Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Puisi » Sihir Sindir
    Puisi

    Sihir Sindir

    12 April 20201 Komentar7 Mins Read75 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Sihir Sindir Yahya Andi Saputra

    Sebagai pengantar untuk puisi-puisinya, Yahya Andi Saputra berkata, bahwa untuk mengekspresikan unek-unek dapat dilakukan dengan santai dan gembira ria. “Begitulah, kemudian saya mengarahkannya menjadi kesantaian dan kegembiraan yang sedikit bermuatan. Maksudnya, saya nggak kepengen unek-unek yang akhirnya mengakibatkan darah tinggi, serangan jantung atau tumpukan kolestrol su’udzon. Maka ekspresi itu saya tampilkan dalam bentuk puisi. Lantaran berlatar belakang seperti itu, sadarlah saya bahwa puisi saya tidak focus. Ia ambak-ambakan alias terjun bebas mengikuti keinginannya sendiri. Untuk itu kiranya dimaklumi.”

    Nahlo!

    Lalu, seperti apa sih rasa puisi yang ambak-ambakan itu? Nyok dah kita nikmatin. Tapi tolong jaga hati jangan sampai kena sihir atau sindir oleh puisi-puisi yang kental bernuansa Betawi berikut ini. (redaksi)

    [iklan]

    Jelajah Juli

    Asyhadu allaa ilaha illaloh
    Waasyadu anna Muhammadar rosululloh
    Asyadhu seng waasyadhu seng
    Asyadhu waapung waasyadhu waapung
    Tumenggung lumur bagus buta grendo
    Sekawanan satwa jadi jengah pada Juli yang basah, lalu
    mengkemas sayap cahaya sebelum sempat mengenali wajah
    ketika saat singgah, sementara aku berjibaku tunggang-
    langgang merasa luka basah penuh nanah, selalu aku
    mendustaiMu pada kasih yang gemahripah, pada rumah yang
    terbuka dengan senyum ramah
    Pagi dan petang rubuh penuh pilu, malam tidak peduli pada
    gelap dan bulan layu, angin diam menjadi beku, jelajahku
    berpapasan pada Juli yang penuh ragu, aku jadi pikun pada arah
    jalan ke rumahMu
    Telah Kau temani aku dengan cahaya, duhai hatiku yang
    disesaki sakwasangka, jantung yang darahnya hitam jelaga
    jelajah apalagikah yang memberi arah sehingga jernih jejak asa,
    aku tiada pernah dapat mencerna apa yang akan ada
    Ketika sampai di bukit terlihat rumput dan laut sebelah
    menyebelah, tetapi aku membayangkan sampai di kota
    berkacak pinggang pongah, penghuninya berkerumun seraya
    soja menyembah, perempuan terutama gadis perawan histeris
    berebut memapah, tapi aku yang sejak dahulu tak punya arah,
    patah sebab patuh pada dunia yang serakah.
    Ping-ping tiga ahyulloh
    Pingping tiga syukrulloh
    Sang bayu sered sang bayu serap
    Sang bayu sayangan  si nyai
    Sang bayu sayangan si upun

    Jakarta, 5 Agustus 2016

    Kepul Kopi

    Assalamualaikum nabi Khidir, Air laut air darat, Aku sedekah
    hati quran, Berhentilah topan badai rebut gelimut, Berkat lailaha
    illallah muhammadarrasulallah

    Secangkir kopi mengepul kau suguhkan , hitam kental
    aromanya menembus pikiran beku, senja seketika jadi matang
    tua. Kau menggelepar terbakar kumparan panas bara, melumur
    luncur ronta-meronta, reguk-mereguk dalam semesta
    Kudengar kau menangis perih merintih , bukan kopimu saja
    menyimpan dukalara terhuyung dalam gelegak pengumbar
    cinta, lelaki dan perempuan  berwajah syahdu pun sarat
    muslihat, ketika wangi kopi menyeruak dari cangkir di
    tanganmu
    Tetapi semerbak kental kopimu, dalam kerumunan pemburu
    yang ingin tahu, biarkan ia saja yang mengungkap dirinya .
    Sirollah, dzatullah, paying Allah, Ya huallah, Ya huallah, Ya huallah

    Jakarta, 10 Juni 2016

     

    Hikayat Siksa Koruptor

    Walaqad zara’na lijahannama kasiram minal jinni wal insi
    Lahum qulubul layafqahuna biha
    Walahum a’yunul layubsiruna biha
    Walahum azanul layasmauna biha
    Ulaika kal an’ami balhum adallu
    Ulaika humul gafiluna

    Satu-satu pengantar jenazah melangkah
    Angkat kaki meninggalkan gundukan tanah merah basah
    Seorang kaya raya meninggal lantaran digelayuti gelisah
    katanya mengakhiri hidup memotong nadi dan kehabisan darah
    Angin tipis mendesir dalam condong mentari mulai rebah

    “Koruptor, mati kaga diterima bumi” suara pelan terdengar
    “Ngakunya cuman klerk, masa tukang ketik surat bisa beli
    tanah be’elo-elo, tiga bebek, dua moge, Juke, Audi, Pajero,
    Volvo, Camry, Nissan, dua lagi seperti nama perempuan,
    membangun rumah dua tingkat gaya artdeco”
    “Nggak baik membicarakan keburukan orang yang sudah meninggal”

    Masa hidup sang jenazah ada di posisi basah
    uang negara bertumpuk mengalir keluar melalui mata penanya
    pajak siluman sepuluh persen dari total biaya
    pundi-pundi pribadinya tak cukup menampung hasil tebasan
    golok hitamnya
    belum lagi komisi dari perusahaan yang menang tender
    karena selalu ada jalan dan tempat kongkalikong

    Anak istri keponakan mertua dibikinkan rekening pada bank berbeda
    Menampung limpahan uang haram jadah nan menggoda
    Maka festival korupsi lumrah dan meriah di mana-mana
    Malu, salah, dosa Cuma beberapa jenis permainan kata
    Dalam panggung sandiwara silahkan memainkannya
    Atau jadikanlah sebagai perisai penangkis mulut sinis pesaing sesama
    Malam menawan memainkan karakter mentereng tiada tergesa
    Ia pelakon ulung menguasai panggung korupsi sedetil-detilnya

    “Koruptor mati kaga diterima bumi”
    Ledakan terdengar dari dalam kubur
    Orang-orang yang belum jauh pun menoleh terus kabur
    Ada apakah suara bergedebum di kuburan berkembang ditabur
    Terdengar tangisan yang aduhnya menyayat bikin hati hancur
    “Aku penghisab datang bersama titah agar api siksa
    dikobarkan”

    Maka api merah bergelora di dalam kubur
    Warna merahnya karena dinyalakan seribu tahun
    Dilanjutkan seribu tahun sampai putih
    Seribu tahun lagi hingga hitam legam  nyala baranya
    Jika ada lubang sebesar ujung jarum
    Sinar yang keluar dari lubang itu dapat membakar alam dunia

    Koruptor mati disiksa kubur
    direbus dengan timah mendidih
    diselang-seling minum darah nanah
    bibir kuping mata dan kemaluannya ditarik dengan kail rantai membara
    perut melembung berisi lahar sebesar gunung
    dililit ular besar dan kalajengking tak henti menyengat
    dipukul dengan gada besar sehingga hancur disatukan lagi
    dipukul lagi
    ditusuk mulutnya dengan tongkat besar sampai tembus ke anus
    segala sakit siksa kubur dialami koruptor
    sepanjang waktu sampai tiba hari kiamat
    Surga hanya dihuni orang berakal
    Koruptor kehilangan akal!

    Alyauma tujzauna azabalhuni
    bimakuntum takuluna alallahi
    garial haqqi wakuntum an-ayatihi tastakbirun.

    Jakarta, 23.05-2016

     

    Sihir Sindir

    Nene bodo-bodo Kaki bodo-bodo Nene pegatan Kaki pegatan
    Rumahnya di pulo pendek Motong bambu jangan pendek Biar
    pendek biar tajem Pantek ke lobang pantatnya kuntilanal Biar
    tembus ke embun-embunannya

    ketika kau menangis selayaknya orang miskin dizolimi tangan
    kekuasaan, itulah sihir dusta yang kau bungkus keserakahan,
    sungguh suguh sandiwara dari naskah norak berselubung
    dendam dan kebencian
    tumpukan kekayaan berhasil kau sulap seolah bergelayut
    penderitaan, sembari kau menggelinjang meradang laksana
    menahan siksaan, itulah cara zalim yang kau umbar mengikuti
    nafsu watak setan
    rancangan muslihat penghianat laknat, membelah
    ketenteraman bulat-bulat sejarah, sejarah yang kau bangun penuh
    dendam kesumat, kecurigaan dan benci menjadi pedang kilat-
    mengkilat, penuh syahwat siap membabat
    saeni pelakon pion lugu, berlagak pilon mengharu biru, air
    matanya membuat orang tersedu-sedu, akrobatikmu menyihir
    orang memaki tanpa rasa malu
    kau pengatur lakon berjelajar paranoid, merakit bom waktu,
    mengisi tangki penuh amarah , kedunguanmu membentuk
    monster. Kerakusanmu perbudakan abadi.
    (Sang Ratu kuntilanak anak-anak mati beranak sundel malem mati di kolong)

    Jakarta, 24 Juni 2016

    Mantera Maret

    Ingsun nang warui saturune warhana apa
    tatag tulak papag sungsang
    teluh pulang igawe pulang
    di situ berhalanya di sini berhayunya
    istan-istan tampak rana

    Mat Indit menjilat darah dari robekan luka menganga
    tubuh bertopeng entah kawan entah lawan tak berdaya
    mata merahnya menampung muslihat berselimut laknat
    menjerat hasrat kecongkakan atas nama rakyat
    menjelma rakus tanpa malu pada adat istiadat

    Siang menjadi siasat berstrategi mengambil hati
    menggoda sana sini dan bersolek penuh puji
    isi lembaga mulia mengangguk nikmat bagai kena kili
    Cuaaah, mantera Mat Indit muncrat dinihari

    Pagi berantakan menghiba pada matahari yang linglung
    sehingga pagi dan matahari hanya rombongan gelembung
    loyo bagai jutaan anak negeri terserang busung
    negeri yang pemimpin dan cendekianya berujud belatung

    Malam penuh kengerian balas dendam orang yang
    ditelantarkan
    tubuh kurusnya berobah senjata tajam dihunuskan
    napasnya membara siap membakar istana dan pemimpin berandalan
    tuntaskan rapal matera agar lunas dendam kesombongan

    Si borok tongtong ke kitu ke kidang
    Ke tegal awat-awatan ke duku pata paluna
    Nenek luwung gede Kaki cai gede
    Mahula deket-deket mahulang ke manusa
    Cuah!

    Jakarta, 26.4.2016

     

    Yahya Andi Saputra, anak Gandaria Selatan yang Pecinta Sohibul Hikayat ini lahir di Jakarta, 5 Desember 1961. Ketua Asosiasi Tradisi Lisan Jakarta, penerima  Penghargaan Kebudayaan bidang Pelestari , Kemendikbud pada tahun 2015. Pernah diundang sebagai Visiting Research Fellow, Research Institute for Humanity and Nature (RIHN), Jepang. Menulis berbuku-buku, antar lain: Gelembung Imaji(1999, puisi); Beksi: Maen Pukulan Khas Betawi (2002); Upacara Daur Hidup Adat Betawi (2008); Pantun Betawi, Refleksi Dinamika, Sosial Budaya;Sejarah Jawa Barat Dalam Pantun Melayu Betawi, dan banyak lagi.

    puisi gaya betawi puisi tradisi sastra puisi sastra tradisi
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleDongeng Nyai Anteh
    Next Article Dunia Digital, Seniman dan Covid 19

    Postingan Terkait

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 2025

    Puisi yang Segar untuk Mesin-Mesin Lapar

    3 Desember 2025

    Ketika Bahasa Tegal Hampir Padam, Sastra Tegalan Menyalakan Api

    2 Desember 2025

    1 Komentar

    1. uki bayu uk on 12 April 2020 8:07 am

      Wow, Yahya anak Betawi – tukang Sastra – penerus Bang Ben nyang diksinya spontan mengalir kayak grojokan. Yakin, adonan tulisannya bau puisi, kayak esei, pakai bumbu mantra = naskah pertunjukan. Jeroannya emang kental Sohibul Hikayat. Moga-moga abis Idul Adha atawa ngramein Agustusan udah jadi garapan pentas. Ini hari Ane umumin : Tunggu Tanggal Mainnya!🤔👍

      Reply
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Hak Tubuh Istirahat

    26 Januari 20268 Views

    Zaman Apokaliptik

    4 Januari 202688 Views

    Kisah Seorang Polisi di Republik Mimpi

    21 Desember 202541 Views

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 202545 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (206)
    • Bisnis (7)
    • Buku (83)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (78)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (188)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (143)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.