Sosialita

Rumah Kudus Bunda Maria

Jangan Lupa Di Rate Ya!
Tinggal Pilih Bintang Saja!

Rumah Kudus Bunda Maria

Turki punya banyak kota-kota Indah dan penuh sejarah, dan Selcuk adalah salah satunya. Selcuk adalah satu kota bersejarah dalam kaitannya dengan Perang Salib ke 1. Di kota inilah pertama kali serangan terjadi ketika pasukan salib menuju Yarusalem untuk merebut kota itu dari pendudukan muslim pada akhir abad ke 10, atau tepatnya tahun 1098.

Saya beserta keluarga mampir ke kota ini setelah mengunjungi Pamukale, dan sebelum masuk ke Ephesus, kota kuno peninggalan Romawi yang bersejarah. Di kota Selcuk ini kami mampir ke daerah Gunung Koressos yang masuk wilayah Efesus, sekitar 7 Km dari Selcuk/Izmir, Turki. Ini adalah sebuah biara Kristen Katolik, Ortodhoks dan Muslim.

Tak ada catatan dalam kitab suci manapun sebetulnya yang menyebutkan rumah Bunda Maria terletak di wilayah yang masuk negara Turki ini. Mungkin juga karena tak jauh dari daerah ini juga ada makam Yohanes, salah satu Murid setia Yesus. Banyak orang percaya bahwa Bunda Maria juga menghabiskan waktunya hingga saat-saat terakhir di sini. Orang percaya bahwa setelah Yesus disalib maka Bunda Maria dibawa pengikut setia Yesus demi menghindari hal-hal yang tak diinginkan.

Anne Catherine Emmerich adalah seorang biarawati Jerman yang sakit lumpuh dan tak pernah pergi ke mana pun. Dia menceritakan apa yang dilihat mata batinnya. Dia melihat Rosul Yohanes atau murid nabi Isa yang paling setia membawa Bunda Maryam/Maria ke satu tempat untuk disembunyikan dari serangan orang-orang yang berbuat aniaya kepada Nabi Isa Almasih sang Mesias. Pesan suster Emmerich dicatat oleh seorang bernama Bretmo, bahwa nun jauh di sana di atas sebuah bukit yang subur dengan pohon-pohon buah, ada sebuah bangunan terbuat dari batu dengan mata air yang subur di belakangnya. Semua diceritakan dengan detail.

Kemudian pada tahun 1.800an seorang Perancis bernama Goyet yang pernah lama tinggal di Efesus dan pernah membaca buku catatan Bretmo menemukan sebuah chapel kecil tak terurus yang mirip seperti yang dia baca dalam buku catatan Bretmo. Masa itu sempat terjadi pertentangan. Karena pihak Roma percaya bahwa makam Bunda Maryam ada di Yerusalem, di sebuah  kebun  yang dipenuhi pohon anggur dan zaitun.

Akhirnya tempat itu diselidiki pihak Vatikan, kemudian tempat tersebut menjadi tempat Ziarah yang telah dikunjungi oleh 3 Paus, dan terakhir oleh Paus Bennedict XVI.

Apapun akhirnya itu, saya berhasil masuk ke rumah batu tersebut. Saya lalu teringat kembali cerita tentang Bunda Maria yang dalam versi Islam bernama Siti Maryam. Menurut saya… Siti Maryam adalah wanita pertama yang menjalankan emansipasi. Betapa dari awal pun kehidupannya begitu tawaqal. Beliau adalah perempuan pertama yang berani mendobrak sesuatu yang sebelumnya hanya diperbolehkan untuk kaum pria dan sangat terlarang untuk kaum perempuan.

Yatim sejak dalam kandungan.
Bunda Maria atau Siti Maryam menurut versi Islam adalah anak Nabi Imron. Mereka adalah keluarga Yahudi dari Suku Bani Israel yang istimewa. Lahir di Jalillah/Galilea dekat Nazareth tahun 16 sebelum Masehi, dari rahim seorang Ibu bernama Hanna. Siti Sayyidah Maryam adalah anak yatim sejak dalam kandungan. Jaman ketika Raja Herud/Harodes dan Romawi berkuasa. Herodes adalah Raja yang tidak hanya membunuh para bangsawan yang dianggap saingan. Namun dia bahkan membunuh ayah, istri-istri dan ketiga anak lelakinya. Semua yang dianggap membahayakan kekuasaannya akan dibunuhnya.

Maryam lahir pada jaman dimana manusia masih melakukan perbuatan jahiliyah. Allah sudah menurunkan Kitab Taurat. Namun keadaan manusia masih saja bar-bar. Tempat suci mereka masih diisi ulama-ulama Yahudi yang berkuasa saat itu. Mereka mengambil pajak dari rakyat biasa. Menerima persembahan. Bahwa segala penyakit dan penderitaan manusia akan berakhir  asalkan memberikan persembahan kepada Tuhan lewat para pendeta itu tentu saja. Seolah Tuhan itu adalah sesuatu yang bisa disogok. Dan mereka punya banyak Tuhan yang terbuat dari patung-patung. Berhala.

Heilal adalah ketua pendetanya. Sementara Yarbaun, Yasakar, dan Nabi Zakaria adalah anggota seniornya. Nabi Imron adalah seseorang yang mereka segani. Dianggap Rosul. Mereka semua adalah sepupuan. Dari semua Pendeta tersebut, hanya Zakarialah yang menolak digaji oleh kuil. Nabi Zakaria tidak mau menyembah patung berhala. Dan beliau tak mau menerima apapun dari jemaah yang meminta pertolongannya. Beliau hanya mengandalkan keahliannya menjadi tukang kayu sebagai mata pencahariannya disamping menyampaikan ajaran kebaikan dan 10 perintah Tuhan dalam kitab sucinya.

Rosul Imron wafat ketika Siti Maryam masih dalam kandungan. Semua geger. Karena Imron adalah seorang Rosul yang sudah meramalkan bahwa akan lahir seorang bayi yang jadi juru selamat umat. Rosul Imron dan nabi Zakaria adalah saudara sepupu yang paling dekat.  Otomatis ketika Rosul Imron wafat, Nabi Zakarialah yang mengambil alih tanggung jawab dengan meminta Hanna, istri Rosul Imron yang sedang mengandung.

Malam itu bulan bercahaya terang di langit. Ada bintang jatuh pembawa keberuntungan. Tanda-tanda langit yang menandakan orang istimewa akan lahir ke bumi. Dan seisi kampung menunggu dengan banyak perasaan menunggu kelahiran seorang yang mereka yakini akan menjadi juru selamat mereka. Sang Mesias. Mereka yang setia kepada Nabi Imron merasa bahagia. Berbeda dengan sebagian kaum Yahudi lain yang tentu malah cemas termasuk raja Herodes yang mengirim utusan untuk waspada.

Ketika kemudian bayi itu lahir berjenis kelamin perempuan, maka hebohlah seisi desa. Nabi Zakaria menjadi bahan olok-olok, terutama oleh kelompok yang besebrangan dengannya. Mereka makin mengukuhkan nabi Zakaria sebagai pria yang gila. Mengaku nabi tapi malah mendapatkan bayi perempuan. Di mana Tuhan? Mengapa Tuhan berbohong dan tak berpihak kepada Nabi Zakaria? Manusia miskin dengan baju compang-camping, kurus kering dan sok menjauhi segala riba.

Zaman itu kelahiran bayi perempuan adalah aib. Banyak bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup demi menghindari malu. Atau orang tua yang sengaja mengubur bayi perempuan mereka dengan alasan tak ingin anak tersebut kelak hanya menjadi budak.

Keluarga nabi Zakaria langsung jadi cemoohan. Bahkan mereka yang sebelumnya percaya, jadi berbalik mencemooh dan meninggalkannya.  Agama Nasrani dan Islam belum lahir pada saat itu.

Pada waktu Itu adalah jaman kegelapan. Manusia diperjualbelikan sebagai budak. Yang kuat bebas membunuh yang lemah. Riba di mana-mana, bahkan diatur pihak kuil atau mereka yang mengaku sebagai utusan Tuhan. Yang kuat menindas yang lemah. Bahkan kuil atau tempat suci pun mengambil kutipan uang dari rakyat. Betapa jaman aqidah yang buruk. Orang bebas melakukan apa saja tanpa takut berdosa kepada Tuhan. Andai pun mereka merasa berdosa, mereka hanya memberikan persembahan kepada Tuhan. Uang emas atau hewan yang dibakar. Seakan-akan Tuhan Yang Maha Kuasa akan memaafkan segala dosa karena persembahan yang para pendosa berikan.

Selanjutnya, setelah Nabi Zakaria dihina dan ditertawakan, Hanna ibunda Siti Maryam yang terbaring lemah dikuatkan Nabi Zakaria. Dia berkata:  “Wahai Hanna… berbaik sangkalah kita kepada Tuhan. Jika memang kelak ditakdirkan keturunan Imron adalah bayi istimewa penyelamat manusia, mungkin akan lahir dari rahim bayi perempuan yang suci darah daging dan tulangnya. Mungkin bayi inilah nantinya yang akan melahirkan sang Juru Selamat itu. Bukankah dulu Tuhan juga sudah menyampaikan wahyunya bahwa Nabi Daud akan membuat rumah untuk Tuhan? Meski kenyataannya baru pada Nabi Musa hal itu terjadi.”

Hanna, ibunda bunda Maria/Maryam, seketika bersemangat kembali. Berbulan-bulan dia tak keluar rumah. Padahal sebelum Rosul Imron wafat, mereka berdua lama sekali menunggu kehadiran buah hati. Dan ketika mereka berhasil mendapatkannya, mereka sempat bernazar kepada Tuhan, bahwa mereka akan menyerahkan anak mereka untuk Tuhan. Mereka akan mendidik anak dengan didikan agama yang baik. Bahkan anak yang dikandung itu kelak akan diserahkan kepada Kuil untuk belajar agama. Rosul Imron lalu wafat sebelum bayi itu dilahirkan. Lalu kenyataannya kemudian malah berjenis kelamin perempuan. Mana mungkin? Bagaimana caranya? Tak pernah ada sebelumnya seorang perempuan masuk ke dalam kuil. Namun Hanna tak mengubah niatnya. Pada malam purnama dia berjalan ke atas bukit dan bicara kepada Tuhan bahwa apapun yang terjadi, dia akan tetap menyerahkan anak yang kemudian dia beri nama Maryam ini untuk Tuhan. Halilintar kemudian menggelegar di malam yang terang penuh bintang seolah jawaban Tuhan untuk Hanna.

Hanna membawa Maryam ketika usia 7 bulan. Berjalan kaki berhari-hari menuju Kuil atau tempat suci yang diisi para pendeta suci, juga anak-anak laki yang calon pendeta. Terjadi kehebohan. Belum pernah terjadi dalam sejarah mereka ada seorang perempuan masuk Kuil. Dan Hanna harus berhenti di tangga. Puluhan orang menghardik dan meneriakinya sebagai wanita gila. Seorang perempuan memasuki Kuil dan membawa bayi perempuan pula. Dia dihadang pendeta-pendeta muda yang sudah siap dengan tongkat mereka. Untungnya ketua pendeta yang masih sepupu Rosul Imron, almarhum suaminya, datang dan menenangkan. Juga nabi Zakaria yang siap-siap berdiri menjaga sesuatu yang tak diinginkan terjadi.

Kepala Pendeta menerima permohonan Hanna yang ingin agar anaknya nanti diterima sebagai murid kuil. Hanna kembali ke desa nya dengan perasaan bahagia. Lalu Maryam kecil segera saja menjadi anak solehah nan pandai. Segera dia bisa menyerap semua kebaikan yang diajarkan Nabi Zakaria pengganti ayahnya. Nabi Zakaria pada saat itu sudah sepuh dan juga belum dikarunia anak. Maryam diurus oleh dua ibu. Yaitu Hanna ibu kandung  dan Isya istri nabi Zakaria. Betapa kasih sayang dan kebaikan ketiganya menjadikan sosok anak yang bijaksana dan tentu saja Maryam menjadi berbeda  dari anak seusianya.

Perpisahan tanpa tangis.
Saat perpisahan pun tiba. Kala itu Siti Maryam sudah berusia 6 tahun ketika nabi Zakaria memutuskan waktu yang tepat bagi Maryam pergi ke Kuil. Ibunda Hanna tahu bahwa cepat atau lambat saat ini akan tiba. Dia harus melepaskan satu-satunya miliknya yang berharga, yaitu anak kandungnya. Ketika Maryam mencium ibunya, betapa hati Hanna bagai teriris-iris. Meski tak sebutir pun air mata menetes di depan Maryam, namun dia merasa bahwa jantungnya sedang dicabut. Sakit sekali. Dan segera setelah Maryam mengucapkan salam dan menghilang dibalik pintu, Hanna menjatuhkan dirinya. Bersimpuh dia di tanah memohon kepada Tuhan untuk dikuatkan. Karena sayatan seribu pedang tajam pun tak sesakit ketika melepas Maryam pergi meninggalkannya.

Lalu, anak sekecil itu berjalan satu hari satu malam menembus semak, menginjak batu-batu dan pasir gurun yang panas untuk menuju ke Kuil. Di sana para pendeta telah menunggunya. Tapi lagi-lagi mereka mencari gara-gara. Jauh di lubuk hati terdalam mereka paham, tak mungkin seorang Zakaria yang begitu jujur dan tulus di antara mereka mau menjadi wali bagi seorang anak yatim perempuan jika tanpa alasan dari Tuhan. Lagi-lagi mereka tak sepaham dan meminta diadakan pengundian untuk menjadi wali Maryam. Tentu saja nabi Zakaria menolak. Karena dialah yang mengurus Maryam, bahkan sejak gadis itu masih dalam kandungan. Tapi para pendeta lain tak mau kalah. Menurut mereka, Imron adalah sepupu mereka juga. Dan tentu saja mereka punya hak yang sama untuk menjadi wali Maryam. Nabi Zakaria dilanda kegalauan. Betapa pun dia ingin dirinya yang menjadi pengganti ayah bagi Maryam. Tak terbayang bagamana nanti jika Maryam diurus orang selain dirinya? Namun sebagai manusia beriman, lagi-lagi beliau memasrahkan semuanya kepada Tuhan.

Tujuh orang pendeta dan tujuh pena dari bulu ayam diceburkan ke dalam aliran sungai mata air suci di kuil tersebut. Kepala pendeta bilang, “bahwa pena terakhir yang mengalir keluar adalah wali Maryam”. Ketika satu persatu pena keluar lewat celah dan pena nabi Zakaria adalah yang terakhir, Tuhan membuktikan sekali lagi KuasaNYA. Bahwa Nabi Zakaria lah yang terpilih Tuhan menjadi wali Maryam. Bagaimana dengan pendeta-pendeta lain? Oh… seperti biasa mereka tetap mencari gara-gara. Menuduh nabi Zakaria menggunakan sihir dan minta pengundian diulang. Tetapi kepala Pendeta saat itu tak menghiraukan. Dan menetapkan nabi Zakaria sebagai wali Maryam yang sah.

Tersenyum dalam derita.
Mulailah Siti Maryam menjadi penghuni resmi di Kuil. Dibangunlah gubug tersendiri oleh Nabi Zakaria untuknya. Terbuat dari kayu indah, dibantu murid-murid Kuil lainnya yang semuanya adalah anak laki-laki. Segera saja Maryam disukai anak-anak penghuni Kuil yang juga diserahkan orang tuanya untuk belajar agama dan mengabdi kepada Tuhan. Sayangnya dalam perjalanannya bukan ilmu yang diajarkan para pendeta itu kepada Mayam. Karena dia justru dipekerjakan bersama-sama sebagaimana anak laki-laki diperlakukan. Menimba air, membersihkan Kuil yang begitu luas, bangun pagi dan tidur larut menyediakan makan minum dan kebutuhan pendeta junior dan senior. Bahkan para Pendeta muda mulai tak suka dengan Maria. Tanpa sepengatuhan Nabi Zakaria mereka sering membicarakan Maryam. Buat mereka Maryam adalah biang keladi. Sejak Maryam berada di Kuil, anak-anak lain yang sedang belajar itu tak lagi bekerja giat. Mereka lebih suka mendengarkan cerita Maryam dan bahkan sering menanyakan sesuatu tentang falsafah hidup kepada Siti Maryam. Bagaimana mungkin? Karena Maryam yang cerdas selalu  punya banyak jawaban atas setiap pertanyaan. Segala hal mendasar atas 10 firman yang sudah Tuhan turunkan benar-benar diartikan secara harafiah oleh Maryam. Hingga hal ini  merasuk ke jiwa murid-murid lain yang semuanya adalah laki-laki. Mereka melihat sosok Maryam yang tidak saja cantik namun pintar, tetapi sangat santun dan mau menerima semua tanggungnjawab yang dibebankan kepadanya, meski itu semua melebihi kesanggupan fisiknya.

Tidak hanya itu, karena ketika Nabi Zakaria sedang tak berada di Kuil perlakuan pendeta senior juga menjadi-jadi. Hingga pada suatu hari mereka memukuli gadis Maryam yang belum berusia 7 tahun sampai biru tak hanya sekujur tubuh tetapi juga hingga pelipis matanya. Gadis Maryam terbaring sakit dua hari. Murid laki-laki lain menggantikan tugasnya. Nabi Zakaria mendatangi gubuknya karena anak yang sudah dianggap anak kandung ini tak terlihat. Maryam tak sedikitpun mengadu. Dengan pakaian panjang dan kerudungnya dia sembunyikan bagian wajahnya yang biru lebam. Namun ketika Nabi Zakaria meraih tangannya, tak sadar dia merintih. Lalu nabi Zakaria membuka sedikit kain yang menutup tangannya, kemudian Maryam tak bisa membohongi nabi Zakaria dengan segala bukti fisik di tubuhnya. Meski demikian, Maryam tak mengakui  apa pun, salah seorang murid bernama Yusuf memberitahukan kepada Nabi Zakaria atas apa yang terjadi pada Maryam.

Nabi Zakaria dengan menahan emosi menemui semua pendeta di ruang senior. Tapi lagi-lagi mereka mengelak. Yarbaum terutama, pendeta tertamak dan berhati terdurjana. Dia mengakui bahwa dialah pelakunya dengan alasan disiplin. Karena sejak Maryam berada di Kuil tersebut, murid-murid muda, calon pelayan Tuhan itu, menjadi pembangkang. Mereka mulai menghindari tatapan mata dengan para pendeta junior bahkan senior. Mereka bahkan lebih suka bertanya kepada Maryam daripada kepada Pendeta untuk soal-soal yang menyangkut Iman.

Yarbaun lalu bicara tanpa malu-malu kepada nabi Zakaria, bahwa Maryam adalah keponakannya juga. Mana mungkin dia menyiksa Maryam selain karena alasan disiplin. Lalu dia menceritakan bahwa kesakitan adalah cara lebih dekat dengan Tuhan. Kemudian dia jelaskan bagaimana dulu dia diperlakukan kaum Romawi karena mempercayai Tuhan. Yarbaum lalu mulai menceritakan kembali kisah hidupnya. Bagaimana tubuhnya disiksa dan diinjak-injak. Lalu dia harus pura-pura mati ketika pasukan Romawi berdiri di atas tubuhnya yang tak berdaya dengan separo kakinya yang sudah terbakar. Kemudian seisi ruang rapat para Pendeta senior itu senyap. Nabi Zakaria keluar ruangan demi menghindari emosinya  lebih lanjut. Melawan Yarbaun dengan kawan-kawannya yang pandai bersilat lidah dan pandai memutar balikan fakta, tak akan pernah bisa selesai.

Nabi Zakaria pulang ke rumahnya yang berjarak satu hari berjalan kaki. Bercerita kepada Isya/Elizabeth istrinya untuk tidak menceritakan yang terjadi kepada Hanna, ibunda Maryam. Hanya saja, mana ada hati seorang ibu kandung bisa dibohongi? Berminggu-minggu menunggu kabar anak semata wayangnya, tiba-tiba nabi Zakaria dan istrinya menolak menjawab ketika ditanyakan keadaan Maryam.

Hanna sakit selama berminggu-minggu kemudian. Batinnya berkecamuk antara rindu dan janji kepada Tuhan. Hanna takut, jika sekali saja dia menengok gadis kecilnya ke Kuil Tuhan, maka semuanya bisa bubar. Dia takut Maryam akan meminta ikut pulang dan menolak kembali ke Kuil Tuhan. Meski nabi Zakaria mengijinkan bahkan istri nabi Zakaria meminta Hanna untuk segera pergi menemui putrinya.

Tembok pengobat rindu.
Pada suatu hari, dengan tubuh yang lemah menahan sakit dan rindu, Hanna berjalan menuju Kuil. Di perjalanan dia membeli kalung untuk Maryam. Sesampainya di Kuil, seorang wanita memeluknya. Dia adalah wanita baik yang tak pernah pergi jauh dari Kuil, tempat dia meratap dan memohon hampir sepanjang waktu di tembok itu. Dia mengenal Maryam, gadis cilik rajin yang selalu membawa alat sapu. Gadis kecil yang sering berpuasa dan menyerahkan jatah makanan yang dia punya untuk fakir miskin di sekitar kuil. Menangislah wanita tersebut manakala mengetahui bahwa wanita yang sedang sakit ini adalah Ibu kandungnya Maryam. Wanita itu menyuruh Hanna untuk masuk kuil dan menemui Maryam, tapi Hanna menolak dan memohon kepada wanita ini untuk merahasiakan kedatangannya. Tanpa disengaja, Maryam terlihat dari kejauhan, lalu wanita ini memanggilnya.

“Hai Maryam… sini, nak… !“

Dan tanpa diduga, Maryam menghampiri lewat lubang atau celah kecil di tembok Kuil, dia menjawab panggilan wanita itu.

“Salam bibi… ada apakah gerangan engkau memanggilku?”
“Tidak Maryam, aku hanya ingin tahu saja kabarmu hari ini, apakah kamu baik-baik saja?”
“Terima kasih Bibi, aku baik-baik saja…” jawab Maryam lembut.

Wanita itu sebetulnya hanya ingin memastikan Hanna bahwa anaknya itu, gadis Maryam ada dan berbicara di dekatnya. Tentu saja Hanna bersembunyi. Dengan derai air mata dia mendengarkan suara lembut anaknya.

“Maryam, apakah kamu betah tinggal di Kuil…?”
“Aku di sini belajar Ilmu tentang Tuhan dan mengejar Ridhonya bibi…”
“Oh Maryam, kau anak yang baik. Apakah kamu rindu keluargamu?”
“Tentu Bibi. Apakah ada orang yang kenal ibuku di desa ini? Aku ingin tahu bagaimana kabar  Ibuku.”
“Sabar nak, ibumu pasti akan menemuimu pada suatu hari nanti. Apakah kamu sayang kepada ibumu?”
“Tentu Bibi… aku sayang kepada ibuku melebihi apapun yang ada di dunia ini…”

Lalu wanita itu menahan tangis. Bagaimana mungkin menjelaskan kepada anak yang bahkan belum berusia 7 tahun kalau ibunya berdiri kurang dari satu meter di sampingnya. Terhalang tembok dan kini tengah menahan isak.

“Bibi… aku pamit dulu. Banyak pekerjaan menanti. Salam, Bibi…”
“Salam Maryam… “

Lalu Maryam berbalik dengan sapunya menuju area dalam kuil. Hanna sang ibunda, yang kini sesenggukan untuk dapat melihat anak kesayangannya, meski hanya bagian punggungnya. Hanna pulang kembali ke desa dengan keadaan tubuh yang semakin ringkih, dan tak sampai dua hari kemudian beliau wafat tanpa sempat memeluk dan mencium buah hatinya.

Malam itu purnama meredup, Maryam duduk seorang diri, di luar gubuknya. Sulit bagi Zakaria untuk memberitahukan ikhwal ibunya yang telah wafat. Lalu Nabi Zakaria duduk di sisi Maryam kecil, dengan pertanyaan bodoh, “Maryam, sedang apakah engkau semaghrib ini masih di luar?” Dan tanpa diduga, Maryam lalu bicara, “Kakek, enam bulan tujuh belas hari aku di sini tanpa sedikitpun ibuku datang menjengukku. Apakah dia tidak rindu aku? Dua hari ini aku merasakan ada sesuatu yang aneh menyelusup dalam hatiku. Sebuah rasa yang tak pernah aku alami sebelumnya… “

Tiba-tiba Nabi Zakaria menangis. Pria renta yang serin g dihina dan dihujat dan disebut gila karena mempertahankan keyakinannya, mempercayai Tuhan yang tak berbentuk itu, menangis.

“Mengapa kakek menangis?”
“Maryam, waktu itu usiaku baru Sembilan tahun ketika aku pergi mengembala domba dan didera perasaan aneh yang tak terungkap. Aku merasa sunyi dan sepi. Lalu aku pulang ke rumah dan mendapati ibuku sudah tertutup sehelai kain di wajahnya. Dia tak pernah bangun lagi.”
“Ibumu meninggal?”
“Ya…”
“Dan… apakah engkau ingin menyampaikan bahwa ibuku juga sudah mengalami hal yang sama seperti ibumu?”

Zakaria tak menjawab. Dia memalingkan wajah dan kembali menangis sesenggukan.

“Kamu ingin menyampaikan kepadaku bahwa ibuku telah meninggal?”
“Iya, Maryam… “

Lalu Maryam menelungkupkan wajah, menunduk, ditelungkupi kedua tangan dan menangislah dia layaknya gadis solehah menangis. Tak ada jerit atau teriak. Hanya saja malam itu langit seperti menjadi kelabu mewakili hatinya.


Maryam menjadi yatim piatu bahkan di usianya yang belum 7 tahun. Mendapat siksaan fisik dan mental. Rajin berpuasa dan memberikan jatah makanannya kepada yang membutuhkan. Dia sering kelaparan sendirian, hingga suatu malam, dia berdoa kepada Tuhan agar dikuatkan dari rasa lapar yang mendera. Tanpa disangka, ketika dia jatuh tersandung kala menuju gubuknya, itu pasti karena Tuhan memberikan kuasanya. Buah-buahan teronggok begitu saja di lantai kamarnya. Roti, gandum, susu, madu, anggur, buah Tin,  dll. Maryam percaya bahwa Tuhan itu begitu kuasa untuk menjadikan sesuatu yang tak mungkin masuk akal manusia. Pun nabi Zakaria sendiri yang bahkan bertanya kepada murid-muridnya yang lain, apakah Maryam suka dikujungi tamu? Demi melihat begitu banyak makanan dan buah-buahan di gubuk Maryam, bahkan buah-buahan yang bukan musimnya.  Tentu saja para murid lain bersaksi, Maryam tak pernah menerima tamu, dia bahkan jarang keluar dan hanya berdoa sepanjang semua tugas sudah dia selesaikan.

Maryam tumbuh menjadi gadis cantik yang sempurna dalam menjaga lisan dan tingkah lakunya. Ibadahnya yang tak putus. keteguhan serta kesabaran hatinya adalah karena Iman kepada Tuhan semata. Doanya ditunggu mereka yang ingin kesembuhan di luar tembok Kuil. Dan hal ini yang membuat iri para pendeta. Mereka cemburu jauh di lubuk hatinya, seolah Maryam adalah gadis pilihan Tuhan.

Memang demikianlah seorang Maryam, dalam segala hal dia selalu mengingat Tuhan. Kepada air jernih mengalir yang akan diminumnya, dia mengingat Tuhan. Kepada bunga-bunga cantik yang dilihatnya, dia melihat keindahan Tuhan.

Hingga Kemudian pada suatu ketika malaikat Jibril datang membawa pesanNYA, “Sesungguhnya aku hanyalah utusan Tuhanmu, untuk menyampaikan anugrah kepadamu seorang anak laki-laki yang suci.”  (QS Maryam ayat 19).

Siti Maryam menjawab, “Bagaimana mungkin aku mempunyai anak laki-laki, padahal tidak pernah ada orang (laki-laki) menyentuhku dan aku bukan seorang penzina.” (QS Maryam ayat 20).

Kemudian malaikat Jibril berkata, “Demikianlah.” Tuhanmu berfirman, “Hal itu mudah bagi-Ku, dan agar Kami menjadikannya suatu tanda (kebesaran Allah) bagi manusia sebagai rahmat dari Kami, dan hal itu adalah suatu urusan yang (sudah) diputuskan.” (QS Maryam ayat 21).

Khawatir dia tak akan bisa menjaga kehamilannya sementara mengurus dirinya sendiripun dia tak sanggiup. Namun dengan keimanannya Maryam menerima itu semua. Hamil roh suci lalu pergi ke satu tempat untuk mengasingkan diri. Ada saat dia begitu lemah dan merasa alangkah begitu baik jika dia mati saja. Namun Tuhan, lewat Malaikat Jibril, kembali memperlihatkan kebesaranNYA. Pohon Qurma itu menggugurkan buah-buahnya yang telah masak hanya dari gesekan punggung seorang wanita hamil yang lemah. Kemudian dibuatkan air sungai yang mengalir di bawah kakinya. Tuhan berpesan kepada malaikat Jibril untuk Maryam, agar dia bersenang-senanglah, makan minum sesukanya, dan Tuhan menjaganya lewat rezeki yang tak disangkanya.

Bayi yang bisa bicara.
Kemudian tiba saat kelahiran itu. Maryam dilarang Tuhan bicara. Apapun yang orang lain lakukan, cemoohan, cercaan, hinaan, Maryam berjalan menuju Kuil dengan bayi laki-laki dalam gendongannya. Tentu semua heboh dan geger. Bahwa seorang Maryam telah melakukan perbuatan tercela. Sepanjang jalan, banyak orang meneriakinya, mencemoohnya sebagai perempuan hina yang berdosa. Hingga sampailah Maryam di anak tangga menuju Kuil, dimana para pendeta sudah  berdiri dengan jubah-jubah kebesaran nan indah dan  tongkat-tongkat mereka  siap menghakimi. Lalu mulailah mereka bicara dengan nada keras didengar seisi kota bahwa, apakah yang telah Maryam lakukan? Menghilang lalu tiba-tiba pulang  membawa bayi. Siapakah gerangan pria yang sudah menghamilinya?

Teriakan dan jeritan menghujat dan mencemooh. Hinaan dan cercaan. Namun Maryam tawaqal, dia sama sekali tak menjawab pertanyaan-pertanyaa itu karena Tuhan memerintahkannya untuk puasa berbicara. Puncaknya, bayi yang digendongnya yang menjawab. Siapa dia dan untuk apa dia dilahirkan.

Semua ada dalam Al Qu’ran Surat Maryam. Terlalu banyak jika saya rangkum semuanya. Saya hanya merasa bahwa betapa kecil kesulitan hidup saya dibanding Bunda Maria atau Siti Maryam yang hebat ini. Betapa hidup yang dilaluinya adalah tak mudah dan penuh cobaan tak terkira. Namun beliau tabah dalam menjalaninya. Kemudian saya sembahyang menurut keyakinan saya dalam rumah yang diyakini sebagai rumah terakhir bunda Maria atau Siti Maryam ini. Rumah mungil yang hanya memilik tiga ruangan terbuat dari batu. Dengan rosario dan patung Bunda Maria yang besar. Tentu lukisan nya dan sebuah pengakuan yang seperti validasi dari Roma berbingkai menghias salah satu dindingnya. Semua agama boleh berdoa di sini. Ada disediakan hijab dan kain penutup semacam mukena bagi muslim yang ingin berdoa.

Ada dinding tempat orang-orang menuliskan doa, keinginan dan harapan. Konon, jika kita berdoa di sana, lalu menuliskan harapan dan keinginan kita, maka akan terkabul. Wallahualam. Jangan lupa juga membawa botol kosong, karena di sana banyak keran-keran air yang bersumber dari mata air suci yang mengalir jernih hingga hari ini.

Sungguh, Siti Maryam adalah sosok yang sangat menginspirasi saya. Sosok yang berani, teguh hati, mulia. Sosok yang penuh keikhlasan dan keimanan. Bagaimana sejak dalam kandungan sudah ditinggal ayah, lalu ditinggal ibunda kala usia 7 tahun. Hamil di usia 16 tahun. Dihina sepanjang hayat mungkin? Lalu menyaksikan anaknya pun dihina seumur hidup bahkan disiksa jelang Rohnya diangkat ke surga. Ah, yang pasti, Umat Muslim biasa membaca surat Maryam jika ingin mengandung ataupun ketika sudah mengandung. Doa dan harapan terindah ada dalam makna dalam surat Maryam. Demikian, semoga bermanfaat. Salam.
(Cikeu Bidadewi)

Leave a Comment