Oleh Alvian Rivaldi Sutisna
(sumber foto Pinterest)
Kehidupan masa kini beranjak dalam tempo yang semakin akseleratif. Kecepatan informasi, tuntutan efisiensi, dan keharusan untuk selalu terhubung seringkali menyita ruang napas manusia. Ketika dinamika hari lewat begitu saja, ada sebuah kebutuhan penting yang luput dari perhatian, yakni rehat sejenak untuk menerawang kembali apa saja yang telah terjadi. Kenyataannya, beberapa aspek masa lalu mampu menembus batas untuk hadir kembali pada masa kini.
Kondisi tersebut secara alami memicu kerinduan akan masa lalu atau memang manusia merasa sudah selesai untuk menciptakan mode baru?
Era terdahulu mungkin terkesan lebih rumit dan manual, tetapi masa itu menawarkan kenangan manis serta kehadiran yang utuh tanpa menawarkan kehampaan. Dahulu, untuk menuntaskan satu bidang pekerjaan, seseorang harus melakukan persiapan memori yang matang, seperti menulis catatan di kalender cetak, membawa kalkulator manual, hingga mengantongi kompas sebagai penunjuk arah. Meskipun terkesan merepotkan, pembagian alat secara spesifik itu justru memungkinkan seseorang untuk bekerja dalam satu fokus yang kuat. Setiap aktivitas memiliki ruang dan perhatiannya sendiri secara mutlak tanpa terganggu oleh faktor lain.
Fenomena kejenuhan terhadap era kemudahan ini mendorong terjadinya gelombang kilas balik. Dalam berbagai lini kehidupan, manusia hari ini secara kolektif menengok ke belakang. Sebut saja, buku fisik yang dianggap rumit dan digadang-gadang kehadirannya akan digantikan oleh buku digital, kini banyak ditemui di kafe dan area publik karena kenyamanan pembaca dan minim kekhawatiran distraksi. Tentu saja persoalan distraksi ini kembali pada diri masing-masing. Tetapi, kedalaman rasa tidak pernah bisa dibantah.
Selain itu, bidang lain yang paling nyata dan bersentuhan langsung dengan seluruh lapisan masyarakat adalah fesyen. Setiap individu secara sadar berbondong-bondong menampilkan gaya berbusana paling kekinian, yang secara unik justru diadopsi murni dari estetika tempo lama. Referensi pada berbagai bentuk mode terkini didapat dari aspek visual dan audiovisual di media sosial yang semakin marak membuat tren lampau kembali hidup. Acuan demikian yang membuat kedinamisan suasana era lama kembali hadir untuk mewarnai berbagai sektor kehidupan.
Tren ini terlihat jelas dari bagian atas hingga bawah tubuh. Pada bagian rambut, gaya potongan pompadour yang klimis atau model mullet yang nyentrik kini kembali digandrungi oleh kalangan remaja. Penampilan tersebut makin klasik dengan pemakaian tata busana berkarakter kuat, misal kemeja retro, celana jin cutbray yang melebar di bagian bawah, serta sepatu loafers yang klasik. Kombinasi gaya busana ini tak lagi dianggap kuno, melainkan telah menjadi hal pembicaraan utama sekaligus standar estetika baru dalam pergaulan sehari-hari masyarakat remaja hari ini.
Sikap keberanian untuk kembali ke masa lalu ini juga merambah ke ranah warna. Sekian lama masyarakat dikekang oleh kebiasaan mengadopsi warna-warna pastel yang aman atau konsep minimalis yang sederhana. Publik seolah senantiasa disuguhkan dengan empat variasi warna yang monoton dan sebatas itu-itu saja, yaitu hitam, putih, abu-abu, dan krem, beserta dengan warna sejenisnya. Kini, lanskap visual telah bergeser secara drastis. Masyarakat mulai berani keluar dari zona nyaman dengan menabrakkan antarwarna sehingga menghasilkan tampilan yang jauh lebih meriah dan dinamis.
Fenomena tabrak warna ini menyebar ke berbagai ranah. Dari segi arsitektur, kafe-kafe mulai berani meninggalkan konsep monoton demi menampilkan variasi mata yang lebih hidup dan ekspresif. Tak kalah menarik, sektor kendaraan dan mode harian pun menyerap semangat yang sama. Keberanian memadukan warna-warna kontras ini menjadi simbol antitesis terhadap estetika serba main aman yang sempat mendominasi.
Tentu terasa belum sempurna jika balutan fesyen dan visual retro ini tidak diimbangi dengan perangkat dokumentasi yang sepadan. Ketika memotret momen, kamera poket digital era awal serta kamera analog kembali menjadi barang perburuan utama para pemburu mode. Estetika fotografi vintage dengan tekstur grain justru dicari karena memberikan suasana emosional yang tak mampu dihasilkan oleh kamera ponsel pintar mutakhir. Walaupun ada mode edit, kesan naturalnya kurang bermakna. Gambar yang dihasilkan bukan sekadar ada, melainkan rekam jejak memori era 70-an yang terasa nyata, meski tidak hidup di zaman tersebut. Bahkan penjualan ponsel jadul meningkat, pemicunya karena ponsel hari ini sedikit banyaknya mengganggu kesehatan mental, tidak memberi ruang napas untuk rehat, katakanlah selalu always on.
Ruang nostalgia ini kian sempurna tatkala merambah ke ranah musik. Penggunaan earphone kabel yang sempat ditinggalkan kini marak kembali digunakan. Selain karena nilai estetikanya, perangkat ini dinilai jauh lebih fungsional; pengguna tak perlu cemas akan baterai yang habis di tengah pemakaian. Sementara itu, untuk pengalaman mendengarkan musik secara langsung tanpa penyumbat telinga, media pemutar fisik seperti piringan hitam, kaset pita, dan radio kembali menyedot perhatian besar masyarakat.
Pada aspek sastra, dunia puisi juga demikian. Penulis yang diberikan kebebasan dalam penulisan puisi modern justru merasa tidak bebas, banyak sekali timbul kebingungan di awal penulisan harus memulai dari mana dalam menciptakan aroma bahasa yang menggugah. Akibatnya pola lama seperti penggunaan rima, baris, dan bait dirasa menjadi tolok ukur bebas yang membuat penyair semakin leluasa untuk memilah bahasa dengan tujuan mencapai seni yang bermakna, terlebih jika dilisankan maka pembawaannya akan semakin syahdu.
Pada akhirnya, kembalinya berbagai elemen masa lalu di era modern bukanlah sekadar tren semu. Fenomena ini merupakan bentuk adaptasi emosional manusia dalam mencari keseimbangan di tengah dunia yang bergerak terlalu cepat. Dengan menghadirkan kembali kesederhanaan, keberanian warna, serta benda-benda fungsional tidak praktis, manusia berusaha mengembalikan fokus dan makna. Masa lalu tidak hadir untuk menggantikan masa kini, melainkan menjadi ukuran agar kehadiran manusia senantiasa dimaknai sebagai proses simbiosis yang tidak hanya menguntungkan satu era.
Alvian Rivaldi Sutisna. Pria yang menghabiskan hari-harinya dengan mengajar dan memproduksi tulisan. Ia memiliki latar belakang Bahasa dan Sastra Indonesia.
