Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Puisi » Puisi-Puisi Diktar
    Puisi

    Puisi-Puisi Diktar

    10 Desember 2023Tidak ada komentar4 Mins Read3 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Narasi Mimpi

    Arunika yang mulai  menampakan diri
    Semangat hati yang berjuta arti
    Dersik pagi menjadi saksi
    Akan mimpi yang terpendam dalam hati
    Dirgantara seolah tertawa
    Anak kecil lugu yang termangu
    Terus meraki tiada henti
    Renjana dalam diri tak pernah mati
    Demi orang tua dengan ribuan jasa
    Karsa yang kuat tak pernah gugat
    Menjadi harapan yang terwujudkan
    Litani tak hentinya terucap
    Agar mimpi yang tinggi menjadi yang terealisasi
    Memikul beban dalam angan
    Terus dikejar sampai semua kelar
    Dengan renjana yang selalu ada dalam dada
    Senandika tiap malam tak pernah terlewat
    Meyakinkan diri agar bisa dan kuasa
    Mimpi yang baswara kini telah berwarna
    Tak lagi niskala yang telah tiada
    Kidung kemenangan telah terdengar
    Jumantara yang biru kini tak lagi ragu
    Perjuangan yang panjang kini telah usang
    Mimpi yang besar kini telah terkejar

    November

    Tentang November yang penuh dengan keluh kesah menjalani hari yang kian sulit untuk dimengerti.
    Bulan ini benar-benar penuh dengan plot twist.
    Menjalani kehidupan dengan sepikul harapan dua insan.
    Menjadi yang terdepan walaupun gagal sekalipun.
    Semakin hari rasanya semakin datar, sedih nggak, seneng juga  nggak
    Novemberantakan ternyata jelas adanya dan aku lalui dengan penuh lapang dada
    Derai hujan yang selalu menemaniku tuk wujudkan secercah harapan
    Kesepian yang selalu saja datang dibalik gelapnya malam
    Tempat ternyaman yang memberiku kesempatan untuk kembali kepada Tuhan
    Jalanan berlubang selalu menjadi penghalang untuk kembali pulang
    Deretan bangunan menjadi saksi sebuah perjuangan
    Cuaca yang panas menjadi ciri kehidupan yang ganas
    Kehidupan yang patut diperjuangkan dan dipertahankan
    Sampai pada akhirnya kata sukses menyertaimu langkahmu
    Tak mudah memang, tapi menyerah bukanlah pilihan
    Bertahan untuk menjadi pemenang dalam setiap impian
    Rambut putih yang sudah menghiasi kepala mereka
    Kulit yang kini tak lagi kencang
    Mata yang mulai rabun, tak lagi terang
    Usia yang entah sampai kapan berada didunia
    Tatapanya tersirat banyak harapan padamu
    Senyumnya penuh dengan cinta dan kasih
    Belaian tanganya menjadikan nyaman sementara
    Doa yang tak pernah putus terucap dari lisannya
    Kupikir hidup Cuma menunggu waktu untuk mati
    Meninggalkan dunia yang penuh huru-hara
    Menuju akhirat dengan penuh rasa khidmat

    Yang Terkenang

    Setiap perjalanan hidup seseorang, pasti menyimpan sejuta kenangan
    Tak peduli itu membuat menetesnya air mata ataupun terukirnya senyum dibibir
    Mulai dari kecil yang tak tahu banyak hal, sampai dewasa yang kerap kali gagal
    Pengalaman memang menjadi guru terbaik dalam menjalani hidup yang kian pelik
    Dan menurutku, kita tak perlu menyesali hal buruk apa yang dilakukan kita dimasa lampau
    Karena itu yang membuat kita menjadi orang seperti sekarang
    Terutama waktu kecil, dimana yang kita pikirkan hanyalah belajar dan bermain, tak lebih dari itu
    Banyak sekali kenangan yang terekam tentang masa kecil yang ingin diulang
    Mungkin mesin waktu bisa mengembalikanya?
    Ahh, itu hanya khayalanku yang terlalu, sebab dewasa membuatku kerap menghalu
    Terkadang tatkala malam mulai datang dan kamar menjadi tempat ternyaman
    Disitu pula aku mulai menghayal tentang banyak hal yang telah lama tertinggal dan menjadi kenangan
    Namun begitulah semesta, yang telah jauh membawa kita menuju dewasa yang menyiksa
    Tapi apa boleh buat, hidup terus berjalan untuk kenangan yang berkesan
    Entah waktu yang terlalu cepat berlalu, atau kita yang terlalu lambat melakukan sesuatu

    Angan Petang

    Semburat jingga perahan datang dari ufuk barat
    Mengisyaratkan surya yang harus pergi
    Kini bagian purnama yang menerangi
    Bersama gemerlap bintang yang melintang

    Panggilan sembahyang mulai berdendang
    Pencari rezeki pun kunjung pulang
    Mengakhiri hari dengan muram
    Mengakhiri hari dengan murung

    Seperti ufuk barat yang selalu menunggu kehilangan sang rawi
    Aku ingin seperti dia
    Setia akan sebuah kehilangan yang sementara

    Aku juga ingin seperti ufuk timur
    Menyambut sang surya untuk mulai bekerja
    Yang menjadi awal dari sebuah kisah yang indah

    Andika Tara Prian Saputra atau penulis puisi yang lebih dikenal dengan nama pena Diktar, merupakan seorang mahasiswa pada sebuah perguruan tinggi di Purwokerto, Banyumas, tepatnya di Universitas Islam Negeri Prof.K.H. Saifuudin Zuhri Purwokerto. Andika atau Diktar sudah mulai menyukai dunia tulis menulis sejak duduk dibangku Sekolah Dasar. Karya-karya yang sudah ditulis juga pernah dimuat pada sebuah laman web tajdid.id. Selain itu, ia juga kerap kali mengikuti lomba-lomba cipta puisi baik offline maupun online dan tak jarang pula ia memenangkan beberapa perlombaan tersebut. Selain sering mengikuti perlombaan, ia juga aktif dalam Komunitas Cipta Gembira Indonesia. Berasal dari sebuah desa kecil di Kabupaten Banjarnegara, tak membuat dirinya putus asa untuk menjadi seorang penulis atau penyair hebat seperti Pramudya Ananta Noer yang juga merupakan salah satu penulis favoritnya.

    puisi popular puisi sastra sastra indonesia
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleKisah Seorang Novelis
    Next Article Prospek Industri Ban Pesawat di Indonesia

    Postingan Terkait

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 2025

    Puisi-Puisi Amanda Amalia Putri

    30 November 2025

    Tiga Giat Keren Penyair Sampai dengan Triwulan ke Tiga – 2025

    11 Oktober 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Hak Tubuh Istirahat

    26 Januari 20268 Views

    Zaman Apokaliptik

    4 Januari 202688 Views

    Kisah Seorang Polisi di Republik Mimpi

    21 Desember 202541 Views

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 202545 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (206)
    • Bisnis (7)
    • Buku (83)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (78)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (188)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (143)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.