Heru Patria
Sebagai seorang anggota polri yang sudah hampir 25 tahun mengabdi, baru hari inilah Pak Zazuli punya keinginan dan kesempatan untuk mengadakan refleksi diri terhadap semua tugas yang pernah dilakukannya. Refleksi itu muncul karena ia merasa ada begitu banyak kejanggalan yang saling tumpang tindih di sepanjang kariernya. Kejanggalan yang tak pernah ia mengerti. Kejanggalan yang entah dari mana sebab musababnya. Hanya satu hal yang selalu ia rasa dalam hatinya, bahwa tugasnya serasa tak pernah berhasil dalam melayani masyarakat selama ini. Dan puncak kegundahan hatinya ini, berawal dari kejadian tempo hari.
Waktu itu, ia bersama beberapa teman polisinya serta dibantu oleh satu regu Satpol PP, sedang mengadakan razia minuman keras pada lapak-lapak pedagang liar di sepanjang pinggiran Taman Kota. Dari hasil inspeksi mendadak yang dilakukan kesatuannya, berhasil menyita banyak barang bukti berupa minuman keras dari berbagai merk. Mereka juga berhasil menangkap penjualnya, meskipun ada beberapa dari penjual yang berhasil melarikan diri dari kejaran petugas.
Pak Zazuli tersentak. Karena satu di antara para penjual yang tertangkap, ada seorang yang sangat mirip dengan anak gadisnya yang kini berada di luar daerah. Dan kabarnya juga menjadi seorang pedagang di kota tempat tinggalnya.
Demi menyaksikan pedagang yang mirip anaknya itu meronta-ronta ketika hendak di bawa petugas, nurani Pak Zazuli jadi terusik. Ia menjadi iba. Malah sempat terpikir olehnya bagaimana seandainya hal itu terjadi juga pada anaknya. Oh, tidak! Ia tak mau suatu hal yang buruk terjadi atas diri anaknya.
“Jangan bawa saya, Pak Polisi! Jangan tangkap saya. Saya tak bersalah, Pak! Saya hanya penjual. Saya orang miskin. Jangan tangkap saya, Pak. Kasihan anak saya!” teriak penjual itu sambil terus meronta-ronta dari pegangan dua orang polisi sembari mendekap anaknya yang masih bayi dengan sebelah tangannya.
Akh! Pak Zazuli menutup matanya. Mencoba mengalihkan pandangan dari peristiwa yang serasa merobek-robek hati nuraninya. Bagaimanapun juga polisi tetaplah manusia. Yang punya hati dan rasa iba. Tapi meskipun ia coba menutup mata, tak urung telinganya masih mendengar dengan jelas teriakan protes para penjual serta bunyi berderaknya lapak-lapak yang dibongkar dengan paksa.
Dua hari berikutnya, ketika Pak Zazuli tidak sedang piket jaga malam. Iseng-iseng ia melintas lagi, mengitari kawasan sekitar Taman Kota. Dan begitu motornya memasuki kawasan ini, matanya langsung terbelalak tak percaya. Rasa heran dan terkejut menyergapnya.
Betapa tidak! Lapak-lapak yang tempo hari telah dibongkar paksa oleh para petugas, kini sudah berdiri lagi dengan penjual dan barang dagangan yang sama. Bahkan tak ada lagi jerit dan ronta ketakutan di wajah-wajah mereka. Mereka kembali sumringah dan selalu menebar senyum pada setiap pembeli yang datang. Tak peduli meski yang datang itu seorang petugas.
Seketika Pak Zazuli menghentikan laju motornya. Ia menunduk dan merasa kalah. Rasanya tugas yang ia laksanakan selama ini ternyata gagal dan sia-sia adanya.
Memang sudah bukan rahasia lagi, tugas polisi adalah memberantas semua penyakit masyarakat. Mulai dari perjudian, kejahatan, prostitusi, sampai pengedaran minuman keras dan obat-obat terlarang. Tapi apa hasilnya? Semakin hari tingkat kriminalitas semakin tinggi. Tindak kejahatan terjadi setiap saat, dengan sasaran dan modus yang semakin canggih. Demikian juga dengan yang namanya perjudian. Seiring makin meningkatnya kecanggihan teknologi informasi dan telekomunikasi, para pelaku perjudian semakin rapi beraksi. Dan seolah tak mau kalah, dunia prostitusi juga semakin meriah. Seperti jamur di musim hujan. Satu lokasi ditutup, lokasi lain bermunculan. Pelaku lama ditangkap, pendatang baru hadir lebih banyak bahkan berkelas kakap.
Huh!
Pak Zazuli mendengus kesal. Nanar matanya menatap orang-orang yang ramai lalu lalang di depannya. Tak sedikit di antara mereka yang singgah di lapak-lapak yang ada. Lapak yang nampaknya hanya menjual kopi atau gorengan, padahal di dalamnya menyediakan aneka jenis dan merk minuman haram.
Dengan tetap duduk di sadel motornya, untuk beberapa saat Pak Zazuli diam sebagai penyaksi. Penyaksi atas segala tingkah manusia yang seolah justru merasa bangga di saat melakukan hal-hal yang salah. Di sini ia harus melupakan segala atributnya sebagai seorang polisi. Ia harus membaur untuk mendapatkan jawaban atas refleksi diri yang belakangan menggedor-gedor pintu hatinya.
Jujur, dalam urusan prostitusi, kejahatan, dan perjudian, ia sedikit agak tak peduli. Karena dalam kesatuannya tugas utama yang ia emban adalah memberantas minuman keras. Dan itu sudah ia lakukan kurang lebih tujuh tahun dari masa kerjanya. Tapi hasilnya? Seolah tak ada. Satu pedagang ditutup, pedagang lain mulai buka. Sehingga ia merasa, tugas yang dilaksanakannya seperti berusaha mengurai sebuah lingkaran setan.
Penasaran dengan kuatnya lingkaran setan dalam dunia minuman keras yang tak pernah berhasil ia putuskan, Pak Zazuli mencoba mencari informasi dari orang-orang yang kompeten dari dunia miras ini.
Mula-mula sekelompok anak muda yang berbagi sebotol miras di sudut taman, menjadi penarik perhatiannya. Mereka ditetapkan sebagai target utama untuk diinterogasi. Guna melaksanakan tujuannya, ia bergegas memarkir motornya pada juru parkir liar yang banyak berjajar di tepi jalan sekitar Taman Kota.
Lantas ia pun melangkah mendekati target yang sudah ia pilih. Tapi ketika tinggal beberapa langkah lagi, mendadak ada target lain yang lebih menarik perhatiannya. Tampaknya ia seorang remaja putri, yang sedang minum sendirian di balik sebatang pohon rindang di sisi taman sebelah kanan.
Perlahan Pak Zazuli menghampirinya.
“Selamat malam, Mbak.” Suara Pak Zazuli sok akrap dan dengan menghilangkan kesan sebagai seorang polisi.
“Malam,” jawab gadis itu singkat tanpa menoleh sedikitpun ke arah Pak Zazuli yang sedang berpura-pura membetulkan topi yang dikenakannya. Topi yang sebenarnya tak lebih hanya dipakai untuk menyembunyikan model rambutnya yang khas petugas.
“Sendirian, Mbak?” Kembali Pak Zazuli bertanya.
Dengan acuh gadis itu menjawab.
“Tadi sih, iya. Tapi sekarang sudah berdua dengan … anda.”
Hmm, Pak Zazuli tersenyum bersahabat meski ia tahu gadis itu tak melihatnya.
“Kenapa menyendiri? Lagi ada problem?”
“Nggak!”
“Kalau nggak, kenapa minum?”
“Karena ada yang jual.”
Bah! Pak Zazuli jengkel juga jadinya. Belum pernah ia diacuhkan orang sedemikian rupa. Kalau tidak demi penyamarannya untuk mencari jawab kenapa usaha peredaran minuman keras tak pernah berhasil diberantas hingga tuntas, sudah pasti ia akan naik darah.
Menyadari bahwa targetnya sulit untuk diajak kompromi, Pak Zazuli pun memutuskan untuk segera meninggalkan gadis itu tanpa permisi.
“Dasar lelaki tongpes! Sudah tak mau memboking, masih pakai tanya-tanya. Sok akrap pula. Hiih,” rungut gadis itu seraya meludah, sesaat setelah Pak Zazuli sudah jauh melangkah.
Kini langkah Pak Zazuli menuju ke sebuah lapak yang ia yakin bahwa kemarin sudah dibongkar paksa oleh anggota Satpol PP yang mengadakan razia bersama kesatuannya.
“Mau minum apa Pak? Biasa atau yang hangat?” tanya si penjual yang berdandan menor dan berpakaian seksy, begitu Pak Zazuli duduk diarea lesehan sederhananya.
“Kalau yang biasa itu, minuman apa?”
“Oh, tampaknya Bapak baru pertama kemari, ya? Pasti orang jauh. Minuman yang biasa itu, Pak, adalah kopi atau es teh,” jawabnya genit.
“Kalau yang hangat?”
“Macam-macam.”
“Apa saja?”
“Ada bir hitam, mention, topi miring, vodka, dan beberapa minuman impor.”
“Oo, kalau begitu, saya pesan yang biasa saja.”
“Okelah kalau begitu,” ujar wanita itu sambil mengedipkan matanya dengan nakal.
Tak perlu waktu lama untuk menyajikan secangkir kopi. Setelah meletakkan kopi yang dipesan, sang penjual langsung duduk menemani.
“Sudah lama jualan di sini?” pancing Pak Zazuli memulai obrolan.
“Sudah. Kira-kira dua tahun.”
“Kenapa jualan minuman keras?”
“Lakunya banter, Pak. Untungnya juga lumayan.”
“Apa tempat ini, tidak pernah dirazia petugas?”
“Sering, Pak!”
“Anda tidak takut?”
“Kenapa mesti takut sama petugas? Sekarang dirazia, besuk sudah bisa jualan lagi.”
“Kok bisa begitu?”
“Itu rahasia kami, Pak. Lagi pula sebenarnya apa yang dilakukan oleh para petugas itu, menurut kami adalah hal yang sia-sia dan keliru.”
“Kenapa anda berpikiran begitu?” kejar Pak Zazuli semakin tertarik dengan omongan wanita itu.
“Ya, karena di mata kami, para petugas itu tak ada yang menyadari, kalau mereka hanya dijadikan boneka mainan.”
“Maksudnya?”
“Begini lo, Pak, kalau benar bahwa para polisi dan Satpol PP ingin memberantas minuman keras, kenapa hanya konsumen dan para penjualnya saja yang selama ini dirazia dan ditangkapi. Padahal mereka, termasuk saya, hanyalah orang kecil yang ingin bertahan hidup di zaman yang serba susah ini. Ibarat menebang pohon, para petugas itu hanya memotong rantingnya saja. Sementara batang dan dahannya dibiarkan tetap hidup. Bukankah itu sia-sia?”
“Ya, benar.”
“Makanya kalau ingin memberantas minuman keras dengan benar, tutup aza pabrik pembuat minumannya!”
“Ya, benar itu.”
“Jangan cuma benar-benar saja. Bapak ini sebenarnya siapa? Kok dari tadi bertanya soal begituan. Saya jadi curiga, jangan-jangan Bapak seorang wartawan atau polisi yang sedang menyamar, ya?”
Ha ha ha! Pak Zazuli tertawa lepas.
“Kalau saya wartawan, tentu saya bawa kamera.”
“Kalau begitu, Bapak seorang polisi?”
“Kalau saya seorang polisi, saya tidak akan berada di sini.”
Wanita itu diam. Sejurus lamanya ia memperhatikan Pak Zazuli dengan seksama. Pak Zazuli berusaha bersikap wajar dan segera menghabiskan sisa kopinya yang tinggal tiga tegukan saja.
“Nambah Pak, kopinya?”
“Oh, tidak. Berapa semuanya?” balik tanya Pak Zazuli.
“Dengan apa?”
“Pisang goreng, dua.”
“Semuanya jadi sepuluh ribu.”
Pak Zazuli membayarnya dengan uang pas. Lalu ia melangkah pergi dengan perasaan senang. Ia merasa telah menemukan jawaban atas berbagai masalah yang selama ini dianggapnya selalu gagal ia atasi. Kegagalan yang kerap kali mengusiknya dan lantas mengungkungnya pada satu kesadaran bahwa ia harus melakukan refleksi diri.
***
Menutup pabriknya!
Ya, jawaban dari pedagang kaki lima tadi malam itu, dianggapnya sebagai satu solusi yang paling tepat guna mensukseskan tugas polisi untuk memberantas minuman keras. Sayang, kenapa selama ini tak ada satu polisi pun yang berpikir sampai ke situ? Atau barangkali ada tapi tak berani mengusulkannya lantaran suatu sebab yang jadi satu rahasia di antara mereka.
Entahlah! Pak Zazuli tak peduli dengan semua itu. Ia telah menemukan satu solusi terbaik. Maka ia harus katakan pada atasannya. Agar upaya pemberantasan minuman keras tidak berjalan setengah hati seperti selama ini. Merampas barang bukti dari pedagang, menangkap konsumennya, lantas diproses berdasarkan undang-undang, tapi pabriknya malah dibiarkan tetap berjalan.
Lantaran itu, merasa mantap dan tepat atas solusi yang ditemukannya, pagi itu Pak Zazuli berniat melaporkan temuannya pada sang komandan kesatuan.
“Selamat pagi, Komandan. Saya siap menghadap!”
“Ya, ada apa?”
“Lapor Pak, saya telah menemukan satu solusi yang tepat guna memberantas peredaran minuman keras di wilayah kita!”
“Apa penangkapan penjual, pemakai, dan barang bukti dari hasil razia selama ini, kau anggap tidak tepat?”
“Bukan begitu, Pak.”
“Lalu?”
“Begini Pak, semua razia yang kita lakukan selama ini sudah tepat dan sesuai dengan prosedur. Tapi saya pikir semua itu sia-sia.”
“Sia-sia bagaimana maksudnya?”
“Kalau kita ingin peredaran minuman keras benar-benar berhenti untuk selamanya, maka yang semestinya polisi lakukan adalah ….” Pak Zazuli nampak ragu-ragu untuk mengatakannya.
“Adalah apa?” Sang komandan mendesak.
“Menutup pabriknya!”
Mendengar itu, sang komandan tersenyum kecut. Beliau mendekati Pak Zazuli, lantas menepuk-nepuk pundak anak buahnya itu sembari berkata.
“Satu hal yang mesti kau sadari, bahwa rangkaian birokrasi di negeri republik ini saling tumpang tindih. Terkadang satu solusi yang kita anggap baik, tidak bisa serta merta kita ambil tindakan, karena ada mata rantainya yang berkaitan dengan kita.”
“Maksud Bapak?”
“Kita digaji oleh negara ini dari uang pajak. Dan pabrik miras itu punya kontribusi yang besar pada pendapatan pajak di negara kita. Jadi kalau kita menutup pabrik miras itu, sama halnya dengan menghentikan gaji kita. Apa kau mau kerja tanpa digaji?”
Pak Zazuli pun KO. Ia tak mampu lagi menjawab pertanyaan balik yang muncul dari solusi idealismenya. Kini ia sadar, bahwa untuk menegakkan kebenaran di republik ini, rasanya hanya mimpi. Sebab segala hal dijadikan saling terkait. Sehingga semua seperti sandiwara adanya. Razia dan penangkapan pedagang miras, hanyalah kegiatan rutin dalam bertugas. Bukannya dalam misi untuk menegakkan keadilan sesuai undang-undang. Yang besar tetap dibiarkan karena mampu memberi pendapatan. Sedang yang kecil, dirazia dan dibongkar paksa, karena itu sudah nasib mereka.
“Masih ada yang ingin disampaikan?” Kembali sang komandan bertanya, mengagetkan Pak Zazuli yang sedari tadi diam saja.
“Tidak, Pak!”
“Kalau begitu, silakan tinggalkan ruangan saya.”
“Siap, Pak!” Sambil menjawab Pak Zazuli memberikan hormat.
Begitu Pak Zazuli berlalu dari ruangan itu, sang komandan menelepon seseorang yang tampaknya sangat ia hormati layaknya seorang atasan.
***
Seminggu kemudian, Pak Zazuli masih saja berpikir tentang jawaban komandannya atas solusi yang ia tawarkan. Ia tak habis mengerti tentang semua itu. Ia merasa ada hal ganjil yang tersembunyi di balik semua ini. Tapi apa? Ia tak punya lagi keberanian untuk bertanya. Satu hal yang tak ia mengerti, apa memang sebegitu besarnya peran pajak dari pabrik minuman keras, sampai-sampai negara tak berniat menutup pabriknya hingga tuntas. Atau memang sengaja dibiarkan, agar para polisi seperti dirinya, ada yang dikerjakan. Atau justru ada permainan di balik semua ini?
Entahlah!
Di republik mimpi ini kejanggalan seolah sengaja dikembangbiakkan agar tumbuh subur dan menjadi ladang yang gembur. Agar perut pejabatnya jadi semakin tambur.
Tak puas dengan semua itu, Pak Zazuli memberanikan diri bertanya pada atasan yang lebih tinggi. Dari sini ia berharap mendapat jawaban yang lebih pasti. Paling tidak bisa diterima nalar secara logis.
Maka diutarakannya semua uneg-uneg yang ada di hatinya. Termasuk ide menutup pabrik miras yang didapatnya dari wanita penjual kopi, yang menurutnya memang masuk akal dan logis.
Tapi jawaban apa yang ia terima?
Dua hari kemudian, ia menerima surat pemindahan tugas ke daerah yang lebih jauh dengan alasan yang tak jelas. Di situ ditulis hanya untuk pemerataan jumlah petugas.
Pak Zazuli pasrah!
Ia tak ingin protes lagi. Walau hatinya juga sedih. Tapi semua ini dianggapnya sebagai bagian dari drama kehidupannya di republik mimpi. Yang disutradai oleh para pengejar mimpi. Pengejar mimpi yang berhati culas, yang senantiasa bersembunyi di balik slogan manis yang selalu mengatasnamakan rakyat. Disetiap tempat mereka omong soal keadilan. Ditiap waktu mereka kotbah soal moral. Padahal mereka sendiri tidak pernah adil dan bertindak tanpa moral.
Di republik ini, seolah yang namanya keadilan hanyalah milik orang-orang yang beruang. Sehingga Pak Zazuli hanya bisa merasakan, bahwa di republik mimpi, orang harus belajar hidup tanpa hati dan nurani.
Orang hanya boleh bermimpi tanpa bpleh berharap untuk jadi nyata.
Heru Patria adalah nama pena dari Heru Waluyo seorang novelis dari Blitar Jawa Timur yang juga gemar menulis cerpen dan puisi. Karya cerpen dan puisinya sudah banyak dimuat di berbagai media massa baik cetak maupun online. Selain itu ia juga menulis sastra Jawa berupa gurit, cerkak, wacan bocah, crita misteri, dan alaming lelembut.
