Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Puisi » Hari Raya Sepi
    Puisi

    Hari Raya Sepi

    8 November 2019Updated:11 November 2019Tidak ada komentar3 Mins Read20 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Puisi, kerap dianggap sebagai ucapan bayangan batin penyair. Ketika ia terlibat secara emosional dalam sebuah peristiwa, boleh jadi jiwanya tak tenang. Ada gejolak yang bergerak begitu saja. Dalam bayangan batin itu tercermin gambaran yang jernih suara hatinya dalam memaknai hidup yang tak pernah sepi dari berbagai persoalan. Begitulah Subagio Sastrowardoyo berhujah. Bagi A. Teeuw, kekuatan puisi tidak hanya jatuh pada tema yang menunjukkan kekayaan dan keberanekaragaman pemaknaan persoalan hidup, melainkan juga bergantung pada bahasa dan cara mengungkapkan. Tentulah, ini dapat ditangkap penyair pada saat terjadi proses kreatif yang berkelindan dengan sentuh estetis. Simaklah puisi karya Rofqil Junior yang boleh jadi memiliki dasar pemikiran itu, semua bergantung pada pembaca. (Redaksi)

    [iklan]

    Puisi-Puisi Rofqil Junior
    Besakih

    langit yang kejatuhan warna biru
    sekejap dirobek asap dupa dan ruap beluntas
    sekar di selangkangan kuping betapa sakralnya

    sepetak lapang pengabenan
    mengabadikan bau tubuh yang berupa-rupa.
    sama dengan tanah di hujan pertama,
    ia begitu nyaring di telinga

    sengau kidung sumbang, tiada henti
    mengairi pekarangan pura agung Besakih
    yang ditabuh justru hening
    berdenting-denting
    mirip gelas di meja makan rumahmu

    angin gugur dari serpihan musim
    yang perlahan menua dan sepantasnya.
    memetik daun, tangkai sekaligus

    patung singa tidak pernah sendiri
    beberapa temannya juga diam
    di sudut yang sama sepinya.

    Bali, 2019

    Hari Raya Sepi

    sepasang sayap kunang kunang, menusuk
    ujung pura yang sudah rapuh bentuknya
    dalam temaram menyala, hingga
    tepian dada yang retina

    sepi lapang, mengusir ramai diam diam
    lentera yang terbuat dari ujung suratmu
    dan sengaja kubakar; padam.
    betapa remang kerap menyudutkanku

    sementara di kepala, udeng warisan ayah
    diam demi warna putih nan suci.
    di pinggang bukan serban
    melilit separuh badan

    bakar kemenyan dan asap dupa
    mengusir bau abu tubuhku setelah diaben
    seorang lelaki memilih khusyuk
    dengan ritual.

    yang nyaring adalah salak anjing
    semarak mengusir hening

    Bali, 2019

    Aben

     
    bukan kenangan yang kusulut diam diam
    yang apinya berkejaran dengan dosa terlalu karat
    sepasang mantra penyabun resah
    dilandaikan sekitar telinga

    selain api,
    tangis terakhir sebagai persembahan
    paling sederhana dan secukupnya
    mengusir panca maha bhuta
    hingga menyatu dengan rusuk tanah

    kelak, abu dari sisa pembakaran
    terbang setinggi angan
    diam diam mencium gemawan

    putih nan letih
    kidung nelangsa merampungkan
    doa doa sebanyak detak dan detik

    sedang di belakang tiada langkah
    bertubuh hitam.

    Bali, 2019

    Kelak

    aspal yang sama pekatnya dengan torabika
    mengusir jalan berkubang depan rumahmu.
    masihkah tersisa setapak yang tak pernah mudah
    sekadar mengirim sayatan kenangan satu persatu?

    waktu gegas berebut sampai hilir
    sungai sungai yang riciknya membelah kesunyian.
    apakah masih ada, debur segara
    yang menganyutkanku sampai rumahmu?

    pohon yang dahulu kita tanam dan kepalanya
    kerap diburu burung gereja bersayap angin
    tumbang satu satu
    tumbuh lain
    semisal gedung sulaman Sulaiman
    megah dalam temaram.

    Bali, 2019

    Rofqil Junior adalah nama pena dari Moh. Rofqil Bazikh. Lahir di pulau Giliyang kec. Dungkek kab Sumenep Madura pada 19 Mei 2002. Berdomisili di Gapura Timur Gapura Sumenep. Aktif di Kelas Puisi Bekasi dan Komunitas ASAP Merupakan alumnus MA Nasy’atulMuta’allimin Gapura Timur Gapura Sumenep dan MTs. Al-Hidayah Bancamara Giliyang.

    puisi indonesia puisi kehidupan Puisi Sufi puisi tradisi
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleLiterasi Lokal Berkualitas Global
    Next Article Legenda Dewi Sri

    Postingan Terkait

    Puisi-Puisi Alfiansyah Bayu Wardhana

    12 April 2026

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 2025

    Puisi-Puisi Amanda Amalia Putri

    30 November 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Menolak Pudar: Jejak Keindahan “Situ Lengkong Panjalu” Yang Tak Lekang Oleh Waktu

    18 April 20269 Views

    Pas Lebaran 2026, Reuni SDN Jajag Lor Kali, Juga Oke…

    18 April 202665 Views

    Harga Sebuah Kicauan: Sebuah Narasi Narsisme Antroposentris

    18 April 202636 Views

    Muara Jambu Ciater Tempat Wisata dan Camping

    13 April 202613 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (209)
    • Bisnis (7)
    • Buku (85)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (79)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (189)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (155)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.