Oleh Aldi Anugrah Saputra
Mahasiswa Institut Studi Islam Fahmina
Di banyak masjid kecil di kampung-kampung, sering kita mendengar dua suara yang bersahutan: suara azan yang menggema dari pengeras suara, dan suara burung yang bercicit di sela-sela genting. Dua suara itu seolah berdialog—satu menyeru manusia agar mengingat Tuhan, satu lagi mengingatkan bahwa alam pun sedang berzikir.
Namun terkadang manusia merasa risih dengan suara yang lain itu. Ia menegur burung yang bersarang di kubah masjid, menganggap kotoran kecilnya menodai kesucian rumah Tuhan. Ia lupa, mungkin burung itu justru sedang mengajarkan tentang zikir yang tulus—yang tidak membutuhkan mikrofon, tidak butuh panggung, dan tidak menunggu jamaah.
Cerpen “Requiem Burung Gereja” karya Nana Sastrawan menghadirkan ironi itu dengan lembut. Seorang marbot tua menjaga dan merawat masjid dengan ada burung-burung gereja yang bersarang di langit-langitnya. Namun ketenangan itu terusik ketika sang kyai, simbol otoritas agama, memerintahkan agar burung-burung dijaring demi menyambut calon gubernur yang akan merenovasi masjid. Dari sinilah kisah sederhana itu menjelma menjadi tafsir yang luas tentang kesucian, kuasa, dan kehilangan makna spiritual di tengah kepentingan manusia.
Dalam khazanah keagamaan, burung kerap menjadi simbol kebebasan jiwa. Dalam al-quran, burung disebutkan bukan hanya sebagai makhluk, tetapi juga sebagai bagian dari kosmos zikir. “Tidakkah engkau (Nabi Muhammad) tahu bahwa sesungguhnya kepada Allahlah apa yang di langit dan di bumi dan burung-burung yang merentangkan sayapnya senantiasa bertasbih. Masing-masing sungguh telah mengetahui doa dan tasbihnya. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka lakukan.” (QS. An-Nur: 41).
Burung adalah metafora ruh yang bebas. Ia tidak terikat pada tanah, tidak pula menetap di langit. Ia berada di antara keduanya—seperti manusia yang berusaha menyeimbangkan dunia dan akhirat. Di sisi lain, masjid adalah tempat manusia menundukkan diri, ruang di mana kesucian dipusatkan. Ketika burung bersarang di masjid, sesungguhnya dua dunia itu bertemu: dunia alam dan dunia ibadah.
Tetapi, dalam cerpen itu, pertemuan suci ini justru dianggap gangguan. Burung-burung dijaring, sarangnya dibersihkan, dan ruang kesucian menjadi steril. Masjid kehilangan kehidupan alaminya; ia menjadi simbol yang megah tapi hampa. Di sinilah paradoks itu lahir: manusia berusaha menyambut Tuhan, tapi malah mengusir makhluk yang sedang memuji-Nya.
Di Mekkah, burung merpati hidup damai di sekitar Masjidil Haram. Para jamaah memberi makan, anak-anak tertawa ketika burung-burung itu beterbangan di atas kepala mereka. Tak ada yang merasa terganggu. Sebaliknya, burung-burung itu dianggap bagian dari kesucian. Tradisi ini bahkan mengingatkan pada kisah hijrah Nabi Muhammad ketika bersembunyi di Gua Tsur bersama Abu Bakar. Dalam peristiwa itu, Allah menurunkan pertolongan melalui makhluk-makhluk kecil yang tampak remeh di mata manusia. Di mulut gua, seekor laba-laba menenun jaringnya, dan dua ekor burung dara datang lalu bersarang serta bertelur di sana. Ketika para pengejar tiba dan melihat sarang laba-laba serta burung yang sedang mengerami telurnya, mereka mengira gua itu sudah lama tak dimasuki siapa pun. Dengan begitu, Nabi pun selamat dari bahaya atas pertolongan Allah.
Sebagaimana tercatat dalam Jurnal Mudarrisuna: Media Kajian Pendidikan Agama Islam (Vol. 11 No. 3, Juli–September 2021), kisah ini disebut sebagai salah satu mukjizat hijrah Nabi yang autentik:
“Tiga peristiwa itu sajalah mukjizat yang diceritakan dalam sejarah Islam yang autentik: sarang laba-laba, hinggapnya burung dara hutan dan tumbuhnya pohon, dan ketiga keajaiban ini setiap hari persamaannya selalu ada di muka bumi.” (Haekal, M.H., 2014, dikutip dalam Jurnal Mudarrisuna, DOI: https://dx.doi.org/10.22373/jm.v11i3.9465).
Kisah ini menegaskan bahwa kesucian tidak selalu hadir melalui kemegahan, melainkan lewat makhluk-makhluk kecil yang hidup sederhana. Burung dara dan laba-laba menjadi penjaga Nabi, seolah Tuhan ingin menunjukkan bahwa setiap ciptaan memiliki peran suci dalam menjaga kehidupan.
Dua realitas ini—Mekkah dan kampung kecil—memperlihatkan dua cara memahami kesucian: yang satu merangkul seluruh makhluk, yang lain menyingkirkan. Yang satu hidup dari cinta, yang lain dibangun dari citra.
Fenomena di Timur Tengah tersebut, berbeda dengan kisah di dalam cerpen “Requiem Burung Gereja”. Namun membaca cerpen ini ada hal yang bisa disadari bahwa di tangan marbot tua, agama adalah kesetiaan tanpa pamrih. Ia menyapu lantai masjid, menyalakan lampu, dan melihat berterbangan burung. Semua dilakukan dalam diam. Tetapi di tangan sang kyai, agama menjadi proyek; kesucian berubah menjadi citra yang harus dipertontonkan di hadapan pejabat.
Filsafat eksistensial menyebut hal ini sebagai benturan antara “agama yang hidup” dan “agama yang membeku.” Yang pertama tumbuh dari cinta dan kesadaran batin; yang kedua berasal dari formalitas dan kekuasaan. Dalam konteks ini, marbot menjadi simbol iman eksistensial, sedangkan sang kyai mewakili institusi agama yang terjebak dalam logika simbolik.
Heidegger menyebut kondisi ini sebagai Gestell—cara berpikir teknologis yang melihat segala sesuatu hanya sebagai alat. Masjid pun dijadikan proyek pembangunan, bukan ruang perenungan. Tuhan pun diposisikan sebagai objek seremonial, bukan sebagai kehadiran yang menggetarkan jiwa.
Burung memiliki makna filosofis yang dalam. Dalam tasawuf, burung sering dilihat sebagai simbol perjalanan ruh menuju Tuhan. Jalaluddin Rumi, dalam puisinya, menggambarkan burung sebagai jiwa yang rindu pulang ke sarang asalnya: ke hadirat Ilahi.
Sejalan dengan hal itu, menurut Arini Atrasana (2024):
“Burung dalam karya Rumi sering kali menggambarkan jiwa yang berusaha mencapai kebebasan dari belenggu dunia material. Burung menjadi simbol perjalanan spiritual, di mana jiwa terbang menuju Tuhan, menjauh dari segala keterikatan dan godaan duniawi. Seperti burung yang mencari kebebasan di angkasa, jiwa manusia juga mencari kebebasan dari ego dan keinginan duniawi untuk bersatu dengan Tuhan.” (Arini Atrasana, Simbolisme Transenden dalam Puisi Matsnawi pada Fihi Ma Fihi Karya Jalaluddin Rumi, 2024, hlm. 5).
Ketika burung itu dijaring, sesungguhnya yang dijaring adalah kebebasan spiritual manusia sendiri. Masjid yang menolak burung adalah simbol dari hati manusia yang menolak kehadiran spontanitas, kasih, dan kehidupan. Ia ingin kesucian yang steril, tapi kehilangan kesucian yang hidup.
Dalam kerangka hermeneutika Gadamer, tindakan marbot bisa dibaca sebagai “perlawanan terhadap penutupan makna.” Ia menjaga agar ruang tafsir terhadap kesucian tetap terbuka—bahwa kesucian tidak bisa dimonopoli oleh otoritas, melainkan harus terus ditafsirkan ulang melalui pengalaman kasih.
Dalam konteks ini, gagasan Annemarie Schimmel tentang fenomenologi Islam sejalan dengan pandangan Gadamer:
Seluruh ciptaan Tuhan adalah tanda yang menuntun manusia menuju kesadaran akan Yang Ilahi; kebesaran Allah dapat dipahami dari tanda-tanda yang ada di alam raya ini, karena setiap makhluk mengagungkan-Nya dengan caranya masing-masing. (Schimmel, Deciphering the Signs of God: A Phenomenological Approach to Islam, 1994).
Burung bukan hanya simbol spiritual, tapi juga bagian dari ekosistem. Dalam ekologi Islam, setiap makhluk memiliki hak untuk hidup dan beribadah. Rasulullah SAW melarang umatnya membunuh burung tanpa alasan yang sah, bahkan menyebut bahwa burung yang dibunuh sia-sia akan mengadu kepada Allah di hari kiamat.
Ketika manusia menolak burung di masjid, sesungguhnya ia sedang menolak bagian dari keseimbangan alam yang suci. Kesucian sejati bukan hanya tentang kebersihan fisik, tapi tentang keharmonisan antara manusia dan makhluk lain. Masjid, sebagai rumah Tuhan, seharusnya menjadi ruang ekologis—tempat semua kehidupan merasakan kedamaian.
Di balik kisah kecil cerpen ini bukan hanya persoalan manusia dan burung, tetapi tersembunyi kritik sosial yang tajam. Renovasi masjid untuk menyambut pejabat bukanlah hal asing di negeri ini. Kadang, agama dijadikan panggung legitimasi bagi kekuasaan. Kesucian disulap menjadi proyek politik; pahala dikonversi menjadi citra.
Kisah marbot dan burung adalah alegori tentang rakyat kecil yang menjaga kesucian di tengah permainan simbol oleh para elite. Marbot tidak berpidato, tidak menulis buku, tetapi tindakannya menjadi perlawanan sunyi terhadap hegemoni agama formal. Ia mengingatkan bahwa kesalehan sejati lahir dari laku, bukan dari lambang.
Kesucian sering dipahami sebagai “ketiadaan kotoran.” Padahal, dalam makna spiritual, kesucian adalah “kehadiran cinta.” Sebuah masjid bisa saja bersih tanpa debu, tapi kosong dari kasih. Sebaliknya, sarang burung yang sederhana bisa memantulkan cahaya kesucian karena di sana ada kehidupan yang berzikir.
Kita hidup di zaman di mana agama sering tampil megah secara simbolik, tapi kehilangan kehangatan eksistensialnya. Kubah menjulang, marmer mengilap, tapi suara burung dianggap gangguan. Padahal, bisa jadi, justru dikicauannya Tuhan sedang berbisik.
Di dalam cerpen ini juga mengindentifikasi bahwa marbot tidak memiliki jabatan, tidak tampil di televisi, tapi ia adalah penjaga kesucian yang sejati. Dalam diamnya, ia memeluk dunia yang sering diabaikan: burung, debu, kesunyian. Ia tidak menyapu hanya lantai, tapi juga membersihkan hati masjid dari ambisi manusia.
Dalam cerpen ini marbot menjadi simbol manusia yang berdiri di sisi kehidupan yang terlupakan. Ia tidak melawan dengan kata-kata, tapi dengan kesetiaan. Ia tidak mengutuk kyai atau gubernur, tapi tetap memberi makan burung setiap pagi, seolah berkata: “Kesucian sejati tidak perlu disetujui.”
Ada kalimat yang getir namun jujur: “Ketika masjid dijadikan proyek, Tuhan menjadi tamu di rumah-Nya sendiri.” Manusia sibuk membangun simbol, sementara ruh kesucian perlahan terusir.
Dalam filsafat agama, hal ini disebut alienasi spiritual—manusia terpisah dari makna terdalam imannya. Burung yang diusir itu bukan hanya hewan, tetapi lambang dari ruh yang terusir dari kehidupan keagamaan. Ketika kesucian kehilangan cinta, yang tersisa hanyalah struktur kosong.
Dari Requiem Burung Gereja hingga kisah burung di Gua Tsur, kita diajak merenung: di manakah Tuhan bersemayam? Di kubah yang berkilau, atau di hati marbot yang menolak membungkam kehidupan kecil?
Kesucian sejati bukan milik tempat, tapi milik kesadaran. Ia hidup dalam relasi yang penuh kasih antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Maka, ketika burung diusir demi proyek masjid, yang benar-benar terusir adalah Tuhan dari rumah-Nya sendiri.
Tapi selama masih ada marbot yang memberi makan burung, selama masih ada hati yang mendengar zikir dari sayap kecil yang berdebar, kesucian itu belum hilang—ia hanya bersembunyi, menunggu manusia menemukannya kembali.
