Pandemi membawa berkah setidaknya bagi kami yang kini punya banyak waktu bersama keluarga. Dulu, kami bolak-balik makan di luar. Jangankan ada acara special karena seringnya hanya untuk sarapan pagi pun kami membeli dari luar. Makan siang di luar, ngupi di luar, Janjian pertemuan bisnis¬† Reuni lah… bertemu kawan… seolah rumah hanya terminal atau tempat untuk tidur ketika malam. Lalu musim pandemi memaksa orang untuk tinggal di rumah. Syukurlah kami bisa mengambil hikmah dari semuanya. Terutama saya. Pandemi adalah seperti unjuk kebolehan kepada keluarga. Saya membuat sesuatu yang berbeda meski dari bahan yang sama. Karena bosan rasanya hanya menyantap ayam yang digoreng atau di-kuah santan. Dengan sedikit kesabaran dalam prosesnya tapi luar biasa hasilnya.

Contohnya masak ayam ala saya. Satu ekor ayam kampung di belah dua. Jangan putus. Lumuri dengan jeruk nipis dan garam. Biarkan. Ulek halus 10 cabe merah Keriting, 4 butir kemiri (sangrai), 8 bawang merah, 5 bawang putih. Tumis bumbu halus dengan 2 sendok makan minyak kelapa. Jika sudah harum,  tambahkan 65ml santan instan yang dilarutkan  100ml air matang. Ungkep ayam sekitar 15 menit. Kemudian jika airnya tinggal sedikit, panggang ayam di atas teflon atau panggangan. Lumuri dengan sisa bumbu yang ada dan campur dengan sesendok makan madu jika suka. Angkat ayam jika sudah mulai kecoklatan dan agak agak gosong terutama bagian sayap. Hias dengan aneka jenis sayuran atau sesuai selera. Sajikan dengan es jeruk yang kita peras sendiri.

Makan bersama di rumah namun rasanya mengalahkan restoran. Semua makanan di atas hanya dengan biaya 80 ribu rupiah. Bisa untuk 4 atau 5 orang. Bandingkan jika kita makan di restoran? Ini semua minimal 200ribu rupiah. He he he. Inilah salah satu hikmah yang saya dapat. Salam. (Cikeu Bidadewi)

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *