Oleh Nurul Laeli
(Mahasiswa ISIF Cirebon)
Tak ada yang lebih menyedihkan daripada menjadi sangat cantik di dunia yang kejam. Novel Cantik Itu Luka merupakan karya sastra yang menyajikan kisah kehidupan Perempuan dengan latar belakang Sejarah dan sosial, tidak luput dari kisah magis, perngorbanan bahkan percintaan yang menyimpan kritik tajam terhadap ketidakadilan gender, budaya patriaki, serta teori feminisme.
Melalui pendekatan feminisme, Cantik Itu Luka dapat dipahami sebagai kritik patriaki yang merugikan banyak perempuan. Tokoh-tokoh perempuan seperti, Dewi Ayu, Alamanda, Maya Dewi dan Si Cantik dalam novel ini menunjukkan bagaimana ketidakadilan gender terjadi dalam berbagai bentuk. Namun di sisi lain, mereka juga menunjukkan kekuatan dan ketahanan, bukan hanya korban tapi sebagai simbol kemampuan untuk bertahan dan melawan.
Novel Cantik itu Luka karya Eka Kurniawan. Seorang penulis karya sastra berasal dari Tasikmalaya, 1975. Ia lulusan Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada 1999, di tahun yang sama ia menerbitkan karya pertamanya, Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis. Dan novel Cantik Itu Luka pertama kali terbit 2002 dan telah diterbitkan dalam bahasa Jepang dengan judul Bi Wa Kizu , dan dalam bahasa Malaysia dengan judul yang sama.
Isu ketidaksetaraan gender menjadi sangat penting dalam novel ini karena, hampir seluruh tokoh Perempuan mengalaminya, mereka tidak hanya menghadapi masalah pribadi, tetapi juga harus mengalami tekanan sosial sebagaimana yang diceritakan novel di halaman 21, bahwa:
“Ketika Rosinah bertanya apa yang ia lakukan malam-malam di beranda, Si Cantik menjawab sebagaimana ia berkata kepada ibunya ‘menanti pangeranku datang, untuk membebaskanku dari kutukan wajah buruk rupa’. Gadis yang malang kata ibunya malam itu, malam pertama mereka berjumpa, kau seharusnya menari dengan riang karena anugerah terebut. Masuklah.”
Kutiapan tersebut selaras dengan pendapat Mansour Fakih dalam bukunya Analisis Gender dan Transformasi Sosial, bahwa “Ketidaksetaraan gender bukan kodrat (biologis), melainkan konstruksi sosial dan kultural yang menempatkan salah satu jenis kelamin pada posisi subordinat. Ketidakadilan ini berbentuk marginalisasi, subordinasi, beban ganda, stereotip, dan kekerasan”. (Fakih, 2013).
Tokoh Dewi Ayu menjadi contoh paling jelas, ia harus menjalani kehidupan yang keras bahkan tubuhnya sering dijadikan alat untuk memenuhi keingian orang lain terutama kaum laki-laki. Di akhir masa kolonial perempuan dipaksa menjadi pelacur, dari contoh Dewi Ayu terlihat sekali kentalnya budaya patriaki, perempuan sering dinilai dari penampilan fisik, terutama kecantikan. Dan kecantikan Perempuan seakan menjadi nilai jual yang tinggi, Perempuan cantik menjadi standar bahkan budaya patriaki masih terasa sampai zaman sekarang ini. Budaya patriaki dalam novel ini juga tergambarkan pada kutipan halaman, 212.
“Jika kau ingin menaklukkan laki-laki dan mencampakkannya bagai sampah hina, kau salah bertemu denganku, Alamanda. Ia bisa mendengar kata-kata bagai duri yang menusuk itu, dikatakan dengan nada sinis dan mengejek.”
Kutipan ini selaras dengan para ahli tentang budaya patriaki di antaranya:
- Sylvia Walby: Mendefinisikan patriarki sebagai sistem struktur sosial dan praktik di mana laki-laki mendominasi, menindas, dan mengeksploitasi perempuan. Penggunaan istilah “struktur sosial” menolak anggapan bahwa dominasi ini sekadar takdir biologis.( Setyowati, Kasnadi, & Hurustyanti, 2021).
- Pinem: Mengartikannya sebagai sebuah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai sosok otoritas utama yang sentral, sehingga posisinya lebih tinggi daripada perempuan dalam segala aspek kehidupan.(Ayu, 2024).
- Alfian Rokhmansyah: Menyebutkan bahwa patriarki adalah struktur yang menempatkan peran laki-laki sebagai penguasa tunggal dan sentral, yang menciptakan ketidakadilan gender di ranah ekonomi, sosial, maupun politik.(Putri, Azizah, & Maharani, 2022)
Meskipun banyak mengalami penderitaan, Perempuan dalam novel ini tidak sepenuhnya lemah, mereka tetap menunjukkan kekuatan dan ketahanan dalam menghadapi hidup, dalam kutipan “Lebih baik hidup dalam aib daripada harus kehilangan anakku” betapa besarnya pengorbanan perempuan dalam kehidupan sosial ini terutama seorang ibu seperti Dewi Ayu yang berjuang dan memikirkan nasib anak-anaknya harus jauh lebih baik, meskipun terlahir dari Rahim seorang pelacur, pemikirannya ini selaras dengan teori feminisme.
Teori feminisme Simone de Beauvoir berakar pada filsafat eksistensialisme yang meyakini bahwa eksistensi mendahului esensi manusia. Dituangkan dalam mahakaryanya, The Second Sex (1949), ia berargumen bahwa tidak ada takdir biologis yang membuat perempuan lebih rendah daripada laki-laki; perempuan diciptakan atau dikonstruksi oleh masyarakat melalui sejarah dan budaya patriarki. (Iskandar, Domanik, & Daulay, 2023)
Novel Cantik Itu Luka bukan hanya sekadar cerita fiksi, ditulis dengan gaya bahasa yang mudah dimengerti menggambarkan pengorbaan dan kekuatan seorang perempuan, juga sebagai cerminan realitas sosial yang masih terjadi hingga saat ini, kisah di novel ini mengajak kita untuk peka terhadap ketidakadilan yang dialami perempuan dan pentingnya memperjuangkan kesetaraan gender. Di balik penderitaan, terdapat kekuatan, dan dari situlah perubahan bisa dimulai.
