Pendidikan

Memantik Literasi Guru

literasi guru
Jangan Lupa Di Rate Ya!
Tinggal Pilih Bintang Saja!

MEMANTIK LITERASI GURU

Maman S. Mahayana

Ujung tombak terdepan dunia literasinya sesungguhnya para guru. Merekalah yang berhadapan langsung dengan siswa sebagai sasaran utama arena literasi. Pembiasaan membaca, menulis, dan menumbuhkan kecintaan pada jenis literasi apa  pun, sumber dan muaranya tak lain adalah dunia pendidikan. Jadi, arena pertarungannya terjadi di sekolah. Guru yang menciptakan habitus dan para murid yang kelak mengembangbiakkannya. Oleh karena itu, para guru perlu dibekali senjata yang dapat menanamkan, menumbuhkan, dan menyemarakkan kehidupan literasi.

Basis penanaman habitus itu idealnya dilakukan sejak anak usia dini. Tetapi mengingat lingkungan keluarga pada sebagian besar masyarakat kita belum punya kesadaran literat, maka segalanya diserahkan pada guru di sekolah. Itulah sebabnya, pendidikan di sekolah dasar, mesti menjadi basis dan titik berangkat dimulainya pembiasaan literasi. Berdasarkan pemikiran itu, pelatihan menulis bagi guru sekolah dasar (SD) menempati posisi strategis.

Dengan difasilitasi Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI), Maman S. Mahayana, dosen FIB-UI, dibantu Bastian Zulyeno, dosen FIB-UI, Arif Dermawan Hasibuan (Mahasiswa S-2 Ilmu Politik FISIP UI, yang juga wartawan), dan Adela Ayu Dwinda, Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB-UI, menyelenggarakan pelatihan menulis bagi guru-guru SD se-Kecamatan Bojonggede.

Diikuti 33 peserta, pelatihan dilakukan secara daring melalui zoom meeting dalam lima kali pertemuan setiap hari Minggu, 27 September—25 Oktober 2020. Dengan menekankan pada keterampilan, maka pada setiap akhir pertemuan, peserta diberi tugas menulis. Materinya sengaja dipilih dengan mempertimbangkan tingkat kemudahan dan kesulitan. Materi menulis surat, misalnya, mengawali tugas mandiri pelatihan ini mengingat, menulis surat tentulah mudah dikerjakan para guru. Tugas kelima, dengan tingkat kesulitan yang relatif tinggi, peserta diminta menyusun cerita rakyat atau mitos yang berkembang di sekitar wilayah Bojonggede.


Jika mencermati semua tugas para guru, tampak benar, keterampilan menulis mereka, sangat memprihatinkan. Faktor utamanya, ada anggapan, bahwa menulis sama dengan berbicara. Akibatnya, penulisan tanda baca, ejaan, dan kalimat, berantakan. Kesalahan lain terjadi akibat kebiasaan menulis model sms atau pesan di WhatsApp tidak dapat dihilangkan. Dapat dipahami jika dalam tulisan para guru itu, dari tugas 1 sampai tugas 4 itu,  kita menemukan begitu banyak singkatan dan salah ketik. Tidak ada satu pun tugas mereka yang bersih dari kesalahan.

Guna menumbuhkan kesadaran, bahwa menulis tidak sama dengan berbicara, sekalian sebagai usaha menanamkan pembiasaan menulis cermat, hati-hati, dan pentingnya koreksi, editing, dan membaca ulang tulisan sendiri (self correction), semua tugas para peserta didiskusikan setelah sebelumnya dikoreksi cermat dan diberi komentar. Bagian diskusi itulah yang membuka mata para peserta, bahwa selama ini mereka abai pada bahasa nasionalnya sendiri. Muncul kesadaran, betapa pentingnya memelihara dan mengembangkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Dari sana, mereka mulai membiasakan diri berhati-hati dan cermat dalam menulis, selalu memperhatikan Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia, dan tidak lalai membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia.

“Sebelum pelatihan, saya ragu, apakah saya bisa menulis?” begitu pengakuan Nuraini, Guru SD Kartika Sejahtera Tanjurhalang. “Tetapi, setelah pertemuan pertama dan kedua, keraguan itu hilang seketika. Kuncinya, keberanian menulis apa pun tanpa dibebani perasaan takut salah,” imbuhnya.

Berdasarkan pengakuan para peserta, pelatihan menulis itu memberi pengaruh positif pada sikap berbahasa. “Saya jadi lebih berhati-hati saat menulis. Juga mulai sering membuka kamus dan pedoman ejaan,” ujar Netty Patryana, Guru SDN Pabuaran.

Meskipun ketikutsertaan para guru dalam pelatihan ini di tengah kesibukan mengerjakan tugas-tugas sekolah, mereka tetap merasa senang, karena metode pembelajarannya sederhana: praktik dan diskusi. Isinya memberi motivasi dan tantangan. Arie Wijayantie, guru SDN Bojonggede 07 menambahkan, “Suasananya jadi menyenangkan, ketika instruktur menayangkan kalimat para peserta yang logikanya terbalik-balik, dan narasinya ngelantur ke mana-mana. Kalimat-kalimat itu jadiunya lucu!”

Materi pelatihan menulis bagi guru SD se-Bojonggede disusun sederhana. Menulis Surat, menceritakan pengalaman mengajar semasa pandemi, membuat profil sekolah, dan menyusun cerita rakyat. Berdasarkan tugas-tugas itu, tampak bahwa ada peningkatan kualitas tulisan, makin berkurangnya kesalahan teknis dan ejaan, dan adanya keberanian untuk membuat tulisan yang lebih lugas, judul-judul yang puitis, dan ungkapan yang lebih metaforis.

Kendala utama pelatihan melalui zoom meeting ini hanya pada jaringan internet yang tak stabil. Oleh karena itu, para peserta berharap, agar pelatihan menulis ini dapat dilakukan secara langsung. Semacam bengkel menulis bagi guru.

Leave a Comment