Oleh Geta Amelia
Hujan telah turun sejak sore. Langit di atas perkampungan itu menghitam, seolah tidak menyisakan sedikit pun ruang bagi cahaya bulan. Suara gemuruh terdengar berkali-kali dari arah Sungai Serayu. Angin bertiup kencang, menggoyangkan pepohonan di sekitar rumah-rumah penduduk. Malam itu, tidak seorang pun menyangka bahwa banjir besar yang sedang datang akan membawa sesuatu yang kelak menjadi bagian dari cerita yang diwariskan turun-temurun.
Jauh sebelum malam itu terjadi, wilayah tersebut hanyalah sebuah perkampungan kecil yang dikelilingi sawah dan kebun. Sebagian besar penduduknya bekerja sebagai petani. Setiap pagi, sebelum matahari meninggi, mereka telah berada di sawah, mencangkul tanah, menanam padi, membersihkan rumput, atau mengurus sayuran yang tumbuh di ladang. Kehidupan mereka sederhana, tetapi tenteram. Di dekat permukiman mengalir sebuah sungai kecil yang oleh masyarakat setempat disebut Kali Cangkringan. Airnya jernih dan mengalir di antara bebatuan, menjadi bagian dari kehidupan warga sekaligus sumber pengairan bagi lahan pertanian mereka.
Suatu hari, beberapa warga yang sedang mencari jalur air untuk sawah menemukan sesuatu yang menarik di sekitar Kali Cangkringan. Di antara bebatuan terdapat sebuah air terjun kecil. Airnya jatuh dari tebing rendah, kemudian mengalir masuk melalui sebuah lubang di bagian bawah bebatuan. Tempat itu belum pernah mereka perhatikan sebelumnya.
“Lihat! Ada air terjun di sini,” seru seorang warga.
Warga lain mendekat dan memperhatikan tempat itu dengan saksama. “Air terjunnya kecil, tetapi lihatlah bagian bawahnya. Ada lubang di sana.”
Sejak saat itu, warga sepakat menyebut tempat tersebut Curug Bolong. Dalam bahasa yang mereka gunakan sehari-hari, curug berarti air terjun kecil, sedangkan bolong berarti berlubang. Nama sederhana itu kemudian melekat pada tempat tersebut dan perlahan menjadi bagian dari identitas perkampungan mereka.
Hari-hari berlalu seperti biasa. Para petani kembali menggarap sawah dan ladang. Anak-anak bermain di sekitar rumah, sementara orang-orang dewasa bekerja hingga matahari mulai condong ke barat. Tidak ada seorang pun yang menduga bahwa tempat yang dahulu mereka temukan dengan rasa ingin tahu itu kelak akan menjadi tempat yang mereka hindari.
Musim hujan datang. Kali ini hujan turun lebih deras daripada biasanya. Hujan pertama berlangsung sehari, kemudian dua hari, lalu berlanjut hingga beberapa hari. Tanah menjadi basah, jalan-jalan berubah menjadi licin, dan air sungai terus meninggi. Sungai Serayu yang jauh lebih besar daripada Kali Cangkringan mulai meluap. Arusnya membawa ranting, batang pohon, lumpur, dan berbagai benda dari daerah hulu.
Pada suatu malam, suara gemuruh air terdengar lebih keras daripada biasanya. “Air sungainya semakin tinggi!” teriak seorang warga yang berlari dari arah sungai.
Warga berhamburan keluar rumah. Mereka memandang ke arah arus yang mengalir deras. Namun, di tengah gelapnya malam dan derasnya hujan, tiba-tiba tampak sesuatu yang bergerak di antara gelombang banjir. Bentuknya panjang dan berwarna gelap. Tubuhnya tampak seperti belut, tetapi ukurannya begitu besar. Dari kepalanya menjulur sungut yang panjang.
“Apa itu?” seseorang berteriak ketakutan.
Tidak ada yang menjawab. Makhluk itu bergerak semakin dekat mengikuti arus banjir. Tubuhnya yang besar menghantam tepian sungai dan menyeret lumpur serta tanah di sekitarnya. Warga yang melihatnya segera berlari menjauh.
“Seperti Uling!” seru seorang warga.
“Uling? Mana mungkin sebesar itu!”
Tidak seorang pun tahu dari mana makhluk tersebut berasal. Namun, karena bentuk tubuhnya menyerupai uling yang mereka kenal, warga kemudian menyebut makhluk itu Uling.
Setelah terbawa arus, Uling tidak terus mengikuti Sungai Serayu. Makhluk besar itu akhirnya bergerak menuju wilayah Kali Cangkringan. Tubuhnya yang panjang dan berat meninggalkan jejak di tanah. Beberapa bagian tanah menjadi cembung, sedangkan bagian lainnya justru ambles dan membentuk cekungan. Air pun mengalir mengikuti jejak tubuhnya sehingga terbentuk aliran-aliran kecil di beberapa tempat.
Uling kemudian menemukan Curug Bolong. Ia berhenti di depan air terjun kecil itu. Di balik derasnya air terdapat sebuah lubang yang cukup dalam. Uling masuk ke dalamnya dan menemukan tempat yang gelap, lembap, dan terlindung dari hujan.
“Tempat ini cukup nyaman,” pikir Uling. “Tidak jauh dari sungai, tidak terlalu jauh dari pemukiman, dan cukup luas untuk tempat bersembunyi.”
Sejak malam itu, Uling tinggal di Curug Bolong. Hari demi hari ia menetap di sana. Tubuhnya yang besar membuat lubang di balik curug semakin lebar dan dalam hingga akhirnya menyerupai sebuah gua kecil. Warga yang mengetahui keberadaan makhluk tersebut mulai menyebut gua itu Goa Uling.
Pada awalnya, Uling tidak banyak mengganggu warga. Ia hanya keluar dari persembunyiannya ketika lapar. Namun, setiap kali keluar, tubuhnya meninggalkan jejak yang membuat tanah berubah. Jalan yang dilewatinya menjadi cekung dan dipenuhi air. Tanah pertanian yang dahulu rata perlahan berubah bentuk.
Tidak hanya itu, hewan ternak milik warga mulai menghilang satu demi satu. Seekor kambing yang biasanya diikat di belakang rumah tiba-tiba tidak ditemukan. Beberapa ekor ayam juga hilang tanpa jejak. Warga mulai menyadari bahwa kehilangan ternak mereka bukanlah sebuah kebetulan.
“Uling yang memakannya,” kata seorang warga dengan suara pelan.
“Kalau begitu, kita harus berhati-hati. Jangan sampai dia masuk ke pemukiman.”
Ketakutan mulai menyebar. Para petani semakin khawatir karena tanah yang mereka garap juga mulai terganggu. Beberapa bagian sawah menjadi miring dan berair seperti aliran sungai. Jika keadaan itu terus berlangsung, mereka tidak hanya akan kehilangan ternak, tetapi juga hasil pertanian yang menjadi sumber kehidupan keluarga.
Pada suatu sore, warga berkumpul untuk mencari jalan keluar. Mereka duduk bersama dan membicarakan apa yang harus dilakukan.
“Kita tidak mungkin melawan makhluk sebesar itu,” kata seorang warga.
“Kalau kita mengusirnya, mungkin dia akan semakin marah dan merusak sawah kita,” ujar warga lainnya.
Suasana menjadi hening. Kemudian seorang warga mengangkat suara.
“Bagaimana kalau kita memberinya makanan secara rutin? Daripada dia keluar dan mencari sendiri, lebih baik kita berikan sebagian ternak kita. Cukup hewan ternakku saja yang habis. Jangan sampai padi dan sayuran yang kita tanam dengan susah payah ikut rusak.”
Usul tersebut akhirnya diterima. Warga sepakat memberikan hewan ternak secara bergiliran kepada Uling. Mereka berharap dengan cara itu makhluk tersebut akan tetap berada di Goa Uling dan tidak lagi mengganggu kehidupan mereka.
Untuk beberapa waktu, rencana itu berhasil. Uling tidak terlalu sering keluar. Warga pun mulai berani kembali ke sawah. Mereka bekerja dengan hati-hati dan selalu memastikan bahwa keadaan di sekitar mereka aman.
Namun, persediaan ternak warga semakin lama semakin sedikit. Kambing, ayam, dan hewan lainnya tidak mungkin terus diberikan. Akhirnya, warga mulai mengurangi makanan yang disiapkan untuk Uling.
Pada awalnya Uling hanya diam. Namun, semakin sedikit makanan yang diterimanya, semakin besar rasa laparnya.
Suatu malam, ia keluar dari Goa Uling. Tubuh panjangnya bergerak perlahan melewati tanah yang basah. Tidak ada suara selain suara air dan angin malam.
“Dahulu mereka memberiku makanan yang cukup,” gumam Uling. “Mengapa sekarang mereka menguranginya?”
Uling mulai mendekati pemukiman.
Sejak malam itu, ketakutan kembali menyelimuti desa. Ternak warga kembali menghilang. Bahkan, pada beberapa malam, terdengar kabar bahwa bayi-bayi warga hilang secara misterius. Tidak ada seorang pun yang berani keluar rumah setelah matahari tenggelam. Para orang tua memeluk anak-anak mereka erat-erat dan berharap malam segera berlalu.
“Semoga Tuhan menyelamatkan kita dari makhluk itu,” doa seorang ibu sambil mendekap bayinya.
Warga tidak tahu harus berbuat apa lagi. Mereka hanya bisa bertahan dan berharap ada pertolongan yang datang dan pertolongan itu akhirnya datang dengan cara yang tidak pernah mereka duga.
Malam itu hujan kembali turun dengan sangat deras. Air Sungai Serayu naik dengan cepat. Suaranya bergemuruh, lebih keras daripada sebelumnya. Warga yang berada di rumah hanya dapat mendengarkan suara air yang semakin mendekat.
Tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang sangat besar dari arah sungai. Banjir datang. Arus Sungai Serayu meluap dan menerjang berbagai tempat. Pohon-pohon tumbang, tanah longsor, dan air mengalir deras melewati wilayah sekitar Kali Cangkringan.
Di tengah kekacauan itu, Uling yang sedang berada di sekitar Goa Uling tidak mampu bertahan. Arus air yang sangat kuat menghantam tubuhnya. Uling mencoba melawan. Tubuhnya bergerak dan mencengkeram tanah dengan kuat. Namun, derasnya arus terlalu besar. Perlahan tubuh Uling terseret.
Ia terbawa arus Sungai Serayu semakin jauh, hingga akhirnya menghilang dalam gelapnya malam. Setelah beberapa waktu, hujan berhenti. Air perlahan surut. Pagi datang membawa suasana yang berbeda. Warga keluar dari rumah dengan hati-hati. Mereka melihat sawah yang tergenang dan tanah yang berubah bentuk, tetapi satu hal membuat mereka lega. Uling telah pergi.
Sejak hari itu, tidak ada lagi ternak yang dimakan. Tidak ada lagi bayi yang hilang. Tidak ada lagi suara gerakan besar di sekitar pemukiman pada malam hari. Perlahan, kehidupan warga kembali normal.
Meskipun demikian, tidak seorang pun berani mendekati Curug Bolong dan Goa Uling. Tempat itu menyimpan terlalu banyak ketakutan. Letaknya yang curam menuju sungai dan suasananya yang sunyi membuat warga memilih untuk menjauh.
Tahun demi tahun berlalu. Anak-anak yang dahulu mendengar kisah Uling tumbuh menjadi orang dewasa. Mereka kemudian menceritakan kisah tersebut kepada anak-anak mereka. Begitu seterusnya hingga kisah itu diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Seiring berjalannya waktu, desa itu semakin berkembang. Rumah-rumah mulai bertambah, jalan-jalan semakin ramai, dan kehidupan masyarakat menjadi semakin tenteram. Pada suatu masa, kepala desa merasa bahwa nama Curug Bolong tidak lagi sesuai dengan keadaan perkampungan yang telah berkembang menjadi sebuah desa yang hangat dan nyaman.
Setelah melalui pembicaraan dengan masyarakat, nama perkampungan itu kemudian diubah oleh kepala desa menjadi Desa Candiwulan. Nama itu terasa seperti sebuah penanda kehidupan baru. Jika Curug Bolong dan Goa Uling mengingatkan warga pada masa ketika desa mereka pernah diliputi ketakutan, Candiwulan menjadi simbol bahwa setelah masa sulit selalu ada kehidupan yang kembali tumbuh. Masyarakat pun menjalani kehidupan dengan lebih tenteram sambil tetap menjaga cerita tentang masa lalu agar tidak hilang.
Konon, jejak Uling masih dapat dilihat di beberapa bagian wilayah desa. Jalan yang naik dan turun, tanah yang cembung, serta beberapa cekungan yang kemudian menjadi aliran air dipercaya sebagai bekas lintasan tubuh Uling ketika dahulu berkeliaran mencari makanan.
Geta Amelia, MA Cokroaminoto Sokanandi di Banjarnegara
