Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Kritik Sastra » “Dewi Puisi dan Kesenian”, Diksi Paling Berani Penyair Jang Sukmanbrata
    Kritik Sastra

    “Dewi Puisi dan Kesenian”, Diksi Paling Berani Penyair Jang Sukmanbrata

    15 Oktober 2023Tidak ada komentar6 Mins Read3 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Sesuai keterangan yang termaktub di Jurnal mbludus.com di laman https://puisi-puisi-jang-sukmanbrata/, menyatakan bahwa Penyair Jang Sukmanbrata (Satyariga Sukmanbrata) lahir di Bandung, tahun 1964. Adapun karya puisinya ditulis dalam beragam genre, semisal terbit di buku antologi puisi : Negeri Pesisiran, (2019), Negeri Rantau (2020), dan Raja Kelana (2022-DNP).

    Satu di antara puisinya yang telah tayang di laman di atas berjudul DEWI PUISI DAN KESENIAN. Puisi ini berhasil memikat perhatian Penulis sebagai penikmat puisi, tersebab beberapa sajaknya terkesan gelap gulita di antara sajak yang berlarian rutin, dan kadang sanggup berdinamik menantang pembaca untuk meredam kernyitan di alam fiksi imajinasi.

    Mari perhatikan Puisi lengkapnya di bawah ini. Sebagai langkah mempermudah telisik puisi, masing masing bait diberi nomor urut, dari 1 sampai dengan 8.

    DEWI PUISI DAN KESENIAN
    1.
    dewi puisi dan kakaknya itu
    dewi kesenian suka membantu yang miskin dan teraniaya

    2.
    dewi puisi adalah ulat berbulu
    hidup di ayunan waktu, tidak menunggu
    di balik dedaunan kala basah
    di batu bolong tak berlumut
    di tembok tembok berlobang
    Pernah kamu bermimpi bulan jatuh?
    meski kadang lahir dari debur nafsu

    3.
    dewi puisi tetap mulia, tetaplah agung
    puisi bukan bulan pun rayap kayu
    apalagi kokok ayam jantan di pagi dini
    Dewi puisi mirip wanita pertama kali hamil,
    banyak maunya, samar rasa, kerap meringis

    4.
    kesenian ialah ular cobra
    jantan dan betina sama saja berbisa
    melarikan sakit dendam jutaan abad
    sebelum Adam tiba di benua Asia
    –
    5.
    Hawa di benua Afrika, Iblis Azazil
    di lembah garam Basrah
    Keduanya sarat cinta lugu menghadapi musuh,
    yang ketiganya makhluk dengki, penuh cemburu
    ular alat kemerdekaannya di dahan, di gua
    Dewi seni lahir pada saat Qabil memuja api di malam tak berbintang
    dewi puisi lahir dari senyuman Tuhan
    (jangan bangga wahai kaum seniman! ini surga tapi jebakan kehidupan kalian).

    6.
    Tak perlu bimbang, genangan rasa
    di cekungan jiwanya seperti kolam
    Dewa prosa penolong suka datang,
    agar kekaburan makna menjelaskan

    7.
    kesenian mencintai orang miskin,
    semua yang teraniaya dibela puisi
    sehabis tsunami, gempa sana sini,
    beras sisa sebutir, hewan pun ketir,
    setelah kebaikan berkeadilan hadir.

    8.
    Dewi puisi lahir di tanah air hidup sunyi
    Dan dewa prosa gemar makanan lezat
    sambut, lalu reguklah sepuas mungkin.

    Citarum Rajamandala, 30/1/ 2019

    Puisi berjudul DEWI PUISI DAN KESENIAN besutan Penyair Jang Sukmanbrata di atas dalam waktu cepat mampu memberikan isyarat rumit paham bagi pembaca. Kerumit pahaman ini bisa jadi berawal dari adanya sajak-sajak yang relatif menguarkan aroma pernyataan tak terduga, dan penuh teka teki, seperti di bait pertama.

    /1.
    dewi puisi dan kakaknya itu
    dewi kesenian suka membantu yang miskin dan teraniaya/

    Bait 1 di atas berpotensi memberikan pernyataan bahwa /dewi puisi/ mempunyai kakak berjuluk /dewi kesenian/, keduanya /suka membantu yang miskin dan teraniaya/.

    Dari bait 1, bisa timbul tanya:
    “Siapakah kedua dewi tersebut. Siapakah dewi puisi, siapa pula dewi kesenian?”

    Dewi biasanya diserupakan dengan sosok perempuan yang mempunyai derajat lebih linuwih dibandingkan dengan perempuan yang bukan berderajat Dewi. Khusus untuk diksi /dewi kesenian/ sepertinya bisa diperkirakan maknanya sebagai nama perempuan linuwih yang sudah tidak terlalu asing bagi sebagian orang, sebab banyak orang telah mengenal secara umum tentang profil dewi kesenian, yaitu bisa berpotensi diprediksi sebagai perempuan linuwih yang mempunyai kemampuan melahirkan kesenian maupun ilmu pengetahuan bagi yang percaya dan meyakini, misalnya seni di bidang: sastra, musik, lukis, ukir, dan lain lain.

    Di bait 1 di atas, penyair tampak berani memilih diksi /dewi puisi/, disanding urutkan dengan diksi /dewi kesenian/ di dalam puisinya, ditambah dengan pernyataan tanpa argumentasi. Sehingga timbul tanya lanjutan:
    “Apakah diksi ini mengandung arti sebenarnya, atau kah berupa majas, atau pun kosa kata berkesebandingan?”

    Ternyata jawabannya belum bisa disuguhkan dengan cermat dan cepat, karena masih memerlukan pemindaian pada bait-bait berikutnya, yaitu bait 2 di bawah ini.

    /2.
    dewi puisi adalah ulat berbulu
    hidup di ayunan waktu, tidak menunggu
    di balik dedaunan kala basah
    di batu bolong tak berlumut
    di tembok tembok berlobang
    Pernah kamu bermimpi bulan jatuh?
    meski kadang lahir dari debur nafsu/

    Di bait 2 memperlihatkan Sang Penyair masih teguh dalam giat eksperimen permainan diksi, terutama dengan mengajukan diksi /dewi puisi/. Diksi ini tidak atau belum umum digunakan dalam masyarakat luas, dibandingkan dengan diksi dewi yang lain. Adapun diksi tentang dewi yang terlebih dulu dikenal, semisal ada beberapa, yaitu: dewi malam yang merujuk pada bulan sebagai benda langit di malam hari, dewi sri yang diyakini oleh sebagian masyarakat pertanian sebagai simbol perempuan linuwih yang anggun, sang pemelihara kesuburan tanaman dan tumbuhan, atau pun dewi sebagai nama orang, contohnya nama populer di kalangan pesohor penyanyi dangdut asal kota Jember, Jawa Timur, Indonesia yaitu dewi persik.

    Eksperimen permainan diksi dari Sang Penyair, semakin kentara ketika ditambahkan penjelasan siapa yang dimaksud dengan /dewi puisi/, yaitu:

    /dewi puisi adalah ulat berbulu
    hidup di ayunan waktu, tidak menunggu
    di balik dedaunan kala basah/.

    Perumpamaan /dewi puisi/ sebagai ulat berbulu, akan sanggup memberikan isyarat gelap bagi pembaca, yang ujung ujungnya akan melahirkan tanya:

    “Bagaimana cara memaknai diksi /dewi puisi/?”
    “Apakah menjadi semacam hasil inspirasi dari istilah dewi malam, atau memang memiliki nilai makna kebaruan dari sisi penerapan semangat istilah dewi malam ke dalam diksi dewi puisi?”

    Dari telisik terhadap contoh diksi tentang dewi di atas, rasa-rasanya diksi /dewi puisi/ belum termasuk kategori dari contoh ketiga tiganya, yaitu: bukan semisal metafora umum seperti dewi malam, atau bukan nama simbol tertentu semisal dewi sri, dan juga bukan nama poluper orang tertentu seperti dewi persik. Di sinilah terendus penguatan aroma keberanian penyair dalam mengeksplorasi dan bereksperimen menyuguhkan diksi yang berpotensi menjadi semacam pengenalan diksi baru melalui ranah puisi.

    Sedangkan jika disebandingkan dengan mitologi Yunani yang sudah banyak dikenal, bahwa dewa dewi yang terkait dengan sastra khususnya puisi, memang sudah lama dikenal, diantaranya yang membidangi: puisi kepahlawanan, puisi cinta, maupun puisi tentang tragedi. Namun demikian masih belum bisa ditemukan benang merah antara /dewi puisi/ lirik dengan dewa dewi mitologi Yunani, masih timbul tanya:

    “Bagaimana hubungan antara diksi /dewi puisi/nya Penyair Jang Sukmanbrata dan diksi dewa dewi sastra di mitologi Yunani?”

    Belum lagi puisi yang diumpamakan sebagai /ulat berbulu hidup di ayunan waktu/. Tentu imajinasi pembaca kemungkinan akan menuju pada ulat yang terlihat indah jika dipandang. Fase ulat menjadi tahapan siklus kehidupan kupu kupu, dari telur, ulat, kepompong, dan berlanjut menjadi kupu kupu. Namun demikian jangan sekali sekali ulat berbulu tersebut dipegang, bulunya akan berterbangan menjadi serupa paku lembut terbang. Paku lembut ini sanggup menancap di permukaan kulit si pemegang, dan menimbulkan rasa gatal, bahkan bisa nyeri panas beracun.

    Hal ini menjadi semacam pesan bahwa jangan jangan /dewi puisi/ bisa berpotensi menjadi seperti itu bagi yang terlanjur bersentuhan dengan /dewi puisi/. Benarkah demikian?

    Pertanyaan-pertanyaan di atas bisa jadi akan melahirkan jawaban beragam dari berbagai macam persepsi menurut sudut pandang, dan latar belakang masing-masing. Lebih lebih apabila dikait tautkan dengan logika, makna, rasa, dan estetika pada bait=bait berikutnya, sampai bait terakhir, yakni bait ke 8. Yang jelas satu kemungkinan yang akan timbul dari penikmatan puisi besutan Sang Penyair Jang Sukmanbrata “DEWI PUISI DAN KESENIAN” adalah semakin ke ujung bait, sang penikmat puisi akan semakin mengernyitkan pikir, rasa, dan logika: luar biasa beraninya!

    Selamat berpuisi, dan teruslah berpuisi.

    Penulis: Kek Atek
    Penikmat Puisi, tinggal di Rumpin, Kab. Bogor, Jawa Barat, Indonesia.

    Apresiasi karya sastra Penikmat Puisi Penyair Jawa Barat sastra puisi
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleMi Ayam Indonesia dan Cerita Kelezatannya yang Populer
    Next Article Sastra Maju Karena Dilisankan

    Postingan Terkait

    Evokasi Horison Biru di Puisi Karya Hartojo Andangdjaya “Dari Seorang Guru Kepada Murid-Muridnya”

    9 Juni 2026

    Menakar Aroma Surealisme Puisi Penyair D. Zawawi Imron “Sungai Kecil”

    19 Mei 2026

    Menikmati Panjat Tebing Puisi Penyair Darmanto Jatman “Memandang Padang Alang-Alang Pada Suatu Malam”

    9 Mei 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Kuliner Rumah Makan Kharitzma

    10 Juni 202612 Views

    Evokasi Horison Biru di Puisi Karya Hartojo Andangdjaya “Dari Seorang Guru Kepada Murid-Muridnya”

    9 Juni 202630 Views

    Gunung Ciwaru Majalengka, Destinasi Wisata Alam yang Semakin Populer di Jawa Barat

    9 Juni 202617 Views

    Keheningan sebagai Suara Kemanusiaan dalam Biola Tak Berdawai

    8 Juni 20268 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (209)
    • Bisnis (7)
    • Buku (92)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (82)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (190)
    • Sains (51)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (173)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (99)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.