Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Pendidikan » Kur 267: Perjuangan Mendobrak Marjinalitas Sastra
    Pendidikan

    Kur 267: Perjuangan Mendobrak Marjinalitas Sastra

    7 Mei 2020Updated:8 Mei 2020Tidak ada komentar4 Mins Read24 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Puisi sebagai salah satu bentuk kesusastraan tertua di dunia. Kehadirannya telah melengkapi kebudayaan manusia, hampir di semua penjuru. Di tiap-tiap tempat, puisi bahkan mampu merupa dengan bentuk yang berbeda-beda.

    Di benua eropa, daratan china, arab bahkan di bumi nusantara ini, puisi mewujud dalam keunikan khasanah budaya manusianya.

    Kita mengenal ada syair, kwatrin, soneta, gurindam, kakawin hingga macapat.

    Epos atau wira carita, dan tutur petuah kebajikan, hingga ramalan sekalipun, banyak yang disampaikan dalam bentuk puisi. Syair Abu Nawas, Les Prophéties, Bharatayuddha, I La Galigo, Serat Centhini, dan Jangka Jayabaya adalah sedikit contoh untuk disebutkan.

    Tidak terkecuali kita mengenal pula yang disebut haiku. Puisi berpola 5, 7, dan 5 suara atau suku kata (morae) yang dipopulerkan antara lain oleh Matsuo Bashō, seorang samurai yang kemudian memilih jalan hidup menjadi seorang penyair.

    [iklan]

    Haiku, meski merupakan puisi pendek yang biasa ditulis dalam satu baris, namun di dalamnya terdapat kompleksitas, baik pemilihan diksi maupun makna. Haiku biasa menghadirkan dua ide yang berdampingan untuk ditautkan.

    Salah satu contoh haiku yang terkenal yang ditulis Matsuo Bashō adalah haiku “Katak” berikut:

    古池や / 蛙飛び込む / 水の音

    furu ike ya / kawazu tobi komu / mizu no oto

    kolam tua / katak melompat masuk / suara air

    Kur 267, Haiku dalam Bahasa Tegalan

    Tegal sebagai salah satu kota seni memang sejak lama telah menjadi kota yang sudah tidak asing lagi di peta kesenian, khususnya kesusasteraan Indonesia. Tegal yang telah melahirkan banyak sastrawan dan seniman berbakat dan menjadi persinggahan dari banyak sastrawan dan juga seniman Tanah Air. Sebut saja Emha Ainun Najib, Rendra dan Ebiet G Ade yang pernah akrab dengan kota Tegal. Pun hingga hari ini, kegiatan kesusastraan masih terus menggeliat dan bergelora di Tegal. Ide-ide kesusastraan terus saja tumbuh. Salah satunya adalah Kur 267.

    Kur 267 (baca: Kur Loro-Enem-Pitu) ialah sebuah genre estetika baru dalam persajakan Puisi Pendek Tegalan. Genre baru ini digulirkan oleh Lanang Setiawan beserta Dwi Ery Santoso dalam diskusi bersama Mohammad Ayyub dan lainnya di sebuah warung pada tanggal 2 Januari 2020.

    Secara etimologi Kur 267 berasal dari bahasa Tegalan yang artinya cuma atau hanya. Memiliki padanan kata Tegalan yakni mung atau gel.

    Penamaan 267 berasal dari jumlah suku kata untuk setiap baris/larik dalam Kur. Lebih jauh angka 267 dimaknai sebagai penanda Hari Kelahiran Sastra Tegalan yang selalu diperingati pada tiap tanggal 26 November.

    Adapun angka 7 dalam bahasa Tegalan dibaca “pitu”, dimaknai sebagai “pitulungan” (pertolongan). Dalam konsep yang lebih luas, tanggal 26 Novembar adalah pitulungan bagi kelangsungan masa depan bahasa Tegalan yang terpinggirkan untuk kemudian diperjuangkan dalam gerakan Sastra Tegalan yang selama seperempat abad diperjuangkan oleh Lanang Setiawan yang bergerak menekuni sastra lokal sejak dia melahirkan sajak “Tembangan Banyak” yang merupakan pengalihbahasaan puisi “Nyanyian Angsa” karya penyair Rendra ke dalam bahasa Tegalan pada tahun 1994.

    Pola Tuang Kur 267

    Kur 267 terdiri atas 3 baris. Baris ke 1 terdiri atas 2 suku kata berupa kata sifat/keadaan. Baris ke 2 terdiri atas 6 suku kata berupa kalimat yang menggambarkan peristiwa. Baris ke 3 terdiri atas 7 suku kata berupa kalimat yang menunjukkan sebuah penutup mengandung akibat sebagai konsekuensi dari hubungan kausalitas antara baris pertama dengan baris kedua. Atau bisa sebagai penegasan. Sebagaimana berlaku juga dalam Haiku.
    Contoh Kur 267 dapat disimak di bawah ini:

    PEGAT

    Berem
    Pegat ben taun
    Nyangga isin por nemen

    MOMOK

    Sérong
    Momok bebojoan
    Wilad mbangkana lara

    MONCÉR

    Begér
    Sajak lokal lair
    Tegal sangsaya moncér

    JANJI

    Nyatu
    Nyong kowen nyawiji
    Janji urip semati

    SETIA

    Jujur
    Tulus jero ati
    Ngucap janji setia

    Tiga Kur 267 yang pertama ditulis oleh Lanang Setiawan, sementara dua Kur 267 di bawahnya ditulis oleh Ria Candra Dewi.

    Dalam menuang kata pada Kur 267 tidak diperkenankan menggunakan kata sambung seperti kata nang, nganti, ne, sing, dan lain-lain.

    Kur 267, sebagaimana disebutkan Lanang Setiawan, “Laksana Musik Blues dan Matematika. Membuat Kur 267 itu antara Bait 1, 2 dan 3 seperti berdiri sendiri.”

    “Ya…. ibarat musik Jazz, tiap-tiap pemainnya, memainkan musiknya seolah berjalan sendiri-sendiri, tapi hakekatnya terjalin padu. Inilah genre sastra Tegalan yang indah laksana musik Jazz, sekaligus bermatematika,” pungkas Lanang. (DK)

    haiku indonesia komunitas negeri poci Komunitas sastra tegal Sastra tegalan
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous Article2000 Lebih Pasien Positif Corona Sembuh di Indonesia
    Next Article Rindu Sekolah, Siswi TK Menangis di Gerbang Sekolah

    Postingan Terkait

    Ketika Bahasa Tegal Hampir Padam, Sastra Tegalan Menyalakan Api

    2 Desember 2025

    Membaca Peta Jalan Pemikiran Gus Dur: Catatan dari Esai Republik Bumi di Surga

    31 Mei 2025

    Bahasa Indonesia sebagai Alat Komunikasi dan Persatuan Bangsa

    23 Oktober 2024
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Hak Tubuh Istirahat

    26 Januari 20268 Views

    Zaman Apokaliptik

    4 Januari 202688 Views

    Kisah Seorang Polisi di Republik Mimpi

    21 Desember 202541 Views

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 202545 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (206)
    • Bisnis (7)
    • Buku (83)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (78)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (188)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (143)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.