Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Puisi » Sajak Sewenang-wenang
    Puisi

    Sajak Sewenang-wenang

    16 Februari 2020Tidak ada komentar4 Mins Read208 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Sederhananya, Puisi adalah Bahasa Rasa yang punya Rasa Bahasa. Karena itu, siapa pun dia yang mampu membahasakan perasaannya atas apa yang ia dengar, ia lihat dan rasakan dalam bentuk rangkaian kata maka itulah Bahasa Rasa yang bisa disebut puisi. Lalu Rasa Bahasa itu yang seperti apa? Sederhanya lagi, Rasa Basa akan terasa dalam Bahasa Rasa yang disampaikan oleh penulisnya, dan ini tentu saja tergantung pada jam terbang si penulis serta tingkat kecerdasannya. Bisa jadi Bahasa rasa itu menyentuh perasaan kita, sehingga bahasa yang awalnya bersifat individual, menjadi universal. Dan apa yang terkandung dalam Bahasa Rasa itu mewakili rasa kita semua, apakah itu protes, renungan, nasehat, dan sebagainya. Selanjutnya seperti apa Rasa Bahasa dari Bahasa Rasa dalam puisi-puisi Salimi Ahmad? Silahkan menikmati. (Redaksi)

    [iklan]

    Sajak Sewenang-wenang

    Ini sajak sewenang-wenang
    yang lahir begitu saja
    di malam kerontang
    ketika gerah menyerang
    dan badan kuyup dipenuhi
    keletihan

    Ia menulis dirinya sendiri
    dari keadaan yang serba tak pasti

    Ia sebut dirinya anarkhi
    Ia tendang apa saja yang ditemui
    menghajar siapa saja yang coba halangi

    ia ciptakan terror dan kebencian
    pada selembar kertas berisi coretan coretan
    ia tempeleng ketenteraman ia cekik keharmonisan
    ia gertak hal hal yang serba menggelisahkan
    ia gelar jeritan di tanah-tanah lapang dengan
    suara puncak di bawah sinar bulan

    ia pecut diam agar tak diam
    ia bakar sunyi agar tak sunyi
    ia merambat masuk ke dalam rambut dan
    jembut, dan ia mengunci dirinya di dalam
    sendiri:

    ia ciptakan sajak

    sajak sewenang-wenang, namanya
    sumber kegelisahan  yang selalu merangkak
    menyelimuti mata inderamu

    ia dorong kekecewaan ke depan
    ia munculkan keasingan-keterasingan
    untuk menjaga getir demi getar
    dari awan dan rintik hujan

    Selebihnya, orang boleh
    berucap. Biarkan mereka rebut
    Peduli apa!

    1994

    Di Dunia Tipu-Tipu

    di dunia tipu tipu
    orang tak seharusnya menjadi penipu
    sebab hakekatnya setiap orang
    tak mau disebut sebagai penipu
    dan tak mau ditipu
    walau yang ditipu toh para penipu

    jika mereka menipu dan yang ditipu
    adalah para penipu
    mereka telah tahu makna apa yang tersimpul
    dalam setiap mereka bertemu

    di dunia tipu tipu
    kehidupan berjalan tanpa rasa malu
    hukum dan peraturan
    sama sekali tak berlaku
    hanya akan mengganggu
    nilai-nilai yang sebenarnya tabu

    hokum yang berlaku
    di dunia tipu tipu
    adalah hukum yang membantu
    bagaimana supaya sukses
    menjadi seorang penipu

    peraturan yang dipegang
    adalah peraturan yang bagaimana
    membuat diri aman dari kejaran
    hutang-hutang dan pengkhianatan

    karena di dunia tipu tipu
    taka da yang mau ditipu
    mereka jadi sama-sama
    waspada

    karena di dunia tipu tipu
    taka da lagi yang bisa diakali
    untuk ditipu, mereka jadi gila
    lantaran kehilangan kerja

    Jakarta, 29794

    Kuharap Apa

    kuharap apa dari sajak? Uang
    tak seberapa. Pikiran tambah gila
    membongkar kata. Belum tentu
    yang membacanya ikut suka

    malam-malam
    jiwa semakin rontok
    dihantam salesma
    tubuh tambah ringkih
    tercenung lama
    mempertimbangkan Kata
    mengupas luka

    dan di batas rasa lelah
    harga sajak tetap saja
    yang paling rendah

    jika pun ada yang tersisa
    mungkin itu gema nurani
    yang tak mau mati-mati
    walau diguncang inflasi

    1994

    Tak Ada

    tak ada yang perlu mengurut dada
    sudah lama ia mengurutnya sendiri
    berbilang hari, berhari janji-janji
    toh akhirnya lebih kerap diingkari
    lagi

    tak ada yang perlu disedihkan
    sudah lama ia memendamnya sendiri
    sejak perbedaan pendapat dianggap
    sebagai pembangkangan
    sejak pernyataan protes diartikan
    sebagai musuh yang harus segera
    diberangus

    jadi, untuk apa meratap-ratap lagi
    mereka telah menyeret ratapan itu
    jadi komoditi membangun nyeri
    menumpuk hutang-merambah perih
    dan menjualnya kembali
    agar kita mengangkang mimpi

    jadi, untuk apa menyengsarakan diri
    untuk sesuatu yang telah terjadi
    bukankah kita tetap peduli, dan keinginan selalu
    membuka pintu meski pilu tak juga
    mau mati-mati

    :kita harus menangkan
    perjuangan ini !

    1994


    SalimI Ahmad
    , anak Jakarta yang lahir tanggal 22 Mei 1956 ini mengaku tak pernah benar-benar bisa melepaskan dirinya dari menulis puisi. Sarjana Pendidikan lulusan IKIP Jakarta tahun 1985 yang juga seorang akupunturis ini, tetap saja menulis puisi atau melukis untuk menjaga keseimbangan rasa gelisahnya.

    Puisi protes puisi satire puisi sosial
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleSi Pitung Macan Betawi
    Next Article Permainan Keripik Jengkol

    Postingan Terkait

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 2025

    Puisi-Puisi Amanda Amalia Putri

    30 November 2025

    Puisi-Puisi Riki Utomo

    21 September 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Puisi dan Cerpen Terpilih mbludus.com Tahun 2026

    29 Maret 202685 Views

    Puisintaksis dan Manusia Algoritma: Ketika Peluncuran Buku Menjadi Peristiwa Ontologis

    21 Februari 202690 Views

    Buku Sang Nabi

    9 Februari 202615 Views

    Hak Tubuh Istirahat

    26 Januari 202616 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (208)
    • Bisnis (7)
    • Buku (84)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (78)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (188)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (143)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.