Dongeng

Dongeng Nyai Anteh

Jangan Lupa Di Rate Ya!
Tinggal Pilih Bintang Saja!

Dongeng Nyai Anteh Penunggu Bulan

Ketika bulan sedang purnama kita bisa melihat bayangan seorang wanita sedang menenun ditemani oleh seekor kucing. Konon katanya, itulah bayangan Nyai Anteh yang sedang memintal benang  yang akan digunakan sebagai tangga untuk turun pulang ke bumi, namun selalu dirusak oleh kucingnya yang bernama Candramawa. Sehingga akhirnya sampai kini Nyai Anteh tinggal di bulan, tak bisa pulang ke bumi. Begini lengkap ceritanya:

Dahulu kala, di istana kerajaan Pakuan, ada dua orang gadis cantik jelita yang sehari-hari selalu rukun dan akur. Mereka adalah putri Endahwarni, calon pewaris tahta kerajaan Pakuan dan Anteh, dayang pribadi putri Endahwarni. Anteh adalah anak dari Nyai Dadap, seorang dayang kesayangan permaisuri. Ia meninggal saat melahirkan Anteh. Oleh karena itu, Anteh kemudian dibesarkan bersama putri Endahwardani yang saat itu masih bayi.


Sampai keduanya beranjak dewasa, putri Endahwarni dan Anteh semakin akrab walaupun memiliki status yang berbeda. Sang Putri sudah menganggap Anteh sebagai adik sendiri. Namun demikian di dalam hatinya ada rasa cemburu karena Anteh memiliki wajah yang lebih cantik dari dirinya.

Alkisah pada suatu hari, Ratu memanggil Putri Endahwarni dan berpesan bahwa  kelak dirinya akan mewarisi tahta kerajaan Pakuan dari ayahnya. Tapi syaratnya Putri Endahwarni harus sudah punya pendamping hidup. Karena itu Putri akan dijodohkan dengan pangeran Anantakesuma, putra adipati dari Kadipaten Wetan. Ratu juga memberi tugas kepada Anteh untuk melayani segala kebutuhan Putri Endahwarni. Keputusan sang ibunda itu tentu saja membuat hati Putri Endahwarni menjadi resah gelisah. Hatinya menjadi was-was. Ada kekhawatiran dalam dirinya kalau-kalau Pangeran Anantakesuma tidak mencintai dirinya. Begitu juga sebaliknya, belum tentu dia bisa mencintai sang Pangeran yang akan dijodohkan dengan dirinya itu.

***

Di suatu pagi ceria, Anteh bersenandung ria di taman bunga istana sembari mengumpulkan bunga-bunga yang akan digunakan untuk menghias sanggul Putri Endahwarni. Suaranya yang merdu terdengar sampai keluar tembok istana. Pada saat itu ada seorang pemuda gagah dan tampan sedang melintas di balik tembok istana. Tak lain dia adalah Pangeran Anantakesuma. Dia terpesona dan tertarik untuk mengetahui siapakah sang pemilik suara merdu itu. Dengan kesaktiannya, ia melompati tembok istana kemudian bersembunyi di balik pohon. Tampak olehnya seorang gadis cantik sedang memetik bunga. Hatinya bergetar, api asamara langsung membakar isi dada. Maka muncullah rasa cintanya kepada gadis pemetik bunga itu. Ia berpikir dan mengira, apakah gadis di hadapannya ini adalah Putri Endahwarni?

Anteh terkejut ketika menyadari ada seorang pemuda yang tak dikenalnya berada di taman istana Pakuan.

“Siapakah tuan? Mengapa tuan ada di taman istana?

“Saya Pangeran Anantakesuma, putra Adipadi Kadipaten Wetan. Apakah kamu ini Putri Endahwarni?”

Anantakusuma mengira kalau gadis di hadapannya itu adalah putri Endahwarni. Dengan agak gemetar karena takut, Anteh menjawab: “Bukan. Saya Anteh, dayang putri Endahwarni,” kemudian berlari masuk ke dalam istana. Pangeran Anantakusuma merasa kecewa karena gadis yang telah membuat hatinya tersandung cinta itu ternyata hanya seorang dayang, bukan putri Endahwarni.

Beberapa hari kemudian, Adipati Kadipaten Wetan datang bersama anaknya, Anantakusuma, untuk melamar putri Endahwarni secara resmi. Raja dan Ratu menjamu tamunya dengan sukacita. Putri Endahwarni juga tampak senang ketika melihat calon suaminya ternyata sangat gagah dan tampan. Lain halnya dengan Anantakusuma yang terlihat tidak semangat. Dia kecewa karena ternyata bukan gadis impiannya yang akan dinikahinya.

Saat perjamuan tiba. Anteh dan beberapa dayang istana lainnya masuk ke ruangan dengan membawa nampan berisi minuman dan hidangan.Pangeran Anantakusuma tersentak kaget ketika melihat Anteh, sang gadis yang dicintainya kini ada di hadapannya. Cara Pangeran Anantakusuma memandang Anteh tidak luput dari perhatian putri Endahwarni. Hatinya langsung terbakar api cemburu. Mengertilah ia kalau Pangeran Anantakusuma, calon suaminya sudah jatuh cinta kepada Anteh, bukan kepada dirinya. Saat itu juga ia sangat marah kepada Anteh.

Setelah perjamuan selesai dan putri kembali ke kamarnya, Anteh dipanggil agar segera menghadap untuk menemui putri Endahwarni. Di dalam kamar, putri Endahwarni langsung menumpahkan kemarahannya kepada Anteh yang tentu saja membuat Anteh kebingungan. Putri menganggap Anteh sudah mengkhianatinya, karena telah membuat Pangeran Anantakusuma berpaling darinya. Anteh pun diusir keluar dari istana. Karena tak punya pilihan lain, Anteh kemudia mengemasi barang-barangnya, lalu pergi meninggalkan istana melalui pintu belakang.  Dengan hati sedih, Anteh pergi meinggalkan istana tanpa menoleh sedikitpun juga. Istana Pakuan adalah rumahnya sejak ia lahir hingga dewasa. Dan sekarang, satu-satunya tempat yang bisa ia datangi adalah kampung halaman ibunya. Maka iapun berjalan dengan langkah gontai menuju kampung halaman ibunya, Nyai Dadap.

Tiba di kampung halaman ibunya hari sudah malam. Anteh kemudian bertanya-tanya kepada penduduk yang ia temui, di mana rumah keluarga Nyai Dadap. Seorang penduduk berbaik hati mengantarkan Anteh ke rumah adik Nyai Dadap yang bernama Waru. Mengetahui kalau putri kakaknya tiba, paman Waru sangat senang. Paman Waru mempersilahkan Anteh untuk tinggal di rumahnya. Sejak saat itu Anteh tinggal di rumah pamannya. Paman Waru sangat menyayangi Anteh seperti menyayangi anaknya sendiri. Untuk membantu pamannya, Anteh menerima pesanan menjahit baju. Mula-mula Anteh menjahitkan baju-baju tetangga, karena hasil jahitannya bagus, orang-orang dari desa yang jauh pun ikut menjahitkan baju mereka kepada Anteh. Sehingga ia dan keluarga pamannya bisa hidup cukup dari hasilnya menjahit.

Seiring jalannya waktu, tahun demi tahun telah berlalu. Anteh kini sudah bersuami dan memiliki dua orang anak. Pada suatu hari di depan rumahnya ada sebuah Kereta Kencana berhenti, dan banyak sekali pengawal yang menunggang kuda. Begitu pemilik Kereta Kencana itu melongokkan kepalanya keluar, Anteh menjerit. Ternyata itu adalah putri Endahwarni. Sang Putri turun dari kereta dan langsung menangis memeluk Anteh.

Putri Endahwarni meminta maaf karena telah mengusir Anteh. Ia meminta Anteh untuk kembali tinggal di istana dengan membawa serta keluarganya. Akhirnya Anteh dan keluarganya pindah ke istana. Putri Endahwarni telah membuatkan sebuah rumah di pinggir taman untuk mereka tinggal.

Kembalinya Anteh ke istana membuatnya mau tidak mau bertemu kembali dengan Pangeran Anantakusuma yang saat itu telah menjadi suami Putri Endahwarni. Pangeran Anantakusuma ternyata tidak pernah melupakan gadis impiannya. Kembalinya Anteh ke istana Pakuan membuat cintanya yang selama ini terpendam menjadi mekar kembali. Namun menyadari kalau dirinya sudah menjadi seorang suami, ia mencoba untuk menahan diri dari sengatan cinta lamanya. Mulanya, Pangeran Anantakusuma mencoba bertahan untuk tidak memperdulikan kehadiran Anteh. Namun semakin ditahan, semakin api asmara dalam dada semakin menggelora sengatannya.

Pada suatu malam ketika terang purnama, Pangeran Anantakusuma nekat pergi ke taman istana, dengan harapan bisa bertemu dengan Anteh. Benar saja, pucuk dicita ulam tiba. Dilihatnya Anteh sedang berada di beranda rumahnya, sedang bercanda dengan Candramawa, kucing kesayangannya sambil menikmati indahnya sinar bulan purnama. Walau kini sudah berumur, namun di mata Pangeran Anantakusuma, Anteh masih secantik dulu saat pertama mereka pertama kali bertemu. Perlahan-lahan didekatinya Anteh.

Melihat kedatangan Pangeran Anantakusuma, Anteh menjadi was-was, ketakutan, dan berusaha untuk melarikan diri. Namun pangeran Anantakusuma mengejarnya. Anteh berdoa kepada Tuhan agar diberi kekuatan untuk dapat melepaskan diri dari gangguan Pangeran Anantakusuma. Tiba-tiba Anteh merasa ada kekuatan yang menarik tubuhnya ke atas. Dia melihat ke atas dan dilihatnya sinar bulan menyelimutinya dan menariknya.

Walaupun memiliki kesaktian yang tinggi, namun Pangeran Anantakusuma tidak bisa berbuat apa-apa ketika ia melihat Anteh terbang menuju ke bulan, semakin lama semakin tinggi dan akhirnya hilang bersama sinar bulan yang tertutup awan.

Sejak saat itu Nyai Anteh tinggal di bulan bersama Candramawa, kucing kesayangannya. Anteh tidak berani kembali ke bumi karena takut pangeran Anantakusuma akan mengejarnya. Namun rasa rindunya kepada keluarga membuat Anteh ingin pulang. Anteh lalu menenun kain untuk dijadikan tangga pulang, turun ke bumi. Tapi sayang, Candramawa kucing kesayangannya selalu merusak tenunannya. Akibatnya hingga kini Anteh tinggal di bulan dan tidak pernah kembali lagi ke bumi.

***

Dapoer Sastra Tjisaoek, April 2020
Cerita Rakyat Jawa Barat
Diceritakan kembali oleh: Abah Yoyok.

Leave a Comment