Oleh Fahrus Refendi
Melalui pembacaan atas Rumah Ilalang & Sekong, saya berpikir bahwa, dunia LGBT sangat distingtif untuk dibicarakan, dan Stebby sangat lihai dalam membungkus dan merajut menjadi sebuah cerita yang the other. Sekong berkisah tentang tiga sosok laki-laki: seorang penyiar radio kabupaten, seorang pemimpin tour guide, dan seorang petugas penyuluh KB yang kesemuanya terperangkap ke dalam situasi tatanan masyarakat kaum homoseksual.
Sesuatu, apapun itu, yang tidak mengakar kuat maka tidak akan bisa bertahan lama. Tampaknya hal tersebut yang terjadi pada Surti saat menelepon Penyiar Radio bahwasanya suaminya melalakukan tindakan serong. Perempuan memang kerap mendapat perlakuan yang kerap tidak adil, hal ini sejalan dengan apa yang telah diungkapkan oleh Kim Al-Gozali, perempuan masih saja menjadi korban atas tubuhnya sendiri.
Jelas, perselingkuhan tidak datang dengan sendirinya, mesti ada hukum kausalitas yang berperan di dalamnya. Pertengkaran demi pertengkaran disebabkan karena ketidakpuasan hubungan, ditambah lagi minimnya komunikasi semakin membuat suatu hubungan semakin renggang. Apalagi ditambah dengan hadirnya orang ketiga dalam suatu hubungan rumah tangga, akhirnya ucapan talak pun tak dapat terhindarkan. Cinta itu sudah tidak pernah lurus. Ia berbelok, senantiasa berlari menyongsong hati yang baru.
Chaos dalam rumah tangga Surti rupanya sudah diskenariokan oleh suaminya, Rahim. Mereka menikah saat masih muda, saat mereka berdua dimabuk cinta, sayangnya cinta yang mereka bangun lekas ambruk. Usia muda memang fluktuatif. Rahim jatuh hati pada seorang tour leader yang dijumpainya saat perjalanan ke Bali. Memang benar apa yang diungkapkan Gibran, “Jika cinta datang kepadamu, tunduk dan menyerahlah!”
Jalinan cinta dan kasih juga tersemat pada sebuah kisah yang datangnya dari mitologi Yunani, dikisahkan juga bahwa Zeus sampai menjelma sebagai elang dan menyambar Ganymade. Ganymade adalah seorang pangeran muda Troya yang tampan. Ia memiliki rambut berwarna emas. Ketampanannya dikisahkan membuat negeri Para Dewa gempar, mereka terpesona dan tidak bisa berhenti membicarakannya. Saking cakepnya, Zeus sebagai pemimpin tertinggi dewa, pun terpesona dan ingin memilikinya. Ia akhirnya membawa Si Ganymade ini ke kayangan, untuk tinggal di antara para dewa.
Stebby juga memaparkan pra anggapan penyebab cowok yang seharusnya normal, bisa menjadi gay: pertama, disebabkan karena kelainan mental, trauma masa kecil, pergaulan, kelainan genetik, terlalu sering diporotin cewek, dan yang terakhir karena sering fitnes, ditambah karena sexual abuse ketika masih belia.
Akhirnya, dalam Sekong, Stebby kembali mengembala pembacanya pada situasi pergumulan antara identitas gender dan religiuitas serta nilai-nilai tradisional yang mendarah daging, ia mempertemukan kita dengan sekumpulan pria yang terkungkung dalam situasi sosial mirip masyarakat Sodom dan Gomora.
Fahrus Refendi merupakan alumnus Universitas Madura prodi Bahasa & Sastra Indonesia. Bergiat di Sivitas Kothѐka, LESBUMI dan menjadi salah satu tenaga pengajar di SDI Mabdaul Falah Sumenep Madura.
