Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Berita Terkini » Taman Wisata Edukasi di Makam Penyair Chairil Anwar
    Berita Terkini

    Taman Wisata Edukasi di Makam Penyair Chairil Anwar

    21 November 2019Tidak ada komentar4 Mins Read43 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    chairil anwar
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Taman Wisata Edukasi di Makam Penyair Chairil Anwar

    Yayasan Hari Puisi berencana mengusulkan agar makam penyair Chairil Anwar yang berada di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Karet Bivak, Jakarta dijadikan taman wisata edukasi. Rencana ini disampaikan Ketua Umum Yayasan Hari Puisi, Maman S Mahayana di Jakarta, pada Kamis (21/11/19).

    Kepada wartawan, Maman mengaku, pihaknya tengah menyusun naskah akademik terkait usulan pemugaran makam Chairil Anwar untuk dijadikan taman wisata edukasi.

    Dalam naskah akademik tersebut, lanjut Maman, akan diuraikan secara terang benderang tentang apa, mengapa, dan bagaimana pentingnya pemugaran makam Chairil Anwar.

    “Kita akan jelaskan usulan itu dalam naskah akademik yang sedang disusun. Mengapa dan apa kepentingan pembugaran makam Chairil Anwar. Nah, naskah itu kita jadikan bahan serius dalam mengusulkan rencana ini ke pihak pemerintah (DKI),” kata Maman.

    [iklan]

    Kritikus Sastra ini kemudian menjelaskan, bahwa pemugaran makam Chairil Anwar menjadi taman wisata edukasi bertujuan untuk menegaskan kepedulian negara terhadap penyair Indonesia, dalam hal ini Chairil Anwar.

    Sebagaimana yang juga terjadi di beberapa negara, dibangunnya taman wisata edukasi tersebut juga sebagai bentuk apresiasi negara pada dunia literasi.

    “Lihat saja Iran. Bagaimana negara membangun Taman Makam Penyair di Tabriz. Di sana, ada museum dan perpustakaan yang disulap jadi Taman Wisata. Lihat juga Turki. Di sana, ada makam penyair besar Rumi di Konia. Setiap tahun di makam itu diselenggarakan ajang pertemuan sastrawan, penyair, budayawan se-Dunia,” terang Maman.

    “Apa maknanya bagi Turki? Rumi yang sesungguhnya penyair sufi agung Persia, telah menyumbangkan “wisata religi” bagi kaum intelektual dunia,” sambung Maman.

    Lebih lanjut, Maman memberi contoh bagaimana apresiasi negara terhadap penyair juga terjadi di Azerbaijan. Di mana patung Nizhomi, seorang penyair besar lewat mahakaryanya, Laila Majnun berdiri megah di pusat kota Azerbaijan. Patung itu tegak menghadap sebuah museum besar yang di sekelilingnya berdiri patung dan foto para sastrawan. Itulah Museum Sastrawan, dibangun di tengah kota Baku, ibukota Azerbaijan.

    “​Apa yang terjadi kemudian bagi bangsa di ketiga negara (Iran, Turki, Azerbaijan) itu? Tercipta generasi yang percaya diri pada kekayaan intelektual bangsanya; tidak mudah diinfiltrasi budaya dari luar; dan menempatkan pengetahuan sebagai sumber kekayaan yang tiada akan habis seumur hidup,” pungkas Maman.

    Mama​n lantas membandingkan dengan kondisi bangsa saat ini. Ia lalu mempertanyakan tentang nasib sastrawan dan intelektual Indonesia. Di negeri ini, dikatakan Maman, baru makam Hamzah Fansuri dan Raja Ali Haji yang jadi objek wisata religi dan edukasi.

    “Bagaimana pula dengan Jakarta? Bagaimana pula dengan makam Chairil Anwar? Itulah sesungguhnya tugas dan kewajiban pemerintah daerah menghargai—sekaligus memanfaatkan—popularitas tokoh penyair,” tegas Maman.

    Maman kemudian mengaku tak membayangkan, jika akhirnya makam Chairil Anwar memang betul-betul dipugar dan disulap jadi tempat wisata edukasi. Ia menilai, jika itu terjadi tentu kedepannya akan dijadikan tempat baca puisi, berkumpulnya penyair atau sekedar tempat diskusi anak-anak muda.

    “Kalau itu terjadi pengaruhnya besar sekali, bagi pengajaran, edukasi, harkat puisi, harkat penyair dan lain sebagainya,” ujarnya.

    Karena itu, dalam waktu dekat ini, Maman bersama Pengurus Yayasan Hari Puisi lainnya, antara lain: Ahmadun Y Herfanda, Abdul Hadi WM, Arif D Hasibuan, Aryani Isnamurti, Bastian Zulyeno, Danny Susanto, Herman Syahara, Jimmy S Johansyah, Nana Sastrawan, Sihas Ramses Simatupang, Sofyan RH Zaid, Ridak K Liamsi akan melakukan audiensi dengan Gubernur DKI, Anies Rasyid Baswedan. Maman berharap Gubernur Anies dapat mempertimbangkan usulan pemugaran makam Chairil Anwar untuk dijadikan taman wisata edukasi.

    “​Kita percaya, Pak Gubernur (DKI) seperti yang dapat kita lihat pada kebijaksanaan dan penataan kota Jakarta kini, sudah menyadari perkara itu. Kita lihat saja nanti, beliau akan merealisasikan sebuah taman yang nyaman, indah, dan bermarwah, karena di sana, ada makam yang dicintai para sastrawan, dihormati kaum intelektual mancanegara: Chairil Anwar!,” tandas Maman.

    Untuk diketahui, tak lama ini Yayasan Hari Puisi juga berikhtiar mengusulkan agar Penyair Indonesia masuk dalam seri Prangko. Perjuangan itu lalu berhasil, akhirnya negara melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) memlilih dua penyair besar, yaitu Raja Ali Haji dan Chairil Anwar untuk diabadikan dalam seri prangko penyair. Seri prangko penyair itu kemudian diluncurkan pada Puncak Perayaan Hari Puisi ke-7 yang digelar di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat pada Oktober lalu.

    chairil anwar

    Rapat perencanaan pemugaran Makam Chairil Anwar di Pusat Studi Jepang UI di hadiri oleh Herman Syahara, Maman S Mayahana, Nana Sastrawan, Aryani Isnamurti, Arif D Hasibuan, Bastian Zulyeno, Sofyan RH Zaid. (14/11/19).

    chairil anwar penyair indonesia penyair nusantara
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleKembara Rindu Habiburrahman El Shirazy
    Next Article Disain Struktur Roket Padat

    Postingan Terkait

    Berbagi Rasa Proses Kreatif Menulis Buku

    18 November 2025

    Membaca ‘Rahasia Tanda’ di Universitas Pancasakti Tegal

    29 Oktober 2025

    Tiga Giat Keren Penyair Sampai dengan Triwulan ke Tiga – 2025

    11 Oktober 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Hak Tubuh Istirahat

    26 Januari 20268 Views

    Zaman Apokaliptik

    4 Januari 202688 Views

    Kisah Seorang Polisi di Republik Mimpi

    21 Desember 202541 Views

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 202545 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (206)
    • Bisnis (7)
    • Buku (83)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (78)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (188)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (143)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.