Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Sosialita » Presiden Penyair ‘Sendiri’ di Tengah Revitalisasi TIM
    Sosialita

    Presiden Penyair ‘Sendiri’ di Tengah Revitalisasi TIM

    17 Maret 2021Updated:17 Maret 2021Tidak ada komentar4 Mins Read22 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    saveTIM
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    O, SUTARDJI, AMUK, KAPAK, SENDIRI

    Tatan Daniel

    “Tinggal aku sendiri,” ucap Sutardji Calzoum Bachri tatkala berbincang dengan Fakhrunnas MA Jabbar, pada sebuah sore, akhir Februari di TIM. Makna ‘sendiri” itu, Sutardji merasa setahu dia tak ada lagi seniman atau sastrawan seangkatan atau di bawahnya yang ‘mangkal’ di TIM seperti waktu-waktu dulu. Apalagi semenjak proyek revitalisasi TIM dimulai sejak beberapa bulan lalu.

    Tiga hari ini beliau berada di kota Binjai, tak jauh dari Medan. Diundang dengan penghargaan dan rasa hormat yang tinggi oleh para sahabat sastra Kosambi, Komunitas Sastra Masyarakat Binjai. Merayakan hajatan mengenang penyair Damiri Mahmud yang anumerta beberapa bulan lalu.

    Kosambi, yang didirikan oleh Tengku Suhaimi, bersama Suyadi San, Syarifuddin Lubis, dan kawan-kawan, adalah salah satu himpunan yang paling aktif menggerakkan berbagai aktivitas sastra di kota rambutan ini. Diskusi, even pembacaan puisi, dan penerbitan buku sudah berulang kali mereka selenggarakan. Dan terakhir, kemarin, diskusi sekaligus peluncuran buku “Mahligai Penyair Titipayung”, yang memuat seratusan puisi, diantaranya karya Soetardji Calzoum Bachri yang sudah berpuluh tahun lalu mengenal baik Damiri Mahmud sebagai penyair Melayu yang kedudukannya setara dengan penyair nasional lainnya.

    save TIM

    Benar, hanya seorang Sutardji, yang berumah di Bekasi, yang masih bersetia setiap hari datang ke TIM, meski suasananya sudah seperti dibombardir oleh gerombolan ISIS. Rontok, berantakan, dan mencekam.

    Setiap senja datang, usai bersunyi di sebuah sudut ruang yang sejuk di PDS HB Jassin, ia pun menegakkan ritual salat maghrib dan Isya di masjid darurat Amir Hamzah, di bawah tanah kawasan TIM. Berzikir dan berdoa berlama-lama.

    Memandanginya duduk terbungkuk atau bersujud atau tiduran di hamparan karpet hijau masjid, saya selalu digeremus rasa haru yang hangat. Seorang tua, penyair dakhsyat yang dikenal dan disegani oleh sastrawan se-Asia Tenggara itu, tampak rapuh, tapi sekaligus tegar, kukuh hati, bernyali bagai harimau Sumatera, meski uzur.

    Benar ujarannya, bahwa kini tinggal ia sendiri yang masih setia memberi ruh bagi sebuah kawasan yang dulu gemuruh riuh dengan percakapan, seruan, dan ekspresi seni mahakarya para seniman, termasuk Tardji dengan ‘performance’ pembacaan puisinya yang fenomenal dan amat mempesona.

    Usai berzikir, ia pun tertatih keluar dari masjid, bagai keluar dari gua Hira setelah bertirakat, dan terbungkuk dengan buntalan tersangkut di tulang bahu, mengendap-endap menerobos gelap di lorong TIM menuju jalan Cikini Raya, pulang ke rumahnya yang jauh, kadangkala dengan angkot, kadangkala dengan taksi, tak jarang pula dengan menumpang ojek.

    Setiap kali melihat pemandangan itu dari Posko #saveTIM, yang tak jauh dari sisi mulut gua masjid Amir Hamzah itu, hati saya selalu tergetar. Mata saya berlinang. Entah mengapa. Yang saya rasakan adalah gelisah yang amat sangat, yang berkaitan dengan sejarah, nasib, keadaban yang tergerus, penghormatan yang nihil pada seorang penyair tua, dan TIM yang luluh-lantak dan roboh marwahnya.

    Ketika bangunan-bangunan bersejarah TIM secara bertahap dirubuhkan terkait pelaksanaan Proyek Revitalisasi TIM, penyair “O, Amuk, kapak” itu tampak gusar dan sedih. Begitu kesan yang ditulis penyair Fahrunnas MA Jabbar, dalam sebuah catatannya, ketika bersua dengan Tardji sepekan yang lalu.

    ”Aku bukannya tak setuju dengan revitalisasi TIM ini. Tapi mengingat adanya badan usaha yang membangun dan mengelola TIM ini ke depan, kita patut curiga. Kalau pun nanti semua bangunan TIM sudah baru, tapi pasti tak semua fasilitas bisa dinikmati semua seniman. Pasti akan sangat berbeda dibanding suasana TIM di masa lalu. Mana mau badan usaha itu menyumbang cuma-cuma. Perusahaan itu pasti mengejar untung, setidak-tidaknya mengembalikan modal dulu. Bisa dibayangkan nanti seberapalah yang bisa dinikmati seniman, ” ujar penyair Tardji yang pernah mendapatkan penghargaan sastra prestisius dari Raja Muangthai itu.

    Kemarin, seharian saya bersama beliau. Menyaksikannya menyampaikan pesan dan amanah, menyanyi, tertawa tergelak, dan membaca puisi dengan gaya khasnya, disela jeritan harmonika yang ditiupnya bagai pemusik blues Melayu yang berimprovisasi menyiasati hidup dan sejarah.

    save TIM

    Pagi ini saya terduduk, sendiri, di sebuah lepau, di kota Binjai. Bang Tardji sudah menuju Kuala Namu subuh tadi. Terngiang lengkingan harmonika dan suaranya yang bergetar, seperti menggigil ketika membaca puisi, dan khusuk wajahnya ketika menyeruput sup ikan gabus di sebuah rumah makan Jawa tadi malam, bersama sahabat aktivis sastra, Suyadi San.

    Dari speaker di lepau sederhana ini, lagu-lagu Koes Plus menguar. Membuat ingatan saya berpendaran dengan kelebat kenangan, dari ikhwal hari ini, kemarin, dan masa lalu yang sudah amat jauh, ketika semasih belia dan sibuk membaca dan menafsirkan sajak-sajak yang termaktub dalam buku “O”, “Amuk”, dan “Kapak” seraya membayangkan suara dan raut rupa Sutardji Calzoum Bachri yang ‘beringas’ di depan mimbar, dengan botol bir, busa di janggut dan misainya, dan ratusan penyaksinya yang tercengang-cengang..

    Binjai-Jkt/15-3-2020

    (sumber tulisan dan foto dari akun FB Tatan Daniel. red/17/3/21)

    #saveTIM Presiden Penyair Indonesia Revitalisasi TIM
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleNovel Reza Amirkhani Asal Iran Diterbitkan di Indonesia
    Next Article Buku Kumpulan Cerpen 2019-2020 mbludusdotcom

    Postingan Terkait

    Ketika Bahasa Tegal Hampir Padam, Sastra Tegalan Menyalakan Api

    2 Desember 2025

    Tiga Giat Keren Penyair Sampai dengan Triwulan ke Tiga – 2025

    11 Oktober 2025

    Keseruan di Bulan Juni, Juli Sampai Menyongsong Agustusan 2025

    13 Agustus 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Burung dan Masjid—Dunia Alam dan Dunia Ibadah

    9 Desember 20252 Views

    Puisi yang Segar untuk Mesin-Mesin Lapar

    3 Desember 202514 Views

    Ketika Bahasa Tegal Hampir Padam, Sastra Tegalan Menyalakan Api

    2 Desember 202510 Views

    Jika Cinta Datang: Tunduk dan Menyerahlah

    1 Desember 202510 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (206)
    • Bisnis (7)
    • Buku (83)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (158)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (77)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (187)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (22)
    • Sosial Politik (29)
    • Sosialita (142)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.