Oleh Viefa
Judul Buku : Cinta Penyair Kampus
ISBN : 978-623-6650-68-4
Nama Pengarang : Wardjito Soeharso
Penerbit : Rua Aksara, Bantul-Yogyakarta
Tahun Terbit : 2026
Tebal Buku : 320 Halman
Sinopsis:
Novel Cinta Penyair Kampus karya Wardjoto Soeharso menghadirkan kisah yang memadukan dunia intelektual, kepekaan rasa, dan romantika kehidupan mahasiswa fakutas sastra di daerah Pulau Jawa. Melalui tokoh utamanya Ito, pembaca diajak menyelami perjalanan seorang mahasiswa yang menekuni dunia kepenyairan sebagai bentuk idealisme menanggapi berbagai dinamika kehidupan sosial di sekitarnya.
Penulis tidak hanya bergulat dengan kata-kata. Ada nilai-nilai yang ingin disampaikan melalui karakter tokoh utama terutama dalam memantaskan diri di hadapan Tuhannya. Hal ini terungkap di halaman 94, dimana secara eksplisit penulis memberikan pesan melalui tokoh Ito, bahwa salat menjadi ritual wajib yang harus dilaksanakan. Sesuai petuah guru ngaji masa kecilnya, bahwa salat itu kewajiban mutlak seorang muslim karena untuk menjaga kesadaran diri.
Realitas kehidupan anak-anak kampus, keceriaan, keterbukaan, dan sedikit kenakalan menjadikan novel ini kaya imajinasi, terutama penggambaran tokoh-tokonya sebagai manusia yang berada dalam fase perkembangan intelektual.
Cerita ini berpusat pada kehidupan sosok Ito, Sang tokoh utama yang digambarkan sebagai sosok kritis, kreatif dan easy going. Situasi ini menjadikan tokoh Ito sebagai sosok yang memiliki banyak teman dari berbagai kalangan dan pengagum (Wanita). Sang tokoh menjadikan dunia sastra sebagai ladang improvisasi memuntahkan ide, memotret sederet persoalan absurd yang ia rasakan. Melalui kominatas Emper Kampus yang dibuat bersama teman-temannya, Ito mencoba membedah situasi sosial menjadi ajang pertarungan intelektual gaya anak-anak emper kampus dalam diskusi panjang yang kerap tanpa beban, sering digelar di waktu malam.
Seperti puisi yang dibacakan sosok Ito pada “Malam Gairah Bulan Purnama” berikut ini:
Untuk Apa Menulis Puisi?
Tanyamu
Kata-kata lugas tak mampu membuka mata
Bagaimana metafora menembus kepala?
Untuk apa menulis puisi?
Jawabku
Karena aku mencintaimu!
Kesan sableng menjadi ciri khas tokoh Ito. Bukan hanya kecerdasan linguistik yang dimainkan. Kecerdasan emosi menjadi bagian tak terpisah dari dirinya. Petualangan cintanya menjadi sequel penting perjalanan Ito dalam menentukan cinta hakikinya. Cinta yang tidak didapatkan dari gadis-gadis yang pernah dijelajah hatinya. Sosok Enha, seorang perempuan bergaya ceplas-ceplos apa adanya, rupanya memiliki nilai lebih di mata Ito dan menjadi tambatan terakhir perjalanan cintanya. Dengan keterbatasan alat komunikasi dan transportasi, menjadi bukti bahwa jodoh tidak akan kemana. Perjalanan cinta penyair kampus pun pada akhirnya berhenti terminal hati seorang gadis Sunda bernama Enha,
Dengan gaya tutur logis dan mudah dipahami, novel ini terkesan ringan dalam menghadirkan situasi kehidupan era delapan puluhan. Sebagai medium ekspresi, penulis mencoba memberikan gambaran bahwa cinta bukan sekadar ungkapan rasa saling suka, tetapi bagaimana cara mendapatkan dan memperlakukan cinta itu sendiri.
Kekuatan utama novel ini terletak pada gaya bahasa yang ringan dan mengalir. Penulis mampu merakit alur dengan struktur yang teratur. Ditambah dengan nilai-nilai makna yang ingin disampaikan tanpa terkesan menggurui. Secara perlahan pembaca digiring ke nuansa batin Sang tokoh untuk ikut merasakan gejolak emosi, di setiap jengkal pemikirannya. Sastra menjembatani logika dan rasa. Ditunjang kepiawaiannya dalam berbahasa Inggris dan luasnya pengetahuan dari kegilaanya melahap berbagai buku karya sastra, membawanya mudah mengembangkan kariernya selepas lulus dari bangku perkuliahan.
Namun demikian, alur yang disajikan terkesan landai, bahkan ada bagian yang diulang. Hal ini memunculkan image pembaca, cerita mudah ditebak endingnya. Konflik yang dibangun belum dramatis padahal ada bagian penting cerita yang menukik perlu penajaman. Dialog yang dikembangkan di bab tertentu, membawa pembaca ingin loncat ke bab berikutnya. Meski begitu, alur perlahan ini memberi nuansa romantik gaya remaja, bahkan sosok Ito sendiri justru mencuri perhatian. Penggambaran sosok utama cerita ini, dibangun citranya begitu kuat.
Secara keseluruhan, Cinta Penyair Kampus adalah novel yang cocok bagi pecinta sastra dan pembaca yang menyukai kisah cinta yang tidak sekadar romantis, tetapi juga sarat makna dan perenungan. Novel ini mengajarkan bahwa cinta bukan hanya tentang perasaan, melainkan juga tentang perjuangan menjaga idealisme di tengah realitas kehidupan.
Kesimpulan:
Novel ini menawarkan pengalaman membaca yang hangat dan reflektif, menjadikannya layak dibaca oleh siapa saja yang ingin menikmati perpaduan antara cinta, sastra, dan pencarian jati diri dalam kehidupan kampus.
Lebih dari sekadar romansa, novel ini adalah potret perjalanan batin. Ia tidak terburu-buru membawa pembaca pada klimaks, melainkan mengajak menikmati proses: bagaimana rasa tumbuh, bagaimana luka terbentuk. “Cinta Penyair Kampus” bukan sekadar penjajagan cinta seorang pemuda di masa remaja. Ia adalah refleksi sekligus kontemplasi untuk menjadi manusia yang bergulat memperjuangkan idealisme, kemauan, dan kemampuan dengan segala keterbatasan kondisi, juga tentang harkat mencinta dan dicinta oleh siapa saja yang memperjuangkan cinta.
Viefa memiliki nama asli Nur Khofifah berasal dari Banyuwangi Jawa Timur. Seorang pendidik dan penggerak literasi di Kementerian Agama Banyuwangi. Terlibat dalam kepengurusan berbagai komunitas sastra, di antaranya Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI), Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Banyuwangi, dan Lentera Sastra Kemenag Banyuwangi.
