Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Cerpen » Rumah Balian
    Cerpen

    Rumah Balian

    30 November 2025Updated:1 Desember 2025Tidak ada komentar5 Mins Read47 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Oleh Sil Sila Yusuf

    Sore itu masih hangat. Jejak matahari masih tampak menguning di atas awan. Hammad dan Risman mengayun langkah. Menyusuri pegunungan. Tanjakan-tanjakan. Bebatuan yang menghampar. Pepohonan menghijau. Dan ular yang mengintip di semak semak.

    “Kita harus menemukan berlian yang kata orang di bawah pohon beringin gunung Madrim.” Risman sangat bersemangat ketika mendengar berlian, karena menurut kabar yang beredar harganya sangat mahal. Bisa membeli mobil-mobilan yang bisa berjalan dengan remote control dan setir sendiri. Begitu dibayangkannya.

    Ya, demi berlian yang mereka dengar dari pembicaraan seorang bapak di warung tetangga kemarin itulah mereka rela jalan kaki sejauh lima kilo meter dari rumah. Konon berlian itu ada di bawah sebuah pohon tua yang disebut beringin di gunung Madrim kampung mereka. Tidak jauh memang, tapi untuk anak seusia Hammad dan Risman rasanya akan sangat melelahkan. Apalagi hari kian beringsut menuju senja. Semesta mulai hening perlahan. Dan malam sebentar lagi akan datang.

    “Ris, lihat, bukankah itu pohon beringin yang kata bapak-bapak di warung?” tanya Hammad sambil menunjukkan sebuah pohon besar sekitar sepuluh meter di depan mereka. Pohon itu kelihatan tua sekali. Akarnya merambat kemana-mana. Dan di bawahnya ada sebuah gubuk. Ada cahaya lentera di dalamnya, pertanda gubuk itu berpenghuni.

    “Iya, tapi berliannya dimana ya? Kok di bawah pohon itu malah ada gubuk?” Risman menoleh sana-sini mencari kemungkinan berlian berada. Sementara Hammad mulai gugup dan was was.

    Aroma kemenyan hinggap di lubang hidung keduanya. Suara serangga bersahutan. Hammad mengejar Risman yang melanjutkan langkahnya, penasaran. Risman mendekati gubuk yang remang-remang diselimuti malam.

    “Ris, ini sudah malam. Bagaimana nanti kita akan pulang?” Hammad mengaitkan tangannya ke lengan Risman. Dia mulai ketakutan. Baru sadar kalau hari tak lagi siang.

    “Kita akan numpang nginap di gubuk ini dulu. Coba dengar, ada percakapan beberapa orang di dalam. Itu artinya gubuk ini berpenghuni.” Risman tampak tenang.

    “Tapi aku mau pulang,” rengek Hammad.

    “Sana pulang sendiri kalau berani. Di sini itu gunung. Coba lihat sekeliling. Gelap. Gak ada rumah selain gubuk ini.”

    “Iya, tapi…”

    “Sudah, kita coba numpang nginap di sini saja. Biar aku yang ngomong sama pemiliknya.”

    Hammad memperhatikan sekeliling. Tak ada cahaya selain kerlip lampu di bawah sana, dari rumah-rumah penduduk kampung yang terlihat seperti bintang-bintang.

    “Assalamualaikum,” ucap Risman.

    “Waalaikumsalam,” jawaban beberapa orang terdengar dari dalam gubuk berbarengan. “Silakan masuk!” lanjut salah seorang dari mereka.

    Risman dan Hammad membuka pintu bambu perlahan. Mereka tersenyum begitu melihat tiga orang lelaki duduk melingkar di atas tikar siwalan. Dan salah satunya Risman kenal.

    “Risman, ngapain kamu di sini?” tanya lelaki berpeci putih kepada Risman yang tampak kaget, karena ternyata itu adalah pamannya sendiri.

    Risman cengengesan sebelum kemudian menjawab pertanyaan pamannya.

    “Hehe… Saya mau mencari berlian, Paman.” Spontan si paman dan dua orang lainnya tertawa.

    “Berlian apa mau dicari ke sini?”

    “Kata orang di warung, di bawah pohon beringin gunung Madrim ada berlian. Kan berarti di sini paman!” jawab Risman polos. Lagi-lagi semua orang menertawakan kepolosannya.

    “Bukan berlian, tapi Balian,” kata seorang yang paling tua di antara mereka. Rambutnya terurai panjang dan putih penuh uban. Kerutan kulitnya menjadi pertanda bahwa, dia telah lama makan asin garam.

    Aroma kemenyan semakin menyengat. Hammad menyembunyikan tubuh kurusnya di belakang Risman. Dilihatnya lentera di tengah mereka bersinar tenang. Sesekali meliuk jika ada angin masuk dari celah dinding bambu gubuk itu. Di sekitar lentera ada beberapa benda aneh seperti yang sering terlihat dalam film horor di televisi yang menunjukkan bahwa gubuk itu adalah rumah huni seorang Balian. Kembang tujuh rupa. Kain mori yang berisi tulang, paku dan tanah kuburan. Kemenyan yang mengepul menebar aroma mistis dan mencekam.

    Mata Hammad terus berputar menyisir sekeliling. Di belakangnya ada tirai warna putih sehingga terlihat  balai-balai tanpa kasur dan satu bantal yang kemungkinan tempat tidur penghuninya. Di setiap sudut dindingnya ada sebuah benda yang sama persis dan satu celurit sebesar lengannya tergantung di belakang pintu. Bulu romanya berdiri. Imajinasinya seolah berkata, ia tersesat di rumah Balian. Tangannya mulai dingin. Matanya lesu. Sekujur tubuhnya terasa kaku. Dia tenggelam dalam ketakutan dan terjatuh. Risman panik melihat temannya pingsan. Dia tidak menyangka, rasa penasarannya membuat mereka berdua terjebak dalam situasi yang tidak baik.

    “Hammad, bangun Mad!” diulang-ulangnya kalimat itu sambil menggoyang-goyangkan tubuh temannya. Sementara yang lain hanya tersenyum sinis. Seolah meremehkan dua anak berumur 10 tahunan itu.

    “Paman, ayo bantu aku menyadarkan Hammad! Aku takut dia kenapa-napa, Paman!” Risman jengkel karena tidak ada satu pun yang prihatin di antara mereka. Malah sibuk sendiri memandikan sebuah benda yang terlihat seperti boneka kecil. Risman tidak mengerti, mengapa orang-orang di depannya bersikap acuh tak acuh. Mengapa malam menjadi hening dan sunyi. Mengapa hanya serangga dan suara burung hantu tua yang pilu terdengar menyayat-nyayat.

    “Tidurkan saja temanmu di situ!” suruh kakek tua sambil mengaduk kembang di depannya dan memercikkannya kepada boneka sebesar tangannya. Risman bergidik. Dia seperti masuk ke dunia lain. Dunia yang tak pernah ditemui sebelumnya. Seorang Balian dan bukan berlian.

    Risman meluruskan tubuh Hammad di atas tikar sambil berbisik di telinganya, “Ayo bangun, Mad. Kita harus pergi dari sini!” Hammad tak bergeming. Dia masih hanyut dalam ketakutan. Berlian yang dibayangkannya tak pernah ada. Hanya kegelapan-kegelapan. Ia menggigil. Merengkuh tubuhnya sendiri yang kecil di antara usia dan waktu.

    Risman mulai menyadari kesalahannya. Dia diam putus asa. Mengutuk diri sendiri sambil terus menyaksikan orang-orang merapal mantra. Di benaknya terlintas siapa akan jadi tumbal. Persembahan kepada raksasa yang perutnya buncit seperti gunung. Atau tuyul-tuyul itu akan datang memberi mereka banyak uang. Atau akan ada seseorang yang muntah darah, berteriak histeris, mengamuk seperti di film film. Mengeluarkan kalajengking dari mulutnya. Atau….

    Ahhhgggg…

    Risman mengerang. Tangannya mengepal. Pikirannya horor sebelum kemudian…

    Wesss….

    Sebuah pecut ajaib mengenai tubuhnya. Kunang-kunang bermunculan entah dari arah mana. Dan sebelum menyadari siapa yang memecutnya, Risman tergeletak di samping Hammad yang masih tak bergeming. Di bawah sadarnya satu kalimat diulang-ulang, ini rumah Balian, bukan berlian.

    Tangerang, 3625

    Sil Sila Yusuf lahir di Sumenep 1991, sekarang aktif menulis di media online dan mengabdi di Agung Damar sebagai orang biasa yang mempunyai mimpi biasa-biasa saja. Antologi puisi tunggalnya Kisah Orang-Orang Sakit (hyang pustaka, 2025) dan beberapa puisinya bisa dinikmati secara online di media sosial.

    Cerita Misteri Cerpenis Madura Rumah Balian
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticlePuisi-Puisi Amanda Amalia Putri
    Next Article Jika Cinta Datang: Tunduk dan Menyerahlah

    Postingan Terkait

    Kisah Seorang Polisi di Republik Mimpi

    21 Desember 2025

    Sandal Jepit Pesantren

    9 November 2025

    Cinta Beda Agama

    12 Oktober 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Menolak Pudar: Jejak Keindahan “Situ Lengkong Panjalu” Yang Tak Lekang Oleh Waktu

    18 April 20262 Views

    Pas Lebaran 2026, Reuni SDN Jajag Lor Kali, Juga Oke…

    18 April 202653 Views

    Harga Sebuah Kicauan: Sebuah Narasi Narsisme Antroposentris

    18 April 202613 Views

    Muara Jambu Ciater Tempat Wisata dan Camping

    13 April 202613 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (209)
    • Bisnis (7)
    • Buku (85)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (79)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (189)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (155)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.