Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Tradisi » Ritual Turun Tanah
    Tradisi

    Ritual Turun Tanah

    26 Agustus 2019Updated:15 November 2019Tidak ada komentar4 Mins Read785 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Ritual Turun Tanah

    Setiap perkembangan bayi adalah  menjadi kebahagiaan bagi orangtua. Termasuk pada saat bayi sudah bisa turun ke lantai untuk belajar berjalan. Berbagai tradisi dilakukan untuk mensyukuri nikmat tersebut. Salah satunya adalah upacara ritual Tedak Siten atau Turun Tanah. Upacara adat ini digelar sebagai bentuk rasa syukur karena sang Anak akan mulai belajar berjalan. Selain itu, upacara ini juga merupakan salah satu upaya memperkenalkan anak kepada alam sekitar.

    Ritual Turun Tanah, Tedak Siten atau Tedak Siti adalah warisan tradisi dari leluhur masyarakat Jawa yang sampai saat ini masih dijalankan oleh sebagian masyarakat Jawa. Ritual ini dilaksanakan untuk balita yang berusia 7-8 tahun. Ritual Turun Tanah ini  dilaksanakan sebagai penghormatan kepada bumi tempat si anak mulai belajar menapakkan kakinya di tanah, dan tujuannya agar kelak di kemudian hari, anak tumbuh menjadi anak yang mandiri.

    Dalam tradisi Jawa, setiap bayi yang usianya telah mencapai tujuh atau delapan bulan disarankan untuk melakukan ritual adat Tedak Siten. Istilahnya sendiri berasal dari bahasa Jawa, tedhak artinya kaki dan Siten (siti) berarti tanah. Karena itu, upacara ini biasa juga disebut sebagai ritual atau upacara Turun Tanah. Adat ini tak hanya ada di masayarakat Jawa tapi juga ada di berbagai daerah di Indonesia.

    Khusunya pada masyarakat Jawa, ritual Tedak Siten atau Turun Tanah ini biasanya dilaksanakan pada pagi hari. Dimana sebelum prosesi tedak siten dimulai, acara diawali dengan selamatan, yaitu doa bersama. Untuk perlengkapan ritual ini orang tua bayi (balita) harus menyiapkan beberapa perlengkapan ritual yang terdiri makanan, kandang ayam dan benda-benda tentertu (mainan anak, alat tulis, uang, dll)

    Adapun makan yang harus dipersiapkan untuk upacara Tedak Siten ini adalah: Juadah atau jadah tujuh warna. Makanan ini terbuat dari berasan yang dicampur parutan kelapa, ditumbuk hingga menyatu lalu diiris-iris dan diberi warna tujuh rupa, yaitu: merah, putih, hitam, kuning, jingga, biru dan ungu.

    Juadah adalah symbol kehidupan buat si anak dan warna-warni juadah menggambarkan lika-liku jalan hidup yang kelak akan dilalui oleh si bocah. Susunan warna juadah dimulai dari yang berwarna hitam sampai ke warna putih, sebagai symbol bahwa seberat apapun masalah yang ada, bila dijalani dengan ikhlas nantinya aka nada jalan keluar atau titik terang.

    Makanan tradisional lain yang harus disediakan  adalah nasi Tumpeng, sebagai symbol dari harapan orang tua agar kelak di kemudian hari sang anak akan menjadi anak yang berguna bagi negara dan agama serta berbakti pada orang tua dan Tuhannya.

    Nasi Tumpeng biasanya dilengkapi dengan Ingkung (ayam utuh yang sudah dimasak) dan sayuran atau urapan. Sayur kacang panjang sebagai symbol umur panjang, sayur kangkung sebagai symbol kesejahteraan, tauge sebagai symbol kesuburan, dan ayam utuh (ingkung) sebagai symbol kemandirian.

    [iklan]

    Rangkaian acara Tedak siten

    Ritual Turun Tanah atau Tedhak Siten diawali dengan selamatan dengan mengumpulkan para undangan. Usai selamatan, nasi tumpeng dan ingkung dibagi-bagikan, lalu dilanjutkan dengan 7 rangkaian acara sebagai berikut:

    Pertama, anak dituntun untuk berjalan di atas tujuh jadah warna-warni. Hitam, merah, kuning, hijau, ungu, biru, dan putih. Setiap warna mencerminkan lambang kehidupan.

     Kedua, anak dibimbing menaiki tangga yang dibuat dari tebu sebagai simbol dari jenjang kehidupan. Tebu dalam Bahasa Jawa adalah singkatan dari kata antebing kalbu yang maknanya adalah keteguhan hati.

    Ketiga, anak dibiarkan mencakar-cakar tanah dengan kedua kakinya sebagai harapan agar kelak di kemudian hari saat dewasa si anak mampu untuk mengais rezeki.

    Keempat, anak dimasukkan ke dalam kurungan ayam yang telah diberi beraneka benda, seperti uang, mainan, alat musik, buku, atau makanan. Benda yang nantinya dipilih sang anak menggambarkan potensi anak tersebut. Di usia tujuh atau delapan bulan, anak dipercaya masih memiliki naluri yang kuat.

    Kelima anak akan diberi uang logam dengan berbagai macam bunga yang sudah dicampur beras kuning oleh sang ayah dan kakek. Uang logam dan beras kuning selanjutnya akan disebarkan kepada undangan yang hadir untuk diperebutkan. Hal ini sebagai lambang dan harapan supaya anak diberkahi rezeki yang melimpah, tetapi tetap memiliki sifat dermawan.

    Keenam, anak dimandikan dengan air yang telah dicampur kembang setaman. Langkah ini sebagai harapan agar si anak mampu membawa nama baik bagi keluarganya.

    Ketujuh, proses terakhir adalah proses pemakaian baju bagus dan bersih supaya anak bisa menjalani kehidupan dengan baik.

    Demikianlah, upacara atau ritual Turun Tanah ini adalah sengaja dilaksanakan untuk mempersiapkan agar kelak di kemudian hari si anak mampu melewati setiap fase kehidupan dengan pendampingan atau tuntunan dari kedua orang tua, sejak anak bisa berdiri sendiri sampai kelak dewasa dan bisa hidup mandiri. Tradisi Turun Tanah atau Thedak Siten ini pada hakekatnya penuh dengan hal yang positif, dimana dalam setiap tahapan ritual tersebut terkandung nilai untuk mengingat akan kebesaran Sang Maha Pencipta, dan bersyukur kepadaNya. Selain itu, upacara ini bisa menjadi sarana untuk mengenalkan kepada anak akan nilai luhur tradisi Jawa sekaligus mendidiknya agar selalu prihatin dalam hidup ini dan menjadi pribadi yang berahklak mulia sebagai khalifah di muka bumi. (AY).

    Kebudayaan Nusantara Mitos Nusantara Tradisi Nusantara
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleJakarta Internasional Literary Festival
    Next Article Karya Sastra, Lisan dan Etnik

    Postingan Terkait

    Tradisi Potong Jari, Papua

    17 Mei 2024

    Tradisi dan Riwayat Ketupat

    25 April 2024

    Perayaan Cap Go Meh

    7 Maret 2024
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Puisi dan Cerpen Terpilih mbludus.com Tahun 2026

    29 Maret 202685 Views

    Puisintaksis dan Manusia Algoritma: Ketika Peluncuran Buku Menjadi Peristiwa Ontologis

    21 Februari 202690 Views

    Buku Sang Nabi

    9 Februari 202615 Views

    Hak Tubuh Istirahat

    26 Januari 202616 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (208)
    • Bisnis (7)
    • Buku (84)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (78)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (188)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (143)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.