Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Puisi » Puisi-Puisi Jang Sukmanbrata
    Puisi

    Puisi-Puisi Jang Sukmanbrata

    30 Juni 2024Tidak ada komentar4 Mins Read9 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    RIBUAN DAUN GUGUR DI GUNUNG KAPUR

    ___ pemandangan di Nusa Antara

    saatnya nanti aku tidur,
    jendela tutup, dan tolong kalungkan rangkaian bunga
    ragu dilebur – dihempas angin debu
    ratusan ribu tahun kutempuh
    untuk turun ke dunia,
    melalui jalan setapak gunung kapur
    Jalanan ibukota, oh dirusak perusuh,
    debu kotanya berhamburan masuk ke rumah orang-orang miskin, pilu, bingung, malu menyebut Tuhan
    Separuh gunung-gunung hilang,
    penambangan batu tak terbendung
    Dibawahnya bukit kapur
    dibangun pusat peternakan kadal gurun; lucu lucu, penuh nyali hidup
    Cakrawala di tiap senja dibuat malu, bersimpuh di puncak rumpun bambu, bisu
    Senyum tulus menyalakan matamu:
    Bangkit, tanpa menghitung waktu,
    berburu sesuatu yang tak menentu:
    entah itu pikiran gugur

    Jika mendengkur, kuncilah pintu,
    nyalakanlah dupa gaharu,
    taruh sesajian di dekat kasur,
    harum bubur merah putihnya
    itu penghibur, mulya ditempa godaan, damba pun di kubur batu kapur,
    aku mengagumi tembakau Garut,
    aromanya betah bertahan di kabut
    berlepas diri mempercayai embun,
    “daun itu dapur semua air”, katamu, berkamar di akar, menyucikan ceruk

    Ah negeri ibu Cicih kerap didustai,
    meski lahir dari senyum dua musim,
    Sejarah bangsa dikawini politik, ingatan si tua dihamburkan angin,
    pelukannya – jahat; makanannya janji  Maut singgah di roda – roda mobil,
    punya si sepi lupa diri, lari sembunyi
    Waktu saja teguh menemani abadi,
    semua bunyi hilang di hati, terhenti.
    Tuhan mengutus Pemahat Sunyi :

    malamnya wangi
    tak lebih daun suji
    bayangan kaki
    sahabat baik mati
    maut mengusap alis

    /Gegerkalong, 1 Juni 2021

    PENCARIAN

    pencarian tak berujung,
    pelahan mata tertutup kabut,
    hujan menyertai tabuhan degung
    Dimanapun dingin itu pemburu ulung,
    tetesan pertamanya di daun,
    dicatat ke larik lagu
    tak terhitung meski tak gaduh gunung, sungai, laut, lembah
    dan jantung berdegup setuju mengakui dan mengangkat kolam
    sebagai gudang penyimpanan
    Yang Tak Berujung selalu tepat janjinya:
    di rahim bunda ketika tidur lelap.

    pencarian berujung di malam 14 bintang,
    sangat dirindukan nelayan handal,
    tenang mengayuh, ombak pun segan,
    membagi senyuman di pantai
    keadilan dimulai dari dedaunan

    Selamat Bung mendapat bintang!

    /Gunung Bentang, 2 Juni 2022

    GRADASI WARNA ITU JIWA

    di mayapada
    ditutup banyak warna
    jaga di terang

    jalanan senyap
    ribuan laron datang
    terkurung cahya

    siapa gelap
    nyalakan lampu teras
    wajah bacaan
    banyak cinta berwarna
    satunya jalan kita

    lalu berwarna
    kanvas diberi gambar
    lukisan alam
    Tuhan perkasa
    diri pohon berjalan

    di kediaman
    nampak jalan tikungan
    luruskan pandang
    hidup suara gema
    terkuak cakrawala

    karena Engkau
    warna lukisan ada
    garisan pulau
    ombak datang bertanya
    bahteramu mana kawan

    tak lebih cinta
    dimanapun tersayat
    malaman indah
    melembutlah hai jiwa
    aku ragamu sayang

    berderak dahan
    tanah sungai kerontang
    hutan di badan

    siapa tanya
    matahari jawabnya
    gelombang pasang

    ya sudah diam
    renungan tepi kota
    jalannya desa

    desa lampunya
    ibukota pantulan
    sinar maknanya

    mengapa diam
    daratan itu rumah
    hujan angin musiknya

    sampaikan sajak
    tetes embun melesap
    flamboyan marak
    tak usah gagap sayang
    sini matamu kuusap!

    lengkung pelangi
    mawar masihlah wangi
    tidur di mimpi

    Padalarang, 6 Juli 2020

    TARIAN NAPAS *

    Tarian napas, penderitaan hilang
    Menari menyatukan yang terserak
    Dalam lingkaran perbedaan, tak kekal
    Putih, hitam, coklat, kuning, merah,
    warna yang fana, maya ciptaan rasa
    Di lekuk tangan, bisu, lenguh, oh raja.

    Siapa yang bertepuk sebelah tangan,
    menari sendirian, buang kekosongan
    Di dunia manapun kau reguk madu;
    Racunnya adalah kedengkian
    Cawannya dari tulang belulang anak korban perang Yaman dan Suriah,
    puing-puingnya Libya, Palestina, Gaza lumat dikunyah pemakan hati
    Hamzah
    Tiada tersisa selain payudara,
    pasir gurun di mata orang kulit hitam
    ia pantang makan saat gembira;
    berwajah banyak di tanah desa,
    sulit dilukis, tak bisa dibayangkan

    Tanyalah jiwa pengembara
    Lautannya itu perut lapar
    Hentak kakinya, musik malam pekat
    Seribu bulan tak mampu sucikan doa
    kita hewan melata; tariannya terlupa
    Ada harapan – dihibur riak kolam tua

    /Padalarang, 3 Januari 2023
    *puisi eksperimental

    Jang Sukmanbrata, lahir di Bandung, 17 Agustus 1964. Karyanya dulu tahun 1980an semata puisi lirik, kini menulis puisi beragam genre; balada lirik dan epik, tanka dan haiku dalam 2 bahasa: bahasa Sunda dan bahasa Indonesia. Buku kumpulan puisinya MERJAN KEMULIAAN.

    penyair indonesia Penyair Jawa Barat sastra puisi
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticlePameran Pamungkas dari Sanggar Bumi Tarung di Galeri Nasional
    Next Article Unsur Budaya dalam Film Sekala Niskala

    Postingan Terkait

    Puisi-Puisi Alfiansyah Bayu Wardhana

    12 April 2026

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 2025

    Puisi yang Segar untuk Mesin-Mesin Lapar

    3 Desember 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Inspirasi Iptek Di Dalam Bismillah

    29 April 20267 Views

    Kolam Renang “Bukit Lumpang” Menjadi Destinasi Warga Lokal

    27 April 20269 Views

    Situs Ziarah KH. Abdul Hanan Babakan Ciwaringin Cirebon

    27 April 20266 Views

    Healing Murah Meriah di Pantai Kejawanan: Wajah Baru, Vibes Makin Seru!

    24 April 202612 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (209)
    • Bisnis (7)
    • Buku (85)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (79)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (189)
    • Sains (51)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (162)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.