Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Buku » Suara – Suara Terbungkam
    Buku

    Suara – Suara Terbungkam

    30 Desember 2019Tidak ada komentar3 Mins Read53 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    suara-suara terbungkam
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Erry Amanda di Jagad Sastra Maya Indonesia

    Situasi sastra di Indonesia banyak dirasakan oleh sastrawan dan budayawan dalam kondisi stagnan, perkembangannya semakin memudar seiring tumbangnya media cetak, koran, majalah yang memuat karya-karya sastra telah tergilas oleh perkembangan jaman, apalagi sejak adanya jaringan internet, munculnya media sosial Facebook, Instagram, Youtube dan platform aplikasi virtual lainnya, nyaris para penyair dan seniman kehilangan arah, hendak kemana nakhoda sastra bermuara, tidak ada lagi dermaga yang bisa disinggahi.

    Namun demikian tidak pada ERRY AMANDA, meskipun usianya sudah 84 tahun, ia masih sehat dan semangat dengan spirit; lupa usia, lupa sakit, lupa nganggur. Hari-harinya dilalui dengan aktivitas bermanfaat dan produktif berkarya dalam segala rupa, semisal; bermain musik piano, gitar, menggambar sketsa, melukis digital, fotografi, menulis puisi, meneliti tentang alam yang dijelajahi. Pria kelahiran di Bojonegoro yang saya kenal dua tahun lalu, menyimpan banyak misteri yang tersembunyi dan memiliki multitalenta yang tidak bisa diikuti. Status dan karya-karya beragam, salah satunya puisi di status FB yang seringkali diunggah.

    [iklan]

    Puisi-puisi dengan diksi yang sarat makna, mengandung multidimensi itu memancing kritikus sastra di Facebook HUDAN HIDAYAT untuk keluar dari persembunyiannya, setelah lebih dari lima tahun bertapa tidak mengkritisi perkembangan sastra. Hudan pun meminta ijin kepada Erry Amanda untuk mengulasnya. Ketika mendapat ijin saya agak terkejut, karena dari awal Erry Amanda, sepanjang menulis, apa saja, puluhan tahun tidak mau membuat buku, bahkan banyak kerabat dan sahabat yang ingin menerbitkan. Namun selalu ditolak, termasuk karya lukis dan fotografi tidak mau dipublikasikan, serta teori yang ditemukan, “Saya tidak mau ada orang yang menulis tentang saya, kecuali kalau saya sudah meninggal,” begitu ia berpesan kepada saya pada suatu hari di rumahnya.

    Larik puisi yang dihadirkan Erry oleh Hudan akan terus bergerak tapi bukan dalam gerak angin, melainkan gerak vertikal naik ke langit. Dalam esainya yang panjang ini Hudan Hidayat menyatakan, tepatnya mengutip kitab suci Surah Ar-Rahman ayat 33, bahwa bila kita sanggup menembus/melintasi langit dan bumi, tapi kita tidak bisa melakukannya tanpa kekuatan. Itulah rupanya yang diam-diam mereka amalkan: Hudan mencoba menembus langit bahasa yakni makna puisi, atau sastra dan bahasa itu sendiri. Erry Amanda menembusi benda-benda dan menghadirkannya ke dalam dunia pemikiran, fotografi, bahkan puisi.

    Hudan Hidayat semakin nikmat mengamati metafor, mengulik dibalik rangkaian kata, membedah setiap celah, mengulas hingga tuntas tentang sosok Erry Amanda dan menempatkannya di jagad SASTRA MAYA INDONESIA.

    99 Puisi karya Erry yang dipilih menjadi antologi puisi dalam esai SUARA-SUARA TERBUNGKAM, sesungguhnya ke-aku-an dan ke-AKU-an karya yang harus bisa dipertanggungjawabkan, sehingga menjadi nutrisi yang menyehatkan, ibarat vitamin yang layak dikonsumsi bagi para penyair baru maupun yang sudah berpredikat penyair senior. Diharapkan buku ini kelak menjadi rujukkan baru, membuka cakrawala baru untuk tumbuh kembangnya SASTRA INDONESIA.

    Eki Thadan

    buku puisi buku puisi indonesia Buku Sastra sastra indonesia
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleNgadulag – Nabuh Beduk
    Next Article Makna Lagu Satu, Dua dan Tiga

    Postingan Terkait

    Puisi yang Segar untuk Mesin-Mesin Lapar

    3 Desember 2025

    Jika Cinta Datang: Tunduk dan Menyerahlah

    1 Desember 2025

    Mengajak Ke Galaksi Imajinasi

    26 November 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Hak Tubuh Istirahat

    26 Januari 20268 Views

    Zaman Apokaliptik

    4 Januari 202688 Views

    Kisah Seorang Polisi di Republik Mimpi

    21 Desember 202541 Views

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 202545 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (206)
    • Bisnis (7)
    • Buku (83)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (78)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (188)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (143)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.