Oleh Nana Sastrawan
Membaca puisi-puisi Beni Satria seperti sedang melihat perjalanan kehidupannya, pikiran-pikirannya dan aktivitas keseniannya. Ia seperti sedang menyimpan tubuh dan jiwanya pada kata-kata. Puisi-puisi yang tercipta memberikan ‘kekuatan’ pada langkah hidupnya dan memunculkan ‘eksistensi’ atau keberadaan dirinya di dunia yang ramai ini.
Tentu saja, Beni Satria bukan sedang curhat atau meracau akan kegelisahan-kegelisahan tentang peristiwa-peristiwa yang ia hadapi. Tetapi, ia telah menyatu pada peristiwa-peristiwa itu, kemudian dalam ‘ruang kosong’ ia menghadirkan kembali dan diracik menjadi sesuatu yang estetik melalui bahasa, yaitu puisi.
Ada beberapa catatan mengapa saya mengatakan demikian; (1) saya mengenal secara pribadi Beni Satria; aktivitas keseharian. (2) Buku-buku sastra yang dibaca (3) Pengalaman akademik (4) Komunitas Sastra yang diikuti (5) Aktivitas Pementasan. Hal-hal ini menjadi ‘pembuka jalan’ bagi saya untuk memaknai secara utuh puisi-puisi yang tertuang dalam buku ‘Manusia Algoritma’ yang penciptaannya sekitar 2005 – 2025. Sebuah perjalanan panjang dalam menulis puisi.
Perubahan puisinya begitu drastis dari awal-awal ia menulis puisi. Beni belajar menjadi seorang ‘penyair’ yang jika dicermati dari puisi-puisi di buku ini, ia telah berhasil menjadi penyair. Karena secara akademik, Beni memiliki gelar ‘Sarjana Teknik’ yang tentu saja ia dihadapkan dengan teori-teori pasti. Di sinilah ia benar-benar teruji dan matang dalam memproduksi puisi-puisinya.
Saya mengutip pernyataan Sutardji Calzoum Bachri dalam ‘Kredo Puisi’ di buku Isyarat (2007) bahwa:
Menyair adalah suatu pekerjaan yang serius. Namun penyair tidak harus menyair sampai mati. Dia boleh meninggalkan kepenyairannya kapan saja. Tapi bila kau sedang menuliskan sajak, kau harus melakukan secara sungguh-sungguh, seintens mungkin, semaksimal mungkin. Kau harus melakukan pencarian-pencarian, kau harus mencari dan menemukan bahasa. Yang tidak menemukan bahasa takkan pernah disebut penyair.
Kesadaran akan ‘menemukan bahasa’ ini yang terus digali oleh Beni Satria dalam proses penciptaan puisi-puisinya. Kita bisa baca pada puisi berjudul Algoritma Memakan Wajah Kita.
Kita hidup di antara garis-garis tak kasat mata,
dijejalkan ke dalam rumus
yang lebih tahu siapa kita
daripada kita sendiri.
Wajahmu, wajahku—
terkunci dalam kotak piksel,
dihitung, ditimbang, lalu disesuaikan.
Senyum kita hanya serpihan data
yang dipintal menjadi umpan
bagi mata-mata yang lapar.
Setiap klik adalah doa yang hilang,
setiap scroll adalah janji
untuk menjadi bayang-bayang
dari diri kita yang sekarat.
Jejak kita menjadi jejak hantu
yang mengarungi lorong iklan,
menunggu dijual dalam kesunyian.
Apakah wajah ini masih milikku?
Atau milik dunia yang menaruhnya
di dalam troli belanja?
Apakah matamu masih milikmu,
atau sekadar kamera lain
yang mencuri cahaya?
Algoritma memakan kita
perlahan-lahan.
Kita tersenyum,
berpura-pura tidak tahu
bahwa di balik layar ini,
kita adalah daging segar
untuk mesin-mesin lapar.
Puisi ini memiliki sesuatu yang menarik, Beni berhasil menggabungkan aktivitas digital, dunia media sosial, e-commerce ke dalam bentuk puisi yang sarat makna. Dengan pengalaman akademiknya sebagai orang ‘mesin’ ia menyadarkan pembaca bahwa manusia-manusia adalah daging segar untuk mesin-mesin lapar. Tidak hanya itu, ia memberikan simbol makna bahwa ‘kita’ adalah ‘jiwa’ yang hilang di dalam dunia ‘algoritma’, kehidupan yang dikendalikan oleh mesin yang diciptakan sendiri oleh manusia.
Puisi yang menggambar sebuah realitas bahwa hal-hal nyata terlihat di dalam peristiwa kehidupan sehari-hari sudah tidak tampak menarik dibandingkan dengan dunia layar smartphone. Apalagi kemajuan AI (Artificial Intellegence) menjadi sesuatu yang asyik-asyik ngeri. Asyik sebagai teknologi yang bisa saja menjadi alat bantu, tetapi mengerikan jika digunakan untuk kepentingan yang buruk.
Maka puisi selalu menyerap kenyataan, diraciknya menjadi metafora-metafora sebagai ‘simbol makna’ tergantung obyek yang akan dibicarakan oleh penyair. Dengan harapan, pikiran-pikiran penyair pun menjadi tersampaikan secara indah tanpa harus menggurui atau memaki kenyataan itu sendiri. Namun terkadang karena keasyikannya untuk menyerap kenyataan, penyair tersedot ke dalamnya sehingga ia hanya dapat menyampaikan deskripsi datar, peristiwa atau hal-hal yang mengganggu konsitensi pada obyek yang akan disampaikan.
Misal pada puisi Terminal Lucidity.
di dalam ruang 402, tubuhmu menjadi peta yang tak lagi bisa kutafsir.
urat-uratmu garis lintang,
jantungmu detak yang menunggu dikoreksi oleh alat pacu ritme.
kau menatapku,
seperti seseorang yang baru saja kembali dari perjalanan jauh,
tapi tak ingat di mana rumahnya.
“aku baru dari toko roti,” katamu,
padahal mulutmu sudah lama lupa rasa mentega.
aku ingin bilang:
kau tak pernah keluar dari ranjang ini sejak tiga bulan lalu,
tapi siapa aku dibanding neuron-neuron yang menyalakan ilusi
tentang jalan-jalan yang tak pernah kau lewati lagi.
kau tertawa,
menyebut namaku dengan suara seperti pintu yang lupa cara berderit.
aku ingin menekan tombol “rekam” di kepala,
menyimpannya di tempat yang tak bisa diretas oleh lupa.
di layar monitor, angka-angka itu sudah bosan menghitung mundur.
lalu kau berkata,
dengan mata seperti malam yang baru selesai hujan:
“besok kita pulang, kan?”
aku ingin menjawab.
tapi suster keburu datang,
membawa troli berisi obat yang tak bisa melawan takdir.
aku tidak menjawab.
hanya menggenggam tanganmu
seolah bisa menahanmu lebih lama di dunia yang tak lagi mengingatmu.
kau tersenyum,
senyum yang tak pernah kulihat sejak kita terakhir kali berjalan di bawah hujan.
“aku masih ingat jalan pulang,” katamu,
padahal rumah sudah lama berubah jadi obituari.
lalu kau mulai bercerita—
tentang kedai kopi di sudut jalan yang tak pernah kita kunjungi,
tentang lagu yang tak pernah kita dengarkan bersama,
tentang hidup yang tetap berjalan di kepalamu
meski tubuhmu sudah berhenti ikut serta.
di layar monitor, detak jantungmu melambat,
seperti jam pasir yang kehabisan butiran terakhirnya.
aku ingin memanggil suster,
ingin meminta seseorang menghentikan ini semua,
tapi suaramu lebih dulu datang:
“jangan menangis, besok kita bertemu lagi di taman.”
lalu kau menutup mata,
seakan yang kau lihat di ujung sana lebih indah daripada yang kutawarkan.
Dalam puisi ini, Beni kehilangan daya renung, tetapi menjadi agen yang melanjutkan kenyataan dalam setiap baris puisinya. Ia seperti sedang melamun dan terbaring di atas tempat tidur rumah sakit, sambil memainkan gawai dan melihat-lihat aktivitas dalam media sosialnya. Bisa jadi, ia berharap puisi ini semacam bacaan ‘filsafat’ yang memiliki makna ‘absurd’ mencapai pada titik ‘keesaan’ atau ‘ketuhanan’ dengan membaca larik-larik puisinya yang mengarah pada kematian: di layar monitor, detak jantungmu melambat/ seperti jam pasir yang kehabisan butiran terakhirnya. Namun, ia hanya menggambarkan persitiwa-peristiwa nyata yang datar dengan tidak memberikan ‘jalan’ untuk mencapai titik klimak pada dunia ‘metafisika’ dunia Tuhan.
Berbeda dengan puisi Monolog Seekor Kunang-Kunang.
Orang-orang suka bilang,
aku ini lambang harapan.
Cahaya kecil di tengah malam.
Simbol puitis untuk kamu-kamu yang terlalu takut gelap.
Padahal aku cuma serangga.
Perut menyala karena reaksi kimia.
Tak ada puisi di dalam tubuhku,
kecuali yang kau paksakan masuk.
Aku berkedip bukan karena aku ingin kau perhatikan,
tapi karena aku mencari.
Tiap kedipan ini adalah panggilan:
“Apakah ada yang sejenisku di sekitar sini?”
Tapi malam terlalu luas.
Dan kadang jawaban tak datang.
Kami, kunang-kunang tak berisik.
Kami tidak menuntut apa-apa.
Hanya ingin sesekali menemukan tubuh lain
yang berkedip pada frekuensi yang sama.
Tapi kota ini?
Sudah terlalu banyak cahaya yang tidak butuh makna.
Lampu jalan, reklame, notifikasi di saku bajumu—
semua lebih terang dariku.
Cahaya palsu, tapi konstan.
Sementara aku hanya sekejap.
Dan rapuh.
Kau anggap aku indah
hanya karena aku hampir hilang.
Tapi aku juga lelah.
Terbang sendirian,
membawa cahaya seperti pertanyaan.
Tak ada jawaban, hanya refleksi di kaca mobil.
Kalau kau melihatku malam ini,
jangan tangkap aku.
Jangan jadikan aku caption.
Biarkan aku gagal menemukan siapa pun—
itu lebih jujur
daripada dijadikan metafora.
Simbol kunang-kunang ini dapat menjadi pintu masuk untuk memaknai secara utuh puisinya, bagaimana ia yang bercahaya di gelap malam ternyata tak memiliki arti di antara gemerlap kota, tak mempunyai siapapun yang dapat dijadikan teman, karena setiap yang ditemuinya sudah mendapatkan hal-hal yang lebih menarik dibandingkan cahaya kerlap-kerlip kunang-kunang.
Kejujuran puisi ini seolah membawa ‘kita’ pada ‘kegagalan yang elegan’ dalam pencarian makna hidup, atau penyadaran pada sesuatu yang lebih bercahaya dibandingkan dirinya, yaitu sang pencipta cahaya.
Itulah Beni Satria yang saya kenal; seseorang yang tidak pernah lelah ‘berlari’ menyusuri jalan yang sempit, gelap, ramai, riuh, becek dan sesak. Meskipun dirinya penuh luka, ia meyakini bahwa harapan akan tumbuh menjadi sesuatu yang ‘kuat’ tanpa tergoyahkan oleh badai apapun. Bisa jadi, puisi-puisi dalam buku ini adalah jawaban semua pencariannya selama ini, yang sering ia muntahkan ketika bertemu dengan saya di pinggiran toko Pamulang, atau di ruang-ruang diskusi komunitas.
Tulisan ini hanya semacam pintu gerbang untuk masuk ke dalam seluruh puisi-puisi Beni Satria dalam buku ini. Kekuatan terbesar untuk memaknai isi keseluruhannya ada pada ‘pembaca’ dengan pemahaman ilmunya masing-masing. Dan ketika telah selesai membaca buku ini, Anda boleh saja menjadi penyair atau tiba-tiba ingin berhenti menjadi penyair.
Mari kita rayakan puisi Beni Satria ini dengan segelas kopi dan sebatang rokok.
Ting.
Agustus 2025.
Nana Sastrawan. Peraih Penghargaan Acarya Sastra IV Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tahun 2015. Buku kumpulan puisinya antara lain Nitisara (2008), Kitab Hujan (2010), Penyair Tali Pancing (2011), Kabar untuk Istana (2020), Oeang (2021), Jangan Kutuk Aku Jadi Penyair (2023).

