Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Puisi » Puisi-Puisi Beti Novianti
    Puisi

    Puisi-Puisi Beti Novianti

    26 Maret 20231 Komentar2 Mins Read3 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Auschwitz

    Di batas waktu
    Kita melangkah ke masa dimana angin meniupkan daun-daun ke selatan
    Membawa kisah-kisah pedih dari camp tentara

    Di kota kecil itu
    Krematorium dibangun
    Tempat membakar mayat-mayat
    Setelah dibunuh di kamar-kamar gas
    Kereta tanpa jendela menjadi saksi
    tentang Perjalanan yang dirahasiakan
    Udara terasa di bawah nol derajat
    Hingga waktu membeku
    Berdiam dari rahasia-rahasia silam

    Pohon-pohon tak bisa berkutik
    Hanya bisa tumbuh
    Menyaksikan anak-anak menjerit
    Dicekik oleh gas-gas beracun
    tak ada yang bisa menolong?
    Mengapa rasa empati terhimpit oleh pelecut kebebasan?
    Tak bisakah membuang sedikit kecemasan?
    Sementara tangisan tak lagi terdengar
    Di balik tembok-tembok
    Yang menutup dan menghimpit hak
    Lalu membuangnya ke sungai dan danau

    Mukomuko, 2022

    Mengurai Mimpi

    Di kamp pengungsian anak-anak berlarian mengurai mimpi
    Bermain boneka, mobil-mobilan dan membuat perahu dari origami
    Senyum mereka adalah berkah
    melampaui sedekah
    ini adalah sekolah yang paling mahal
    kursi-kursi terbuat dari kejujuran
    perahu yang dibuat telah berlabuh
    di lautan kasih sayang
    mobil itu telah menghantarkan
    ke kota kenangan

    “do, re, mi, fa, so, la, si, do”
    Seorang gadis Ethiopia bernyanyi
    Sambutan tepuk tangan
    Telah mendatangkan rasa riang
    Mimpi mereka satu persatu telah kembali
    Malam-malam mereka terasa lebih panjang

    Mukomuko, 2022

    Cerita Masa Kelam Rolf Josep

    Ia duduk di sofa
    Sambil membuka album
    Kenangan pahit itu menariknya
    Kembali berdiri di dalam gerbong kereta
    Bersama 50 perempuan dan anak-anak
    Mereka terus menangis
    Lalu seorang remaja itu berkata:
    “Anak-anak, kalian tidak tahu, jika tiba di Auschwitz,
    kita akan langsung dimasukkan ke kamar gas”
    Kamar dengan tembok
    Dinding yang tebal
    Tidak mampu berusaha menyembunyikan teriakan

    Ia menutup album itu perlahan
    Tak ingin Kepahitan, kecemasan itu terulang
    Lalu ia meletakkan album itu di atas meja
    Sambil melipat lupa

    Mukomuko, 2022

    Adakah Yang Lebih Besar Dari Namamu

    Adakah  yang lebih besar dari namamu
    Barangkali gunung-gunung
    Ataukah kota di antara lampu-lampu
    Yang menatap pagimu tanpa jenuh
    Saat didatangi hujan sepekan
    Seperti mata kekasih tak mampu terpejam

    Adakah yang lebih indah dari raut wajahmu
    Barangkali putri dari negeri singgalang
    Atau wajah ibu saat memeluk anaknya
    Seperti tangan kekasih, yang menggenggam kenangan
    Jiwa terpaut, rindu tertumpahkan

    segala dikara diraih mata
    segala daya dan upaya hanya milik-Nya

    Mukomuko, Mei 2022

    Beti Novianti, lahir di Ipuh dan tinggal di Mukomuko provinsi Bengkulu. Lulusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Menulis cerpen, puisi, dan cernak. Puisi-puisinya tersebar di berbagai media dan juga dalam antologi puisi bersama.

    Auschwitz Penulis Bengkulu Rolf Josep
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleAnugerah Sastratama Lumbung Puisi
    Next Article Rumah di Atas Batu; Biografi Perasaan Seorang Perempuan

    Postingan Terkait

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 2025

    Puisi-Puisi Amanda Amalia Putri

    30 November 2025

    Puisi-Puisi Riki Utomo

    21 September 2025

    1 Komentar

    1. uki bayu sedjati on 10 April 2023 11:17 am

      ..menarik. Hadirkan keluasan wawasan penulis bukan hanya berputar sekitar aku. Menukil kisah sejarah tanpa menghakimi. Bahwa imaji memang tanpa bingkai, menerobos kata semesta justru karena berpusat dari nurani.

      Reply
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Puisintaksis dan Manusia Algoritma: Ketika Peluncuran Buku Menjadi Peristiwa Ontologis

    21 Februari 202687 Views

    Buku Sang Nabi

    9 Februari 202614 Views

    Hak Tubuh Istirahat

    26 Januari 202613 Views

    Zaman Apokaliptik

    4 Januari 202695 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (207)
    • Bisnis (7)
    • Buku (84)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (78)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (188)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (143)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.