Sosialita

Aksi Demo

Jangan Lupa Di Rate Ya!
Tinggal Pilih Bintang Saja!

Mahasiswa Jaman Now senengnya demo? Enggak juga. Jaman dulu kan juga udah pernah ada demo? Tahun 1966 atau setahun setelah peristiwa penculikan dan pembunuhan 7 jenderal. Mahasiswa-mahasiswa itulah yang konon berjasa mewakili rakyat dengan Tritura yang singkatan dari Tiga Tuntutan Rakyat.

Apa isi Tritura?

  1. Pembubaran PKI beserta ormas-ormasnya
  2. Perombakan Kabinet Dwikora
  3. Turunkan Harga Pangan

Hampir 21 Tahun setelah Indonesia merdeka entahlah apa pemicunya? Yang pasti demo mahasiswa mulai terjadi tanggal 12 januari 1966. Lalu tanggal 24 Februari 1966 Presiden Soekarno mengumumkan reshuffle Kabinet . Namun dalam kabinet itu konon masih duduk para simpatisan PKI yang membuat sebagian mahasiswa tak puas dan memicu kembali aksi-aksi unjuk rasa mahasiswa yang justru diikuti kesatuan-kesatuan aksi lain. Jika pada gelombang pertama hanya Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia untuk gelombang selanjutnya ada KAPI, KAPPI, KABI, KASI dll. Wuidiiih… jaman baheula serasa seru barangkali yaa?

Kemudian seorang Mahasiswa bernama Arif Rahman Hakim meninggal. Kemudian aksi mahasiswa itu sempat dibubarkan namun konon justru malah mengobarkan semangat mereka hingga tuntutan dikabulkan. Ulala

Itu bagian dari sejarah. Kemudian muncul Supersemar yang konon hingga hari ini entah apa bentuk dan isinya. Kemudian Bung Karno dijemput paksa dari Istana dengan hanya membawa lempitan koran dengan kalimat, ”lebih sulit perang melawan bangsa sendiri

Kemudian pak Harto menjadi Presiden RI dan Bung Karno menjadi tahanan rumah di wisma Yaso, selama 3 tahun. Plus tak bisa sembarangan orang bisa datang menjenguk. Dan konon beliau hanya diberi obat hewan untuk rasa sakit akibat ginjalnya yang bermasalah. Itulah sebab wajahnya bengkak-bengkak. Entahlah. Kan saya hanya mendengar dan membawa saja. Karena saya belum lahir.

Kemudian Bapak Soeharto menjadi Presiden RI, selama 32 tahun. Dengan akhirnya beberapa Mahasiswa yang angkatan 66 itu beberapa menjadi menteri. Tuan Abdul Gafur, Mr Cosmas Batubara, Tuan Fahmi Idris dan beberapa lagi. Pada bagian ini saya sudah besar. Saya kecil hingga dewasa adalah menjadi rakyat Indonesia yang dipimpin oleh Bapak Presiden Soeharto. Saya tak mengerti banyak tentang politik. Yang pasti saya hapal dengan Tuan Harmoko yang dengan ciri kalimat khasnya, “Atas petunjuk Bapak Presiden…”. Atau Tuan Moerdiono yang jika bicara itu suka lamaaa deh. Dan mama saya suka ngambek. Kan jaman itu siaran TV terbatas. Palingan nonton tentang acara pemeritah lah…

Pada suatu hari… saat itu awal tahun 80an ketika anak tetangga saya lari terbirit-birit gegara Tentara  lewat depan area rumah kami tinggal. Mengapa anak tetanggaku lari? Dia takut kena Petrus. Siapa Petrus? Petrus adalah singkatan dari Penembak Misterius. Apakah yang dilakukan Petrus? Hingga anak tetanggaku lari sambil terbirit-birit dan cepirit? Entahlah. Yang pasti tiap pagi saya lihat wajah-wajah ngeri dari para bapak yang membaca koran (Pos Kota) Karena berita utamanya pasti tentang karung, mayat dan lengan yang ada tatonya. Padahal yang lewat tadi hanya Tentara Sayur. Maksudnya? Tentara yang waktu itu lewat adalah saudara dari Mas Paijo tukang bakso langganan. Dia asal Magelang. Dan dikeluarganya ada beberapa yang menjadi Tentara. Tentara jaman pak Harto adalah, wow… alias serem. Berurusan dengan tentara? Tamat kowe. Tapi tak semua tentara adalah jugala atau so scarry. Kebetulan tentara yang saudara mas Paijo itu beneran tentara bagian memasak yang setiap hari berurusan dengan panci dan kuali. Jadi, tak semua tentara itu beringas atau selalu berurusan dengan bedhil. Karena harus ada juga Tentara yang bisa bermain musik alias orkes, bahkan hanya berurusan dengan sayuran. Tapi karena anak tetanggaku udah panik, dia memilih menyetrika lengannya yang bergambar tato. Berhari-hari demam meriang. Lengan kanan yang dulu dibanggakan karena Tato bergambar indah itu lalu jadi cacat hingga saat ini. Ampuuun…!


Demo Karena Banyak Orang Yang Menganggur.

Balik ke soal  Demo Mahasiswa. Demontrasi Mahasiswa bagian kedua bangsa Indonesia itu terjadi pada tahun 1998. Kuliah saya tinggal menunggu wisuda. Maklum, Almamaterku swasta dan bukan kampus incaran. Aku ngaku aja. Kebanyakan mahasiswanya adalah karyawan dan bagian tukang demo juga. Banyak kakak-kakak seniorku, mereka sudah lulus lama namun mungkin karena kurang kreatif dan tak terserap oleh kuota pekerjaan yang tersedia, banyaknya mereka jadi menyalahkan pemerintah dan demo kanan kiri. Ini Opini aku sendiri lho yaa…

Jaman itu tuan Soeharto dan keluarganya menjadi bahan pembicaraan diam-diam. Dari mulai ibu Tien dibunuh anak kandungnya gegara perebutan perusahaan lah. Keluarga serakah dan kapal keruk lah… hanya mementingkan kroni-kroninya lah… kolusi, korupsi and nepotisme lah. Presiden seumur hidup lah… ini lah… itu lah… lieur pokoknya.

Aku juga pusing mendengarnya. Entah Hoax apa bukan? Yang pasti segala hal kebencian tingkat atas selalu bermuara dan berujung di keluarga cendana. Dari mulai kelakuan anak cucu bahkan hingga mantu. Puncaknya, ketika mba Tutut menjadi Menteri. Padahal hanya menteri sosial doang… tapi itu telak sebagai puncak kebencian bagi sebagian orang. Ulala.  Yang pasti, Ibu Tutut sebagai menteri sosial sudah mengajak orang-orang agar menyumbangkan perhiasan emasnya untuk negara. Ya… tapi itu percuma. Hanya becandaan aja mungkin. Biar rakyat tenang dan tidak galau. Ibarat menyiram segayung air ke atas gunung Sahara. Yang nyumbang sedikit tetapi yang menggerogoti banyak. Semua orang berlomba memburu dolar. Temanku bernama Antonius. Bujang lapuk yang mendadak kaya raya karena dia menyimpan uang ya dalam dolar dan Emas batangan. Mendadak punya Ruko di daerah Iskandarsyah, Jaksel. Dan tentu saja dengan gaya yang mendadak parlente depan cewek-cewek. Jaman baheula gitu lho… punya ruko itu bak punya Mall. Xixixixi.

Kembali kepada keadaan negara yang sudah heboh. Mahasiswa bergerak. Penjarahan di mana-mana. Ulala. Lalu peristiwa Trisakti. Dan lengserlah tuan Soeharto meninggalkan tumpukan PR rakyat Indonesia. Segala hal yang dibangun selama puluhan tahun seolah sia-sia. Indonesia yang pernah dijuluki Macan Asia konon menjadi macan ompong. Tak ada yang diadili dalam hal ini. Indonesia dalam cengkaraman IMF dan selama 20 tahun dampaknya masih terasa. Tetiba banyak yang kehilangan pekerjaan. Lalu Krisis Ekonomi melanda kemudian. Saya pribadi rasanya waktu itu patah semangat. Jika tak mau dibilang putus asa. Mau kerja ke mana? Sementara lulusan kampus bergengsi lainnya pun ijazahnya tak laku. Harga emas meroket. Kurs dolar luar biasa. Konon yang kaya makin kaya karena tak menyia-nyiakan peluang. Yang miskin makin…  Wasalam

Kemudian musim Reformasi. Kemudian kata demokrasi lebih sering terdengar. Muncul banyak partai. Lalu tuan BJ Habibie jadi presiden, diteruskan oleh  Gus Dur, dilanjutkan oleh Megawati. Lalu tuan SBY hingga dua periode dan kini Mr Jokowi. Kita melulu membahas politik dan golongan partai apa kita berpihak. Berbusa-busa mulut ketika kampanye. Baliho sebesar-besar lapangan sepak bola? Percuma. Negara ini lalu seperti riweuh, bising, rumit.  dampaknya masih terasa. Yang kaya makin kaya karena tak menyia-nyiakan peluang. Yang miskin makin modyar

Saya lebih tertarik menulis tentang betapa Indonesia kemudian seperti tak lepas dari musibah. Teroris. Jemaah Islamiyah. Peristiwa Bom Bali. Lalu negara-negara Eropa bahkan sepakat bahwa maskapai kebanggan kita Garuda Melayang bahkan tak boleh melewati langit mereka. Hutan-hutan habis ditebang. Emas kita dicuri. Tambang batu bara, bahkan hingga pasir? Habis. Di saat kita menjagokan partai dan calon pimpinan? Negara yang kaya sumber daya alam ini habis dijarah tanpa kita sadari. Segala hal mereka keruk dengan serakah. Entahlah siapa? Pengusaha yang main mata dengan pejabat? Yang pasti jangankan kayu, Ikan hingga BBM yang diselundupkan bahkan hingga benur atau benih lobster hingga ke pasir saja dicuri dan dijual dengan harga murah tanpa pernah masuk kas daerah apalagi pajak negara.

Kawan-kawan angkatan 66 dahulu mungkin dianggap heroik. Melengserkan bung Karno yang tetap dianggap komunis oleh sebagian dari mereka. Hingga kemudian banyak dari angkatan itu yang menjadi Menteri dan dianggap pahlawan. Para Mahasiswa yang berdemonstrasi pada tahun 1998 juga banyak yang dipelihara negara. Maksudnya, diam-diam mereka disubsidi materi bahkan ada yang hingga disekolahkan ke luar negeri. Pusing juga jika negara harus membabat habis mahasiswa. Bukankah dulu oparasi Mawar juga sudah bikin heboh sedunia. Siapa pelakunya? Komandannya? Tak ada yang tau. Yang ada dunia Internasional mengecam kita sebagai negara yang melanggar HAM lah, negara biang teroris lah, ini lah, itu lah…

Apakah ini semua konspirasi? Saya mana paham? Saya hanya ibu rumah tangga biasa. Bicara soal politik ngeri ditertawakan. Yang pasti saya punya nalar. Kita negara besar dengan jumlah penduduk yang besar tetapi mudah dibodoh-bodohi. Presiden bisa ganti berkali-kali. Usia kemerdekaan sudah 75 tahun, tetapi, lem sepatu pun kita masih impor. Jangankan pesawat jet tempur lha wong sepeda aja masih impor. Kita kalah oleh negara Singa yang kadang dulu sering Jumawa. Asap yang ditimbulkan hutan-hutan Indonesia konon asapnya mencemari wilayahnya dan akan membawa masalah ini ke hukum internasional. Hebat pisan. Menampung kayu ilegalnya mau… tapi merasakan akibat asapnya ogah. Pun dengan pengusaha-pengusaha nakalnya. Mengambil segala hal dari perut bumi Indonesia getol tetapi memarkir uangnya entah dinegara mana. So, bangsa ini tinggal tersisa susah dan frustasinya aja. Jangankan rakyatnya mau tenang. Lha wong tiap hari memikirkan tagihan yang selilit pinggang. Bagaimana para mahasiswa belajar dan bersekolah tenang? Untuk biaya kuliah dan sekolah aja pasti orang tuanya kesulitan hingga harus memangkas pos tertentu. Mungkin saja jatah makan jadi dikurangi. Lalu mereka-mereka yang bagian Kompor memanfaatkan situasi dan kondisi. Bahwa pemimpin dholim. Presiden harus diganti. PKI. Dll. Dll. Duh… biyung

Secara holistic negeri ini menyedihkan. Yang kaya makin kaya. Yang miskin makin susah. Plus gadget yang tanpa batas. Dimana manusia lain bebas mempertontonkan kebahagiaan dan kekuasaannya di saat yang lain mungkin tengah sekarat berjuang demi kelangsungan hidup sehari-hari. Anak pedagang oncom mungkin merinding melihat Instagram artis or anak pejabat. Ratu medsos hingga tuan Rafily Ahmadi yang konon rumahnya memakai lift. Jika yang kaya raya bisa ngopi di Setarbak… maka golongan miskin hanya minum kopi di starling alias setarbak keliling sambil jongkok and ngumpet2 karena bisa diusir satpam jika ketauan ada sepeda atau gerobak jualan disekitar gedung mewah. Manusia kaya bisa memasukan anak-anak mereka ke sekolah-sekolah Internasional bahkan ke luar negeri sekalian. Sementara anak-anak miskin? Membeli kaos kaki saja mungkin orang tuanya harus mikir. Kemudian hal ini menjadi bahan-bahan yang bisa membakar semangat mereka yang tak paham. Bahwa jika berganti Rezim maka negeri ini akan gemah ripah loh jinawi. Ini pemimpin yang tak amanah. Kita harus berjuang hingga tetes darah penghabisan demi anak cucu. Padahal mah… kala negeri ini kacau suracau… pasti negara lain yang campur tangan. Mereka akan bagi-bagi kekuasaan. Mereka akan merampok apapun yang bisa diambil. Dan sebagai rakyat sisanya apa? Tak ada. Paling ngahuleung aja. Sebaiknya pemerintah juga jangan abai. Hukum harus tegas ditegakan. Jangan membela penguasa. Manusia-manusia Macam Jenderal besar tapi malah memberi ketebelece  kepada pengusaha yang merampok uang rakyat mbok hiyao jangan dikasih ampun. Masa sih… pejabat kok malah jadi kacung koruptor? Antar jemput dari bandara hingga ke rumahnya. Termasuk Jaksa Syantiek yang bahkan berfoto diri bersama penjahat? Rakyat sudah lelah mungkin.

Sudah mah kita semua dijajah asing dari segala hal. Jangankan laptop, lha wong bumbu dapur semisal ajinohmotoh aja masih teknologi Jepang. Jutaan mobil dan motor yang seliweran di jalan? Hampir 99 persen adalah buatan bangsa lain. Bohlam, shampoo bahkan pembalut aja kita belum mampu bikin. Semuanya. Segalanya. Sampe ke pupuk urea aja… diimpor dari Jepun. Nanti petani kerja keras susah payah bercocok tanam? Pas panen? Tengkurep. Jangankan mau untung? Ongkos memetik aja lebih mahal dari harga hasilnya. Dan ini sudah berlangsung lama. Tuan Jokowi sendirian mengatasi ini? Ya bisa pingsan. Puluhan menteri-menterinya, ratusan pejabat setingkat menteri, ususal usolon or eselon yang di gaji negara itu kemana aja? Ngapain aja? Atau karena mereka biasa hidup nyaman dan pakai ajudan hingga menjadi tak peka? I don t know

Yang pasti negeri ini tak butuh manusia-manusia yang bawa-bawa toa hingga mulut berbusa. Atau manusia-manusia pintar yang hanya bisa menulis hingga membuat pembacanya terbakar emosi sembari itu semua bukan fakta. Negeri ini butuh manusia-manusia yang bisa membawa perubahan. Menambah kecerdasan. Membuat malu mereka-mereka yang tak amanah. Kalo bisa membuat jera mereka yang khianat. PR bangsa kita ini masih banyak. Secara global, tak ada tempat yang aman di muka bumi ini. Pemanasan Global, Ancaman kelaparan, ledakan jumlah penduduk, krisis pangan, kematian dini karena penyakit yang belum ada obatnya. DLL. DLL. Dan ini menjadi PR kita semua. Apa yang akan kita wariskan kepada anak cucu nanti? Materi? Wallahualam bi sawab. (Cikeu Bidadewi)

Leave a Comment