkas:
dua tomat,
tiga kesepian,
dan sehelai bendera mini
yang lupa warna aslinya.
2025
Armen Setiaji Untung. Lahir di Jakarta 05-September-1980. Buku antologi pertama berjudul Ziarah Kenang (2019). Beberapa karya termuat di media, seperti Kompas, jernih.co, Litera, Kawaca, Majalah Elipsis, Pikiran Rakyat, Potret Online, Seputar Hukum dll.
