Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Kritik Sastra » Poe Tanpa Huruf T
    Kritik Sastra

    Poe Tanpa Huruf T

    1 Februari 2022Tidak ada komentar8 Mins Read67 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Duduk di bawah pohon
    memandang perbukitan
    awan jalan seperti marmut

    Kuingin naik perbukitan
    namun terjal dan banyak lenggok
    maka sebaiknya turun ke lembah
    mengerat seperti marmut
    mencari akar rerumputan

    Itulah puisi pembuka dalam buku ‘Poe’ karya Adri Darmadji Woko, seorang penyair yang hampir setiap tahun menerbitkan buku. Ia sangat produktif menulis puisi, bahkan bukan hanya menulis, ia pun rajin hadir di setiap acara sastra di berbagai daerah. Pada tahun 2021, buku puisi ‘Poe’ masuk dalam jajaran lima buku puisi pilihan oleh Yayasan Hari Puisi dalam ajang perayaan Hari Puisi Indonesia ke-9 yang diselenggarakan di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki.

    Adri, seorang yang ramah dan kutu buku, itu sepintas yang saya tahu. Namun, Adri telah dikenal sebagai penyair jauh di zaman saya baru mengenal puisi. Biasaya, penyair pemula seperti saya sering kali tergoda pada realitas; kenyataan sosial, penindasan, kebodohan, politik, keindahan-keindahan yang sering kali dilihat setiap hari. Penyair pemula terkadang menjadi seorang fotographer; menyaksikan cewek cantik, bikin puisi, melihat indah alam, bikin puisi. Menonton diskusi atau teater, bikin puisi, dan lain-lain. Biasaya juga penyair pemula terlalu asyik denga kata-kata, tak jarang mereka melakukan eksplorasi bahasa, menyatakan diri sebagai penyair dan penemu jenis puisi baru, misal; puisi digital lah, puisi sains lah, puisi puzzle lah, puisi esai lah, puisi kuburan lah dan entah apalagi. Tentu saja itu sah dan hak warga negara penyair. Tetapi, bijak juga jika belajar pada Adri Darmadji Woko yang hampir separuh usianya bercengkrama dengan puisi tanpa terganggu dengan riuh suasana dunia sastra.

    Adri sudah tidak terganggu dengan hal-hal itu di masa senjanya sebagai penyair, ia terus menikmati realitas kehidupan ini sebagai inspirasi yang dapat digali sampai tuntas, hingga tercipta puisi. Saya menemukan nuansa itu pada puisi ‘Pelataran’.

    Kucari kamu di pelataran stasiun
    ke sudut segala pekat
    segala bernama sunyi
    ke langit-langit dan sekat
    berlumut waktu
    rel memanjang bersilang
    di berbagai tuju.

    Kucari di antara gedung berimpitan
    gang paling perih di urat nadi
    barangkali ketemu sesaat
    berjumpa dan berpisah
    di keheningan paling ratap

    Senja tiba berpaling
    di antara bayang memanjang
    liku-liku di urat nadi
    tiada ke mana-mana

    Aku di sini
    bersama saat-saat
    yang lewat

    Jika kita maknai puisi itu, akan menemukan dua titik tuju, pertama ia (penyair) sedang mengembara untuk menemukan Tuhan, kebenaran atau sesuatu yang lain yang bias. Kedua, ia tengah mengenang masa-masa lalu dengan seseorang dan kemudian kehilangannya sehingga ia berusaha mencari kembali rasa indah, bahagia itu. Inilah biasanya titik fokus seorang penyair, menciptakan puisi tidak sekadar mengikrarkan diri sebagai penemu jenis puisi atau eksplorasi bahasa, tetapi menemukan makna dalam puisinya sendiri.

    Ia (penyair) dapat membidik segala hal untuk dihidupkan melalui kata-kata agar tercapai suatu hasrat; menggali kebenaran, menanamkan nilai-nilai dengan cara yang estetik. Meskipun itu jarang ditemukan di puisi-puisi Adri pada buku ini, dalam pergulatannya dan keasyikannya berpuisi, Adri tidak terganggu dengan bahasa puitik, ritme, rima yang kerap kali masih diperdebatkan oleh berbagai kalangan. Ia berpuisi seperti masuk ke dalam jalan bebas hambatan, puisi-puisinya mengalir seiring realitas yang berjalan di sekitarnya.

    Puisi-puisinya hampir berbicara wilayah pergulatan batin tentang ketuhanan, pencarian jati diri, rekaman masa lalu. Seperti pada puisi ‘Bangku’ yang meninterprestasikan sebuah kenangan.

    Membikin gambar
    di angan tangan
    mengalir waktu

    Serasa serbuk akasia
    semerbak wangi atau apak
    bertebaran di bangku

    Menetes dari sela jari
    melarut dalam cuka
     
    Ingatan terpendam
    di bangku membatu!

    Dengan baris-baris puisi di atas saya dapat menangkap apa yang dirasakan penyair. Ada suatu peristiwa yang jauh ke belakang di bangku tersebut. Ide menulis puisi semacam ini memang kerap kali ditemukan pada puisi karya penyair-penyair lainya, ini membuktikan bahwa pengalaman penyair berperan serta dalam membangun pondasi puisi. Hal itu pun terasa pada puisi ‘Terpancar Samar-Samar Sebuah Kota’.

    Sebuah kota
    terpancar samar-samar
    yang menyisih dari pembicaraan
    tetapi selalu menjadikan kenang
    tiba-tiba muncul dalam penglihatan
    aku dari sana tiba, katanya.

    Dan pada suatu hari nanti
    aku ‘kan meloncat ke sana lagi
    untuk mengenang kembali
    tempo doeloe terus berlalu.

    Di sebuah kota
    Terbesit semua yang kucari sia-sia
    sampai juga jejakmu
    terhapus riwis menyeru
    berkepanjangan

    Berbeda dengan puisi ‘Wahdatul Wujud’ yang secara jelas terbaca untuk membawa pembaca pada interaksi ketuhanan, pada wilayah ini masuk dalam konteks Islam.

                Siapa itu?
                   Aku
                Aku siapa?
                   Kamu
                Kamu siapa?
                   Aku

                Siapa itu?
                   Siti Jenar
                Siti Jenar siapa?
                   Tuhan

                Di mana Siti Jenar
                   Ke luar

                Di mana Tuhan?
                   Ke luar

                Siapa di dalam?
                   Aku
                Siapa aku?
                  Tuhan
                Siapa Tuhan
                  Siti Jenar

                Siapa itu?
                    Aku dan Tuhan
                Ada di luar
                  Ada di dalam!

    Membaca buku puisi ‘Poe’ ini memang terasa seperti sedang berpergian untuk mencari sesuatu, terkadang Adri berbicara tentang apa yang ia lihat, rasa dan alami pada perjalanannya. Namun, ia pun terkadang menulis puisi yang penuh dengan nuansa renungan. Ya, saya seperti sedang berada di dalam kereta yang berjalan ke suatu tempat, duduk dengan tumpukan buku-buku, sambil sesekali melihat ke luar jendela kereta. Itulah nuansa membaca buku puisi yang ditulis oleh Adri.

    Bagi Adri, kata-kata bukanlah barang baru, ia telah sangat akrab dengan bahasa dan juga ia mengenal lebih jauh tentang kedalaman konsepsi hidupnya, dunianya. Maka, tidak heran jika puisi-puisinya matang dalam bahasa dan memiliki makna yang sangat filosofis. Itu pun terasa pada puisi ‘Palang Kayu’ yang dapat ditafsirkan sebagai represetasi kehidupan dalam berketuhanan yang berbeda dengan puisi di atas. Puisi ini memiliki nuansa Kristen.

    Aku mengenal pohon penuh berkah
    Zaitun namanya.
    Aku mengenal ranting-rantingnya
    Aku mengenal palang kayu
    yang terbuat dari batang
    Aku mengenal kelokannya

    Di palang itu terdapat nama yang begitu kukenal
    Di bawah itu aku merunduk akar berawal
    dan membaca ada tertera di sana

    Maka lihatlah,
    di tanah aku berdarah-darah!

    Kedua puisi itu, yaitu ‘Wahdatul Wujud’ dan ‘Palang Kayu’ sudah pasti memiliki makna dan tujuan yang berbeda. Di sini, saya menganggap Adri hanya mengambil hikmah untuk direnungkan bersama. Tawaran perenungan seperti ini kerap kali dimunculkan oleh penyair kepada pembaca, untuk menanamkan nilai-nilai kebenaran pada hakikatnya.

    Membaca puisi, sesungguhnya adalah usaha dalam melakukan dialog personal yang kreatif terhadap karyanya, sekaligus penyairnya. Tentu saja, setiap orang mampu melakukan sesuai tingkat kepekaan, intelektual dan pengalaman. Adri pun melakukan itu terhadap karya orang lain, sebab sejatinya memang seorang penyair bukan seorang pengkhayal, atau tukang gombal yang sering dilakukan di acara-acara televisi; berpuisi dengan menggombal, atau di media sosial, menulis status puisi.

    Ada satu puisi Adri yang mencerminkan dirinya sebagai pembaca karya sastra, dan puisi ini pun dijadikan judul buku puisinya kali ini, yaitu ‘Poe’ diperuntukan kepada Edgar Allan Poe.

    mengetuk setiap jengkal tembok
    dengan palu gergajimu
    dengan alat-alat tukang kayu
    seperti pinokio di bengkel kerja

    barangkali cuma kebohongan
    atau sekadar ilusi dan halusinasi
    mengorek tembok kusam
    pakai mainan masa kanak

    tetapi dengarlah suara-suara
    memantul dari tembok kota
    dari sungai yang mengalirkan lumpur
    dari puri dan candi bahari

    dari pasar yang mendengung
    seperti kerumunan lebah
    antara pohon beringin dan tanjung
    sepanjang tahun-tahun berjalan ke muka

    semakin jauh suara-suara
    semakin dekat suara-suara
    membikin tegak pepohonan
    mengeluarkan zat asam

    dengarlah suara-suara
    yang berteriak dalam dinding waktu
    di bawah arus sejarah
    yang tak henti-henti bersuara riuh

    Lalu, siapakah sosok Edgar Allan Poe, kiranya pembaca bisa menemukan tokoh itu dengan sekali klik di kolom pencarian google. Akan tetapi, di sini Adri menemukan suatu kekaguman, semangat dan inspirasi dari Edgar Allan Poe sehingga ia seolah ingin mengenalkan kepada pembaca-pembacanya. Atau sebaliknya, ia sendiri mendapatkan makna pada karya-karya Edgar. Adri adalah pembaca yang serius yang selalu berusaha mendapatkan makna dari bacaannya, sikap yang sejatinya juga dimiliki oleh para penyair. Namun bisa saja Adri memberikan makna sebanyk-banyaknya pada puisi tersebut, sebab puisi yang baik merangsang kekayaan makna yang tak pernah habis kepada pembacanya, bukan diberi makna oleh para pembacanya.

    Ini tersirat juga pada puisi ‘Selamat Datang, Puisi, Selamat Pergi, Puisi.’yang memberikan makna kepada saya sebagai pembaca tentang perjalanan mengarungi lautan kata, peristiwa di dalam kehidupan ini untuk menemukan puisi, bisa jadi itu pun terasa pada pembaca yang lain.

    Selamat datang, puisi!
    Sementara aku akan istirah berbantal ilusi
    yang enggan bepergian lagi
    Datanglah dengan hati suka
    mumpung aku tak juga menebak
    apa yang kau hendak
    kata-kata liar tak terkendali
    dalam otak kananku ini
    Cuma doakan aku tidur
    mendapat mimpi dalam mimpi
    seperti sungai, yang bertumbuk di muara
    seperti pelangi datang sebentar bercahaya
    seperti sketsa siap dibentuk

    Aku terjaga
    membuka jendela
    dan memandang gorden
    mau dibuka atau ditutup kembali
    seperti gadis malu-malu di balik kain
    tersipu-sipu menangkap isyarat
    Selamat datang, puisi
    engkau pun kini ada berada
    Aku tidur sementara
    esok engkau pergi
    dan aku menyesal tidak menggamitmu tadi
    Selamat pergi, puisi
    ke mana lagi engkau ‘kan kucari
    di antara lipatan kain atau selimut
    yang memutih putih melangit

    Dikau ada di antara tiada, bukan?

    Demikianlah, saya membaca puisi-puisi Adri Darmadji Woko satu di antara penyair di Indonesia yang masih eksis menulis puisi di usia yang sudah tidak muda lagi. Ia masih kreatif, seolah memberikan isyarat kepada saya yang muda untuk tidak menyerah untuk terus berproses. Adri, telah menunjukkan keseriusannya memilih jalan puisi walaupun jika kita baca biodatanya, ia sempat belajar hukum di Universitas Jakarta. Seluruh puisi-puisi pada buku ini memiliki keberagaman tema, seolah memberikan bukti bahwa dalam kehidupannya, puisi adalah kawan yang paling setia menemani. Dan, seperti judul buku puisinya ‘Poe’, bisa jadi Edgar Allan Poe tercermin di dirinya. Adri adalah seorang penyair; Poe tanpa huruf T.

    Januari 2022

    Nana Sastrawan, seorang penulis yang senang membaca puisi.

    penyair indonesia penyair nusantara Poet
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleHidup adalah… Belajar, Belajar dan Belajar
    Next Article Mbah Samin Ngoceh (6)

    Postingan Terkait

    Diksi Unik di Puisi Emha Ainun Nadjib “Doa Terampun Ampun”

    12 Desember 2025

    Burung dan Masjid—Dunia Alam dan Dunia Ibadah

    9 Desember 2025

    Puisi yang Segar untuk Mesin-Mesin Lapar

    3 Desember 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Hak Tubuh Istirahat

    26 Januari 20268 Views

    Zaman Apokaliptik

    4 Januari 202688 Views

    Kisah Seorang Polisi di Republik Mimpi

    21 Desember 202541 Views

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 202545 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (206)
    • Bisnis (7)
    • Buku (83)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (78)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (188)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (143)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.