Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Puisi » Pantun Malam di Kuburan
    Puisi

    Pantun Malam di Kuburan

    29 Desember 2019Updated:29 Desember 2019Tidak ada komentar2 Mins Read311 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Puisi tak pernah lekang oleh waktu. Puisi akan selalu hidup, seperti Chairil Anwar, dia berharap hidup 1000 tahun, namun dengan puisinya dia akan hidup selamanya. Begitu pun dengan puisi-puisi Teguh O’ Wijaya, puisi-puisinya yang lahir di tahun 80an, hingga saat ini, masih relevan. Selain puisinya yang cenderung blak-blakan, puisinya juga memberikan multitafsir untuk kita renungkan. (Redaksi).

    [iklan]

    Puisi-Puisi  Teguh O’ Wijaya

    Pantun Malam di Kuburan
    Kabut memanggil-manggil harum kamboja
    di tengah pesta mata kunang-kunang
    Kabut memanggil-manggil harum kamboja
    sepi menjerit memanjang-manjang

     

    Sajak Potongan Jari
    Karena jariku bertato, kekasih
    Ia dipotong Jari sendiri

    Jari-jari sengaja diputus
    sebab sering nyedot darah di nadi-nadi
    Tergolek dalam tong – Ia menuding langit
    “Hai di mana lu umpetin Cahaya!”
    Langit menutup mata. Geledek nyamber:
    “Bintang telah mati, lampu masjid dan listrik negara
    sudah gue putusin! Lu mau apa!”
    Lalu hujan pun turun
    meniup lampu-lampu

    Karena Jariku bertato, kekasih
    Ia dipotong Jari sendiri
    dan jariku belepotan tai
    dan ribuan Jari, kekasih
    sibuk mencuci Jari sendiri

    Gandaria ‘84

     

    Aku Protes Padamu
    Mengapa mesti dia, mengapa bukan Dia sayangku
    jika ada anak gadis menjelmakan kaki jadi sayap kupu-kupu dan
    terbang malam di dunia ini

    Jika ada tangan semakin hari semakin panjang
    bergentayangan di dunia ini

    Jika ada perut, senang berisi pecahan beling kaca
    dan menganga berkepanjangan di dunia ini

    Jika ada yang lahir sebagai dasamuka
    dan bergentayangan di dunia ini
    Mengapa mesti dia, mengapa bukan Dia sayangku

    Tak ada wajah yang ingin hilang muka
    tak ada kusir ingin putus kendala
    tak ada pohon yang tak ingin berbuah

    tapi mengapa mesti dia, mengapa bukan Dia yang salah
    Mengapa mesti ibu mengapa bukan Tuhanmu

    ‘85

     

    Nyanyian Fajar
    Selalu saja diulang dan dikenangkan
    sedang matahari tetap di situ
    embun gugur paling pertama
    bunga-bunga menoreh warna
    bumi seperti sediakala sahaja menerima
    dan burung kutilang bernyanyi
    terperanjat bernyanyi
    terperanjat ketika ada suara di jalan raya
    kaki-kaki mulai berpacu
    apakah mereka kan menang berlomba?
    atau sesal menempel bagai jelaga
    semua akan bertemu pada titik waktu
    sedang matahari tetap di situ

    ***

    Catatan:
    Puisi-puisi dinukil dari Antologi Puisi
    Lustrum 1 Kelompok Poci 1985

    Teguh O Wijaya, lelaki asal Cilacap, Jawa Tengah yang lahir tanggal 19 Maret ini adalah pegiat seni dari komunitas Seni Bulungan-Jakarta Selatan. Dia seorang journalist yang mantan Redaktur Senior di Tabloid C&R dan Pimpinan Redaksi di Redaksi Tabloid Spektakuler. Saat ini aktif dalam dunia sastra dan literisi di Tangerang Selatan.

    apresiasi sastra puisi indonesia puisi kehidupan Puisi kuburan Satra indonesia
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleMengenal Drama
    Next Article Lelaki Tanpa Nama

    Postingan Terkait

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 2025

    Puisi-Puisi Amanda Amalia Putri

    30 November 2025

    Berbagi Rasa Proses Kreatif Menulis Buku

    18 November 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Menikmati Keindahan Alam di Taman Batu Hanjuang

    8 April 20261 Views

    Pesona Situ Cicerem Kaduela Kuningan

    8 April 20266 Views

    Idealisme, Sastra, dan Rasa dalam Perjalanan Cinta Penyair Kampus

    7 April 202685 Views

    Lembah Cilengkrang, Kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai

    7 April 202624 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (208)
    • Bisnis (7)
    • Buku (85)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (78)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (188)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (148)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.