Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Puisi » Puisi-Puisi MH. D. Hermanto
    Puisi

    Puisi-Puisi MH. D. Hermanto

    22 Oktober 2023Tidak ada komentar3 Mins Read2 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    PEREMPUAN YANG MERAYU MUSIM
    : Amizah

    1/
    Beribu-ribu musim telah merayumu untuk menjadi waktu
    Meski feminitas dan telanjang tubuhmu
    Sudah tak lagi menjadi rujukan untuk mengukur panjang rambut perempuan
    Tetapi, suaramu terus bersenandung
    Menampar ingatan dari kejanggalan jejak
    Apakah benar ini adalah pertanda keutuhan tubuh untuk merindu

    Bukankah di musim lalu engkau berkata
    Bahwa cinta harus dipelajari semasa kecil
    Dan sumpah serapah dari para lelaki
    Yang hanyalah keruh dimata kehidupan

    Tetapi apakah dengan demikian engkau mengeja ulang jejakmu
    Atau engkau sedang lupa terhadap janjimu kepada angin
    Yang telah mengabarimu bagaimana cara berdiri dan melangkah
    Sungguh aku sangat takut berbaik hati kepada perempuan lagi
    Walaupun relung yang kuharapkan adalah engkau tempat mengadu resah

    2/
    Apakah engkau sudah membuang kisah dibalik tirai kamar
    Atau engkau memang sengaja mencoba menyimpan perihal lara
    Agar tidurmu tetap baik tanpa menantikan ingatan
    Atau tangis dipagimu masih belum hilang

    3/
    Kemarilah Amizah, namamu telah kuwjudkan sebagi nada seperti lagumu
    Ada rindu yang terus mengarungi dibalik note-notemu
    Karena sebelum aku kembali dalam mimpi
    Dan berkelana pada lentik wajahmu
    Engkau telah lebih dulu menyambutku
    Amiza.…
    Engkau memang nyata tetapi aku harus tidur untuk memilikimu.

    Memang semua hanyalah permualan seperti yang engkau katakan
    Tetapi engkau tidak perlu tahu tentang hari lahirku
    Karena semenjak aku belajar mencintaimu aku terlahir sebagai lelaki
    Yang ingin dipeluk dan dicintai
    Yang jauh dari angka
    Yang jauh dari waktu
    Karena engkau sangat gelay saat manari dikepalaku
    Mengajarkan bagaimana berdiri tanpa terburu

    4/
    Dibalik matamu tersimpan berjuta rahasia
    Matahari pun kadang menangis saat senyummu diambil senja
    Namun aku akan akhiri sajak ini
    Sebab tak pantas aku katakan tentang segalah asah
    Bahwa aku sedang mencintaimu

    CICIT  BURUNG PIPIT

    1\
    Aku kembali mendengar lagu-lagu lama
    Yang gemar merundungkan isi kepala
    Tentang kabar dari angin
    Dan sebingkis harap di depan teras rumah

    2\
    Aku kembali menafikan kata tentang layla
    Yang menjadi kakbah para penyair
    Agar dapat kugambarkan
    Mata beningnya yang seindah langit
    Dengan rambut kecoklatan seperti senja yang selalu kurindukan

    3/
    Aku kembali menanam segenggam mawar
    Yang selalu mengenduskan harum kepada lebah
    Agar bisa mengeja ulang buku-buku di kamar
    Merapikan serpihan kenangan
    Lalu berbaring untuk kembali mengenali dara

    4/
    Aku kembali dengan teriakan cicit burung pipit
    Yang mengepakan sayap dijalan kelelawar
    Sembari menengadahkan kedua tanganku
    Meminta reranting menjadi saksi kebisuan ini

    DOA-DOA DI BEBATUAN

    Hanya kepada Ia aku meminta
    Dari segala godaan wanita
    Yang selalu mencoba mengahanguskan angka

    Hanya kepada Ia aku bercakap resah
    Karena, hanyalah Ia yang dapat mendengar
    Dari ketulian setiap manusia

    Hanya kepada Ia aku bersujud
    Ketika bengis dan matamu terus mengiris
    Karena dadamulah tak pernah habis-habis

    Hanya kepada Ia aku menangis
    Sebelum wujud harap dapat ditatap
    Walaupun engkaulah pertama kali kudekap

    Hanya kepada Ia aku bertawakkal
    Dari ketiadaan dan kebutuhan ilusi
    Karena, dari alismu jiwa ini terus meronta-ronta
    memanggil nama tuhan yang tiada.

    AKU TANPAMU

    Aku tanpamu
    Hanyalah abu yang di hitamkan

    Aku tanpamu
    Selaksa biji yang lupa kulit

    Aku tanpamu
    Hikayat doa di tebing malam

    Aku tanpamu
    Seberkas kisah yang berserakan

    Aku tanpamu
    Jantung tanpa tubuh

    Aku tanpamu
    Mata yang buta warna

    Aku tanpamu
    Hanyalah mimpi dikesunyian

    Saat aku tanpamu
    Semuanya hanyalah aku tanpamu.

    Yogyakarta 2023.

    MD. Hermanto. Mahasiswa UINSUKA Prodi Akidah Dan Filsafat Islam. Lahir di daerah Keraton Nusantara—(Soengenep.) Sedang Belajar DI Sebuah Pembebasan, Eskatologi dan NISCHA.

    Puisi Cinta puisi sastra sastra indonesia
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticlePerangkap Tikus dan Siklus Kehidupan dalam Puisi Goenawan Mohamad
    Next Article Potensi Transenden Dzikir Senja Puisi Besutan Sufyan Abi Zet

    Postingan Terkait

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 2025

    Puisi-Puisi Amanda Amalia Putri

    30 November 2025

    Tiga Giat Keren Penyair Sampai dengan Triwulan ke Tiga – 2025

    11 Oktober 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Hak Tubuh Istirahat

    26 Januari 20268 Views

    Zaman Apokaliptik

    4 Januari 202688 Views

    Kisah Seorang Polisi di Republik Mimpi

    21 Desember 202541 Views

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 202545 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (206)
    • Bisnis (7)
    • Buku (83)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (78)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (188)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (143)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.