Sosialita

Jew : Rumah Demokrasi Asmat

Rumah Jew
Jangan Lupa Di Rate Ya!
Tinggal Pilih Bintang Saja!

JEW: ASMAT RUMAH DEMOKRASI

Dewi Linggasari

Pada pesta demokrasi ketika masyarakat, termasuk masyarakat Asmat berperan sebagai pemilih langsung, maka suasana di jew–rumah bujang menjadi meriah dengan hiasan janur kuning serta aneka warna atribut partai. Masing-masing orang mengenakan pakaian serta tata rias adat, suara tifa bergema membelah seisi udara, suasana kampung yang biasanya hening, kali ini menjadi riuh serta hingar bingar, semuanya tampak bergembira. Pesta demokrasi di wilayah adat menjadi spesifik, karena bernuansa seni tradisionil, berbasis pada jew yang terletak tidak jauh dari aliran sungai.

Sekitar 223 kampung dari 23 distrik di Kabupaten Asmat selalu berkembang di sepanjang aliran sungai. Pada sebagian besar kampung, terutama di bagian pantai selalu berdiri jew, bangunan termegah yang secara keseluruhan dibuat dari hasil hutan. Pada tiang pancang adalah patung leluhur yang diukir secara khusus oleh wowipits-pengukir. Bahwa leluhur tak pernah benar pergi meninggalkan komunitas, meski jasad telah dimakamkan pula di halaman jew. Lantai di bagian dalam, satu-satunya ruangan dialas dengan kulit kayu, dinding dari anyaman nipah serta atap dari bahan yang sama. Wair–tungku utama terletak di tengah dari keseluruhan tungku tergantung jumlah marga yang bermukim di dalam kampung termaksud. Jumlah pintu yang selalu terbuka tanpa daun, terletak lurus dengan tungku api tempat anggota komunitas membakar sagu dan ikan.

Rumah Jew

Secara simbolis jew menggambarkan struktur tubuh  manusia, tiang pancang dengan ukiran leluhur adalah kaki. Badan jew menggambarkan tubuh, pintu adalah mulut serta pintu bagian belakang adalah saluran pembuangan. Sementara atap menyimbolkan rambut manusia. Pembangunan serta eksistensi jew di setiap kampung Asmat sekaligus merupakan pemahaman suku termaksud akan pentingnya keberadaan serta struktur tubuh manusia dalam adat isti adat. Dalam Bahasa Asmat jew berarti roh atau spirit, adalah sukma atau jiwa yang menggerakan kehidupan bersama. Satu komunitas mesti memiliki bangunan adat yang berfungsi sebagai kohesi sosial.

Dahulu kala, sebelum Injil masuk ke wilayah Asmat pada 4 Februari 1954, strategi pertahanan hidup komunitas setempat adalah berperang. Keberanian selalu ditunjukkan dengan kemampuan mengayau, menempatkan tengkorak musuh sebagai bantal. Hutang darah bayar darah, hutang gigi bayar gigi. Pada situasi seperti ini, maka jew berfungsi sebagai benteng sang prajurit, tempat pemuda dan kaum laki-laki menyiapkan perlengkapan perang, tombak, anak panah dan gendewa. Kaum perempuan yang tidak bertanggung jawab dalam strategi perang tidak diijinkan menginjakkan kaki di rumah bujang, kecuali pada upacara adat untuk benar terlibat atau sekedar mengantar hidangan.

Suku Asmat

Ketika Injil diterapkan sebagai suatu keyakinan akan keberadaan Tuhan, secara perlahan adat mengayau serta perang tidak lagi dimaklumkan. Pada 1 Mei 1962 ketika Irian Jaya–Papua diserahkan kepada Pemerintah Republik Indonesia, adat mengayau dan perang semakin menjauh dari kehidupan masyarakat, mengayau—membantai adalah pidana. Maka jew tidak lagi berfungsi sebagai benteng bagi sang prajurit. Bangunan tradisionil itu tetap berdiri megah sebagai pusat lingkaran konsentris pada kehidupan suatu kampung, tak pernah sunyi dari kehadiran anggota puak.

Di dalam jew seisi kampung dipimpin tua tua adat bermusyawarah, mengambil suatu keputusan dalam rangka kehidupan bersama. Demikian pula ketika sebuah jew telah menua dan saatnya dibangun kembali jew yang baru. Tua-tua adat akan menyelenggarakan pertemuan, menerima usul saran, kapan bersama-sama akan pergi ke hutan untuk mendapatkan keseluruhan bahan bangunan, kayu, umpak, rotan, kulit kayu serta daun nipah. Sementara kaum ibu bersiap menyediakan hidangan bagi sekalian pekerja, wowipits mulai mengukir roh leluhur sebagai tiang pancang. Pembangunan jew dikerjakan bersama sejak penanaman tiang pertama hingga pemasangan atap terakhir. Kemudian seisi kampung akan bersuka cita dalam acara pemberkatan.

Pesta Suku Asmat

Tiga bulan setelah pohon sagu ditebang akan muncullah ulat sagu sebagai hidangan adat yang wajib disajikan pada setiap pesta adat. Hasil kebun seperti kelapa, sagu serta umbi-umbian dipetik, disertakan ke wair, tungku utama. Makan bersama adalah suatu tatanan nilai dalam menjunjung kohesi sosial antara anggota komunitas. Dalam kebersamaan suasana jew sangat meriah, ialah ketika suara tifa bergaung dari keahlian tangan sang pemukul. Pakaian adat dikenakan melengkapi gerakan seni tari menirukan derakan alam, flora dan fauna. Kayu gaharu dibakar, asapnya menebarkan wewangian hingga ke seluruh penjuru ruangan.

Pesta patung mbis diselenggarakan pula di rumah bujang, ketika di bagian belakang jew dibuat bangunan darurat dari hasil hutan, maka wowipits mengerahkan kemampuan untuk mengukir perburuan kepala manusia. Jauh hari kemudian ketika kehidupan Suku Asmat bukan sekedar bersinergi dengan pesta adat, sementara jew adalah satu-satunya bangunan terbesar pada suatu kampung. Maka interaksi dengan pemerintah daerah diselenggarakan di dalam jew, himbauan, sosialisasi, pemberian bantuan diselenggarakan pula di dalam jew.


Kini, ketika pesta demokrasi digelar hingga jauh ke tingkat kampung, maka jew menjadi salah satu alternative dalam menyampaikan pesan-pesan bagi kemenangan. Dari tahun ke tahun ketika pesta demokrasi digelar, maka jew menjadi prasarana pesta demokrasi dari beragam bendera partai. Jauh hari sebelum pesta demokrasi digelar, jew selaku rumah demokrasi telah lama berdiri.

Patung Bis

Foto-Foto dikirim oleh Dewi Linggasari

Leave a Comment