Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Puisi » Vivere Pericolosamente
    Puisi

    Vivere Pericolosamente

    7 Juli 2019Updated:15 November 2019Tidak ada komentar3 Mins Read15 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Memahami puisi sama halnya merawat bayi. Perlu ketelitian dan ketelatenan untuk bisa memahami bahasanya (gerak-gerik tubuhnya atau kandungan isinya) sebab pada tiap baitnya mengandung nyawa. Ruh bagi tubuh yang menjadikan setiap kalimat itu hidup dan menghidupkan kehidupan. Di mana di mata seorang penyair tiga transisi waktu berpadu jadi satu. Sehingga dirinya dan pembaca tiada beda serta dirinya bisa berperan ganda dalam mengolah rasa, melalui tirakat laku batin dan perenungan tajam yang menjadikan kesan dan pesan dalam bait puisi begitu berarti, menancap di hati dan di ruang lingkup imajinasi. Sebagaimana puisi yang ditulis oleh Khalimatu Sa’diah ini. Silakan dibaca dan direnungkan. Salam mbludus. Asih asah asuh. (Redaksi)

    [iklan]

    Halaman Pertama

    Halaman satu Indonesia ini
    Berisi pesakitan-pesakitan idealisme hidup
    Sehat, kaya, jenius dan bahagia hati
    Sesungguhnya mereka nyata redup
    Disingkap jiwa mati
    Terus koar-koar berpolitik, klaim dirinya sanggup
    Membawa negeri
    .
    Sebab kampanye pelangi juga
    Rakyat semakin terkubur : chaos dan mimpi
    Bergelas-gelas vodka dijamukan di mulut mereka
    Kemudian, mabuklah pejabat tinggi
    .
    Lantas kepada siapa
    ‘Surat-surat sang Negarawan’ Machiavelli ditujukan?
    Pro Deo, Pro Parte dan jelata
    Habis dikubur harapan
    .
    Malang, 28 September 2018, Ruang Tamu

    Vivere Pericolosamente
    .
    Kita bercakap-cakap tentang nasi
    Kataku, aroma kehidupan
    Katamu, pengganjal sepatu pagi
    Mendadak harganya melambung nian
    Lalu para miskin tercekik sen…

    Negeri Skripsi

    Dalam bab satu
    Kursi pemerintah milik bersama
    Tapi ternyata paradoksal sengketa tetaplah lagu
    Yang menjadikan ambisi pejabat seperti bara
    .
    Oh Tat Tvam Asi,
    Hanyalah slogan dalam buku filsafat
    Sisanya : penggalan rusuh di jalan raya
    Di mana idealisme dan politik berkutat
    Menjelma menjadi pasal-pasal kotor dalam bab dua
    ..
    “Mak, aku ingin jadi menteri!”
    “Sudahlah Nak! Abu tidak akan kembali!”
    Kecuali tersisa aroma
    Tentang negara skripsi mati dalam bab tiga
    .
    Halaman, 26 September 2018, 09.15

    Surat

    Surat kepada negara, dari pemuda
    Berisi : atomisasi doa
    Kecerdasan pelajar hanyalah sebatas sampul
    Primordial, fundamental yang tumpul
    Maka ia mengeluh
    Pertiwi ini semakin jauh
    Dari kata : karotid agama
    Tetangga pemuda bertanya
    “Makan apalagi hari ini, Nak?”
    Kami sarapan dualisme : kampanye dan doa donggala!
    .
    Halaman, 10 Oktober 2018, pagi.

    Wasiat
    .
    Bapak berwasiat kapan lalu
    Presidenmu Jono, kau akan tetap bekerja
    Presidenmu Jum, kau memecah batu
    Istrimu Sumini, cari duitlah
    Jika istrimu Hasna, tiap hari imamilah surau
    Ini hidupmu, bukan tetangga sebelah
    Riadat dan rhapsodi katamu
    Uang tetaplah halkah
    .
    Halaman, 10 Oktober 2018, pagi

    Riwayat penulis :
    Khalimatu Sa’ Diah. Lahir di Malang. Menyukai dunia bisnis dan sastra. Sempat belajar sastra Jerman. Memiliki novel 31 Aurora, antologi Kolase, serta antologi bersama antara lain: Sajak Penyair ASEAN 2, Tifa sang Guru, Metanoia, kumpulan dongeng Cermin dan lain-lain. Pernah menjuarai Deutsche Tage III. Bisa dihubungi d
    Hanamidee@gmail.com

    buku puisi puisi kehidupan puisi kritik puisi satire puisi sosial
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleDrama dalam Sastra dan Seni Pertunjukan
    Next Article Bunga di Jambangan Retak

    Postingan Terkait

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 2025

    Puisi yang Segar untuk Mesin-Mesin Lapar

    3 Desember 2025

    Puisi-Puisi Amanda Amalia Putri

    30 November 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Puisi dan Cerpen Terpilih mbludus.com Tahun 2026

    29 Maret 202685 Views

    Puisintaksis dan Manusia Algoritma: Ketika Peluncuran Buku Menjadi Peristiwa Ontologis

    21 Februari 202690 Views

    Buku Sang Nabi

    9 Februari 202615 Views

    Hak Tubuh Istirahat

    26 Januari 202616 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (208)
    • Bisnis (7)
    • Buku (84)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (78)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (188)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (143)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.