Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Puisi » Puisi-Puisi Eddy Pranata PNP
    Puisi

    Puisi-Puisi Eddy Pranata PNP

    20 November 2022Tidak ada komentar6 Mins Read4 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    DI PINGGANG BUKIT WANA SUTA

    di pinggang bukit wana suta, seorang penakik getah pinus
    matanya berkaca-kaca, hatinya berdetak bersuara
    : “alangkah damai burung-burung di hutan ini
    terbang dari satu pohon ke lain pohon, hinggap
    di satu ranting ke lain ranting– membuat sarang

    kawin, beranak-pinak lalu mati; tetapi– apakah
    burung-burung pernah punya keinginan?
    misalnya; menjelma manusia? tepatnya menjelma
    penyair? akh, penyair– yang bernapas di jalan
    paling sunyi, berumah dalam laut ketulusan-keikhlasan
    apa adanya dan nyaris selalu bergulingan di jalan papa”

    lihatlah, sepasang burung terbang dari pucuk pohon pinus
    merendah ke aliran air yang membelah bukit, mandi-mandi
    bersejingkat di atas batu-batu lalu terbang ke rimbun
    pohon pinus– angin deras berdesau-desau, o, langit
    biru beludru, ciah!

    penakik getah itu matanya berkaca-kaca
    seekor burung terbang ke arah tenggara
    meninggalkan kenangan dan sejarah kecil
    di hutan wana suta, seekor burung lainnya
    hatinya kaca retak juga akhirnya

    : “cahaya cinta tidak harus bersatu!”

    dan hidup kadang serupa arus sungai mengalir
    dari hulu ke hilir dengan riak yang ngilu!

    Jaspinka, 2022

    KABUT PINUS

    kabut hutan pinus; menyesak dada
    adakah sisa waktu untuk sebuah perayaan
    yang sederhana dan mendebarkan
    serupa tarian angsa di atas kolam cahaya
    atau kupu-kupu berdendang di rumah atas bukit

    perjalanan tak berujung
    mencari kata-kata
    dalam kabut
    yang senantiasa turun di hutan pinus

    berhari-hari

    jiwa-jiwa merekah serupa kerang
    ingin lepas dari cangkangnya
    perih rindu

    : “tak ingin engkau tersesat di jalan lurus!”

    kabut pinus; jalan curam di kanan kiri jurang
    harus dipahami, harus dilewati

    aku memeluk pelangi yang jatuh
    membelah garis nasib.

    Jaspinka, 2022

    JALAN LAUT

    hanya ada satu kenangan, debur laut
    membentur tebing-tebing karang

    pertemuan; angin dengan suara
    pagi dengan matahari
    puisi dengan imaji

    lalu kembali ke jalan laut

    tak ada yang rahasia
    sampan cahaya
    membelah-belah selat
    menyisir tebing karang

    : “peluklah sedalam-dalamnya, cium juga!”

    sampan itu merapat ke ceruk pantai
    meninggalkan seluruh kenangan

    di ranting pohon bakau
    sepasang camar bersuka cita.

    Jaspinka,  2022

    SUNGAI WAKTU

    dan ia mengalir menembus ruang dan batu-batu sepanjang kali
    dengan gemericik, arus deras, bening kasihnya

    sungai waktu, mengalir dari rahim suci penyair
    ke jantung para musafir
    ke orang-orang yang setia pada matahari
    ke orang-orang yang menangis atas nama puisi

    : “langit sering tiba-tiba mendung; tetapi sungai waktu
    mengalir dari hulu ke hilir, dari sunyi ke perih
    nyaris tanpa gemericik!”

    tak ada suara jiwa dirisaukan; perih dan sunyi
    hingga ke muara
    hingga ke luas laut

    kepada sungai waktu aku dan engkau
    terjun dan hanyut berpeluk puisi
    amatlah memesona.

    Jaspinka, 2022

    SUNGAI LANGIT

    ia menatap sungai serupa langit yang keruh
    mengalir deras di bawah jembatan paling sunyi
    jembatan terbuat dari butir edelweis yang terserak
    di sepanjang bukit dan lembah berbatu

    sesekali ia ingin terjun ke sungai itu

    : “sungai langit; hanyutkan aku dalam arusmu
    arus yang deras dan terkadang merenggut nyali
    kukira debur itu tak ada lagi dalam sungai langit
    tetapi kenapa kenangan itu mengapung
    penuh daya kejut dan mengiris-iris jembatan paling sunyi?”

    ia ingin mengalah dan mengalah
    ia ingin selalu menatap sungai langit itu mengalir jernih
    membentur ruang hati-jiwa yang tulus

    sungai langit, mengalirlah hingga hilir
    hingga ke jantung penyair.

    Jaspinka, 2022

    SAMPAN PUING

    biarkan
    aku menyisir tebing karang
    membelah selat
    sendiri

    dengan sampan yang terbuat
    dari puing
    reruntuhan rumah kayu di atas bukit

    akan kulumuri pendayung
    dengan keringat kata-kata
    tentang kekalahan
    kasih tak sampai
    ketulusan

    hidup paling sederhana

    menghitung-hitung buih
    merakit-rakit debur

    sampun terus meluncur

    : apakah sendiri itu benar nikmat?

    ke ceruk-ceruk karang
    sampan menyelinap
    menghela-hela ranting sunyi

    engkau sekarang di mana?

    mungkin di atas kereta menuju
    kota jauh
    atau di ngarai
    menebar serbuk edelweis
    atau di hutan pinus
    menakik getah sajak

    o, biarkan
    aku menyisir tebing karang
    membelah selat
    sendiri

    sendiri

    tanpa selimut rindu
    tanpa jerat waktu

    : “tanpa air mata!”

    Jaspinka, 2022

    BERPERAHU

    engkau telah berperahu
    di atas lautku
    dengan jerit indah penuh suka cita
    menulis ratusan sajak
    sorot mata berbinar-binar

    sedendang-dendang layar
    serunai + salung mengiring
    melayari ruang + waktu

    tapi tiba-tiba angin deras menerpa

    : “perih itu biasa, seluka apa
    sehina apa!”
    suara itu—menggema

    ingin tak ada tangis
    ingin tak ada sesal

    ke tanah tepi
    ke jiwa karang

    tak peduli pisau sunyi
    mengiris-iris perahu
    layar + pendayung

    tangan kasih dibentangkan

    sayap camar patah sebelah
    tak lagi bisa mengepak

    di atas perahu
    di gemuruh lautku
    perih itu berpusar
    hingga senja
    dan engkau terus berperahu
    seraya memeluk baris-baris sajak.

    Jaspinka, 2022

    CAHAYA DI ATAS JEMBATAN SITI NURBAYA

    di atas sungai batang arau
    dari kota tua ke taman siti nurbaya
    di gunung padang
    langit bersih semburat
    memantul cahaya
    hening di dalam sukma

    dari sebuah legenda
    dari bukit kecil
    ke sepanjang pantai

    : “mari, kita kunyah jagung bakar, pisang bakar,
    telur kura-kura, juga sate padang!”

    o, kasih tak sampai
    menyihir ke masa lalu
    perjodohan
    datuk maringgih – siti nurbaya
    yang kandas

    : “hati dan jiwa tak bisa berdusta!”

    perahu-perahu sandar
    perahu-perahu berlayar

    aku mau terbang ke jembatan itu
    menuliskan baris-baris puisi abadi
    walau
    aku bukan marah rusli
    bukan pula datuk maringgih
    bukan pula syamsul bahri

    : “aku anak rantau yang selalu merindukan
    gulai ikan kakap masakan ibu!”

    akan kupintal semburat cahaya
    dari arus batang arau
    dari langit biru bersih gunung padang
    dari sudut-sudut ranah minang
    menjadi temali kasih
    membuhul kesetiaan pada keagungan-Mu.

    Jaspinka, 2022

    AIR MATA KARANG

    andai aku laut
    kutampung seluruh air mata
    yang tetes dari mata karang

    laut maha kasih

    yang luas
    tak ada kabut
    tak ada jurang dan sekat

    air mata karang
    yang sunyi
    dan perih

    ketulusan
    tak mudah ditebus
    hanya dengan baris-baris puisi

    tetapi waktu
    bisa serupa sembilu
    mengiris air mata itu

    pada malam
    pada siang
    berpisau-pisau rindu

    dan ini sebidang dada
    menyimpan jantung-hati
    berdarah-darah puisi

    adakah sunyi serupa lesung pipi barbie?

    peluklah sedalam-dalamnya
    sepuas-puasnya
    secabik kenangan

    : “andai aku laut
    kutampung seluruh air mata
    yang tetes dari mata karang!”

    dengan debur cahaya.

    Jaspinka, 2022

    Eddy Pranata PNP, adalah founder of Jaspinka— Jaringan Sastra Pinggir Kali, Cirebah, Banyumas Barat, Indonesia. Lahir 31 Agustus 1963 di Padang Panjang, Sumatera Barat. Tahun 1994 mengikuti pertemuan penyair se Indonesia di Padang. Tahun 1996 mengikuti Mimbar Penyair Abad 21 di Jakarta. Tahun 1997 mengikut pertemuan Sastrawan Nusantara di Kayutanam, Indonesia. Tahun 1998 mengikuti pertemuan penyair se-Sumatera di Bengkulu. Tahun 1999 mengikuti pertemuan Sastrawan Nusantara di Johor Bahru, Malaysia. Tahun 2017 mengikuti Krakatau Award di Bandarlampung. Tahun 2017, mengikuti Musyawarah Nasoional Sastrawan Indonesia di Jakarta. Juara 3 Lomba Cipta Puisi FB Hari Puisi Indonesia 2020, meraih anugerah Puisi Umum Terbaik Lomba Cipta Puisi tahun 2019 yang diselenggarakan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI bekerja sama dengan Yayasan Hari Puisi Indonesia. Juara 1 Lomba Cipta Puisi Sabana Pustaka tahun 2016, Nomine Penghargaan Sastra Litera tahun 2017, 2018, 2019, 2021.  Nomine Krakatau Award 2017 dan 2019. Buku kumpulan puisi tunggalnya: Improvisasi Sunyi (1997), Sajak-sajak Perih Berhamburan di Udara (2012), Bila Jasadku Kaumasukkan ke Liang Kubur (2015), Ombak Menjilat Runcing Karang (2016), Abadi dalam Puisi (2017), Jejak Matahari Ombak Cahaya (2019),  Tembilang (2021).

    Penyair Banyumas penyair indonesia penyair nusantara
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleKilas Balik Kisah Adinda
    Next Article Ungkapan Bahasa Indonesia ‘Jin Buang Anak’ Hadir di PDS HB Jassin

    Postingan Terkait

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 2025

    Puisi-Puisi Amanda Amalia Putri

    30 November 2025

    Berbagi Rasa Proses Kreatif Menulis Buku

    18 November 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Hak Tubuh Istirahat

    26 Januari 20268 Views

    Zaman Apokaliptik

    4 Januari 202688 Views

    Kisah Seorang Polisi di Republik Mimpi

    21 Desember 202541 Views

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 202545 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (206)
    • Bisnis (7)
    • Buku (83)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (78)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (188)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (143)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.