Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Musik » Musik Angklung
    Musik

    Musik Angklung

    22 Oktober 2019Updated:12 November 2019Tidak ada komentar5 Mins Read117 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    angklung
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Musik Angklung

    Di tanah Pasundan, ada musik tradisional yang peralatannya dibuat dari bambu dan kalau dimainkan mengeluarkan bunyi: Klung… klung… dimainkan sembari tubuh gerak berayun-ayun.

    Kata Angklung sendiri berasal dari kosa kata bahasa Sunda,  angkleung-angkleung, yang artinya diapung-apung. Karena itu, bisa saja dikatakan kalau Angklung itu artinya suara ‘klung’ yang dihasilkan dengan cara mengangkat atau mengapung-apungkan alat musiknya. Ada juga pendapat lain yang mengatakan kalau nama Angklung itu berasal dari 2 kosa kata Bahasa Bali. Angka dan Lung. Angka artinya nada dan Lung artinya hilang. Sehingga angklung dapat diartikan sebagai nada yang hilang.

    Selanjutnya, alat musik yang disebut Angklung ini menjadi alat musik khas Jawa Barat yang sudah terdaftar sebagai Karya Agung Warisan Budaya Lisan Tak Benda dari UNESCO sejak Nopember 2010.
    Angklung yang terbuat dari bilah bambu hitam (awi wulung) atau bambu putih (awi temen), termasuk jenis alat musik Multitonal atau alat musik yang bernada ganda. Cara memainkannya cukup mudah. Setiap 1 Angklung mewakili satu nada (do re mi fa sol la si do) atau kunci nada (C, G, D, dsb). Bisa dimainkan oleh 1 orang atau banyak orang.

    [iklan]

    Konon kabarnya, kesenian Angklung yang menjadi kebanggaan masyarakat Jawa Barat ini sudah ada sebelum jaman Hindu ada di Indonesia. Sekitar abad ke 12 sampai abad ke 16, pada zaman kerajaan Sunda, Angklung menjadi alat musik yang selalu digunakan pada acara adat dalam bercocok tanam. Pada masa itu Angklung dimainkan sebagai pemujaan terhadap Dewi Sri, yaitu Dewi Padi atau Dewi Kesuburan yang disebut juga sebagai Ni Pohaci. Tujuannya adalah agar mendapatkan berkah pada tanaman padi yang ditanam dan juga kejesahteraan dalam kehidupan. Selain itu, pada masa kerajaan Sunda, Angklung juga dijadikan sebagai pemicu semangat berperang. Fungsi angklung sebagai pemompa semangat rakyat masih terus terasa sampai pada masa penjajahan, itu sebabnya pemerintah Hindia Belanda sempat melarang masyarakat menggunakan angklung.

    Dalam perkembangannya, kesenian angklung menyebar ke seantero Jawa, lalu ke Kalimantan dan Sumatra. Bahkan sejak tahun 1966, Udjo Ngalagena, yang dikenal sebagai tokoh yang mengembangkan tehnik bermain Angklung serta mengajarkannya pada banyak orang, telah membangun Saung Angklung Ujo di Bandung.  Di Saung Angklung Ujo itu siapa saja bisa belajar main Angklung, melihat cara pembuatan Angklung, dan  mengetahui lebih mendalam tentang sejarah  Angklung.  Setiap minggu selalu ada pertunjukan Angklung di Saung Ujo.

    Cara memainkan Angklung sebenarnya gampang saja. Tangan kiri  memegang kerangka/gagang Angklung dan tangan kanan menggoyang atau menggetarkan bagian bawah Angklung hingga mengeluarkan suara Klung… klung… klung… sesuai dengan irama dan nada lagu yang dimainkan. Ada  tiga teknik dasar dalam memainkan Angklung, yaitu: Kulurung, Centak dan Tengkep

    Kurulung, atau tehnik getar, adalah tehnik memainkan Angklung yang biasa dipakai. Tangan kiri memegang rangka/pegangan Angklung dan tangan kanan memegang tabung dasar dan menggetarkan ke kiri-kanan berkali-kali selama nada masih ingin dimainkan.

    Centak atau tehnik sentak, adalah teknik memainkan Angklung dengan cara tabung dasar ditarik dengan cepat oleh jari ke telapak tangan kanan, sehingga angklung akan berbunyi sekali saja.

    Tengkep. Tehnik ini mirip seperti kurulung namun salah satu tabung ditahan tidak ikut bergetar. Pada angklung melodi, teknik ini menyebabkan angklung mengeluarkan nada murni (satu nada melodi saja, tidak dua seperti biasanya.

    Dalam permainan Angklung, setiap pemain bisa memegang 1 sampai 4 Angklung dengan nada yang berbeda-beda. Bahkan 1 orang saja bisa memainkan seperangkat angklung yang mewakili setiap nada dengan cara meletakkan angklung sedemikian rupa sehingga bisa dimainkan oleh satu orang. Selain nadanya berbeda-beda, jenis Angklung juga ada macam-macam, sesuai dengan daerah dimana ia berkembang dan dimainkan.  Alat musik angklung yang berkembang menghasilkan beberapa jenis angklung baru yang membuat alat musik angklung semakin beragam. Berikut ini adalah jenis-jenis alat musik angklung:

    Angklung Kanekes
    Angklung Kanekes ini berasal dari Baduy dan sering ditampilkan pada saat upacara tanam padi. Karena berkaitan dengan ritual tertentu, maka jenis Angklung Kanekes ini hanya bisa dan boleh dibuat oleh suku Baduy Dalam saja.

    Angklung Reog
    Angklung jenis ini mempunyai ciri khas suara yang keras, dan dimainkan sebagai pengiring tarian pada pertunjukkan Reog Ponorogo.

    Angklung Banyuwangi
    Angklung Banyuwangi ini menghasilkan nada-nada suara dan irama yang khas budaya Banyuwangi. Nada dan irama tersebut disebut Caruk.

    Angklung Bali
    Angklung Bali
    mirip Calung Jawa Barat, namanya Rindik.

    Angklung Dogdog Lojor
    Dinamakan demikian karena Angklung jenis ini merupakan salah satu instrument musik yang dimainkan dalam kesenian Dogdog Lojor. Kesenian tradisi masyarakat Banten Kidul untuk menghormati padi.

    Angklung Gubrag
    Angklung Gubrag berasal dari kabupaten Bogor, biasa dimainkan untuk mengiringi acara panen padi.

    Angklung Badeng
    Jenis Angklung Badeng ini berasal dari daerah Garut. Dulu biasa digunakan untuk mengiringi dakwah Islam.

    Angklung Buncis
    Kesenian Angklung Buncis adalah jenis kesenian sebagai hiburan masyarakat yang berkembang di daerah Baros, kabupaten Bandung.

    Angklung Badud
    Angklung Badud berasal dari daerah Tasikmalaya, Jawa Barat. Biasa dimainkan untuk ngarak pengantin sunat.

    Angklung Bungko
    Angklung Bungko berasal dari Cirebon, digunakan untuk mengiri tarian Bungko. Tarian yang menggambarkan prajurit/pasukan yang menang perangan.

    Angklung Padaeng
    Pada
    umumnya, angklung memainkan nada pentatonik, tetapi Angklung Padaeng mampu memainkan nada diatonik. Jenis angklung ini dikenalkan oleh Daeng Soetigna, disebut juga sebagai Angklung Sarinande.

    Angklung Toel
    Jenis
    Angklung ini diciptakan oleh Yayan Udjo. Angklung ini bisa dimainkan oleh satu pemain saja.

    Angklung Sri Murni
    Jenis
    Angklung ini digagas oleh Eko Mursito Budi yang berupa robot angklung.
    (AY)

    Sumber:
    http://dunia-kesenian.blogspot.com/
    https://pesonaindonesia.kompas.com/
    https://id.wikipedia.org/wiki/

    angklung musik angklung musik jawa barat musik sunda musik tradisional jawa barat
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticlePemenang Anugerah Hari Puisi Indonesia 2019
    Next Article Peluncuran Prangko Penyair Indonesia di Malam Puncak HPI 2019

    Postingan Terkait

    Perjalanan Musik Felix Irwan

    26 Januari 2021

    Alip Ba Ta The Humble Guy

    25 Januari 2021

    Makna Lagu Satu, Dua dan Tiga

    31 Desember 2019
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Zaman Apokaliptik

    4 Januari 202686 Views

    Kisah Seorang Polisi di Republik Mimpi

    21 Desember 202540 Views

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 202543 Views

    Perbandingan Film Animal Farm (1954) dan Animal Farm (1999): Kajian Adaptasi dan Alih Wahana

    18 Desember 202528 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (206)
    • Bisnis (7)
    • Buku (83)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (78)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (188)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (142)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.