Menjala Hening
Semburat senja berpendar,
Di dinding laut.
Paling karam.
Para Nelayan, sibuk menyulam kabut yang menepi di kelopak mata.
Memilin mendung,
Dan mengupasnya lebih dulu,
Dari sabda Tuhan.
Sebelum kapal menderu,
Para nahkoda yang mengantungkan nasib, pada setumpuk jaring.
Kini, hanya bisa menjala hening.
Di balik bilik,
Jaring-jaring menggiring ombak ke tepian,
Ikan-ikan di tidurkan,
Supaya bermimpi lebih lama lagi.
Ombak-ombak konkaf semakin cepat melangkah,
Lebih cepat dari malaikat maut yang hendak menyulut usia paling akhir.
Sementara disana?
Sanak saudara menimang-nimang waktu,
Yang telah dinanti lebih lama dari kepulanganmu.
Pekalongan, Maret 2025
Kilauan Senja
Di tepi segara,
Ada guratan harapan yang terpampang disana.
Tentang sebuah pandangan yang mengerucut,
Menjulang tinggi laiknya piramida.
Yang mengerubungi kilauan senja.
Bagian atas, tertulis masa depan.
Bagian tengah, terpampang jelas masa kini
Dan bagian paling bawah, tersirat uraian masa lalu.
Pada detik ke sekian,
Sebelum fajar menanak panas terik.
Biarkan anak panah ini, Menopang piramida yang hampir luruh.
Atau pisau belati milik ibumu,
Setidaknya bisa mengiris,
Bagian yang hampir terkikis.
Laiknya sauh yang kau lempar di laut kedalaman.
Meramu titik temu, paling jemu.
Dari potongan baja,
Yang memanggang air laut,
Kemudian menduduki batu-batu malang.
Sebelum di sembah untuk ke sekian kali,
Dan dipuja layaknya dewa dan dewi.
Pekalongan, Maret 2025.
Hakikat Dedikasi
Di antara gedung yang menjulang tinggi.
Mencakar langit,
Dan mengulum mega.
Aku, termenung dalam tatap murung.
Seantero karyawan merapikan berkas,
Meeting akan segera dimulai.
Aku menepikan lamunan.
Tatkala pucuk jemari itu, menembus pori-pori kulit.
Menyergap hangat.
Dari ulas bibirnya,
Yang mengulumkan senyum paling mistis.
“Bergegaslah, direktur akan segera datang”. Ucapnya dengan lantang.
Aku, mengikat tali sepatu dan melekatkannya pada tembikar.
Seperti ketika bayangku terperanjat disana,
Di cermin paling ujung.
Terpampang, masa lalu yang kian meraung-raung.
Menepis batas antara masa kini dan masa depan.
“Nasib baik tergantung kinerja para pekerja.” Ucap direktur.
Batinku bergemuruh.
Bukankah, direktur juga turut mengatur?
Itu artinya nasib tak sepenuhnya ada di tangan pekerja.
Direktur, para pekerja, dan segudang iklan promosi yang menjulur rapi.
Menembus batas dari sebuah pijakan langkah,
Yang menyukat setumpuk kertas,
Dan segudang berkas.
Entah maju, mundur ataukah jalan di tempat?
Laiknya sebuah oportunisme yang berkedok mufakat.
Semua berlomba mengusung prestasi,
Namun lupa, akan hakikat dedikasi.
Pekalongan, Maret 2025.
Sebuah Kado di Hari Kelahiran atau Menjelang Kematian?
Terimalah, kado ini untukmu.
Sebuah kotak berisikan lapisan-lapisan kertas,
Yang dihimpun dan ditimbun.
Bila di tiup, kertas itu kan hidup.
Berhamburan,
Dan merunut kisah demi kisah yang termaktub dalam lembaran usang.
Tahukah kau?
Aku tergopoh-gopoh dalam menyusunnya.
Lembaran kertas itu, licin.
Selicin mulut manusia yang serupa manekin.
Tahukah kau?
Lembaran kertas itu,
Telah terukur.
Berapa centi panjang dan lebarnya,
Berapa lama proses menulisnya?
Dan berapa tahun kau akan selesai membacanya?
Sengaja, ku beri hiasan aneka warna.
Agar kau bisa memandang nyalang.
Meski, pada akhirnya kau akan menciut.
Bilamana melihat isinya,
Jantungmu terasa kalut.
Wajahmu berubah kisut.
Dan sisanya? Pikirmu kalang kabut.
Itulah kado, yang ku persembahkan untukmu.
Bukan, ini bukan kado.
Melainkan kejutan.
Di hari kelahiran atau menjelang kematian?
Pekalongan, Februari 2025.
Hazuma Najihah, lahir di Pekalongan. Alumnus UIN KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan, mengambil konsentrasi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI). Penulis buku solo : Perjalanan Srikandi Merakit Mimpi dan Sepucuk Rindu di Ujung Lembayung. Serta beberapa buku antologi bersama. Beberapa karyanya seperti artikel, cerpen, puisi, opini, dan esai sudah termuat di berbagai surat kabar baik media online maupun cetak. Kesibukannya saat ini yakni menjadi tenaga pendidik di SD Negeri dan SD Swasta daerah Pekalongan.
