Membaca Jarak
sejarak apakah dapat melunaskan sesuatu padamu?
jalan masih belum berakhir kita langkah. selebihnya
murung yang bersemi di dada.
kepadamu hanya sejarak napas bila kau menatapku
lekat-lekat. meski tak terukur jauhnya keberadaan kita.
namun kau berkata dekat, sangat dekat, dan aku
menyetujui tanpa berkata dusta.
sejarak apakah dapat meyakinkanmu bila aku tak lagi
berada dekat? lihatlah, jalan masih belum tampak
ujungnya, sedangkan gaung rindumu masih saja
menendang-nendang hatiku.
Selatpanjang, 2025
Mengeja Pagi
pagi seperti urat nadimu. bergerak denyut mata yang
terbuka, dan bangkit langkahmu menuju surai hangat
pertama.
pagi tak dapat lama bersamamu. sebab ia bingkas
dan cergas. membawa apapun tanpa negosiasi ke bilik
bisik tak kuasa untuk henti.
pagi mengucap umurmu. menjadi rapuh seperti ranting
dan dahan pohon jambu. angin merontokkannya dan
kau hanyut tanpa tahu kenapa kau telah berada di
ambang petang.
Selatpanjang, 2025
Menjelma Suci
ia raup embun subuh. gigil ketera gelap. gigil beradu
gemeretak. sayup azan subuh menusuk telinga. nun
di dada ada hentak yang tiba-tiba.
siapa? terhenyak ketika ia membasuh lebih khusuk
wajah dari sekadar embun itu. lunas ketika wudhu
dan gegas menuju ke kadirat-nya.
Selatpanjang, 2025
Yang Terbiar
yang terbiar dari kita adalah yang lepas dan berlalu
ketika musim begitu lugas pergi tanpa permisi.
tiba-tiba kita sudah di akhir perjalanan itu. tak ada
sesiapa untuk berseru atau sekadar berucap basa-basi.
yang terbiar dari kita adalah yang acuh dan sepi
ketika kata-kata nyaris tak lagi bermakna. hanya
sementara untuk disimak, setelah itu hampa.
tak menjadi ungkap.
yang terbiar dari kita adalah rasa dan cecap ketika
tanpa ungkap terus saja menelan. apapun mungkin
berpeluang dusta untuk dilepas. sementara apapun
berhak untuk berprasangka meski wajah-wajah
semuram batu tanpa lekuk, sedingin ngilu tanpa remuk.
Selatpanjang, 2025
Membaca Hujan
hujan adalah tangis dari langit. sendu hidupmu
yang menengadah, tanpa tahu menepi kemana.
hujan adalah suara gemuruh hatimu. bergema
sampai runut peristiwa, membulat sewaktu
apapun telah tiada.
hujan menjadi denyut yang hampa. berkisah
kepada harapnya. akan datang atau enggan
kembali. apakah sudi atau sangsi di sini.
Selatpanjang, 2025
Riki Utomi kelahiran Pekanbaru 19 Mei. Bukunya yang telah terbit Mata Empat (cerpen, 2013), Sebuah Wajah di Roti Panggang (cerpen, 2015), Mata Kaca (cerpen, 2017), Menuju ke Arus Sastra (esai, 2017), Belajar Sastra Itu Asyik (nonfiksi, 2019), Anak-Anak yang Berjalan Miring (cerpen, 2020), Amuk Selat (puisi, 2020), Menjaring Kata Menyelam Makna (esai, 2021), dan Jelatik (novel, 2021).
