Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Puisi » Mencatat Demam
    Puisi

    Mencatat Demam

    1 Maret 2020Tidak ada komentar4 Mins Read305 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Dari “Mencatat Demam” karya Willy, padahal dengan mudah kita bisa menemukan: [1] Tema dan penjudulan buku yang sangat umum sekali: “Mencatat Demam”—yang dengan itu menujukkan ketidakadaan kesegaran problem utama yang hendak ditawarkan kepada publik luas untuk dijadikan bahan perbincangan, [2] jangkauan topik di bawah tema yang hendak dimajukan yang tidak punya rentang-eksplorasi yang luas sebagai sebuah penjelajahan batin, baik dari segi pengalaman spasial penulisnya, persentuhan dengan realitas sosial-politik yang serius di zamannya, pergulatan dengan kebudayaan yang melingkupinya, pergumulan dengan berbagai doktrin agama yang dianutnya, ke-intens-an interkstualitas dan ketekunan penelusuran terhadap berbagai major text (khazanah penting) lain dalam bank data kesusastraan dunia-nasional-bahkan lokalnya, maupun pergulatan dengan Ars Poetica-nya itu sendiri. Dari segi penggunaan teknik [3], kita pula tak menemukan ekplorasi teknik yang bisa membuat kita merasa bahwa inilah sebuah naskah yang patut untuk diunggulkan (lagi-lagi) dari sekian naskah-naskah lainnya; sebab menawarkan ruang permainan “khas,” “typical” (menandai penulisnya) dan-atau mengusahakan satu eksperimen menuju “kebaruan.” Apa yang digunakan oleh Willy adalah hal yang relatif menjadi standar dalam pengerjaan puisi-puisi liris pada umumnya: mengedepankan permainan rima dan pemanfaatan metafora yang justru menjadi salah satu teknik arus utama bagi generasi penulis muda, terutama “yang berproses” di Jogja; bisa cek buku “Misa Arwah” milik Dea Anugrah, “Angin Apa Ini, Dinginnya Melebihi Rindu” antologi bersama milik Ramayda Akmal, Asef Saiful Anwar, Fitriawan Nur Indrianto, “Mengunjungi Hujan yang Berteduh di Matamu” milik Alfin Rizal, “Mencintai Kamar Mandi” milik  Rabu Pagi Syahbana, “Metamorfosis Kupu-Kupu” milik Saeful Huda, dan sebagainya dan sebagainya. (Shiny.ane el’poesya)

    klik selengkapnya kritik puisi-puisi Willy Fahmy Agiska di link ini https://mbludus.com/kritik-puisi-pemenang-sayembara-hpi-2019/

    [iklan]

    Mencatat Demam

    I.

    Segalanya
    tak pernah seganjil ini:
    selepas matahari dan malam
    membesarkan jasadku yang layu
    tak ada jam-jam datang
    tak ada yang kusebut seseorang.

    Sedang dalam debar, batu-batu gugur
    jadi namamu. Jadi namamu.

    II.

    Pada hari-hari yang menyakitkan ini,
    pada setiap bunyi jaket parasit
    dan ranjang berderit ini:

    Tuhan adalah bisik-bisik.
    Dan aku insan yang tertidur
    menyimaknya.

    III
    Saban kali peluk diketatkan,
    tangan-tanganku ialah kematian.
    Selalu bergetar oleh sentuhanmu.

    Dan sekian orang yang kuingat.
    Dan seribu jam di dalam, di luar diriku
    semua adalah jarum-jarum morfin menyangat.

    IV
    Siapakah yang sedang berucap-ucap ini
    Sedang dalam igau, kata-kata dan jam berlarian
    seperti kiamat kecil yang kacau.

    2014-2018

    Jendela dan Lubuk Sajak

    Seseorang
    menyimpan sepasang sorot jurang.
    Maut pun terlepas satu persatu.

    Di tubuhmu yang curam
    kuhayati retak dan jatuhnya batu-batu
    yang pulang sebagai palung
    dan menjadi kata-kataku.

    Berkali-kali
    aku mengingat bunuh diri,
    melempar sunyi dan nyeri
    tepat ke pucuk-pucuk sajak
    yang bangkit dari kata-kata rusak.

    Tapi aku tak juga arti.

    Yang kubisa hanya
    mengoyak-ngoyak pedih,
    mencungkil denyut dalam nadi
    sampai rubuh ke lubuk-lubuk sajakku.

    2013

    Epidemi Dingin

    Buat Goen

    Dingin itu kembali mencatatkan hampa
    dengan thermometer yang retak.

    Tapi kota tak lebih basah
    daripada kesunyian manusia
    setelah meninggalkan sebuah desa.

    Angin sepanjang sungai
    seperti bahasa kekuasaan
    seorang tuan kota kita
    untuk mengusir.

    Dan kau tetap saja
    di sana!
    (bersandar pada suasana)

    seakan-seakan hanya
    meminjam gerimis dan cahaya
    dan pendaran warna

    untuk berenang ke dalam kata
    untuk tenggelam di mimpi
    seorang pembaca.

    Tuhan, kenapa puisi cuma
    hiburan bagi sepi semata?

    2016

    Di Bandung Selatan

    Di selatan, udara adalah seseorang
    dengan tempramen yang permanen
    orang-orang dan pohon-pohon bernapas
    atas bubuk-bubuk bukit pengerukan
    dan bau pabrik coklat
    yang makin mirip saudara dekat.

    Barangkali seseorang akan mencintai sebuah pagi
    yang mengirim berpuluh buruh ke jalan
    ke pintu-pintu mobil angkutan, berjejeran.

    Barangkali seorang anak akan meneladani ikan-ikan
    yang berkecipakan di balik Citarum yang hitam.
    Dan Tuhan adalah keajaiban liar di luar akal
    yang telah menghidupkan segala hal.

    Adakah sepatah kata hendak kau katakan
    ketika bertahun-tahun hujan menyuntikan banjir
    ke dalam tidur dan lamunan setiap orang. Ketika cinta
    juga keyakinan tak lebih seekor kucing pincang
    membongkar bak sampah di sudut halaman.

    Ambilah, ambilah.
    Kubagikan daging nasibku
    sepotong-sepotong kepadamu.

    2016

    Rajah Batu

    Tuhan, aku batu.
    Pada kata-kata yang hilang ucap
    kutemukan diriku sebegini kaku.

    Teriakku hanya milik palumu
    yang selalu meretak-retak aku
    dan kembali kusampaikan padamu
    sebagai doa atau semacam apologia
    atas seluruh cinta yang remaja.

    Tuhan, aku batu.
    Dari dingin juga angin
    yang mengental:
    di mana aku berasal.

    2013-2018

    Willy Fahmy Agiska, pemenang sayembara buku puisi Yayasan Hari Puisi Indonesia tahun 2019

    Hari Puisi Indonesia Hari Puisi Nasional puisi indonesia sastra indonesia Sayembara Buku Puisi Sayembara HPI 2019
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleKritik Puisi Pemenang Sayembara HPI 2019
    Next Article Renny Djajoesman Pentaskan Drama ‘Ayahku Pulang’ di Bulungan

    Postingan Terkait

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 2025

    Puisi-Puisi Amanda Amalia Putri

    30 November 2025

    Berbagi Rasa Proses Kreatif Menulis Buku

    18 November 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Hak Tubuh Istirahat

    26 Januari 20268 Views

    Zaman Apokaliptik

    4 Januari 202688 Views

    Kisah Seorang Polisi di Republik Mimpi

    21 Desember 202541 Views

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 202545 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (206)
    • Bisnis (7)
    • Buku (83)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (78)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (188)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (143)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.