Oleh Andy Lesmana
Ada pertemuan yang datang tanpa rencana, tanpa prasangka, dan justru karena itulah ia meninggalkan bekas yang paling dalam. Pertemuan saya dengan Pakde Uki — begitu saya memanggilnya — terjadi di sebuah ruangan kecil di Dapoer Sastra Tjisaoek, ketika saya hadir bukan sebagai murid yang mencari guru, melainkan sekadar anak muda yang belum tahu apa-apa tentang dunia kesenian yang sesungguhnya.
Ia duduk di sudut ruangan itu. Tidak ada aura kebesaran yang dipancarkannya. Tidak ada pengantar resmi yang menyebutkan sederet jabatan atau karya. Yang ada hanyalah seorang laki-laki yang berbicara dengan cara orang berbicara kepada kawan lama: langsung, keras bila perlu, namun tidak pernah mengecilkan. Ia mempertanyakan setiap gagasan yang kami ajukan — bukan untuk mematahkan, melainkan untuk memaksa kami berpikir ulang. Dari sinilah saya mengenalnya, dari cara ia mengkritik, bukan dari cara ia memperkenalkan diri.
Karena ia memang tidak pernah memperkenalkan dirinya sendiri.
Berbulan-bulan kemudian, dari pembicaraan kawan-kawan di Dapoer Sastra Tjisaoek, saya baru mengetahui siapa sesungguhnya laki-laki yang sering muncul tanpa diundang itu. Bahwa nama pena Uki Bayu Sedjati menyimpan nama asli Umianto Basuki — seorang wartawan senior Majalah Amanah (Grup Kartini) yang telah merawat nadi sastra dan teater di Gelanggang Remaja Bulungan sejak tahun 1971. Bahwa ia adalah alumni FISIP UI angkatan 1975, seorang dosen, penyair, cerpenis, dan sutradara teater yang rekam jejaknya membentang lebih dari lima dekade. Bahwa pada 21 Maret 1974, ketika Ratu Elizabeth II dalam rangkaian kunjungan kenegaraannya ke Indonesia singgah di Gelanggang Remaja Bulungan untuk menyaksikan pertunjukan seni pemuda Jakarta, Pakde Uki ada di sana — bukan sebagai penonton, melainkan sebagai salah satu kreator muda yang ikut mempersiapkan dan membawakan acara di hadapan tamu monarki Inggris itu. Dan bahwa ia adalah sahabat sejati Cak Nun (Emha Ainun Nadjib), kawannya sejak era Patangpuluhan Yogyakarta, yang selalu setia menemani ke mana pun Cak Nun singgah di Jakarta — dengan mobil pick-up tua bak terbuka yang tidak pernah ia ganti hanya demi kesan.
Saya hampir lupa bahwa beliau adalah salah satu maestro di dalam kesenian, kebudayaan, dan sastra Indonesia.
Kalimat itu terdengar seperti pengakuan yang memalukan. Bagaimana mungkin seseorang bisa duduk berdekatan dengan seorang budayawan yang pernah bersama Cak Nun menemui WS Rendra, Arifin C. Noer, Teguh Karya, dan Franky Sahilatua; seorang yang telah menjadi Pembina Dewan Kesenian Tangsel dan turut membesarkan ekosistem Kenduri Cinta di Taman Ismail Marzuki; seorang yang karyanya tersebar di antologi-antologi puisi nasional dan bukunya tentang Rhoma Irama dijadikan referensi akademik — dan tidak mengetahui satu pun dari semua itu?
Tetapi justru di situlah paradoks yang paling berharga dari sosok Pakde Uki: ia tidak pernah membutuhkan kita untuk tahu siapa dirinya, agar kita bisa merasakan dampak kehadirannya.
Ia mengirimkan pesan-pesan pendek ke WhatsApp saya — bukan soal sastra atau teater, melainkan sekadar pesan sederhana yang mengingatkan untuk menjaga kesehatan, untuk tidak melupakan diri sendiri di tengah riuh rendahnya aktivitas berkesenian. Pesan-pesan itu tidak bergaya seorang senior yang memberi nasihat. Ia menuliskannya seperti orang yang sungguh-sungguh peduli, bukan karena kewajiban, melainkan karena memang begitulah wataknya. Di Instagram pun ia tak ragu mengirim pesan langsung, hanya untuk memastikan bahwa kami baik-baik saja. Kedekatan frontal semacam ini — bukan kedekatan yang dibangun melalui formalitas — adalah cara Pakde Uki hadir dalam hidup orang-orang yang ia anggap perlu didorong untuk terus berkarya.
Kritiknya tak pernah terasa seperti sidang. Ia keras, blak-blakan, kadang membuat kami terdiam, tetapi tidak pernah membuat kami merasa kecil. Ada perbedaan yang sangat halus namun sangat nyata antara kritik yang meremehkan dan kritik yang memercayai potensi — dan Pakde Uki selalu berada di sisi yang kedua. Ia mendorong kami bukan agar menjadi seperti dirinya, melainkan agar menjadi lebih dari apa yang kami kira bisa kami capai. Ia tidak pernah menyebut-nyebut bukunya sendiri, tidak pernah menjadikan pengalamannya sebagai ukuran tunggal keberhasilan. “Yang terpenting adalah kamu melakukannya dulu,” katanya. Baik benar maupun salah, baik suka maupun tidak.
Ini adalah filsafat yang sederhana, tetapi butuh keberanian yang luar biasa untuk menjalaninya secara konsisten selama lebih dari lima dekade.
Di usia yang lebih dua kali usia saya, ia tidak pernah menjadikan jarak generasi itu sebagai alasan untuk menjaga jarak. Ia hadir di acara kami — baik yang diundang maupun yang tidak diundang. Seperti yang dikisahkan kawan-kawan dari ekosistem Kenduri Cinta, bahwa di bulan April 2019, dalam acara “Mensyukuri Ajibah Maiyah” di Menturo, Jombang, Pakde Uki adalah salah satu sesepuh yang dengan penuh kerelaan menempuh perjalanan jauh demi hadir bersama komunitas. Itulah cara ia berinvestasi pada kebudayaan — bukan melalui pernyataan-pernyataan besar, melainkan melalui kehadiran fisik yang konsisten dan tak mengenal kepentingan pribadi.
Saya bertanya-tanya sekarang, setelah berita duka yang datang pada Rabu dini hari, 22 April 2026: mengapa seorang maestro memilih untuk tidak terlihat sebagai maestro?
Dalam lanskap kebudayaan Indonesia, kita terbiasa merayakan figur-figur yang mengumumkan diri. Yang diliput medianya banyak, yang setiap ucapannya dikutip, yang kehadirannya di sebuah acara menjadi jaminan legitimasi. Pakde Uki bukan tipe itu. Ia bergerak secara horizontal — dari panggung teater Bulungan ke halaman TIM, dari meja redaksi Majalah Amanah ke warung kopi komunitas. Jejak-jejaknya tersebar bukan dalam bentuk monumen, melainkan dalam diri orang-orang yang pernah didorongnya untuk tidak berhenti berkarya.
Mungkin itulah bentuk kesenian tertinggi yang ia pilih: menjadikan dirinya sendiri sebagai medium, bukan sebagai pesan. Menjadi jalan, bukan tujuan.
Cak Nun pernah menulis bahwa hidup adalah menumpuk hutang dari hari ke hari, dan kematian adalah momentum di mana manusia tidak bisa menunda lagi untuk membayarnya. Pakde Uki, saya percaya, telah melunasi hutang hidupnya jauh sebelum maut menjemput — melalui setiap kritik yang ia berikan dengan jujur, setiap pesan sederhana yang ia kirimkan di tengah malam, dan setiap kehadiran yang tak pernah ia jadikan syarat untuk mendapat pengakuan.
Gelak tawa dan omelannya yang kritis masih membekas sampai detik ini. Memberikan ruang tersendiri bagi saya untuk kembali mengingat — dan kini, untuk pertama kalinya benar-benar memahami — sosok Pakde Uki Bayu Sedjati: seorang maestro yang memilih untuk tidak terlihat besar, agar yang di sekitarnya bisa tumbuh tanpa merasa kecil.
Selamat jalan, Pakde.
Tangerang, 23 April 2026

